Belajar dari “Olimpiade Hijau” Beijing 2008

Di tengah maraknya kecaman terhadap sektor lingkungan hidupnya, Beijing tampil sebagai tuan rumah Olimpiade musim panas 2008 dengan menyodorkan konsep Olimpiade Hijau (Green Olympics) di samping konsep Olimpiade Masyarakat (People’s Oympics) dan Olimpiade Teknologi Canggih (High-Tech Olympics). Sebuah komitmen yang sangat berani dari China. Betapa tidak, selama ini seperti yang sering kita saksikan, pemerintah China sangat ‘bernafsu’ dalam mengejar target pertumbuhan ekonominya dengan mengabaikan sektor lingkungan, sektor yang kini tercatat sebagai salah satu bahan perdebatan internasional dengan kuantitas tertinggi. Dalam suatu studi bahkan dikatakan bahwa dari daftar dua puluh kota paling tercemar di dunia, enam belas di antaranya berada di China dan Beijing termasuk di dalamnya.

Beijing segera menjawab beragam keraguan dan kontroversi atas penunjukkan terhadapnya sebagai tuan rumah Olimpiade 2008 dengan melakukan reformasi besar-besaran di bidang lingkungan hidup. Bulan November 2005, Komite Olimpiade Beijing yang bernama BOCOG (Beijing Organizing Committee for the Olympic Games) menandatangani perjanjian dengan UNEP (United Nations Environment Program). Isinya sederhana, Olimpiade Beijing 2008 akan mempromosikan dan menghormati lingkungan hidup. Meskipun sederhana, Beijing melaksanakan komitmennya ini secara luar biasa.

Hal menarik yang dapat kita saksikan antara lain adalah pembangunan stadion olimpiade yang diciptakan dengan konsep ramah lingkungan. Stadion utama olimpiade yang diciptakan dengan konsep sarang burung (bird’s nest), misalnya, dirancang untuk pengolahan air hujan di mana air hujan ini kemudian akan ditampung dan diolah untuk menyiram rumput, sistem ventilasi pendingin, proyek penghijauan, dan keperluan lainnya yang akan menghemat sekitar 60.000 ton air setiap tahunnya. Bangunan ramah lingkungan lainnya yaitu bangunan kubus air (water cube) yang akan digunakan sebagai arena kolam renang Olimpiade 2008. Bangunan unik ini dilapisi dengan selaput kertas perak yang ramah lingkungan. Cahaya matahari yang menembus selaput yang melapisi bangunan ini membuat pencahayaan buatan sehingga tidak diperlukan lagi pencahayaan di dalam bangunan pada siang hari dan dapat menjaga suhu air di kolam renang.

Rancangan ini telah mengurangi pemakaian listrik sebesar 30%. Stadion untuk tenis meja pun dirancang agar dapat menyediakan panas secara alamiah pada musim dingin. Air panas untuk kamar mandi para atlet juga disediakan melalui sistem pemanas surya. Beijing mengatakan bahwa setelah perhelatan Olimpiade ini berakhir, sistem ini akan terus memasok air panas pada lebih dari dua ribu rumah tangga di daerah tersebut. Maka tidak heran apabila pada tahun 2005, BOCOG akhirnya memperoleh sertifikat ISO14001 dan medali emas dalam Ozone Layer Protection Contribution Award.

Tidak hanya berhenti pada penyediaan infrastuktur yang ramah lingkungan, Beijing juga melaksanakan sejumlah program dalam kampanye lingkungan. Langkah yang dilakukan antara lain adalah promosi ‘Green Olympics, Green Action’ yang tidak semata-mata mempromosikan olimpiade namun juga melakukan promosi pengetahuan mengenai lingkungan, meningkatkan kesadaran masayarakat akan pentingnya lingkungan serta mendorong masyarakat untuk merealisasikan konsep olimpiade hijau. Beijing juga meluncurkan ‘Green Map of Beijing’ yang mempromosikan konsep hidup sehat. Sekitar 50.000 sepeda pun disewakan kepada wisatawan sebagai bagian dari usaha untuk membuat Beijing ‘lebih hijau’ untuk olimpiade. Atas upaya ini, UNEP dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengaku puas. Pemerintah China bahkan tak segan-segan untuk menganggarkan dana sebesar 100 juta dollar pada tahun 2007 bagi kampanye pelestarian lingkungan hidup.

Sekalipun kontroversi mengenai masih tingginya tingkat polusi di Beijing yang dapat mengancam kesehatan para atlet selama berlangsungnya olimpiade masih hangat diperbincangkan di berbagai jurnal dan media massa, sudah seharusnya masyarakat Indonesia belajar dari komitmen olimpiade hijau Beijing ini. Beijing dan Jakarta sama-sama berpenduduk padat. Sebelum olimpiade hijau ini digalakkan, Beijing seperti halnya Jakarta juga tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi yang paling tinggi di dunia. Namun perlahan tapi pasti Beijing dengan momentum olimpiadenya mulai menunjukkan perbaikan kondisi lingkungannya sementara Jakarta dengan momentum banjirnya seolah masih saja berdiri di tempat.

Lantas apa kunci sukses Beijing? Kunci utamanya adalah adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat Beijing. Di satu sisi pemerintah Beijing memiliki program-program lingkungan yang jelas dengan anggaran dana yang memadai di samping adanya keinginan yang kuat untuk menciptakan Beijing yang bersih. Di sisi lain, masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan kotanya tidak semata-mata demi mencapai target suksesnya penyelenggaraan olimpiade Beijing 2008 namun juga demi kepentingan bersama dalam jangka panjang yakni kesehatan. Pertanyaannya adalah apakah pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah memiliki kerjasama semacam itu? Sekalipun dana yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia relatif lebih terbatas, mengikuti jejak langkah pemerintah China semacam ini jelas bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Jika Beijing bisa, mengapa tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s