TANTANGAN IMPLEMENTASI VISIT INDONESIA YEAR 2008

Visit Indonesia

Program Visit Indonesia Year 2008 menjadi sebuah momentum baru bagi perkembangan dunia pariwisata Indonesia yang selama ini cenderung kurang berdenyut dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura ataupun Malaysia yang sudah terlebih dahulu meluncurkan program Visit Malaysia Year 2007. Visit Indonesia Year 2008 yang memakan dana sebesar 15 juta dollar AS ini seperti yang dituturkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat nasional dan internasional. Di satu sisi, Visit Indonesia Year 2008 memang perlu memperoleh dukungan dan apresiasi yang sebesar-besarnya dari seluruh rakyat Indonesia. Di sisi lain, implementasi program besar ini tentu bukan sebuah persoalan mudah. Berbagai persoalan masih perlu ditangani oleh pemerintah.

Persoalan pertama, terkait dengan penyediaan fasilitas pelayanan jasa transportasi pendukung pariwisata yang tidak hanya harus memadai namun juga dituntut mampu memberikan keamanan dan kenyamanan. Hingga saat ini, maskapai penerbangan asal Indonesia masih tidak ‘diperkenankan’ mendarat di Uni Eropa terkait dengan keraguan atas jaminan keamanan bagi para penumpangnya menyusul terjadinya berbagai kecelakaan pesawat yang terjadi di tanah air. Kebijakan yang dikeluarkan Uni Eropa ini telah mencoreng citra Indonesia di mata dunia selain (tentu saja) merugikan perusahaan penerbangan Indonesia. Belum lagi fasilitas pelayanan dan kondisi kebersihan dan kenyamanan bandara internasional di Indonesia yang masih memerlukan banyak pembenahan lebih lanjut jika ingin menyamai fasilitas bandara internasional yang terdapat di negara lain semisal Bandara Changi, Singapura.

Kedua, masalah promosi. Memang, perlu diakui bahwa keterbatasan dana menjadi permasalahan utama yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia terlebih dalam situasi perekonomian dunia saat ini yang berpotensi melambat (economic slowdown) menyusul terjadinya resesi ekonomi di AS. Pemerintah Indonesia terpaksa melakukan defensif total terhadap seluruh anggaran departemen. Namun ketika pemerintah berani mencanangkan program sebesar Visit Indonesia Year 2008, suka tidak suka promosi menjadi kunci utama kesuksesan terlebih Indonesia banyak dipersepsikan sebagai sarang teroris di samping kerusuhan, bencana alam, dan kemiskinan. Salah satu upaya promosi yakni melalui pemasangan logo Indonesia Visit Year 2008 di setiap badan pesawat milik Indonesia sudah sangat baik dilakukan namun pemerintah perlu ingat bahwa Malaysia pun telah melakukan hal serupa di tahun 2007. Indonesia jelas tertinggal jauh dalam hal pembagian brosur panduan pariwisata dan penayangan iklan di televisi. Bandingkan dengan gencarnya penayangan iklan pariwisata Thailand, Malaysia, dan Singapura. Publik Indonesia justru dibuat tercengang dengan ketika lagu ‘Rasa Sayange’ tiba-tiba tampil sebagai jingle iklan pariwisata resmi Malaysia.

Ketiga, masalah kesinambungan program dengan peningkatan mutu kawasan pariwisata. Pada dasarnya, wisatawan asing berkunjung ke suatu negara bukan karena sebuah program melainkan karena kondisi kawasan pariwisat, mutu layanan dan fasilitas yang tersedia, dan citra dari negara yang bersangkutan. Promosi saja tentu tidak cukup tanpa didukung oleh peningkatan mutu kawasan dan layanan jasa pariwisata. Pantai Pangandaran, misalnya, memang sangat baik sebagai lokasi pariwisata, namun karena kebersihannya yang tidak dijaga, para turis menjadi tidak terlalu terkesan. Taman Raya Juanda di Dago, Bandung dengan keindahan gua-gua peninggalan Belanda dan Jepang pun sebenarnya sangat unik dan mengandung potensi besar bagi pariwisata Indonesia. Namun karena pengelolaannya digarap secara ‘biasa-biasa’ saja akhirnya lokasi ini menjadi kurang marketable.

Keempat, minimnya pengembangan terhadap potensi lokal yang khas. Pemerintah pusat seharusnya mampu menjalin kerjasama dengan aras lokal. Dengan kerjasama yang baik, potensi wisata dari tiap pelosok daerah di Indonesia akan lebih tergali secara maksimal di samping dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Potensi seni daerah seperti tari-tarian yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia pun tidak lagi banyak dikembangkan sebagai pesona pariwisata, kalah dengan pesatnya perkembangan mall yang tercatat sebagai tempat wisata utama di hari libur bagi mayoritas masyarakat Indonesia pada saat ini (hasil survey Litbang Kompas).

Singapura, yang notabene sangat miskin dengan pariwisata alam, potensi pariwisata sekecil apapun justru sangat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga memberikan keuntungan yang maksimal. Pada malam Natal 2007, misalnya, dengan membayar sebesar 10 dollar Singapura (setara dengan 65.000 rupiah saat itu) seseorang dapat menikmati suguhan perjalanan melintasi sepanjang jalan Orchard (Orchard Road) yang saat itu penuh dengan ornamen natal dengan menggunakan sebuah bus tingkat dua tanpa atap. Perjalanan ini dilengkapi dengan musik berisi lagu-lagu natal dan ditemani dengan seorang pemandu wisata yang menceritakan malam natal di Orchard, makna pernak-pernik yang ‘berkelap-kelip’ indah di sepanjang Orchard sekaligus berpromosi mengenai pariwisata Singapura. Perjalanan yang sesungguhnya sangat sederhana tersebut akhirnya menjadi sebuah perjalanan yang sangat menarik dan menghibur sekalipun hanya berlangsung selama lima belas menit.

Memang, tidaklah bijak apabila kita terus-menerus membandingkan diri dengan kemampuan negara lain yang memiliki alokasi dana kepariwisataan yang jauh lebih besar. Meskipun demikian, tidak ada salahnya apabila Indonesia belajar dari kemampuan negara lain seperti Singapura dalam mengolah potensi lokalnya yang sebenarnya jauh lebih minim daripada Indonesia. Melalui Visit Indonesia Year 2008, Indonesia sudah memulai sebuah langkah yang sangat baik dalam memperkokoh nation-branding negara di mata internasional. Hanya saja program ini masih perlu didukung oleh peningkatan mutu fasilitas dan layanan jasa agar dapat meraih sukses maksimal. Indonesia juga perlu memandang program ini secara berkesinambungan, bukan sebagai sebuah program atau ‘hajatan’ sesaat. Yang terpenting, sukses dari Visit Indonesia Year 2008 tidak semata-mata menjadi tanggung jawab tunggal pemerintah namun menjadi tanggung jawab bersama seluruh bangsa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s