Fast Food vs Slow Food

Our defence should start at the table with Slow Food. Let us rediscover the flavours and savours of regional cooking and banish the degrading effects of Fast Food

Dewasa ini, manusia selalu menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan cepat dan praktis. Mulai dari masalah rumah tangga hingga masalah pekerjaan. Beragam ‘kiat-kiat praktis’ pun menjamur di toko-toko buku mulai dari kiat praktis menulis, kiat praktis bermain piano, kiat praktis belajar komputer, hingga kiat praktis mendapatkan jodoh. Berbicara mengenai makanan, fast food sebagai salah satu aktualisasi dari kepraktisan ini tentu tidak lagi menjadi sesuatu hal yang langka. Fast food seolah menjadi gaya hidup bagi kebanyakan manusia-manusia supersibuk di era globalisasi ini. Makan di rumah saja sudah tak akan sempat apalagi memasak sendiri.

Tidak percaya? Survei yang digelar BIGresearch dari Worthington, Ohio mengatakan bahwa di McDonald saja, konsumen rata-rata datang sekali seminggu dan 95% warga AS pasti mampir setiap tahun (BusinessWeek, Feb 2008). Tidak hanya di AS, fast food juga sudah sangat menjamur di negara-negara lain terutama di kawasan Asia. Padahal, makanan fast food umumnya mengandung garam, gula, lemak, dan kalori yang tinggi namun minim kandungan gizi. Kandungan vitamin, protein dan mineralnya pun sangat sedikit. Padahal, semua ini sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh. Sekalipun gaya hidup fast food ini sangat membahayakan tubuh, masyarakat seolah tidak terlalu terpengaruh. Kesibukan bekerja menjadi alasan yang paling banyak diutarakan.

Para pecandu fast food juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. BusinessWeek mencatat kisah tentang Angie Stallings, seorang guru SD di North Carolina yang sering mengajak putrinya Sarah (13 tahun) ke McD paling tidak tiga kali seminggu. Padahal, McD mengaku tak bertanggung jawab atas pola makan orang AS. McD masih menggunakan lemak trans karena beranggapan bahwa bahan pengganti akan merusak rasa kentang gorengnya. Dalam film dokumenter tentang McD yang berjudul Super Size Me, sang pembuat film, Morgan Spurlock hanya mengonsumsi makanan McD selama pembuatan filmnya. Spurlock kemudian menggambarkan dirinya dalam keadaan tidak sehat, lemas, kehabisan energi, dan tekanan darah naik. Kolesterol dan livernya pun terpengaruh. Ragam buku mengenai dampak negatif McD pun sudah banyak bertebaran. Namun masyarakat seolah tidak terlalu terpengaruh. Di AS, McD menyajikan makanan untuk 27 juta orang tiap hari, naik satu juta/tahun sejak 2003.

Ancaman fast food inilah yang menggerakan Carlo Petrini untuk mencetuskan gerakan slow food tahun 1986. Organisasi resmi dari slow food ini didirikan pada tahun 1989 bersamaan dengan pembukaan gerai fast food McDonald’s di Roma sebagai gerakan perlawanan terhadap globalisasi fast food. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dimaksud dengan gerakan slow food? Sesuai lambang siput yang digunakan oleh organisasi ini, slow food menekankan pentingnya menikmati makanan dan memasak dengan tenang. Bumbu instan yang umumnya digunakan fast food tidak lagi diperlukan karena semua hidangan dimasak dengan tenang dari bahan-bahan alami. Sarah Febaugh, asisten direktur Slow Food USA juga mengatakan bahwa tujuan Slow Food adalah membuat acara makan menjadi lebih gembira dan mengembalikan makanan ke fungsi aslinya yaitu menjalin kebersamaan.

Gerakan slow food ini juga akan menghindarkan sistem pertanian dari eksploitasi. Tanaman pangan dan pemeliharaan ternak tidak harus diproduksi secara terburu-buru untuk mengejar produksi. Tanaman buah, sayuran, dan bahan makanan lainnya, serta ternak dibiarkan tumbuh secara organik sesuai ritme alam sehingga tidak lagi memerlukan pestisida, hormon, antiobiotik, dan obat-obatan sintetis. Dampaknya, keseimbangan alam akan terjaga karena makhluk yang hidup di sekitar sistem pertanian tidak terbunuh. Selain itu, slow food juga berdampak panjang terhadap keselamatan lingkungan serta melestarikan warisan budaya makanan lokal untuk berkembang sehingga dapat merekatkan cinta kasih dalam keluarga yang kini makin terkikis oleh gaya makan ala fast food. Saat mengkonsumsi slow food, sistem pencernaan pun akan bekerja lebih normal daripada saat mengonsumsi fast food.

Masyarakat Eropa yang menganut budaya slow food mengisi waktu menanti makanan yang dimasak dengan menikmati minum anggur sambil menari salsa, dansa, menyanyi, menonton balet, dan sebagainya. Setelah makanan siap disajikan, mereka makan bersama dengan tenang, dan tidak terburu-buru agar dapat menikmati rasa dari makanan tersebut. Indonesia juga memiliki makanan slow food warisan leluhur seperti rendang dan gudeg. Dulu, gudeg dimasak dengan bahan nangka muda dicampur santan segar dari kelapa tua, dan ayam kampung ditambah dengan bumbu-bumbu. Semua dimasak dalam gentong tanah liat di atas tungku api bertemperatur tidak terlalu tinggi dalam waktu relatif lama. Gula yang digunakan adalah gula merah asli yang menghasilkan rasa manis yang khas. Rendang pun dimasak dalam waktu relatif lama agar empuk dan bumbunya meresap.

Agar dapat lebih menarik minat masyarakat dunia, organisasi Slow Food juga menyelenggarakan Slow Food Film Festival setiap tahunnya. Tujuan utama dari festival film ini adalah mempromosikan budaya makanan melalui film, film pendek, film dokumentasi, dan serial televisi yang berfokus pada isu seputar makanan. Slow Food Film Festival tahun 2008 diselenggarakan di Bologna, 7-11 Mei 2008 dengan jumlah film yang dipertandingkan sebanyak 56 film. Kategori yang dipertandingkan adalah short competition, docs competition, best food features, dan best tv series. Pemenang dari festival film ini berhak memperoleh ‘Golden Snail’ alias Siput Emas. Makan pelan memang tidak sama dengan menonton film tentang makan pelan. Tetapi keduanya memberikan sentuhan yang sama bagi kita yakni nikmatilah makan pelan!

Meskipun demikian, pecandu fast food tidak menjadi semakin berkurang. Catatan pemasukan McDonald seperti yang telah disinggung di bagian awal menjadi buktinya. Oleh karena itu, kunci penting dari efektivitas gerakan slow food ini berpulang pada kultur keluarga dan diri kita masing-masing. Sesekali mengonsumsi fast food tidak menjadi masalah. Menjadi masalah bila kita mengonsumsinya hampir setiap hari seperti yang dilakukan oleh Angie Stallings dan putrinya, Sarah. Orang tua bertanggung jawab untuk membiasakan anaknya makan makanan bergizi. Kita pun dituntut memiliki kesadaran untuk melakukan pola makan sehat demi masa depan. Kesibukan hendaknya tidak selalu dijadikan sebagai pembenaran untuk terus-menerus mengonsumsi fast food, terlebih setelah kita tahu betapa besar dampak negatifnya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s