Tertawalah!

Berhahahihi ria. Bagi saya pribadi jelas bukan merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Untuk dapat tertawa, beragam jenis rangsangan jelas saya butuhkan mulai dari lelucon, film komedi, hingga kekonyolan sesama manusia yang kadang terasa terlalu jahat untuk ditertawakan. Beberapa teman mengakui betapa rendah sense of humour yang saya miliki. Seringkali saya heran dengan teman-teman yang hormon tertawanya begitu mudah terangsang hanya karena hal kecil. Ketika teman-teman tertawa terbahak-bahak menanggapi sesuatu, umumnya saya hanya mampu bengong sambil bertanya-tanya heran dalam hati ‘apanya yang lucu?’. Lontaran kata-kata seperti “Lempeng banget sih lu!” atau “Ihhh… dianggap serius lagiii!” menjadi favorit ketika mereka melihat air muka saya yang tidak berubah. Untunglah, hingga detik ini saya tidak dipandang sebagai seorang wanita yang jutek.

Tertawa itu sangat bermanfaat. Kalimat ini memang sudah sering saya dengar. Menjadi sesuatu hal yang baru bagi saya tatkala mendengar bahwa aktivitas tertawa ini diperingati dunia setiap awal Minggu di bulan Mei dengan nama World Laughter Day. ‘Astaga… ketawa doang kok niat banget!’. Inilah kalimat yang saya ucapkan dalam hati ketika pertama kali mengetahuinya dari sebuah surat kabar. Didorong rasa penasaran yang luar biasa, saya segera berselancar di dunia maya untuk mengetahui lebih banyak perihal World Laughter Day ini. Ternyata benar. World Laughter Day diperingati di berbagai penjuru dunia melalui aktivitas tertawa bersama di ruang publik. Yang lebih mengejutkan, aktivitas tertawa ini memiliki kelompok-kelompok tawa yang tersebar di seluruh pelosok dunia.

World Laughter Day sendiri digagas pertama kali oleh seorang psikolog bernama Steve Wilson. Acara ini mulai dilakukan sejak tahun 1998 setelah Wilson melakukan rangkaian acara dengan nama The World Laughter Tour di Amerika Utara. Wilson yang telah berpengalaman sebagai seorang psikolog selama lebih dari 30 tahun ini sadar bahwa tertawa adalah obat yang ampuh dalam mengatasi berbagai persoalan terkait masalah kejiwaan dan kesehatan. Wilson yang juga tergabung dalam International Society for Humor Studies, The National Speakers Association, dan The Association for Applied and Therapeutic Humor ini akhirnya menjadi penggagas The World Laughter Tour yang kemudian menggagas World Laughter Day.

World Laughter Day diselenggarakan perdana di AS pada bulan Mei 2001 di kota New York. Tidak berhenti sampai di situ, Wilson juga merancang program pelatihan bagi para calon pemimpin ‘Kelompok Tertawa’ (laughter clubs) dan para terapis yang menggunakan aktivitas tertawa sebagai bagian dari World Laughter Tour. Hebatnya, pelatihan ini tersertifikasi secara global. Materi yang diajarkan dalam pelatihan ini antara lain penjelasan mengenai ilmu tertawa (teori, filosofi, psikologi, dan aspek fisik) serta pendalaman karakter yang sangat diperlukan untuk tertawa. Visi besar dari kegiatan ini sederhana namun luar biasa: memimpin dunia untuk sehat, gembira, dan damai melalui tertawa.

Indonesia termasuk salah satu negara yang mengkampanyekan World Laughter Tour. Ketika berselancar, saya menemukan cuplikan berita dari perayaan World Laughter Day setahun silam (2007) di kota Solo. Apa gerangan yang mereka lakukan? Sekitar lima puluhan warga Kadipiro, Solo yang terdiri dari para lansia, anak-anak, dan bahkan hansip melakukan atraksi berupa tertawa bersama selama 20 menit tanpa henti! Sebelum acara tertawa bersama berlangsung, sang koordinator, Mayor Haristanto, mempersilahkan para peserta menyantap soto bersama terlebih dahulu. Setelah perut terisi, secara serempak mereka menuju lokasi yang telah ditentukan dan kemudian tertawa lepas bersama di tepi arus lalu lintas yang padat. Mereka tertawa sambil mendengarkan tembang lawas dari Waldjinah yang berjudul Ayo Ngguyu.

Dalam aksinya, para peserta juga membawa poster-poster berisi sejumlah idiom tentang pentingnya tertawa seperti tertawa itu ibadah, tertawa itu sehat, dan sebagainya. Lewat aksi ini, Mayor mengajak semua warga Solo melakukan refleksi bersama-sama, tertawa sejenak dan melupakan semua kesibukan yang ada. ”Saatnya tertawa yang sebenar-benarnya, yang tulus dari lubuk hati yang dalam. Mumpung tertawa belum dilarang dan ada tarifnya,” katanya. Luar biasa. Saya lagi-lagi kagum dengan mereka yang sungguh sangat ‘berniat’ untuk tertawa. Lantas bagaimana dengan aktivitas tertawa di belahan bumi lainnya? Sama-sama luar biasa. Acara World Laughter Day diperingati di nyaris seluruh penjuru dunia terutama di wilayah Uni Eropa dan AS. World Laughter Tour juga dihadari oleh berbagai delegasi dari seluruh penjuru dunia. Program pelatihan tertawa yang dirancang oleh Wilson juga tidak pernah sepi peminat. Hingga saat ini sudah lebih dari 4.000 orang yang telah memperoleh pelatihan tertawa ini. Sisi positif dari tertawa pun dirasakan sesudahnya. Tidak hanya itu, sejak tahun 2002 Golden Laughter Award juga diberikan pada mereka yang berjasa mempromosikan manfaat penting dari tertawa dan humor bagi kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.

Saya benar-benar terpana oleh seluruh informasi ini. Sedemikian pentingkah peran tertawa dalam kejiwaan, kesehatan, dan bahkan kedamaian? Pertama-tama, saya mencoba merenungi kembali peran penting tertawa bagi kejiwaan dan kesehatan. Berbagai sumber mengatakan bahwa tertawa merupakan harmonisasi gerak dari 15 otot wajah yang dapat ikut menghambat proses pengerutan wajah pada usia uzur. Kegembiraan juga dapat mencegah proses penuaan fisiologis otak terutama kemampuan daya ingat serta meningkatkan daya tahan tubuh secara mencolok. Marianne Dolau, seorang ahli terapi humor mengatakan bahwa bila seseorang dapat tertawa selama 15 menit sehari, ia dapat terhindar dari serangan sakit kepala. Tekanan darahnya bahkan bisa turun 10-20 poin! Tidak hanya itu, denyut nadi yang terlalu cepat pun cenderung turun. Manfaat yang luar biasa!

Berikutnya, saya berpikir mengenai peran tertawa dalam menciptakan perdamaian. Mark Twain mengatakan sebagai berikut: The human race has only one really effective weapon and that is laughter. Jika direnungkan lebih lanjut, mungkin ada benarnya. Tertawa itu memang menular. Seseorang yang tertawa dengan wajah yang ramah dan ceria, akan menghadirkan suasana yang penuh kedamaian bagi orang-orang di sekelilingnya. Saya sendiri sangat senang mendengarkan kuliah dari seorang dosen yang perkataannya selalu memancing tawa. Tertawa juga menjadi cermin ketegaran seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan. Dalam masa-masa resesi seperti sekarang ini, tidak mudah bagi seseorang untuk tertawa tanpa sebab. Akhirnya, saya pun semakin tertarik untuk berusaha tertawa. Hahahahahahahaha……..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s