Toilet sebagai Bagian dari Isu Internasional

Setiap orang berbicara tentang apa yang dia makan, tetapi tidak pernah bicara tentang apa yang mereka keluarkan dan bagaimana cara mengeluarkannya. Toilet dianggap pembicaraan yang menjijikan dan memalukan untuk dibahas. Padahal, toilet adalah kebutuhan mendasar bagi manusia sesuai dengan
Millennium Development Goals (MGDs)

Toilet. Sebuah ruangan kecil yang mungkin bagi sebagian besar orang merupakan suatu hal yang tidak terlalu diperhitungkan. Sedikit sekali orang yang memiliki pemikiran kritis soal toilet seperti yang dilontarkan oleh Jack Sim, sang pendiri World Toilet Organization pada kalimat di atas. Bagi kebanyakan orang, fungsi toilet tidak lebih daripada sekedar ‘tempat pembuangan akhir’ sehingga pemeliharaannya seringkali terabaikan. Berbicara dalam lingkup yang lebih luas, sesungguhnya toilet berbicara mengenai banyak hal yang terkait dengan kepentingan khayalak.

Pertama adalah kebersihan dan kesehatan. Ketua Asosiasi Toilet Indonesia (ATI), Naning Adiwoso mengungkapkan bahwa 65% dari penyakit manusia datang dari toilet. Bahkan penyakit seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan flu burung bertebaran ke seluruh dunia melalui toilet. Kedua, toilet berbicara mengenai budaya yang menunjukkan karakter sebuah bangsa. Kondisi toilet, terutama toilet umum yang terdapat di sebuah wilayah, kota, atau bahkan negara yang mayoritas sangat kotor dan tidak terawat secara tidak langsung menunjukkan budaya masyarakatnya yang ‘jorok’, tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan serta kurang bertanggung jawab terhadap kebersihan dan keutuhan fasilitas publik. Ketiga, citra atau image dari sebuah negara. Ini adalah ruang lingkup yang paling luas dari kedua aspek sebelumnya yang langsung terkait dengan persepsi masyarakat internasional terhadap suatu negara, disadari maupun tidak. Citra ditimbulkan dari perilaku masyarakat. Perilaku masyarakat menjadi perilaku negara yang akan menentukkan tingkat soft power sebuah negara. Dalam studi hubungan internasional, Joseph Nye mendefinisikan soft power sebagai kekuatan nasional yang didasarkan pada nilai-nilai, ideologi dan ciri-ciri budaya yang secara konkrit diperlihatkan melalui kebijakan dan perilaku negara atau produk-produk seperti musik, film, dan makanan yang dikonsumsi secara luas. Meskipun tampak sepele, perilaku masyarakat yang tidak mampu menjaga kebersihan toilet akan berpengaruh terhadap soft power dari negaranya. Dengan demikian, toilet termasuk salah satu isu yang diperhitungkan dalam hubungan internasional. Memang, belum ada data yang menunjukkan relevansi langsung antara toilet dan soft power sebuah negara dibandingkan dengan isu lain seperti isu pemanasan global. Meskipun demikian, toilet merupakan unsur tidak langsung penentu citra yang kelak akan berdampak pada soft power negara tersebut, terlebih masalah toilet terkait erat dengan masalah global seperti masalah kemiskinan dan penyakit.

Sebagai contoh, mari kita lihat kondisi toilet di bandara internasional Soekarno-Hatta dan Changi, Singapura. Ketika kita menengok toilet di Soekarno-Hatta, yang nampak adalah toilet ‘injak’ alias toilet duduk yang digunakan dengan posisi menginjak sehingga menimbulkan kesan sangat kotor. Di bandara Changi, sekalipun model toilet yang digunakan adalah model toilet kering namun kondisinya sangat bersih. Padahal, bandara adalah ‘pintu gerbang’ dari sebuah negara. Kesan pertama (first impression) terhadap sebuah negara tentu saja diperoleh dari bandara. Dapat dibayangkan bagaimana kesan masyarakat asing terhadap Indonesia setelah menggunakan toilet di bandara Soekarno-Hatta. Sekalipun pemerintah Indonesia telah mencanangkan program Visit Indonesia Year 2008, tanpa kondisi toilet yang bersih para turis asing tidak akan tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. China yang tengah bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade bahkan sudah memiliki ribuan toilet dengan standar yang ketat.

Alasan kedua mengapa toilet menjadi isu dalam hubungan internasional adalah lahirnya Organisasi Toilet Dunia (World Toilet Organization) pada tahun 2001 beranggotakan 91 organisasi yang berasal dari 46 negara. Kelahiran Organisasi Toilet Dunia ini diprakarsai oleh seorang pengusaha Singapura bernama Jack Sim. Sim prihatin melihat kenyataan tidak adanya orang yang mau berbicara tentang toilet. Akibatnya, sekitar 42% dari penduduk dunia tidak memiliki toilet yang baik. Malah di sejumlah negara masih banyak ditemukan penduduk yang membuang hajat mereka langsung ke sungai atau semak-semak. Keprihatinan ini akhirnya mendorong Sim dan rekan-rekannya mendirikan World Toilet Organization pada tanggal 19 November 2001. Sejak itulah tanggal 19 November ditetapkan sebagai Hari Toilet sedunia.
Dengan peringatan Hari Toilet sedunia ini, Sim yakin masalah toilet dapat menjadi pembahasan banyak orang. Visi dari Organisasi Toilet Sedunia ini adalah menciptakan sanitasi yang bersih, aman, hemat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan bagi setiap orang sedangkan misinya adalah mengkampanyekan sistem toilet yang baik melalui pendidikan publik dan berbagai program nyata.

Organisasi ini juga menyelenggarakan World Toilet Summit setiap tahunnya di berbagai negara (Singapura, Korea Selatan, Taiwan, China, Irlandia, Rusia, dan New Delhi) yang dihadari oleh sejumlah tokoh penting seperti Chairman of the Advisory Board of the UN-Secretary-General on Water and Sanitation. Tujuan dari summit ini adalah menyediakan kerangka bersama bagi seluruh stakeholders untuk saling berbagi, belajar, dan bekerja sama dalam mencapai target global untuk masalah sanitasi. Selain itu, organisasi ini juga menyelenggarakan World Toilet Expo dalam bentuk pameran dan diskusi bersama untuk merangkul publik, swasta, dan sektor kemanusiaan untuk mencari solusi bersama atas permasalahan sanitasi. World Toilet Expo diselenggarakan untuk yang pertama kalinya di Shanghai pada tahun 2005. Organisasi Toilet Dunia ini juga mendukung program MDGs (Millenium Development Goals) dari PBB yang salah satu targetnya adalah mengurangi separuh jumlah masyarakat dunia yang tidak memiliki akses terhadap sanitasi pada tahun 2015. Sebagai implemetasinya, Organisasi Toilet Dunia mengadakan sebuah gerakan yang bernama “International Year of Sanitation 2008”.

Bagaimana dengan Indonesia? Pasca terbentuknya Organisasi Toilet Dunia, Indonesia pun membentuk Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) dengan Naning Adiwoso sebagai ketua. Negara lain pun mulai membangun asosiasi-asosiasi toiletnya yang kemudian menjalin kerjasama dengan Organisasi Toilet Internasional. Dan urusan toilet pun menjadi isu baru dalam hubungan internasional….

Advertisements

7 thoughts on “Toilet sebagai Bagian dari Isu Internasional

  1. Yg aku pikirkan, betapa hebatnya sifat air mutlak, suci mensucikan. Semua air pasca digunakan bisa diunggah lagi ke mesin dan hasilnya adalah air tohirun mutohhirun. Nggak usah dilihat bekas apanya. GREAT ACTION !

    • wah trimakasih atas tulisannya
      membantu saya untuk memperkuat tugas sebagai data pendukung dalam program studi hubungan internasional.sebab tugas saya di tolak sama dosen karena dosen saya katakan tidak ada hubungan antara pentingnya kebersihan toilet pada hubungan internasional.
      Trimakasih
      salam

      • Sama-sama Sdr. Bram….

        Kebersihan toilet sangat terkait isu hubungan internasional. Secara permukaan, kebersihan toilet amat terkait dengan citra negara. Dalam jangka panjang, toilet berkorelasi erat dengan masalah kemiskinan, pendidikan dan kesehatan dan kita tahu bahwa poin-poin MDGs concern mengangkat isu tersebut. Semangat mengerjakan tugas ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s