Denias, Khuda Kay Liye dan Diplomasi Film

Film disukai banyak orang. Film juga banyak berbicara dan sangat berpotensi mempengaruhi gaya hidup seseorang. Tak perlu jauh-jauh. Saat ini, cukup banyak masyarakat Indonesia yang mendapatkan inspirasi gaya hidup, gaya berpakaian, termasuk gaya berbicara melalui film-film yang pernah ditontonnya. Hollywood bahkan menjadi icon budaya pop AS yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi gaya hidup dunia. Dengan menonton sebuah film Hollywood, katakan dalam dua jam, seolah kita telah bertualang sangat lama di Barat. Sekilas gambaran terkait gaya hidup orang Barat segera tertanam dalam pikiran. Ketika kita mendengar sesuatu terkait gaya hidup Barat, Hollywood-lah yang umumnya pertama kali muncul dalam benak kita. Film, sebuah ruang audiovisual yang sensasional. Oleh karenanya, tak heran jika film dikatakan sebagai salah satu instrumen diplomasi publik yang paling efektif.

Seperti halnya musik, film adalah sesuatu yang bersifat universal. Seiring dengan kemajuan teknologi, kendala bahasa nampaknya tidak lagi menjadi masalah. Banyak sekali film yang diterima secara luas olah masyarakat dunia, tak peduli dari mana ia berasal. Jika dahulu film-film Hollywood cenderung mendominasi layar lebar dunia, kini film-film non-Hollywood dengan kekhasan kulturnya sudah banyak bertebaran. Tema yang diangkat pun sudah meluas, tak melulu berbicara mengenai cinta dua insan atau si putih menang melawan si hitam. Lingkungan hidup, kemiskinan, politik, dan budaya lokal menjadi tema-tema yang mulai banyak digarap oleh Hollywood maupun oleh industri film di negara lainnya. Melalui kemasan yang menarik, film-film dengan tema ini mampu meraih perhatian dunia. Kecenderungan ini semakin mempermudah para sineas dan pemerintah untuk memanfaatkan film sebagai instrumen diplomasi publik.

Pertanyaannya, bagaimana proses sebuah film dapat menjadi instrumen diplomasi publik dan apa saja syarat khusus agar sebuah film dapat menjadi instrumen diplomasi? Sederhana: seluruh film dapat menjadi instrumen diplomasi namun tidak seluruh film dapat menjadi instrumen diplomasi yang positif dan efektif. Positif dalam arti si film dapat memenuhi tujuan utama dari diplomasi publik yakni menumbuhkan opini masyarakat yang positif di negara lain. Efektif dalam arti si film mampu mengubah persepsi dan tindakan negara lain.

Sebagai contoh, marilah kita berkaca dari film kontroversial buatan politikus Belanda bernama Geert Wilders, Fitna. Film berdurasi 15 menit ini dibuat oleh Wilders untuk tujuan diplomasi dalam arti negatif. Pertama, Wilders membuat film ini dengan motivasi untuk menumbuhkan kebencian terhadap umat Islam, sangat bertolak belakang dengan sikap resmi pemerintah Belanda yang justru mengedepankan toleransi antar umat beragama dan multikulturalisme. Kedua, alih-alih efektif, film ini malah menuai kecaman dari dunia termasuk dari kalangan non-Islam. Bandingkan dengan pesan moral yang hendak disampaikan melalui film Ayat-Ayat Cinta. Film Ayat-Ayat Cinta akhirnya menuai beragam apresiasi positif dari seluruh masyarakat Indonesia yang juga bersifat multikultur dan multireligi. Meskipun demikian, film Fitna dapat dikatakan efektif dalam menyedot perhatian dunia karena digunakannya media internet. Dalam teori, media massa memang menjadi penentu utama efektivitas sebuah diplomasi publik. Artinya, jika tidak dipublikasikan secara luas pada dunia, film dengan kualitas sebaik apapun tidak akan mampu menjadi sarana diplomasi publik yang efektif.

Catatan penting lainnya bagi efektivitas diplomasi film adalah bagaimana film tersebut mampu menangkap ciri khas masyarakat lokal beserta gaya hidupnya, bagaimana film tersebut mampu berinteraksi dengan penontonnya, serta bagaimana film tersebut memiliki aspek kultural sekaligus menghibur sehingga penonton dapat memahami pesan yang hendak disampaikan. Tentu kita masih ingat dengan serial film yang diangkat dari rangkaian novel karya novelis ternama Taiwan, Qiung Yao, yang berjudul Putri Huan Zhu (Huan Zhu Gege). Meskipun tidak diciptakan secara sengaja dalam rangka diplomasi resolusi konflik, film seri ini ternyata mampu mencairkan ketegangan antara RRC dan Taiwan. Ini diakui baik oleh pemerintah RRC maupun pemerintah Taiwan. Dengan dominasi aksen Taiwan dan setting RRC era kaisar Qing, film ini seolah menampilkan simbol persatuan yang mampu memikat masyarakat kedua China.

Contoh lainnya adalah film-film Indonesia yang menjadi instrumen diplomasi di Polandia. Dalam pekan film Indonesia di Kino Luwa Warsawa, Polandia pada Maret 2008, 11 film karya sineas muda Indonesia berhasil menarik perhatian ribuan orang di Polandia. Film-film yang ditampilkan antara lain adalah Denias, Koper, D’Bijis, Janji Joni, Arisan, Berbagi Suami, Ca Bau Kan, Biola Tak Berdawai, Gie, dan Biarkan Bintang Menari. Bagi masyarakat Polandia, film Arisan dan Berbagi Suami merupakan film unik yang mengangkat tema hubungan sejenis dan realita dalam kehidupan rumah tangga sementara film Denias dinilai lebih mengusung budaya lokal Indonesia. Film Koper secara sederhana mengeksplorasi pertentangan prinsip pribadi seorang pegawai rendahan dengan kemiskinan yang digulatinya. Semua film ini dilengkapi dengan teks bahasa Polandia sehingga memudahkan penonton untuk mencerna inti cerita. Yang mengejutkan, total penonton yang datang mencapai 4.000-5.000 orang dan mendapat ulasan dari 6 radio, 2 televisi dan 5 media cetak di Polandia.

Film lainnya yang diciptakan dalam rangka diplomasi adalah film dari Pakistan berjudul Khuda Kay Liye (Atas Nama Allah) yang dirilis 4 Maret 2008. Film ini diharapkan dapat mencairkan konflik politik antara India-Pakistan terkait berbagai hal seperti sengketa di perbatasan Kashmir, banyaknya teroris Taliban yang masuk dari Pakistan ke India, serta adu senjata rudal dan nuklir. Para artis dan perusahaan film di India maupun Pakistan yakin bahwa pertukaran budaya dengan pemutaran film ini dapat memecah hambatan dalam hubungan kedua negara. Sejumlah warga India pun menyambut baik kehadiran film Pakistan yang pertama ini. Khuda Kay Liye menjadi film Pakistan pertama yang diputar di 300 bioskop India. Sebelumnya, film-film Bollywood sempat dilarang tayang di Pakistan pada tahun 1965an karena konflik politik kedua negara. Namun pada saat ini sejumlah film Bollywood telah diputar di bioskop-bioskop Pakistan. Film Khuda Kay Liye ini memang memiliki kaitan dengan Bollywood karena dibintangi oleh aktor kawakan India, Naseruddin Shah. Yang berbeda adalah temanya. Berbeda dengan film-film Bollywood lainnya, film ini berpusat pada kehidupan umat Islam sejak serangan 11 September 2001.

Film dokumenter bertema lingkungan hidup seperti film Earth dan Inconvenient Truth juga dapat menjadi instrumen diplomasi persuasif yang efektif. Film Inconvenient Truth beserta sang tokoh, Al Gore, bahkan berhasil meraih penghargaan Oscar: sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus menunjukkan besarnya perhatian dunia pada masalah pemanasan global. Penggunaan film sebagai salah satu instrumen diplomasi publik pun akan semakin marak di masa yang akan datang. Artinya, Indonesia memperoleh catatan penting. Pemerintah perlu mendukung dan mengapresiasi langkah para sineas Indonesia untuk terus berkarya. Di sisi lain, sineas Indonesia harus meningkatkan kualitas karyanya yang menampilkan kultur lokal yang dapat mewakili karakter khas Indonesia. Masyarakat Indonesia pun seharusnya belajar dari masyarakat Polandia yang lebih memilih menikmati tontonan berkualitas. Selamat datang di era diplomasi film!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s