Cegah Krisis Air di Bandung Sekarang Juga!

Air yang sulit mengalir memang sudah biasa. Namun saya cukup terkejut ketika pada suatu hari mendapati keran di rumah mengalirkan air dengan warna yang sangat keruh. Di lain waktu, saya kembali terkejut ketika mendapati bahwa pasokan air sumur di rumah salah seorang kerabat yang biasanya tidak pernah surut, kini menjadi sebuah ‘lubang kosong’. Terakhir, Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLHD) Kota Bandung, Nana Supriatna mengemukakan bahwa 60% persediaan air tanah di kota Bandung dinyatakan berada dalam fase kritis air meliputi: Buahbatu, Kosambi, Cipaganti, Pasirkaliki, dan Bandung Timur. Ini hanyalah gambaran secuil fakta bahwa Bandung tidak hanya mengalami krisis air secara kuantitatif namun juga kualitatif. Sungguh ironis dan sangat mewakili gambaran krisis air yang terjadi di Indonesia.

Seperti ‘krisis-krisis’ lainnya (ekonomi, energi, dll), faktor penyebab tejadinya krisis air bersifat multidimensi. Penyebab yang ditenggarai menjadi pemicu utama krisis air di Bandung adalah turunnya muka air tanah yang mencapai empat meter setiap tahun. Kepala Pusat Lingkungan Geologi (PLG) Badan Geologi, Ahmad Djumarma (Okt 2006) mengungkapkan bahwa sejak 1980 hingga saat ini telah terjadi penurunan permukaan air tanah lebih dari 40 meter. Jika pada 1980, warga mendapatkan air setelah melakukan pengeboran sedalam 30 meter, maka pada saat ini air baru mengalir setelah menggali sedalam 80 meter! Penyebab dari turunnya muka air tanah ini tentu sangat beragam: maraknya aktivitas alih fungsi lahan, makin tingginya kebutuhan terhadap air, eksplorasi air tanah secara berlebihan, hingga privatisasi sumber air.

Semakin gencarnya pembangunan ekonomi, menuntut maraknya pembukaan lahan baru yang dengan demikian harus mengorbankan ruang terbuka hijau. Jika pembukaan lahan ini memang ditata secara terstruktur serta disertai dengan Analisis Dampak Lingkungan yang baik, tidak terlalu masalah. Menjadi masalah besar tatkala pembukaan lahan dilakukan secara serampangan demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi dan profit semata. Lihat saja ancaman krisis air yang mengintai warga Majalaya. Hampir semua sungai yang dilalui pabrik tekstil di Majalaya berwarna hitam atau pekat dan berbau tajam. Malam hari, pembuangan limbah cair dari pabrik ke badan sungai meningkat dua hingga tiga kali lipat dengan warna sesuai warna bahan celupan pabrik yang dibuang. Bau tak sedap pun tercium sangat menusuk. Melalui penelitian kualitas air di kawasan industri Majalaya, Mei 2006, Komite Peduli Lingkungan (KPL) Bandung mencatat 36 pabrik yang diduga mencemari Sungai Citarum dan sejumlah sungai lainnya. Seluruh pabrik tersebut diketahui tidak memiliki instalasi pembuangan limbah yang memadai dan membuang seluruh sisa produksi cairnya ke badan sungai. Mengerikan saat membayangkan dampaknya.

Eksplorasi air tanah secara berlebihan oleh industri pun menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis air. Selain Majalaya, warga di Kecamatan Rancaekek, Dayeuhkolot, dan Ketapang juga mengalami krisis air, termasuk pada musim hujan. Saat ini terdapat 888 sumur bor air yang dioperasikan oleh sekitar 526 perusahaan di wilayah tersebut. Berlanjutnya proyek-proyek pembangunan di kawasan Bandung Utara (Punclut, Lembang, dkk) juga menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis air. Padahal, kawasan Bandung Utara menjadi salah satu wilayah resapan air yang sangat vital. Orang tua dari seorang rekan saya yang bekerja pada salah satu instansi pemerintah, dipecat atasannya karena menolak memberikan ijin pada salah satu proyek pembangunan. Padahal, alasan utama penolakannya sangat sederhana: pembangunan yang dilakukan berpotensi besar merusak lingkungan hidup di kawasan Bandung Utara.

Penyebab lain terjadinya krisis air yang sangat klasik adalah tingginya kebutuhan terhadap air yang tidak diimbangi dengan kuantitas dan kualitas air yang memadai. Terbatasnya kemampuan air untuk memenuhi seluruh kebutuhan warga Bandung pun memicu maraknya privatisasi air. Di daerah Sindangjaya dan Sindanglaya, setidaknya ada empat mata air yang sudah diprivatisasi. Pasirwangi dan Ujungberung juga menjadi pusat penjualan air dengan yang dioperasikan oleh minimal sembilan pengusaha air. Tiga puluh pengusaha truk juga membeli dan menjual air dari mata air di sekitar Pasirwangi. Mentalitas warga Bandung pun menjadi salah satu faktor terjadinya krisis air air yang tidak boleh dilupakan. Itu sebabnya berbagai gerakan yang mengkampanyekan penghematan air mulai gencar dilaksanakan kembali.

Lantas apa saja solusi yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun warga Bandung? Warga Bandung dapat melakukan upaya penghematan air seperti yang sudah banyak disebutkan di berbagai media massa: menggunakan air secukupnya, menutup keran air ketika tidak digunakan, tidak mencuci mobil dengan menggunakan air ledeng, tidak membuang limbah ke sumber air, dan sebagainya. Gerakan hemat air ini dapat ditanamkan sejak usia dini. Upaya lain yang dapat dilakukan warga adalah memberdayakan pengelolaan air bagi kebutuhan bersama seperti yang telah mulai dilakukan di Kelurahan Babakansari, Kecamatan Kiaracondong, dan Kecamatan Bandung Kidul. Selain dapat memberdayakan potensi air bersih secara hemat dan efisien, biayanya pun jauh lebih ringan dibandingkan dengan biaya menjadi pelanggan PDAM.

Pemerintah pun dapat melakukan beberapa hal untuk mencegah krisis air yang berkepanjangan. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan pemetaan wilayah Bandung berdasarkan potensi sumber air serta membuat sebuah grand design jangka panjang manajemen air. Ini adalah modal awal yang penting bagi pemerintah untuk menentukkan ragam solusi konkret selanjutnya apalagi pada April 2005 Presiden SBY pun sudah menginstruksikan kepada lembaga pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk merumuskan langkah terpadu, sistematis dan terarah untuk menyelamatkan air. Bagaimana mungkin pemerintah dapat merumuskan langkah terpadu, sistematis dan terarah apabila bahkan tidak memiliki grand design yang jelas.

Selanjutnya, dalam jangka panjang pemerintah perlu menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bandung yang lebih terstruktur dengan pertimbangan yang lebih matang untuk menyelematkan Bandung dari ancaman krisis air. Langkah ini harus diiringi dengan reformasi birokrasi internal agar kejadian seperti yang dialami oleh orang tua rekan saya tidak terulang kembali. Karena terkait erat dengan mentalitas yang berurat akar dalam aparat pemerintah, upaya perubahan ini tentu saja tidak mudah. Meski demikian, mentalitas aparatlah yang dalam berbagai kasus justru menjadi faktor kunci terjadinya krisis air dalam jangka panjang di Bandung. Langkah lain yang dapat dilakukan dalam jangka pendek adalah melakukan penghijauan (reboisasi) untuk merehabilitasi lahan kritis dan memperluas paru-paru kota secara menyeluruh. Ini penting dilakukan untuk memperluas atau minimal mempertahankan total wilayah serapan air di Bandung. Akhirnya, ada banyak sekali langkah yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah maupun warga Bandung untuk mencegah terjadinya krisis air. Patut disadari bahwa ancaman krisis air sudah di depan mata. Oleh karena itu, upaya mencegah terjadinya krisis air menjadi tanggung jawab kita bersama. Cegah krisis air di Bandung sekarang juga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.