Internet dan Diplomasi Virtual

Dewasa ini, aktivitas diplomasi praktis sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi. Kemajuan teknologi informasi akhirnya melahirkan diplomasi virtual yang terbukti dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan luar negeri sebuah negara. Dalam perkembangan selanjutnya, dunia virtual bahkan dimanfaatkan secara matang oleh negara dalam rangka memperlancar aktivitas diplomasi yang tengah dilakukannya.

Lantas apa definisi dari yang sesungguhnya dari diplomasi virtual? Banyak sekali versinya. Dalam tulisan ini, saya akan mengutip definisi yang dikemukakan oleh E.J. Dionne Jr. Beliau adalah pencetus pertama istilah diplomasi virtual pada tanggal 18 Mei 2008 di sebuah majalah di Washington. Menurut E.J. Dionne Jr, diplomasi virtual meliputi pengambilan keputusan, koordinasi, komunikasi dan praktik hubungan internasional yang dipengaruhi oleh bantuan teknologi komunikasi dan informasi. Pada saat ini, ragam teknologi komunikasi dan informasi jelas sangat bervariasi mulai dari televisi, email, telepon genggam, hingga internet. Selanjutnya, kita akan melihat aktivitas diplomasi virtual yang dilakukan dengan menggunakan internet.

Setelah boomingnya era CNN effect melalui media televisi yang mempengaruhi aktivitas diplomasi berbagai negara, internet muncul sebagai sebuah terobosan penting dalam berdiplomasi. Melalui internet, publik memiliki kebebasan dalam mengakses dan menganalisis setiap keputusan yang diambil oleh negara. Aktivitas diplomasi akhirnya tidak lagi menjadi milik istimewa aktor resmi pemerintah. Itu sebabnya aktivitas “diplomasi tanpa diplomat” (diplomacy without diplomat) sangat sering terjadi. Lebih ekstrim lagi, Harold Nicholson mengatakan bahwa perkembangan teknologi komunikasi menyebabkan peran dan fungsi seorang duta besar semakin berkurang dan diplomat-diplomat merosot statusnya sebagai tenaga administrasi.

Dengan bantuan internet, pembicaraan antar kepala negara atau perwakilan negara juga dapat dilakukan sekalipun antar pihak yang bersangkutan tidak berada dalam tempat yang sama. Artinya, internet sangat membantu efisiensi diplomasi baik dalam segi waktu maupun biaya. Dari segi waktu karena kepala negara atau perwakilan negara dapat kembali melakukan aktivitasnya segera setelah melakukan aktivitas diplomasi. Komunikasi lebih lanjut juga menjadi lebih mudah dilakukan tanpa perlu menunda aktivitas lainnya. Dari segi biaya karena upacara protokoler yang wajib dilakukan untuk menyambut perwakilan negara, tidak lagi diperlukan.

Internet juga memungkinkan publik turut berpartisipasi dalam memberikan masukkan bagi para pengambil kebijakan luar negeri. Opini publik dapat tercermin dalam bentuk berita internet (news web), analisis dari suatu lembaga akademis maupun opini pribadi dalam blog yang sangat mengusung konsep jurnalisme publik (citizen journalism). Dengan kata lain, publik tidak hanya menjadi penonton pasif dari berlangsungnya aktivitas diplomasi namun juga menjadi aktor aktif yang turut menentukkan berjalannya praktik hubungan internasional. Itu sebabnya negara-negara seperti China dan Myanmar berupaya keras melarang pemberitaan atau opini pribadi bernuansa kritik terhadap pemerintah melalui internet. Kedua negara ini sama-sama khawatir kritik tersebut dapat merusak citra negara dan memprovokasi masyarakat lainnya untuk melawan pemerintah.

Bila kita cermati fenomena yang terjadi dewasa ini, internet tidak hanya menjadi sarana diplomasi virtual antar negara. Dalam kasus Film Fitna, internet menjadi sarana diplomasi antara negara dan aktor non-negara yang juga sangat mempengaruhi praktik hubungan internasional. Film kontroversial yang disebarluaskan melalui situs YouTube dan LiveLeak ini serta-merta menuai kemarahan publik dan kecaman dari berbagai negara. Melalui film ini, sang pembuatnya yang berasal dri Belanda, Geert Wilders hendak menyampaikan pada publik dan pemerintah terkait dua hal. Pertama, Wilders ingin menyampaikan Islam sebagai agama yang tak toleran. Kedua, Wilders ingin mengabarkan bahwa Islam adalah ancaman jangka panjang bagi kebebasan di Belanda. Alhasil ‘diplomasi’ Wilders ini justru menyebabkan Belanda harus berdiplomasi untuk menenangkan masa dan menyatakan bahwa pemerintah Belanda pun mengutuk film ini.

Penayangan gambar kerusuhan di Tibet, pemukulan para biksu oleh junta militer Myanmar dan parahnya penanggulangan pemerintah Myanmar pasca Topan Nargis yang dikirimkan melalui internet oleh wartawan dan aktivis, memicu reaksi dunia. Segera setelah video pemukulan para biksu oleh junta militer Myanmar terungkap, misalnya, kecaman dari berbagai negara datang bertubi-tubi dan memancing DK-PBB untuk bereaksi. Demikian pula dengan beredarnya informasi terkait serbuan para biksu di Tibet pada wartawan asing yang tengah melakukan liputan pasca kerusuhan atas undangan resmi dari pemerintah China. Gambar para biksu yang menangis terisak-isak segera saja menjadi headline news di berbagai situs yang mengundang kecaman baru terhadap pemerintah China.

Meski demikian, diplomasi antar aktor negara, negara dengan dan non-negara atau bahkan antar aktor non-negara, tidak hanya berlangsung pada tataran politik dan HAM. Perekonomian yang semakin mengglobal menuntut makin tingginya intensitas komunikasi dalam ruang-ruang virtual. E-Commerce dan E-Banking bukan lagi merupakan sebuah hal baru. Calon investor asing jelas akan terlebih dahulu melihat jejak rekam perusahaan lokal melalui internet sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Pada akhirnya internet menjadi sarana yang sangat efektif dalam meningkatkan performa ekonomi yang akan berdampak pada penguatan citra negara. Hanya saja aktor dalam negeri harus terlebih dahulu memiliki keahlian yang memadai dalam menggunakan internet sebagai fondasi awal menuju perluasan pangsa pasar di kancah dunia.

Terakhir, internet juga banyak digunakan sebagai sarana diplomasi personal yang ditujukan pada komunitas internasional. Contoh nyata dalam hal ini adalah kampanye pemilihan presiden AS. Banyak analis menilai bahwa kemenangan Barack Obama dalam putaran pemilihan pendahuluan salah satunya disebabkan karena kemampuannya memanfaatkan internet. Melalui internet, figur Obama yang sebelumnya kurang dikenal secara luas akhirnya dikenal publik selain sekaligus menggalang dana kampanye. Selain membuat situs dot com, Obama juga memanfaatkan berbagai situs yang banyak digunakan oleh kalangan anak muda AS seperti facebook dan YouTube, berbeda dengan Hillary yang lebih banyak menggunakan pendekatan konvensional. Sebagai langkah awal diplomasinya, motto “In Change, We Belive In” yang diusungnya tidak hanya ditujukkan pada masyarakat AS namun juga pada masyarakat internasional.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa maraknya diplomasi virtual melalui internet merupakan bukti nyata pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana diplomasi antar negara maupun antara aktor negara dan non-negara. Meskipun diplomasi virtual semacam ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan, internet menjadikan aktivitas diplomasi berjalan lebih komunikatif dan efisien. Di masa yang akan datang, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi akan semakin ‘memaksa’ pemerintah untuk melibatkan publik dalam setiap aktivitas diplomasinya.

Advertisements

12 thoughts on “Internet dan Diplomasi Virtual

  1. gue setuju sil, buat gue internet itu adalah media pembentuk opini publik yang paling efektif selain TV di jaman supermillenium ini.
    bukan hanya pembentuk opini publik ttg suatu negara, atau issue tertentu, internet juga bisa untuk menaikkan rating seseorang dan bisa bikin seseorang mendadak terkenal. coba aja liat artikel Politik Kampus di blog gue. Liat komen2nya yg trakhir, gue jadi mendadak terkenal. hehehe

  2. Coba kunjungi blog saya di The Asrudian Center (TAC): http://asrudiancenter.wordpress.com/.

    About TAC
    The Asrudian Center (TAC) digagas dan diwujudkan oleh Asrudin: pemerhati perkembangan studi Hubungan Internasional. Asrudin menamatkan pendidikannya di IISIP Jakarta, jurusan Hubungan Internasional dan sedang merencanakan program S2. Bersama Mirza Jaka Suryana, Asrudin menyunting buku “Refleksi Teori Hubungan Internasional” (akan terbit) yang berisi buah pemikiran ilmuwan-ilmuwan HI ternama luar dan dalam negeri, diantaranya Steve Smith, Reuss-Smith, Richard Price, Aleksius Jemadu, Subarno, Muhadi Sugiono, dll.,
    Web TAC ini dibuat dengan maksud memenuhi tuntutan akademik di tengah minimnya literatur HI di Indonesia. Didalamnya dapat ditemukan berbagai sumber informasi yang berkaitan dengan studi Hubungan Internasional. TAC menyediakan artikel-artikel ilmiah ataupun buku yang berhasil di download dari berbagai sumber. Realisme, democratic peace, teori integrasi, teori kritis, posmodernisme/posstrukturalisme, konstruktivisme, english school, feminisme, mazhab Cina, dan poskolonialisme, semuanya dapat dilihat di TAC. Komen dan saran dapat ditujukan ke : d_asrudian@yahoo.co.id

  3. Yup. I agree with you.
    Liat aja kemenangan politik Obama ta lepas dari pengaruh internet dan kaum2 muda yang turut mengembangkannya. Gw baca di TEMPO.
    Smoga aja di I Indonesia begitu nanti 2009

  4. Couldn’t agree more on this.

    Dampak yang begitu besar dari keberadaan internet *teknologi informasi* memang menjadi satu fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Kemajuan teknologi informasi yang dipelopori internet telah berhasil menjadi “agen desentralisasi”, meminjam istilah dari Friedmann, dan hal ini memunculkan berbagai diskursus baru dalam berbagai hal. Mulai dari ‘nettizen’, ‘global civil society’, hingga berbagai macam konsep turunan dari internet lainnya yang secara langsung mempengaruhi interaksi yang terjadi di dunia.

    Nice artikel Sylvie!

  5. –> ALL: Bener banget! Mudah-mudahan para politisi kita pun bisa memanfaatkan teknologi informasi ini dengan baik dan berkualitas: bukan cuma jadi ajang mejeng tapi jadi sarana untuk memperkenalkan visi-misi, opini terhadap isu tertentu, dan yang penting menerima masukan dari publik. Amin.

  6. Oh gee..
    Tulisan yang cukup bagus mba.
    kebetulan sekali judul skripsi yg saya angkat itu berhubungan dengan tulisan yang mba buat. Judul saya itu tentang “Fenomena Internet sebagai sarana diplomasi di bidang ekonomi dan perdagangan” tapi saya masih membutuhkan banyak sumber untuk skripsi saya tersebut. Mungkin mba sylvie punya beberapa referensi buku atau jurnal yang bisa saya jadikan acuan.Kalau ada mba sylvie bisa mengirimkan balasannnya ke alamat email yang saya tinggalkan.(modesta_ciello_galardo@yahoo.com)
    Thx b4 mba. GBU ^^

  7. Maaf, darimana Anda mengatakan bahwa saya melakukan plagiat? Saya mengolah bahan-bahan ini sendiri lebih dari tiga tahun lalu, dapat melakukan presentasi mengenai bahan ini, dan sangat bersedia bertemu dengan teman yang Anda maksud. Mohon tidak melakukan tuduhan tanpa bukti yang mendasar. Terima kasih.

  8. Saya hanya memperingatkan dan mengingatkan tindakan plagiat mbak.Jelas sudah terlihat dari tulisan mbak yang tidak memasukkan KUTIPAN SAMA SEKALI. Ini saya lampirkan linknya. { http://www.scribd.com/doc/24171321/makalah-dipmod }. terlihat di tulisan mbak, cuma mengubah susunan paragraf makalah dan menambahkan sedikit analisis mbak. sebenarnya mbak bisa legal dan ilmiah lagi jika memasukkan kutipan dengan menambah analisis mbak atau beberapa komentar. Ya saya akui ini juga kesalahan Avina yang mengupload makalah akhir mata kuliah dipmod….. mungkin saya cuma membantu forum wordpress ya mbak, moga-moga saran saya diterima.

  9. mmm, sangat disayangkan ternyata kakak juga mahasiswa HI UNPAR , harusnya kakak tau yang mana plagiat dan yang mana tidak. apalagi tulisan kakak copy paste banget.malu dong angkatan 2005 copas angkatan 2009. ya saya sebagai mahasiswa HI UI juga tersentak karena juga sedang menyusun tugas UTS dan melihat dokumen asisten dosen kelas saya sama dengan tulisan mbak di google. mungkin selama ini banyak mahasiswa upload dokumen ke scribd juga ya mbak gara-gara regulasinya begitu. ya hikmahnya mungkin kita juga mencegah plagiarisme dengan tidak mengupload sembarang. thanks ya kak, bukan menginsult tapi ini menjadi pembelajaran bersama jg. Thanks JBU

  10. Maaf, sekali lagi tuduhan Anda sama sekali tidak berdasar dan sarat dengan tuduhan dan pencemaran nama baik secara sepihak. Pertama, saya sama sekali tidak pernah membuka dokumen scribdt bahkan tidak tahu apa itu scribdt. Saya coba unduh link yang Anda buat yaitu http://www.scribd.com/doc/24171321/makalah-dipmod dan sama sekali tidka berhasil mengunduhnya (hanya smapai halaman 3).

    Kedua, coba Anda perhatikan lagi tanggal penulisan saya dalam artikel ini. Saya menulisnya lebih dari tiga tahun lalu dan saya masih punya dokumen lengkap penulisan tanggal artikel yang sudah otomatis terekam Microsoft. Kalau memang ternyata sama persis, berarti teman Anda-lah yang melakukan plagiarisme terhadap karya tulis saya.

    Anda dapat mengecek semua artikel saya dalam blog ini dan silakan periksa satu per satu apakah memang saya melakukan plagiat. Tulisan ini adalah murni tulisan opini dengan kerangka yang saya dapat dari definisi diplomasi, bahan kuliah saya waktu itu, dan ketertarikan saya dengan isu film Fitna dan TIbet yang memang sudah sering saya tulis.

    Demikian klarifikasi ini. Jika memang makalah teman Anda kelak saya jumpai sama persis dengan tulisan ini, maka saya-lah yang akan memutuskan tindakan selanjutnya untuk meminta pertanggung jawaban atas semua tuduhan Anda sekaligus aksi plagiarisme termaksud.

    Terima kasih untuk apresiasi dan kejujuran Anda dalam mengungkapkan apa yang Anda ketahui.

  11. Mohon maaf sekali bagi Josua dan Mbak Sylvi, saya mamang pernah mengutip tulisan di atas dan lupa menyebutkan sumbernya, karena waktu itu lupa menyebutkan sumber dan tugas yang belum selesai saya upload ke scribd. Saya mohon maaf sekali pada Mbak Sylvie karena tidak menyebutkan di footnote pada dokumen yang saya upload ke scribd. Pada makalah aslinya saya mencantumkan dokumen2 yang saya sadur setelah akhirnya tugas saya revisi kembali. Hanya saja yang terupload di Scribd adalah tugas yang belum saya save terakhir dan saya lupa mencantumkan beberapa sumber. Mohon maaf atas kekhilafan dan ketidaknyamanan ini. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kita bersama untuk berhati-hati dalam mengutip, menyadur tulisan dan mempublikasikannya di internet.
    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s