KISAH ANGKOT

Sudah dua bulan ini majikanku, orang yang setiap hari mengendaraiku, marah-marah. “Buset bang, BBM naik lagi!”, begitu ujarnya berulang-ulang, mengeluhkan betapa mahalnya makananku. Makananku yang konon katanya kini menjadi barang mahal di dunia ini, dikeluhkan begitu intens oleh semua orang. Aku meringis. Begitu seringnya aku mendengar kalimat ini.

Kalimat yang tidak saja diucapkan demikian seringnya oleh majikanku. Majikan rekanku ’cewek-cewek’ cantik, yakni supir angkot Cicadas-Elang berwarna merah juga melakukan hal serupa. Bahkan cewek yang aku taksir, Juju, sebuah angkot kuning jurusan Karang Setra, sempat mengeluhkan betapa ia kini makan lebih sedikit daripada sebelumnya.

Aku cukup jarang bertemu Juju karena jurusan kami yang berbeda. Aku sendiri adalah angkot biru jurusan Sukajadi. Kami hanya berpapasan di terminal Kebon Kalapa.

Maka ketika aku berpapasan dengannya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bercakap-cakap dengannya. Kebetulan majikan kami pun tengah melepas lelah. Kepulan asap rokok segera saja menyembur memenuhi tubuh kami. Namun kami sudah terbiasa. Semua angkot sudah sangat terbiasa.

“Ju, kelihatannya kau semakin kusam”, ujarku bercanda sambil menatap tubuhnya yang penuh debu.
“Ahhh, tutup mulutmu”, jawabnya. “Dulu aku mandi hampir setiap hari. Yah, minimal dua hari sekali. Tapi kini majikanku hanya memandikanku seminggu sekali. Air juga mahal, katanya”, sambungnya, lesu. “Kau sendiri nampaknya tak berbeda jauh, Abdul!”

Aku meringis saat nama lengkapku dipanggil seperti itu. Biasanya Juju hanya menyebutku Lul, nama mesra kami, atau sesekali Dul ketika ia ceria. Jelaslah bahwa ia tengah tidak mood diajak bercanda. Sebuah lagu dangdut dari Inul mengalun ringan dari speaker sebuah bus yang tengah mengumpulkan massa untuk kemudian berangkat ke Majalaya.

“Jangan marah dong, sayang. Ya, aku bahkan mandi setiap dua minggu. Hanya saja bukan karena air mahal. Majikanku memang agak malas memandikanku. Tapi setidaknya kita mesti bersyukur karena majikan kita masih sanggup merawat kita. Coba lihat si Joe. Kasihan sekali dia! Majikannya bahkan tidak sanggup memberinya makan”.

“Kau benar, Lul. Joe kini dipindahtangankan pada majikannya yang baru.” “Dan majikan barunya sangat cerewet dan pengeluh! Bayangkan, tiap dua menit Joe harus menderita sesak napas karena hidung klaksonnya terus ditekan untuk mengundang calon penumpang”, sambungku.

“Yahh…. kau benar Lul. Kita mesti ber………..”. Kalimatnya terputus oleh lengkingan seorang penumpang di tubuh Juju yang tengah mengamuk pada sang majikan. “Teu kira-kira! Mahal pisan taripna!! Paingan teuing atuh mang, ma enya ti Otista nepi ka Kebon Kalapa kudu beak dua rebu?!” (Nggak kira-kira! Mahal sekali tarifnya!! Masa iya dari Otista sampai ke Kebon Kalapa harus habis Rp 2.000?!).

Sang majikan yang berkarakter kalem, hanya dapat mengelus dada. “Atuh bu…. ayeuna teh harga BBM tos naek.” Sekali lagi makanan kami menjadi permasalahan. Kutatap Juju. Ternyata Juju hanya diam. “Ah, gelo, teu kira-kira!” ujar sang ibu sambil terpaksa membayar Rp2.000 pada majikan Juju. Selang semenit kemudian, giliran majikanku yang temperamental yang beraksi.

“Pa, atosna (uangnya) kurang sarebu!!” ujarnya pada seorang bapak-bapak yang baru saja turun dari tubuhku untuk berganti angkot. Untuk sesaat, si bapak nampak terbengong-bengong.

“Ah, naek sarebu mang? Loba oge nya….” katanya sambil membayar kekurangannya pada si sopir sambil menggendong koper cokelatnya yang tampak menggumpal bak tas wanita karir yang biasanya membawa tumpukan brosur yang sangat banyak.

“Kumaha deui atuh da. Urang ge geus lieur!!” Aku dan Juju saling bertatapan dan secara bersamaan kami membuang muka ke tanah. Capek.

“Menurutmu, Lul, sampai kapan kita berhenti mendengarkan keluhan-keluhan para majikan kita yang…” “Brengsek! Ti tatadi si Joker ngarebut penumpang aing!!!” ujar majikanku kasar, mengatai majikan temanku, Cepi yang sesama angkot Sukajadi. Hingga siang ini, tubuh Cepi kira-kira telah memuat lima puluh penumpang. Dan aku dua puluh lima. Asap rokok Garfit masih menyembur-nyembur di mulutnya.

“Urang ge geus lima rit, kakara beunang sapuluh! Harga BBM kos kieu, kumaha atuh nya….” (Saya juga sudah lima rit, baru mendapat sepuluh penumpang! Harga BBM seperti ini, bagaimana ya….) sahut majikan Juju, tak kalah. Aku dan Juju lagi-lagi terdiam.

Akhirnya kami sama-sama sadar bahwa masalah makanan kami tentu akan sulit berhenti dibahas oleh para majikan. Sementara udara siang yang menyengat sangat menghabiskan energiku, aku mengerling pada Juju. Juju membalas kerlinganku. “Kasihan masyarakat, kasihan majikan kita…..”

“Dan kasihan pemerintah….” tambahku, ingat pada sebuah siaran radio BBC yang memutar tentang kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan yang penuh intrik dan fantasi tak jelas dari para investor yang tengah berupaya meraup lebih banyak benda bernama money. Aku juga teringat pada radio El-Shinta yang memberitakan dibobolnya pagar gedung DPR oleh demonstran yang anarkis.

Jelas bahwa tanpa makanan, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Jelas pula bahwa kami tidak akan pernah dibiarkan kelaparan karena kami adalah sumber penghasilan para majikan dan para juragan angkot, tentunya. “Yah, setidaknya kita tidak akan pernah menderita kelaparan seperti pengemis yang ada di ujung sana”, kataku sambil menunjuk ke arah seorang perempuan tua di pojok trotoar yang mengemis tanpa hasil.

Aura kelaparan terpancar dari mata dan gerakan tubuhnya yang sangat lemah. Lalat-lalat pun mengerubungi tubuhnya. Irama napasnya pun tidak beraturan karena setiap hari harus menghirup buangan kami yang beracun bagi manusia: asap. Sangat mengenaskan.

“Bukan hanya pengemis itu, Lul. Di sepanjang langkahku pagi ini saja, seorang pengemis tewas tak terurus di kolong jembatan. Belum lagi minggu lalu ada seorang anak jalanan tewas usai mengamen di sebuah perempatan jalan, ditabrak oleh sebuah gank sepeda motor yang menyemut!”

“Ahhh…… Ju”, desahku sambil menunggu majikanku memenuhi tubuhku kembali dengan para penumpang. “Jadi, jadi, jadiiiii!! Ayo neng!” Tiiinnnnnn, tiinn, tiiiiiiiiiiiin (sambil memencet hidungku). “Ka mana neng, Sukajadi neng???” Hal serupa terjadi pada Juju. “Setra, setra, setra, setraaaaaa…..!!!!”

Mataku masih menatap si pengemis tua. Sudah sepuluh menit tubuhku berdiam di sini. Hanya seorang pemuda jangkung yang terlihat memberikan sekeping Rp500 pada si pengemis itu. Si pengemis meringis, sepertinya tengah menahan rasa lapar dan haus yang semakin menjadi. Jarinya bahkan tampak tak kuasa menyingkirkan lalat-lalat yang asyik menempel di tubuhnya.

“Benar Ju, kita harus bersyukur karena kita tidak pernah sekalipun kelaparan Ju…. Semoga saja makanan kita kembali murah Ju, entah kapan, agar majikan kita bahagia. Pemerintah bahagia. Masyarakat bahagia, tidak seperti sekarang ini Ju. Tapi entah kapan ya Ju….”

Juju hanya tersenyum menatapku. Matanya yang indah mengerjap, menandakkan bahwa tubuhnya sudah penuh terisi. Kaki Juju segera melangkah dan kemudian meninggalkan majikanku yang rupanya masih betah mengumpulkan massa. “Bye Lul!”

“Bye”, jawabku sambil menatapnya ringan. Buangan Juju segera saja mengepul, memenuhi udara. Seorang gadis cantik yang tengah berjalan terbatuk-batuk sesaat setelah menghirupnya. Setelah asap menipis, kulihat si pengemis tua sudah berdiri, hendak beranjak.

Aku terkejut bukan kepalang. Sebuah handphone Sonny Erickson jenis terbaru, berkamera 7 mega piksel menyembul dari tangan kanannya yang penuh lalat. Serta merta kerutan di wajahnya menghilang.

“Halo mas, ya… ya… oke, sebentar ya mas, gue pulang, mandi dulu, baru ntar kita ke BSM. Oke mas? Gue kemaren udah nge-list baju yang mau dibeli. Entar gue mau beli baju Prada sama Manggo. Modelnya catchy banget kaya di majalah Vogue terbitan paling baru! Tunggu bentar ya mas!”

Sylvie Tanaga
Bandung, 14 Juli 2008

Advertisements

2 thoughts on “KISAH ANGKOT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s