Renungan dari ‘Enchanting Indonesia 2008’

Secara hurufiah, enchanting berarti mempesona atau memikat. Dan memang demikianlah yang berhasil ditampilkan oleh putra-putri Indonesia di Civic Plaza, Ngee Ann City, dan Orchard Road, Singapura. Dengan mengusung tema yang sangat unik: just a smile away from wonders archipelago, Enchanting Indonesia 2008 ini diselenggarakan pada 26-27 Juli 2008 lalu dengan hasil yang cukup memuaskan. Bahkan Duta Besar Republik Indonesia di Singapura mengatakan bahwa Enchanting Indonesia 2008 ini berhasil menarik perhatian lebih dari 30.000 orang yang berarti naik sekitar 40% dari tahun sebelumnya.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan program Enchanting Indonesia? Enchanting Indonesia (EI) adalah suatu even tahunan yang dimulai sejak tahun 2007 di Singapura. Tujuannya adalah untuk mempromosikan pariwisata, budaya, dan juga beberapa produk-produk Indonesia kepada penduduk dan turis yang sedang berkunjung di Singapura. Itu sebabnya penyelenggaraan EI dilakukan di wilayah-wilayah ‘padat turis’ seperti Orchard Road. Acara tahunan ini diselenggarakan oleh KBRI Singapura bersama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Singapura (PPI Singapura). Adapun EI 2008 diselenggarakan sebagai bagian dari program Visit Indonesia Year 2008.

Rangkaian kegiatan dalam Enchanting Indonesia 2008 ini antara lain adalah promosi potensi wisata, table top, direct selling, pertunjukan seni dan budaya, workshop, pameran foto Indonesia pameran produk, tak lupa panganan khas Indonesia seperti gado-gado dan sate. Beragam pertunjukkan tarian tradisional semisal tari jaipongan dari Jawa Barat, tari Kecak dari Bali, dan tari bala bala dari Sulawesi, cukup menarik perhatian dari para pejalan kaki yang tengah melintas di Orchard Road. Di sudut lainnya, aneka stand makanan khas Indonesia pun cukup diminati para turis. Ketika melihat sedikit liputannya di sebuah stasiun televisi, seorang turis asal Kanada yang tengah berlibur di Singapura dan menonton acara ini, dengan semangat menturkan makanan kesukaannya pada sang wartawan: “I like gado-gado!”

Pertunjukan tarian tradisional Indonesia ini juga dimeriahkan oleh penampilan penari nasional, Didik Nini Thowok yang menampilkan dua tarian. Salah satunya adalah tari Dwi Muko (Dua Wajah). Selain itu, acara ini juga menampilkan peragaan busana karya para perancang Indonesia yang menampilkan busana batik dan busana berbahan kain tenun khas Indonesia. Bahkan rangkaian pementasan di Nge Ann City dengan inti acara bertema “Cultural Evening”, dikhususkan bagi tamu penting seperti duta besar negara-negara sahabat dan pejabat pemerintahan Singapura.

Pemilihan Singapura memang sangat baik mengingat Singapura tergolong sebagai kota transit tersibuk di dunia dengan jumlah pengunjung per tahun rata-rata 10 juta jiwa. Jika sekitar 1%-nya dapat diarahkan berkunjung ke Indonesia, tentu akan sangat luar biasa. Dari sekitar 5,5 juta turis yang berkunjung ke Indonesia, jumlah turis dari Singapura tercatat 1,4 juta jiwa. Itu sebabnya Enchanting Indonesia 2008 ini juga menawarkan paket penerbangan langsung ke Indonesia jika para turis berminat berkunjung. Biro-biro perjalanan wisata dengan cekatan menawarkan sejumlah tempat tempat menarik yang patut dikunjungi dilengkapi pameran foto-foto yang menggambarkan keindahan berbagai tempat wisata di Indonesia.

Acara yang digagas PPI Singapura bersama dengan KBRI di Singapura ini secara keseluruhan memang baik dilakukan sebagai salah satu ajang promosi Visit Indonesian Year 2008. Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang ke depannya dapat menjadi bahan renungan penting. Pertama, seperti pendapat yang dikemukakan oleh saudara Andre Halim dalam http://blog.indo-sing.org/archives/category/happening, ada baiknya acara ini diisi dengan games atraktif agar lebih menarik minat penonton sekaligus menambah wawasan turis mengenai Indonesia. Dengan demikian, penonton diajak untuk memahami langsung kondisi Indonesia.

Kedua, penyelenggaraan acara seperti Enchanting Indonesia ini harus simultan dengan upaya pembenahan infrastruktur yang mendukung industri pariwisata. Turis tentu akan berpikir dua kali ke Indonesia tatkala mendengar adanya travel warning dan kondisi tempat pariwisata yang kurang terawat. Perpanjangan larangan terbang maskapai Indonesia dari dan ke Uni Eropa baru-baru ini juga menjadi salah satu citra negatif yang perlu segera dibenahi.

Belum lagi kita sering mendengar surat pembaca dari masyarakat yang mengeluhkan buruknya kondisi fisik dan layanan bandara Soekarno-Hatta yang tak ubahnya seperti pasar tumpah. Jika masyarakat dalam negeri saja mengeluh, apa kata turis asing? Bahkan dalam salah satu surat pembaca di harian Kompas, menuliskan keterkejutannya atas pemasangan sejumlah spanduk pariwisata dari negara lain di bandara Soekarno-Hatta, gerbang masuk Indonesia sendiri! Dapat dibayangkan apa kata turis dari Singapura yang berkunjung ke Indonesia tatkala melihat spanduk pariwisata dari negaranya bertebaran di bandara Soekarno-Hatta.

Ketiga, harus ada pelestarian yang serius terhadap seni dan budaya Indonesia di samping pemeliharaan lokasi-lokasi pariwisata. Sedih sekali rasanya ketika melihat bangunan-bangunan Braga yang indah di kota Bandung, tercemar oleh aneka poster kampanye calon walikota. Pemandangan Braga yang tadinya indah, menjadi sangat kumuh karena penempelan aneka poster dan pamflet yang tertempel di dinding bangunan di sepanjang jalan. Apa kata turis saat mereka melihat aneka tempelan yang menganggu pemandangan ini?

Orientasi pariwisata Indonesia selama ini pun cenderung didominasi oleh pariwisata yang bersifat fisik. Adapun pertunjukkan seni dan budaya hanya diselenggarakan ketika memperingati sesuatu atau menyambut tamu penting. Ada baiknya pertunjukan seni dan budaya dilakukan secara konsisten dengan melibatkan potensi lokal. Bisnis kuliner yang marak dewasa ini pun dapat menjadi salah satu alternatif perluasan industri pariwisata yang sangat potensial. Dengan demikian, harus ada koordinasi intensif antara dinas pariwisata pusat dengan dinas pariwisata daerah serta antara dinas pariwisata daerah dengan masyarakat setempat.

Keempat, kegiatan Enchanting Indonesia ini ada baiknya dilengkapi dengan indormasi pariwisata Indonesia secara lebih mendetail melalui media internet. Informasi mengenai Enchanting Indonesia yang saya peroleh melalui internet, hanya diperoleh melalui situs KBRI di Singapura bersama dengan program Visit Indonesia Year 2008 dan aneka kerjasama bilateral Indonesia-Singapura. Ada baiknya pemerintah Indonesia membuat situs atau blog khusus berkenaan dengan Enchanting Indonesia, lengkap dengan album pariwisata Indonesia dan chat room sebagai ajang interaktif komunikasi dua arah. Pemanfaatan yang lebih mendalam atas teknologi informasi ini akan sangat membantu perluasan promosi Visit Indonesia Year 2008.

Akhir kata, ada baiknya acara semacam ini juga diselenggarakan di kota-kota transit lainnya. Yang terpenting, acara ini jangan hanya menjadi kegiatan momentum yang tidak diikuti oleh peningkatan kualitas industri pariwisata Indonesia. Kita tentunya sangat berharap agar pernyataan Indonesia Just Smile Away To The Wonders Archipelago, terlontar sendiri dari mulut para turis asing yang berkunjung ke Indonesia. Amin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s