Olimpiade Beijing 2008: “We are Ready!”

Beijing Zhun Bei Hao Le! Beijing We are Ready! Inilah lagu resmi Olimpiade 2008 yang dapat diunduh melalui situs YouTube. Lagu yang dinyanyikan dengan semangat oleh para artis China ini sekaligus mewakili kesiapan penuh dari Beijing sebagai tuan rumah. Berbagai fasilitas fisik dan non-fisik telah dipersiapkan secara matang sejak China ditetapkan menjadi tuan rumah perhelatan akbar dunia ini pada tahun 2001. Bahkan persiapan Olimpiade ini dibagi dalam tiga tahap yakni tahun 2001 hingga akhir 2003 sebagai tahap persiapan, tahun 2004 hingga 2006 sebagai tahap kunci pembangunan, dan tahun 2007 hingga 2008 sebagai tahap pengujian dan penyesuaian. China demikian serius ingin menunjukkan citra cemerlangnya dalam kancah dunia, terutama pasca pertumbuhan ekonominya yang luar biasa.

Seperti yang dapat diduga sebelumnya, ‘hasrat’ China untuk menampilkan citranya pada dunia melalui penyelenggaraan Olimpiade 2008, mengandung reaksi komunitas internasional. Tak terhitung berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal yang mengaitkan Olimpiade Beijing dengan berbagai isu demokrasi, isu politik, hingga isu lingkungan hidup. Tak terhitung pula berapa banyak masyarakat yang menyampaikan aspirasinya melalui aksi demonstrasi, baik secara fisik maupun dalam dunia maya.

Komunitas internasional yang kontra, menyatakan bahwa Beijing tidak pantas menjadi tuan rumah karena pelanggaran HAM berat, tidak adanya kebebasan publik dalam berpolitik, hingga tercemarnya udara di Beijing. Banyak di antara mereka yang menyerukan agar Olimpiade Beijing 2008 diboikot saja. Mereka yang pro, mengatakan bahwa tidak semestinya Olimpiade dipolitisasi. Bukankah makna hakiki dari olahraga adalah sportivitas dan perdamaian? Bukankah slogan utama dari Olimpiade Beijing adalah One World One Dream? Dalam rangka menampik seluruh tudingan negatif yang diarahkan, pemerintah China merealisasikan konsep Olimpiade Hijau (Green Olympics) di samping konsep Olimpiade Masyarakat (People’s Oympics) dan Olimpiade Teknologi Canggih (High-Tech Olympics) yang dibuatnya.

Terkait lingkungan hidup, Beijing berupaya melepas predikatnya sebagai sebagai negara paling tercemar di dunia. Contoh praktis yang telah dilakukan adalah dengan menyewakan sekitar 50.000 sepeda pada wisatawan sebagai bagian dari usaha untuk membuat Beijing ‘lebih hijau’ untuk olimpiade. Bangunan gagah yang menjadi ‘icon’ Olimpiade Beijing 2008, Bird’s Nest dan Water Cube dinyatakan ramah lingkungan. Mereka yang kontra, bersikeras bahwa kabut polusi masih cukup pekat: situasi yang membahayakan para atlet. Adapun bangunan Bird’s Nest yang diklaim ramah lingkungan, pada kenyataannya terbuat dari baja yang sangat tidak ramah lingkungan. Intinya, tidak ada bukti yang cukup signifikan bahwa Beijing telah menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Bidang politik pun menjadi bidang yang paling kontroversial. Dalam bidang politik, isu utama yang ditonjolkan adalah ketiadaan komitmen dari pemerintah China dalam melaksanakan demokrasi yang terjabar dalam pilar-pilarnya: penegakkan HAM, kebebasan mengemukakan pendapat di muka umum, kebebasan berpolitik, kebebasan pers, dll, dalam maupun luar negeri.

Di dalam negeri, Beijing ‘tersandung’ dengan kasus Tibet dan Xinjiang. Komunitas internasional masih belum dapat melupakan bagaimana para biksu menerobos dan kemudian menangis terisak-isak di hadapan para wartawan asing sambil mengaku bahwa mereka disiksa pemerintah. Juga masih belum terhapus dalam benak bagaimana pawai obor Olimpiade dihantui oleh aksi demonstrasi yang menuntut penyelesaian kasus Tibet disertai kecaman terhadap pemerintah China yang terus menerus menyudutkan Dalai Lama. Terakhir, terjadi peledakan di Xinjiang pada H-5 yang menewaskan 18 polisi. Pada H-2, juga terjadi demonstrasi selama satu jam di dekat bangunan Bird’s Nest dengan spanduk berbunyi: One World One Dream, Free Tibet!

Kebijakan luar negeri China juga mengundang kontroversi tajam. Berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, jurnalis, hingga aktivis, mengkritik berbagai kebijakan luar negeri China yang dipandang melanggar HAM. China dituding turut memasok senjata yang memperkeruh konflik yang terjadi di Darfur, Sudan. Investasi China di Afrika dalam bidang energi dikatakan hanya menguntungkan segelintir pejabat dan bahkan memperkeruh konflik terkait pengusiran lahan penduduk guna membangun infrastruktur di bidang energi. China juga ‘diam’ saat junta militer di Myanmar melakukan penyiksaan terhadap para biksu dan rakyat yang berdemonstrasi. China bahkan memblokade resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk aksi-aksi junta militer. Seperti yang dikutip dalam International Herald Tribune, juru bicara kementerian luar negeri China, Liu Jiancao hanya menjawab: “What happens in Myanmar, in essence, is an internal matter of itself.” Hal ini pula yang menjadi alasan di balik penolakan Steven Spielberg sebagai salah satu tim art director Olimpiade Beijing 2008. Presiden Prancis, Nicholas Sarkozy, bahkan menyatakan secara verbal bahwa dirinya tidak akan menghadiri perhelatan akbar ini.

Sadar atau tidak, kontroversi yang melingkupi penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008 justru semakin menambah daya tarik masyarakat internasional. Presiden International Olympic Committee (IOC), Jacques Rogge mengatakan: “I believe the Games will be historic.”

Sedikitnya ada tiga hal utama mengapa Olimpiade Beijing 2008 dikatakan sebagai olimpiade yang paling menarik. Pertama, olimpiade ini menjadi olimpiade modern pertama yang diselenggarakan di negara komunis setelah Olimpiade di Berlin pada tahun 1936. Itu sebabnya para wartawan harus beradaptasi dengan ketatnya aturan mengenai penggunaan internet. Secara tidak tertulis, wartawan bahkan dilarang mempertanyakan hal-hal yang bersifat sensitif (seperti demokrasi, HAM, Tibet, Dalai Lama, dll). Jika tidak, ijin meliputnya ditarik dan wartawan yang bersangkutan dipulangkan kembali ke negara asalnya.

Kedua, Olimpiade Beijing 2008 menjadi olimpiade termahal dalam sejarah Olimpiade. Perkiraan biaya total yang dikeluarkan oleh pemerintah China untuk membiayai infrastruktur dan fasilitas adalah lebih dari 43 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 387 triliun. Hebatnya, biaya ini tidak dibebankan kepada pemerintah dan masyarakat luas. The Beijing Organizing Committe (BOCOG) telah meraup pemasukan sejak tahun 2007 melalui penjualan cendera mata, pakaian, dan simbol Olimpiade Beijing 2008 yang sudah terjual hingga ke Mokswa, Rusia. Pemerintah China percaya bahwa investasi yang dikeluarkan akan memberikan dampak positif bagi akselerasi pembangunan ekonomi China. Lebih lanjut, China bahkan memulai kampanye sebagai tuan rumah Asian Games 2010 di GuangZhou, prestasi yang sangat mengesankan.

Ketiga adalah kontroversi seputar Olimpiade Beijing 2008 itu sendiri. Politisasi Olimpiade Beijing 2008 yang begitu intensif, telah memancing perhatian dunia. Dunia juga sangat ingin melihat citra China baru yang begitu dibanggakan pemerintah. Komunitas internasional pun cukup ‘penasaran’ dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi China yang terbilang dashyat.

Yang ingin digarisbawahi dalam tulisan ini adalah fakta bahwa komunitas internasional sangat antusius dalam mengikuti perkembangan Olimpiade Beijing 2008 di tengah aneka kontroversi. Sekalipun memperoleh kecaman dari berbagai penjuru dunia terkait dengan pelanggaran HAM, persiapan secara keseluruhan dapat dikatakan lancar. Cendera mata Olimpiade banyak diburu. Demonstrasi yang terjadi pun nyatanya tidak menyurutkan minat China maupun masyarakat internasional untuk menikmati olimpiade.

Berbagai bencana alam seperti banjir dan gempa bumi yang terjadi di Xichuan pun tak menggentarkan pemerintah. Stasiun televisi China, CCTV bahkan melansir berita bahwa proyek restorasi sebagian besar kawasan wisata di Xichuan telah selesai. Persiapan pembukaan Olimpiade sejak awal Agustus 2008, dihadiri lebih dari satu juta orang dan pada 8 Agustus 2008 diperkirakan telah ditonton lebih dari 4 milyar orang. Seorang musisi warganegara Irlandia menyumbangkan sebuah lagu berbahasa mandarin untuk Olimpiade Beijing. Sukarelawan yang terdaftar mencapai satu juta orang, melampaui jumlah yang dibutuhkan sebanyak 70.000 orang.

Fakta lainnya adalah bahwa pembukaan Olimpiade ini akan dihadiri oleh George W. Bush. Dengan tetap menekankan pentingnya pelaksanaan demokrasi yang lebih luas di China, Bush menyatakan komitmennya yang sejak awal ingin memisahkan olimpiade dari politik. Bahkan kedubes AS yang baru dengan luas 4 hektar (tercatat sebagai pos diplomatik terbesar kedua di dunia setelah Baghdad), secara resmi dibuka dengan tanggal yang bersamaan dengan dimulainya Olimpiade Beijing 2008, 8 Agustus 2008. Akhir Juli, pemerintah China juga telah meresmikan kedubesnya di Washington D.C. yang merupakan kedubes asing terbesar di ibukota AS.

Hadirnya Bush menampik seruan para penggiat HAM agar AS memboikot olimpiade. Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama juga menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Olimpiade, bahkan menyatakan akan mendoakan kelancaran acara dan seluruh rakyat RRC. Pada intinya, politisasi olimpiade dapat dikatakan sebagai sebuah hal lumrah yang tidak terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah olimpiade. Kelancaran penyelenggaraan olimpiade hingga detik ini, tidak hanya menjadi kemenangan China melainkan juga kemenangan komunitas internasional dalam memposisikan Olimpiade sebagai ajang diplomasi olahraga demi perdamaian dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik oleh dunia adalah bahwa kehidupan yang demokratis tidak serta merta berkorelasi positif terhadap pembangunan negara apabila tidak diikuti oleh pelaksanaan tata pemerintahan yang baik secara nyata di lapangan. Pasca penerapan demokrasi di era reformasi, apakah membuat Indonesia makin makmur? Bandingkan dengan China dan Singapura yang tidak demokratis tetapi mampu membangun fondasi yang kokoh bagi negaranya. Memang, demokrasi di Indonesia telah mencapai tahap point-no-return, namun jangan sampai demokrasi menjadi slogan kosong yang makna sesungguhnya tidak dapat dipahami apalagi direalisasikan.

Meski demikian, demokrasi tetap penting demi menjamin stabilitas internasional. China tidak dapat terus menerus berfokus pada stabilitas ekonomi dalam negeri dengan mengorbankan nyawa penduduk di belahan dunia lainnya. Mengutip yang dikatakan oleh George Sorensen, demokrasi cenderung menciptakan kebijakan luar negeri yang damai dan kooperatif karena tiga hal: adanya norma-norma yang demokratis untuk resolusi konflik secara damai, adanya landasan moral yang sama untuk membina hubungan yang damai, dan interdependensi yang dilembagakan ke dalam kerjasama ekonomi. Tekanan demi tekanan yang dialamatkan pada pemerintah China sebelum, selama, dan mungkin pasca olimpiade, minimal diharapkan dapat membuat pemerintah China berpikir ulang (sekalipun saat ini kemungkinan tersebut sangat tipis).

Bagaimanapun, China berani untuk banyak berbicara dalam ajang-ajang besar seperti Olimpiade 2008 karena China memiliki kapabilitas nasional yang disegani dunia, termasuk AS. Maka tugas kita sebagai bangsa Indonesia adalah membuktikan secara nyata bahwa pelaksanaan demokrasi dapat menciptakan Indonesia yang memiliki kapabilitas nasional sebesar China, diiringi dengan tanggung jawab pada komunitas internasional untuk menciptakan perdamaian dunia. Jauhkan kebiasaan mengkritik negara lain tanpa bercermin terlebih dahulu pada kondisi dalam negeri. Apapun yang terjadi, pemerintah dan seluruh warga Beijing akan berkata: We are Ready!

Pertanyaannya, kapan Indonesia dapat mengatakan hal serupa (dengan semangat tinggi)?

Are you Ready, Indonesia?? Yes, We are Ready!!!

Advertisements

One thought on “Olimpiade Beijing 2008: “We are Ready!”

  1. Olimpiade Beijing 2008 mungkin merupakan salah satu perhelatan Olimpiade yang paling sarat muatan politisnya.

    Mulai dari keberadaan China sebagai Tuan Rumah yang menuai protes dari beberapa pihak, saling berangkulannya atlet Georgia dan Rusia ketika Rusia sedang berkonflik Georgia, mundurnya perenang Iran karena harus berhadapan dengan atlet Israel dsb.

    Mungkin yang paling harus diperbaiki adalah kebanggaan nasional Indonesia terlebih dahulu, lihat saja pemberitaan di media massa … alih-alih menceritakan perjuangan membanggakan atlet Indonesia di Olimpiade 2008, malah dipenuhi oleh berbagai “kontroversi” yang dilebih-lebihkan mulai dari kasus Ryan sampai Sheila Marcia.

    Dalam hal ini, salut sama TVRI yang bersedia menayangkan Olimpiade 2008 ketika hampir semua TV Swasta di Indonesia sibuk mengejar business interests mereka sendiri. Padahal, dengan memulai rasa kebanggaan akan Indonesia dengan hal-hal yang seperti Olimpiade dan Piala Thomas & Uber akan membuat bangsa Indonesia semakin bangga akan ke”Indonesia”-annya.

    Apabila itu terjadi, maka Indonesia akan siap untuk berkata (as Sylvie says):

    “WE ARE READY!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.