Indahnya Diplomasi Musik

Music expresses that which cannot be said and on which it is impossible to be silent
Victor Hugo

Musik adalah anugerah yang sangat indah dari Tuhan. Hampir semua orang menyukai musik. Dalam berbagai penelitian, musik dikatakan memiliki manfaat yang sangat beragam mulai dari menenangkan jiwa hingga meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Peneliti lainnya mengungkapkan bahwa musik (khususnya musik klasik), dapat melibatkan fungsi analitik dan fungsi kreatif sekaligus dalam otak kiri dan otak kanan manusia. Bagi ibu hamil, irama, melodi dan harmoni yang terkandung dalam musik klasik dikatakan berdampak positif bagi janin. Di samping itu, seperti yang diungkapkan oleh Victor Hugo, musik dapat mengekspresikan isi hati yang tidak terkatakan. Akhirnya, musik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Selain bermanfaat bagi perkembangan pribadi, musik pun memiliki fungsi mulia yang dapat bermanfaat bagi orang lain dalam wujud diplomasi musik. Fungsi ini sangat dimungkinkan karena musik merupakan bahasa universal yang dapat dinikmati oleh setiap orang di dunia ini. Diplomasi musik memuat misi yang tidak kalah penting dengan diplomasi konvensional yang dilakukan oleh para diplomat. Diplomasi musik juga mengandung keindahan tersendiri karena ia mampu ‘berdialog’ dengan siapapun dalam rangka mencairkan perselisihan dan bahkan mempersatukan hati dan pikiran. Maka tidaklah mengherankan apabila diplomasi musik semakin sering ditampilkan sebagai bagian dari diplomasi publik.

Diplomasi berbicara mengenai aktivitas komunikasi antar komunitas internasional. Dalam konteks ini, diplomasi musik banyak ditampilkan dalam rangka memperkenalkan identitas sebuah negara. Implementasi diplomasi musik dalam konteks ini dapat kita saksikan dalam pagelaran musik tradisional/nasional pada pentas internasional. Salah satu contohnya dapat kita saksikan dalam Konser Indonesia Pusaka yang dimainkan oleh Kwartet Punakawan, bertempat di The Studio Sydney Opera House (SOH) pada tanggal 10 Agustus 2008.

Konser Indonesia Pusaka ini merupakan persembahan musik Nusantara dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Konsulat Jenderal RI di Sydney bersama Jaya Suprana Institute, dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Ke-63 Republik Indonesia dan Visit Indonesia Year 2008. Dalam penampilannya, Kwartet Punakawan yang beranggotakan Jaya Suprana (piano akustik), Jubing, Heru Kusnadi (bas elektrik), dan Junaedi Musliman (perkusi) mampu memukau penonton yang sebagian besar berkewarganegaraan Australia. Lagu-lagu nusantara seperti Jenang Gulo (Jawa Tengah), Ayam Den Lapeh (Minangkabau), Bungo Jeumpa (Aceh), Gambang Semarang (Semarang), dan Sarinande (Maluku) serta lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki, mampu membawa penonton pada nuansa khas Indonesia.

Di samping penampilan gemilang dari Kwartet Punkawan, diplomasi musik dalam rangka memperkenalkan identitas nusantara pun banyak dilakukan oleh masyarakat luas. Kemenangan tim Indonesia dalam olimpiade paduan suara tingkat dunia dapat dikatakan sebagai salah satu ajang diplomasi musik yang cukup efektif. Demikian pula dengan pertunjukkan gamelan dan angklung dalam berbagai acara yang melibatkan komunitas internasional. Ketika mendengarkan alunan gamelan, yang terbesit dalam benak masyarakat internasional adalah suasana Indonesia. Demikian pula ketika mendengar suara guzheng dan erhu, yang terbesit dalam benak kita adalah suasana khas China. Demikianlah musik menjadi identitas nasional yang sangat khas.

Tidak hanya berbicara mengenai aktivitas komunikasi antar negara, diplomasi juga berbicara mengenai kemampuan suatu negara untuk mencapai kesepakatan dengan negara lain dalam segala kondisi termasuk dalam kondisi yang sulit atau tidak memungkinkan. Nah, dalam konteks inilah musik berperan sebagai bahasa universal yang diharapkan dapat mencairkan kebekuan antar komunitas internasional yang tengah berselisih. Diplomasi musik dalam konteks ini lebih diposisikan sebagai salah satu instrumen resolusi konflik.

Salah satu contoh terakbar dan teraktual dari diplomasi musik ini adalah diplomasi musik dari New York Philharmonic Orchestra di Korea Utara. Konser yang belangsung pada bulan Februari 2008 ini menjadi sejarah baru karena inilah kali pertama diplomasi publik AS dilangsungkan di Korut. Konser yang berasal dari inisiatif Korut ini berlangsung di tengah panasnya hubungan antara Korut dan AS. Sebelumnya, Presiden AS, George W. Bush menyebut Korut sebagai bagian dari ‘Poros Kejahatan’ (selain Kuba, Iran, Irak, Libya, Sudan dan Suriah) terkait dengan program nuklirnya. Di panggung Teater Agung Pyongyang yang megah, terlihat bendera AS dan Korut dan tidak sedikit dari mereka yang hadir baru kali ini melihat bendera AS di Pyongyang.

Konser berdurasi 90 menit ini pun secara fantastis menampilkan An American in Paris karya George Gershwin, From the New World dari Simfoni Kesembilan Antonin Dvorak, dan Prelude to Act III of Longherin dari Richard Wagner. Yang mengejutkan, di akhir penampilannya NY Philharmonic juga menyajikan aransemen Arirang, lagu rakyat yang populer di antara Korut dan Korsel yang membuat beberapa pemain dan penonton menangis terharu.

Meski demikian, banyak pihak yang meragukan musik sebagai sarana diplomasi yang efektif. Dalam konteks komunikasi antar budaya (antar komunitas internasional), diplomasi musik dipandang hanya bersifat simbolis dan sepintas. Pernyataan ini mungkin saja benar. Di dalam negeri, musik-musik beraliran western seperti R&B dan pop lebih banyak ditemui daripada musik-musik khas nusantara.

Dengan demikian, turis asing pun akan merasa cukup kebingungan tatkala mereka berminat mencari tahu lebih dalam mengenai musik khas Indonesia. Musik tradisonal ternyata lebih banyak diperdengarkan pada acara-acara tertentu saja dalam rangka promosi Visit Indonesian Year 2008. Inilah salah satu contoh bagaimana diplomasi musik hanya berjalan di permukaan. Nyatanya, identitas nasional sudah cukup kabur.

Dalam konteks mencairkan ketegangan, diplomasi musik pun dipandang tidak terlalu efektif. Sekalipun kehadiran NY Philharmonic Orchestra ini merupakan indikasi baik dari Pyongyang, beberapa analis mengatakan bahwa misi ini belum merengkuh benak pikiran orang Korut. Tepukan tangan yang panjang bukan berarti pikiran mereka tersentuh. “Anda mungkin bisa mengatakan bahwa AS berniat menarik Korut masuk dalam komunitas internasional, tetapi dalam kondisi harus melepaskan senjata nuklirnya. Masalahnya, Korut tak mau melakukan itu,” ujar Kim dari Universitas Korea. Pernyataan ini pun ada benarnya karena dampak musik bagi perdamaian hanya dapat dilihat secara kasatmata dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Meskipun demikian, diplomasi musik jauh lebih baik daripada penggunaan militer atas nama perdamaian. “Perjalanan ini merupakan manifestasi dari kekuatan musik untuk mempersatukan manusia. Harapan kami yang paling dalam, konser ini akan menjadi awal dari era baru rakyat kedua bangsa,” kata Zarin Mehta, Direktur Eksekutif NY Philharmonic Orchestra. Sejalan dengan kalimat yang diungkapkan Henry Wadsworth Longfellow: Music is the universal language of mankind, musik pun akan tetap memainkan peran diplomasi yang tidak pernah surut. Inilah anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Indahnya diplomasi musik…..

Advertisements

5 thoughts on “Indahnya Diplomasi Musik

  1. Jadi teringat tugas diplo kita Syl!

    oiya fyi, Jubing-yg konser di Sidney itu pemain gitar lho, lo blm mencantumkannya. mau sombong, gue jg satu almamater musik sm dia. hehhe

    nway, coba Jaya Suprana bawain lagu2 ciptaan dia di Sidney. Lagu2 dia sangat Indonesia sekali lhoo..

    Nice write, Syl!

  2. Pingback: Kala Musik ‘Lumerkan’ Militer « Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s