Pemuda dan Makna Kemerdekaan Indonesia

Pemuda adalah salah satu pilar penting proses pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mulai dari kebangkitan nasional, Sumpah Pemuda, peristiwa kemerdekaan Indonesia, reformasi 1998, hingga saat ini, pemuda selalu memainkan peranannya yang sangat penting. Pada saat ini, dapat kita lihat bahwa kaum muda banyak bermunculan dalam panggung politik. Dapat kita lihat juga bagaimana kaum muda berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan memenangi berbagai ajang kejuaraan bergengsi dalam berbagai bidang. Berbagai penghargaan, mulai dari olimpide fisika, olimpiade paduan suara, hingga olimpiade Beijing 2008 berhasil diraih dengan gemilang oleh kaum muda. Dengan demikian, kaum muda Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar dalam mendorong kemajuan Indonesia.

Pertanyaannya adalah mengapa potensi tersebut seolah belum tergali secara maksimal? Mengapa peredaran narkoba di kalangan muda masih marak? Mengapa jumlah perokok usia muda di Indonesia justru semakin meningkat di saat negara lain berhasil menekan jumlah perokoknya? Jawabannya tentu sangat beragam. Adalah jawaban yang sangat naif jika generasi muda mempersalahkan sistem masa lampau yang membuat Indonesia terikat an sich. Meskipun sulit, generasi muda sesungguhnya dapat belajar dari kesalahan para pendahulunya untuk kemudian menjadi agen perubahan secara gradual. Kesalahan generasi muda pada saat ini (mungkin termasuk saya) adalah menginginkan segala sesuatunya berubah secara instan. Jika generasi yang berada di atas kita dipandang berbuat “kesalahan”, terkadang bukan langkah intelektual yang ditempuh melainkan langkah-langkah yang sporadis dan anarkis atas nama rakyat.

Maka salah satu kunci pokok yang perlu dibenahi dari generasi muda Indonesia pada saat ini adalah karakter. Karakter yang tidak cepat putus asa, mau bekerja keras, menyikapi segala sesuatunya dengan bijak sesuai dengan porsinya, sangat perlu dibangun. Sering sekali saya mendengar bahwa generasi muda di masa lampau, justru memiliki karakter yang jauh lebih baik dalam hal bekerja keras dan tidak mudah putus asa. Pemuda di masa kini, di satu sisi memang memiliki tingkat kreativitas yang lebih tinggi dan lebih peka terhadap peristiwa sosial-politik-ekonomi di lingkungannya namun di sisi lain, lebih cepat putus asa dan lebih cepat mengimplementasikan keputusasaannya dalam berbagai perilaku negatif.

Tidak perlu jauh-jauh berbicara mengenai jumlah perokok muda, penyalahgunaan narkoba ataupun demonstrasi yang berakhir anarkis. Satu hal yang selalu luput dipikirkan oleh para generasi muda yang peduli pada Indonesia adalah bahwa karakter positif dimulai dari diri sendiri, barulah kemudian menular pada lingkungan di sekitar. Intinya adalah sesederhana bagaimana generasi muda menjalankan kehidupan sehari-hari. Sepandai dan sekreatif apapun kita, tidak ada artinya jika tidak memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Di berbagai penjuru SMA, semakin sering saya mendengar kata-kata kasar diucapkan sebagai gaya bahasa sehari-hari. Di bangku perguruan tinggi, semakin banyak saya melihat perokok muda bertebaran termasuk di lingkungan dosen. Saya sendiri juga termasuk generasi muda yang terkadang gemar bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas. Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak pula saya temui tugas yang berkecenderungan copy-paste. Bukankah dari hal sesepele inilah generasi copy-paste kelak akan tumbuh subur? Bukankah dengan bermalas-malasan, secara tidak langsung saya telah mengajarkan adik-adik di bawah saya untuk melakukan hal serupa? Saya cukup malu ketika mengingat bahwa generasi di atas mengerjakan tugasnya dengan mesin tik. Atas nama teknologi, generasi muda masa kini cenderung malas.

Demikian pula dengan generasi muda yang ketagihan merokok. Bagaimana mungkin sebuah generasi muda yang sehat dan segar untuk memimpin dapat diciptakan? Jangan terkejut jika Indonesia akhirnya (lagi-lagi) hanyalah sebagai penonton, penikmat, juga ‘penyakitan’.

Generasi muda Indonesia pada saat ini semestinya bersyukur pada Tuhan karena tidak perlu lagi bersusah payah belajar di bawah ancaman mortir. Sayangnya, masih banyak pemuda yang menyia-nyiakan waktunya dengan mengerjakan hal-hal yang kurang bermanfaat. Merupakan sebuah hal yang sangat positif jika pada saat ini pemuda mampu bersikap lebih kritis terhadap ketidakadilan. Namun apa artinya sikap kritis itu jika tidak diimbangi oleh kerja keras demi membangun bangsa yang lebih baik: tidak melulu bersikap vokal? Banyak sekali saya temui para aktivis kampus yang kritis, namun lulus dalam jangka waktu yang relatif lama daripada rekan-rekannya. Banyak sekali saya temui rekan-rekan mahasiswa yang cerdas dan kreatif, namun emosional dan sulit untuk mengucap syukur. Maka apalah arti kekritisan generasi muda tanpa bercermin pada kehidupan diri sendiri? Apakah artinya mahasiswa berdemonstrasi mengecam koruptor sementara pada saat yang bersamaan mereka sering terlambat masuk kuliah (korupsi waktu)? Bukankah segala ‘penghakiman’ kita seharusnya bercermin pada karakter diri sendiri?

Saya sangat salut melihat perjuangan Maria Kristin dan kawan-kawan dalam mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Tanpa ‘banyak berbicara’, mereka menunjukkan rasa cinta tanah airnya dengan prestasi gemilang. Prestasi semacam itu tentu tidak diraih dengan mudah. Di saat kebanyakan anak muda bermain ke mall usai kuliah, Maria Kristin dan kawan-kawan harus berlatih berjam-jam di lapangan bulutangkis. Tak terhitung berapa tetes keringat dan cedera yang mereka derita demi meraih hasil maksimal bagi Indonesia. Persoalannya bukanlah seberapa kuat energi yang dimiliki Maria Kristin tetapi bagaimana ia memiliki mental seorang juara, tak peduli peringkat lawan yang sebenarnya berada jauh di atasnya. Dengan mental juara dan ketekunannya yang luar biasa, tak heran bila Maria Kristin mampu membuat kejutan dalam Olimpiade Beijing.

Kunci pokok kedua selain karakter adalah pendidikan nasional sebagai bagian integral dari pembentukan karakter anak didik. Ada persepsi keliru yang terlanjut berakar dalam pemikiran bangsa Indonesia. Pertama, persepsi bahwa pendidikan nasional menjadi tanggung jawab tunggal guru di sekolah. Ini jelas keliru karena pendidikan juga merupakan tanggung jawab keluarga dan pemerintah. Guru hanyalah satu dari sekian banyak elemen pembentuk karakter seorang anak. Seorang anak justru banyak mempelajari berbagai hal dari orangtua dan teman sepermainannya.

Adapun pemerintah bertanggungjawab dalam hal membuat kebijakan pendidikan yang tidak melulu menekankan ilmu pengetahuan. Miris sekali rasanya ketika saya melihat adik sepupu saya harus menggendong tas yang begitu berat, belajar dari pk07.00 hingga pk15.00, dilanjutkan dengan aktivitas les, dan pulang ke rumah dalam kondisi sangat kelelahan. Kelelahan yang bertubi-tubi justru membuat si anak semakin emosional dan cenderung ‘gila belajar’. Tujuannya satu: agar prestasi belajar baik dan lulus UAN. Yang lebih ironis, anak-anak yang sesungguhnya berbakat dalam bidang seni, dipandang tidak terlalu penting. Yang penting adalah cerdas dan berprestasi dalam hal akademik. Pintar menyanyi dan membuat prakarya? Masa bodoh. Tak heran bila banyak sekali generasi muda Indonesia yang cerdas namun sombong dan emosional.

Budaya semacam inilah yang terkadang tetap melekat erat di benak generasi muda seperti saya. Preastasi dan eksistensi menjadi hal utama daripada karakter yang baik. Jika demikian, maka generasi muda tidak ada bedanya dengan politisi busuk yang cerdas namun serakah. Maka akhirnya saya membuat kesimpulan bahwa peran generasi muda tetap menjadi fondasi penting bagi kemajuan bangsa Indonesia dengan catatan utama pembenahan karakter bangsa. Di mana pun, generasi muda memiliki energi yang sangat besar dalam berkreasi dan cenderung idealis.

Maka tugas generasi muda (termasuk saya) adalah bagaimana mengarahkan energi ini untuk hal-hal positif yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Contoh sederhananya adalah belajar dengan rajin, tidak mudah menyerah pada saat ‘diuji’ oleh permasalahan, dan tetap menghormati generasi di atas kita. Hormatilah generasi di atas kita dan sikapi setiap kelemahan mereka dengan bijaksana. Adapun ketidakadilan yang terjadi tidak perlu disikapi secara anarkis karena tugas sebagai agen perubahan yang diemban oleh generasi muda Indonesia adalah melalui intelektualitas dan karakter positif yang dimulai dari diri sendiri. Dengan demikian, jika tiba saatnya generasi muda tampil, kesalahan di masa lampau tidak perlu terulang kembali.

Generasi muda adalah generasi masa depan bangsa. Bagaimanapun juga, tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia di usianya yang ke-63, tidak akan bertambah ringan. Selain harus menghadapi ‘budaya negatif’ yang berurat akar pada sistem pemerintahan seperti korupsi, generasi muda Indonesia juga harus menghadapi globalisasi yang sudah tak dapat dipungkiri lagi. Maka karakter yang positif akan semakin dibutuhkan. Percayalah bahwa kualitas SDM akan meningkat seiring dengan perbaikan karakter dalam jiwa generasi muda Indonesia. Percayalah bahwa permasalahan apapun yang membayangi Indonesia di usianya yang ke-63 ini akan dapat dihadapi oleh generasi muda Indonesia. Syaratnya: saya dan teman-teman pemuda, menjalankan kehidupan sehari-hari dengan karakter yang positif. Ini adalah modal dasar bagi kemerdekaan Indonesia seutuhnya, modal dasar bagi kemajuan tanah air tercinta yang tidak sekadar simbol atau retorika yang mengawang-awang.

Advertisements

2 thoughts on “Pemuda dan Makna Kemerdekaan Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s