Penutupan Olimpiade Beijing 2008: Belajar (Lagi) dari China

Through these Games, the world learned more about China, and China learned more about the world. Athletes from 204 National Olympic Committees came to these dazzling venues
and awed us with their talent

Jacques RoggeThe President of IOC, 24th August in Closing Speech of Beijing Olympic 2008


Sangat spektakuler. Kata-kata ini pun nampaknya tidak cukup untuk menggambarkan betapa luar biasanya upacara penutupan Olimpiade Beijing 2008 yang diselenggarakan di Stadion utama Olimpiade Beijing 2008, Bird’s Nest. Sekitar pk18.00 waktu Beijing (pk19.00 WIB) penutupan Olimpiade Beijing 2008 yang dipadati oleh lebih dari 90.000 penonton pun dimulai. Diawali dengan tabuhan bedug China dari sejumlah penari pria, ribuan penari wanita yang mengenakan busana ‘glow in the dark’ menampilkan sejumlah gerakan yang sangat artistik.

Kembang api terus-menerus diluncurkan dengan sangat indah dan terkadang bercahaya mengitari seluruh sudut Bird’s Nest. Di langit-langit, bedug khas China yang berukuran raksaksa, melayang-layang di udara bersama sang penabuh. Ketika CCTV sesekali menyorotkan kameranya pada bagian langit-langit Bird’s Nest, yang nampak adalah sebuah pemandangan yang artistik, megah, luar biasa, dan mengharukan. Water Cube yang bernyala dalam berbagai warna secara dinamis semakin memperindah pemandangan kota Beijing.

Berikutnya, para penari segera membuat jalur yang kemudian dimasuki oleh sepeda ‘unik’ beroda satu dengan gerigi yang menyala-nyala, Selang beberapa waktu kemudian, pusat lingkaran di panggung Bird’s Nest berputar dan naik secara otomatis membawa sejumlah penari. Para penari ini kemudian membentuk tarian artistik berlambang Olimpiade dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, membentuk sebuah piramida berlambang Olimpiade 2008.

Disaksikan oleh presiden China, Hujintao; mantan presiden China, Jiang Zhi Min; presiden BOCOG (Beijing Organizing Committee for the Olympic Games), Liu Qi Liu; presiden IOC (International Olympic Committee), Jacques Rogge dan para pemimpin dunia, para atlit yang berlaga dalam ajang Olimpiade Beijing 2008 berhamburan masuk ke stadion. Tepuk tangan pun membahana di seluruh penjuru stadion. Tidak lama kemudian, ketua BOCOG dan ketua IOC memasuki pusat panggung melalui karpet merah untuk menyampaikan pidatonya. Dalam sambutannya, ketua IOC, Jacques Rogge menyatakan secara gamblang mengenai kekagumannya pada kesuksesan penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008. Rogge juga mengatakan bahwa Olimpiade Beijing 2008 menjadi contoh sukses bagi penyelenggaraan olimpiade di masa yang akan datang.

Rogge menyatakan bahwa Olimpiade Beijing 2008 adalah olimpiade yang benar-benar sangat luar biasa (truly exceptional games). Lebih dari 204 negara yang tergabung dalam National Olympic Committees turut berperan dalam menyukseskan olimpiade. “Bintang-bintang baru telah lahir. Dimulai dari masa lampau, olimpiade ini kembali menyentak kita. Anda telah memperlihatkan kekuatan kesatuan melalui olahraga. Olimpiade menjadi semangat yang mencairkan kompetisi yang terjadi antar negara dalam konflik. Simpan selalu semangat ini ketika anda pulang ke rumah!” demikianlah beberapa petikan pidato dari Rogge. Bagaimana tidak, ada 43 rekor dunia dan 132 rekor olimpiade yang tercetak pada olimpiade Beijing 2008! Kita tentu masih terkagum-kagum dengan aksi Michael Phelps (AS) yang mencetak sejarah dengan memboyong 8 emas sekaligus menciptakan beberapa rekor baru dunia.

Menyertai segala kemeriahan sebelum, selama, dan sesudah pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008, dunia (termasuk Indonesia) sekali lagi harus belajar dari China. Dalam olimpiade kali ini, China membuktikan kedigdayaannya dalam bidang ekonomi, budaya dan olahraga dengan meraup 51 emas, cukup jauh melebihi AS di urutan kedua dengan 36 emas dan Rusia dengan 23 emas. Dalam berbagai cabang olahraga, bendera China sering sekali berkibar tiga deret karena berhasil menyabet emas, perak, dan perunggu sekaligus. Pemain dan pelatih non RRC bahkan banyak yang berasal dari RRC. Di tengah berbagai kecaman dan ancaman, China pun mampu menyelenggarakan olimpiade ini dengan sangat sukses sejak terpilih menjadi tuan rumah.

Apa saja yang harus dipelajari dunia? Pertama dan yang terutama adalah ketekunan China dalam memenuhi komitmennya untuk menyukseskan penyelenggaraan olimpiade 2008. China mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail dan sesempurna mungkin demi menjaga citra negara. Sejak 2001, BOCOG telah memikirkan segala sesuatunya secara matang mulai dari tahap persiapan, pengujian, hingga penyesuaian. Arsitektur dirancang dengan fantastis, ide-ide segar untuk desain maskot dan simbol olahraga bermunculan, polusi udara ditekan semaksimal mungkin, segala urusan transportasi dan akomodasi bagi atlet, pelatih, turis, dan wartawan dipersiapkan dengan matang, keamanan sebelum dan selama penyelenggaraan olimpiade diperketat. Bahkan urusan koki dan menu makanan pun sangat diperhatikan dengan teliti.

Kedua adalah jiwa enterpreneurship yang dimiliki RRC. Perkiraan biaya total yang dikeluarkan oleh pemerintah China untuk membiayai infrastruktur dan fasilitas adalah lebih dari 43 miliar dollar AS (Rp 387 triliun). Ini adalah biaya tertinggi dalam sejarah penyelenggaraan olimpiade. Yang perlu kita ketahui adalah bahwa biaya sebesar ini tidak dibebankan pada rakyatnya.

CCTV melaporkan bahwa pemasukan bagi biaya olimpiade antara lain berasal dari penjualan merchandise yang dijual di seluruh dunia sebelum penyelenggaraan olimpiade. Merchandise ini dijual dengan beragam bentuk yang menarik dan eksklusif namun dengan harga yang relatif terjangkau. Sebuah kalung berlogo fuwa (Beibei-Jingjing-Huanhuan-Yingying-Nini) dijual setara dengan Rp 60.000, tas kain setara dengan Rp 100.000, kaos agak mahal yakni Rp 200.000an, dan gantungan kunci fuwa seharga Rp 23.000 per maskot. Hotel-hotel di Beijing pun memperoleh keuntungan dalam jumlah yang cukup besar.

Masih berkaitan dengan jiwa enterpreneurship, pemerintah Indonesia ternyata mampu memanfaatkan momen olimpiade untuk menggalang kerjasama ekonomi yang lebih intensif dengan China, ditandai dengan kehadiran Jusuf Kalla di Beijing. Meski demikian, diplomasi ekonomi semacam ini jangan hanya berhenti pada komitmen belaka. Melihat potensi pertumbuhan ekonomi China, sudah seharusnya Indonesia terus meningkatkan kerjasamanya dengan pemerintah RRC secara nyata dalam jangka panjang. Indonesia juga perlu beranjak dari ‘resources-based ecnomy’ menuju ‘high tech-based economy’ secara gradual guna meningkatkan nilai tawar posisi diplomasi Indonesia di mata dunia.

Ketiga adalah prestasi para atlit RRC itu sendiri. Jauh sebelum terpukau oleh penampilan para atlit China dalam berbagai cabang olahraga, pembangunan stadion Bird’s Nest dan Water Cube telah memukau jutaan penonton dunia. Tidak heran bila Nielsen Company mencatat Olimpiade Beijing 2008 sebagai most-watched in games history. Sebanyak 4,4 miliar orang atau dua pertiga penduduk dunia menonton acara ini. Bandingkan dengan penonton Olimpiade Athena 2004 dengan 3,9 milyar penonton dan Olimpiade Sydney 2000 dengan 3,6 milyar penonton. Sukarelawan pun membanjiri China dengan jumlah mencapai lebih dari satu juta orang.

Keempat adalah penampilan dari para atlit China sendiri. Meraih juara umum dengan 51 emas jelas bukan perkara mudah. Para atlit China telah bekerja keras untuk meraih hasil yang terbaik. CCTV sempat melaporkan bahwa setahun hingga dua tahun sebelum bertanding, para atlit China khusus dilatih tanpa diporbolehkan untuk bertemu dengan orangtuanya. Seorang atlit bahkan baru mengetahui bahwa ibunya meninggal dunia setelah ia berhasil meraih medali emas. Dari sini muncul perdebatan bahwa para atlit China dilatih secara ekstrem dan berlebihan. Perdebatan ini berakhir tatkala presiden IOC menyatakan bahwa tidak ada masalah dalam sistem pelatihan atlit di China.

Kelima adalah komitmen China dalam membersihkan ‘polusi udara’ di Beijing yang sangat akut. Sebelumnya, jarak pandang di Beijing sangat pendek karena tebalnya asap polusi. Setelah pemerintah secara tegas memberlakukan pembatasan kendaraan dan menutup lebih dari 2.000 industri di kawasan Beijing, langit cerah pun mulai nampak. Meskipun belum sepenuhnya pulih, pemerintah China telah berhasil membuktikan pada dunia atas komitmennya dalam mewujudkan olimpiade hijau. Dalam beberapa wawancara ringan di lapangan Tiananmen, para atlit dan turis asing mengakui bahwa kondisi udara di Beijing sangat baik dan segar. Meski demikian, komunitas internasional tetap perlu memantau agar kondisi ini tetap terjaga setelah olimpiade 2008 berakhir. Pasalnya, jika industri kembali berjalan, udara dipastikan akan kembali tercemar.

Keenam adalah bagaimana China mampu menampilkan kedigdayaannya ekonomi sekaligus budaya dan teknologinya. Selama berjalannya olimpiade, kultur China sangat kental melekat pada beragam simbol. Melalui perpaduan dengan teknologi, lahirlah Bird’s Nest, Water Cube dan sistem penilaian modern dalam berbagai cabang olahraga. Megahnya upacara pembukaan dan penutupan juga menjadi saksi tingginya kualitas sumber daya manusia China. Ketika sang atlit berada dalam saat-saat senggang, panitia olimpiade akan menawarkan tur budaya ke museum-museum yang ada di Beijing. Hasilnya, budaya China sangat melekat dalam hati para atlit.

Secara politik, berbagai kontroversi hanya akan semakin menguatkan pentingnya posisi China di mata dunia. Lepas dari segala kontroversi, China mampu mencitrakan One World One Dream secara matang dengan tetap mengedepankan kerjasama yang harmonis dengan semua negara. Maskot dan lagu resmi Olimpiade berjudul Beijing Huan Ying Ni (Beijing Welcomes You) diluncurkan dan semakin dikuatkan dengan pernyataan kesan dari para atlit yang mengaku senang berada di Beijing dengan keramahan penduduknya. Secara khusus, para atlit dari beberapa negara bahkan menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada China. Dunia disadari bahwa demokrasi dalam politik tidak menjadi jaminan sejahteranya suatu negara.

Seperti yang dikatakan ketua IOC, Jacques Rogge, China pun dapat belajar dari dunia. China dapat belajar dari AS bagaimana meningkatkan prestasinya dalam cabang renang. Dengan kondisi udara yang bersih, China pun akan mempelajari arti penting lingkungan hidup bagi kesehatan umat manusia. Ketika memperoleh kecaman terkait pelanggaran HAM di propinsi Xinjang dan Xijiang (Tibet, Uighur, dll), pemerintah China akan semakin diingatkan untuk tetap menempatkan hak manusia sebagaimana mestinya. Yang tak luput dipelajari China dalam rangka meningkatkan perekonomiannya tentu saja adalah perilaku konsumen. Banyaknya turis yang berdatangan dengan preferensinya masing-masing, akan semakin meningkatkan pengalaman China dalam bidang jasa dan pelayanan konsumen.

Pada akhirnya, Olimpiade Beijing 2008 ini menjadi bahan pelajaran bagi siapapun yang ingin mencapai tahap pertumbuhan seperti China. Pertumbuhan yang tidak terbatas hanya dalam kerangka ekonomi namun juga dalam kerangka mutu sumber daya manusia dan akar budaya sejarah. Peradaban China yang telah bertumbuh selama 5.000 tahun menjadi insipirasi bagi kita semua untuk terus berjuang membawa dunia ke arah yang lebih baik. Alhasil, penutupan olimpiade 2008 pun dibumbui dengan pesan ‘jangan lupakan Beijing’ yang diwakili oleh penampilan teaterikal dan lagu It’s Hard to Say Goodbye yang dinyanyikan oleh Jackie Chan, Andy Lau, Liu Huan, dan Chow Wah Kin.

Penutupan Olimpiade Beijing 2008 juga ditandai dengan serah terima pada tuan rumah Olimpiade berikutnya, London. Pada upacara penutupan, London pun menampilkan sebuah pertunjukkan yang tidak kalah menarik. Diawali dengan berjalannya icon Inggris, double-decker bertuliskan London-Beijing-London di arena panggung utama, seorang anak perempuan bergerak lincah oper-mengoper sepakbola. Sesaat kemudian, David Beckham yang tengah tersenyum pun tampil dengan melambaikan tangannya. Sebuah bola yang ditendangnya, ditangkap oleh salah seorang tim penari yang masih beraksi di panggung. Tidak hanya itu, momen ini pun dimeriahkan oleh penampilan menarik dari Leona Lewis dan gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page dengan sangat atraktif. Penyanyi-penyanyi asal China pun menunjukkan aksinya diiringi dengan tabuhan drum dari dua orang anak asal China.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008 berlangsung dengan sangat sukses dan berhasil menyedot perhatian dan menginspirasi dunia. Akhir kata, perhelatan Olimpiade Beijing 2008 berakhir dengan kesan yang sangat mendalam. Dunia belajar lagi dari China dan China akan terus belajar dari dunia. Indonesia pun perlu seharusnya belajar dari China. Seperti halnya musik, olahraga akan terus menjadi bahasa universal, menjadi simbol pemersatu dunia. Sampai jumpa pada Olimpiade London 2015 dengan semangat baru untuk perdamaian dunia!

Advertisements

2 thoughts on “Penutupan Olimpiade Beijing 2008: Belajar (Lagi) dari China

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s