Pelajaran dari Kasus LNG Tangguh

Harga yang terbentuk waktu itu, sudah maksimal. Tidak ada seorang pun
di dunia ini yang saat itu memperkirakan harga minyak bisa di atas
100 dollar AS per barell seperti sekarang ini

Deputi Operasional BP Migas, Eddy Purwanto – Jakarta, 25 Agustus 2008

Ketika menyaksikan ragam perilaku menjelang detik-detik penutupan Olimpiade Beijing 2008 di stasiun TV China, CCTV, secara tidak sengaja saya menyaksikan Wapres Jusuf Kalla berjabat tangan penuh senyum dengan presiden China, Hu Jintao yang saat itu ‘kebanjiran’ tamu penting. Namun CCTV nampaknya tidak sempat membahas bahwa salah satu poin penting dari kunjungan Jusuf Kalla tersebut adalah dalam rangka renegosiasi kontrak LNG Tangguh sementara saya belum sempat membaca harian nasional terkait maksud kunjungan sang wapres.

Maka ketika melihat wapres, hal pertama yang muncul dalam benak adalah betapa pandainya pemerintah Indonesia melakukan diplomasi ekonomi ke China (mungkin dalam rangka menarik investasi dan meningkatkan kerjasama ekonomi) dengan memanfaatkan momen Olimpiade. “Ah paling-paling juga mau ngutang lagi…”, tante saya yang tergolong selalu pesimistik terhadap kondisi Indonesia tiba-tiba berujar.

Anggapan tante saya jelas salah karena China jelas bukan tempat yang tepat bagi Indonesia untuk meminta hutang. Namun anggapan saya juga tidak sepenuhnya benar. Saya sungguh terkejut saat mengetahui secara lebih mendetail kasus LNG Tangguh yang menjadi salah satu poin kunjungan wapres menjelang penutupan Olimpiade. Kasus LNG Tangguh ternyata telah menjadi bahan perdebatan yang sangat panas di parlemen, kepresidenan, dan media massa. Pokok permasalahan yang disampaikan wapres terkait kasus ini adalah bahwa kontrak LNG antara Indonesia dengan China (propinsi Fujian) yang ditandatangani tahun 2002, mendatangkan potensi kerugian besar bagi Indonesia terkait pematokan harga LNG yang sangat rendah.

Wapres menjelaskan kontrak LNG Tangguh yang ditandatangani 2002 bernilai 3,3 dollar AS per Mmbtu. Saat ini harga LNG di pasar internasional saat ini berkisar 20 dollar AS per Mmbtu. Wapres mengaku heran mengapa kondisi jual beli gas LNG Tangguh bisa seperti saat ini. Wapres juga heran mengapa kontrak ekspor LNG Tangguh tersebut tidak menggunakan pedoman dasar dalam kontrak LNG seperti yang selama ini digunakan Indonesia yakni dikaitkan dengan harga minyak.

Dalam perbincangan dengan Metro TV (Economic Challenges, 1 Sept 2008), wapres mengemukakan kesuksesan Pak Harto dalam menciptakan ‘formula Indonesia’ yang mengaitkan antara harga LNG dengan harga minyak mentah tanpa batas. Formula Indonesia inilah yang menghantarkan Indonesia sebagai eksportir LNG terbesar di dunia 30 tahun silam. Eksportir LNG terbesar pada saat ini diraih oleh Qatar dan Aljazair. Selain itu, formula Indonesia ini juga diakui dan digunakan oleh negara lain seperti Jepang. Ironisnya, dalam kasus LNG Tangguh Indonesia justru meninggalkan formula ini dengan mematok harga maksimal 25 dollar AS per barell. Dengan kata lain, berapapun tingginya harga minyak dunia, harga LNG Tangguh yang diekspor ke Fujian terbentur pada harga ini.

Dengan harga ini, potensi kerugian negara dari kontrak penjualan LNG Tangguh mencapai sekira Rp750 triliun atau 75 miliar dollar AS. Potensi itu didapat dari penghitungan rata-rata 3 miliar dollar AS per tahun selama hampir 25 tahun. Harga 3,3 dollar AS per Mmbtu pun diperoleh setelah dilakukan revisi pada harga awal sebesar 2,6 dollar AS per Mmbtu. Dengan harga ini, artinya koefisien yang dimiliki hanya sebesar 15%. Padahal, LNG Bontang saja telah menerapkan harga dengan perhitungan 15% harga dunia ditambah dengan satu hingga dua persen sehingga nilai akhirnya dapat mencapai 18 dollar AS per Mmbtu. Jepang bahkan telah mencapai angka 20 dollar AS. Jika dihitung sejak awal kontrak ditandatangani pada tahun 2002, harga 2,6 dollar AS berbanding dengan 20 dollar AS adalah satu berbanding delapan! Padahal, ongkos eksplorasi minyak diperkirakan mencapai 10 dollar AS.

Itu sebabnya wapres juga mengatakan bahwa kontrak ini menjadi kontrak paling buruk dalam sejarah penjualan LNG yang pernah terjadi. Wapres juga meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga melakukan penyelidikan atas kontrak ekspor gas LNG Tangguh ke China. Renegosiasi dengan pemerintah China pun dilakukan dengan target meyakinkan pemeruntah China untuk kembali bernegosiasi sehingga harga penjualan LNG bisa menjadi lebih baik atau dengan kata lain meminimalisir potensi kerugian yang diperkirakan mencapai 75 miliar dollar AS dalam 25 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro berkilah, kesepakatan harga LNG Tangguh terjadi karena kondisi pasar gas yang buyer’s market (harga ditentukan oleh pembeli karena jumlah pembeli lebih banyak daripada jumlah penjual). Senada dengan Purnomo, juru bicara fraksi PDI-P, Effendy Simbolon, mengemukakan bahwa pattern China sangat menentukkan. Menurut Effendi, prosedur saat negosiasi LNG Tangguh bisa dipertanggungjawabkan. Effendi menjelaskan, tidak aneh jika harga jual LNG Tangguh rendah karena saat itu harga LNG internasional sedang rendah. Tender Indonesia pun sempat ditolak karena harga yang ditawarkan oelh Australia kepada Fujian jaun lebih murah. Namun melalui pendekatan government to government, Megawati berhasil memperoleh tender ini.

Effendy meminta SBY-JK mundur dari pemerintahan bila terbukti kontrak LNG Tangguh tidak bermasalah. Menurutnya, PDIP siap melakukan uji lapangan maupun public hearing terkait kontrak penjualan LNG Tangguh hingga dapat ditemukan bukti terkait kesalahan proses. Lebih lanjut Effendi mengatakan bahwa saat itu tidak ada yang memprediksi harga minyak dunia mencapai di atas 100 dollar AS per barell.

Sementara itu, pengamat perminyakan dari Universitas Indonesia Dirgo Purbo menilai bahwa tidak ada satu pun alasan rasional yang dapat menjadi pembenaran terbentuknya harga LNG Tangguh. Dirgo juga mengatakan bahwa evaluasi ulang harga sebaiknya dilakukan sesuai perjanjian kontrak. Kontrak menyatakan renegosiasi bisa dilakukan setiap empat tahun sejak kontrak ditandatangani. Artinya jika Indonesia telah renegosiasi pada 2006, renegosiasi kedua baru dapat dilakukan 2010. Jawaban ini senada dengan wapres.

Ketika MetroTV bertanya apakah Indonesia masih memiliki kesempatan untuk bernegosiasi ulang dengan China, wapres menjawab bahwa sejauh ini pemerintah China memperlihatkan itikad baiknya. Wapres China, Xi Jinping menyambut baik renegosiasi ini. Meski demikian, kontrak tetaplah kontrak. Secara hukum, pihak yang membatalkan kontrak akan terkena penalti. Ini berarti bahwa pemerintah Indonesia tetap harus berpegang pada nilai kontrak sebelumnya tatkala masuk dalam proses renegosiasi. Dengan demikian, pemerintah Indonesia tidak dapat serta merta menuntut harga baru yang nilainya sangat drastid dari kontrak sebelumnya.

Alhasil kasus LNG Tangguh ini menjadi bahan perdebatan yang pelik. Meskipun demikian, saya sepakat dengan pernyataan dari juru bicara kepresidenan, Andy Malarangeng bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk saling melempar tuduhan. Sudah saatnya seluruh pihak saling bahu membahu untuk memperoleh hasil yang maksimal dari penjualan LNG Tangguh ke Fujian. Kesalahan yang pernah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya memang patut dievaluasi sebagai bahan pembelajaran di masa yang akan datang, tapi tidak untuk saling menjatuhkan. Saya cukup kesal tatkala mendengar resistensi yang begitu menggebu-gebu atas kasus ini namun tidak berlanjut pada upaya mencari solusi yang terbaik demi kepentingan seluruh rakyat. Sehebat apapun perdebatan yang terjadi, tidak akan menyelesaikan permasalahan apabila yang terbersit dalam benak hanyalah “saya benar, anda salah!” Toh China tidak akan serta merta mengubah harga yang telah disepakati dalam kontrak

Beberapa pelajaran dari kasus LNG Tangguh ini pun dapat kita petik agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Pertama, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Kurtubi dalam artikelnya yang berjudul ‘Penjualan Gas Alam Cair Tangguh’ (Tempo, 27 Juni 2007), Indonesia perlu membenahi manajemen pengelolaan gas milik negara. Menurut Dr.Kurtubi, manajemen pengelolaan gas milik negara yang berada di bawah UU Migas angat buruk. Di satu sisi, kekayaan gas milik negara direncanakan dan direkayasa untuk dijual murah ke China dengan argumentasi yang sangat lemah, di sisi lain industri dalam negeri berteriak kekurangan gas. Bahkan pembeli LNG di Jepang yang sudah terbukti selama 30 tahun membeli LNG Indonesia dengan harga yang sangat bagus kini sedang mengharapkan tambahan LNG dari Indonesia.

Kedua, saya menyadari sepenuhnya bahwa proses tender manapun ada saja yang diwarnai oleh kepentingan pemerintah, termasuk kepentingan politik. Oleh karena itu, sudah saatnya political will pemerintah yang tengah berkuasa, diarahkan demi kepentingan jangka panjang seluruh rakyat Indonesia. Kasus ini hendaknya menjadi bahan pelajaran bagi setiap pengambil keputusan di tubuh pemerintahan untuk secara berhati-hati mampu mengidentifikasi kepentingan strategis Indonesia, kecenderungan konstelasi perekonomian dunia yang terkait erat dengan kepentingan strategis Indonesia, dan yang terpenting adalah membuat putusan berdasarkan kepentingan jangka panjang. Kasus ini membuktikan bahwa Indonesia tidak terlalu berhasil dalam mengidentifikasi nilai-nilai strategis jangka panjang meskipun terkesan sukses dalam jangka pendek dengan memenangkan tender di China, wilayah yang diperebutkan oleh banyak negara di dunia pada saat ini.

Ketiga, kasus ini memperingati kita agar tidak ‘mengobral’ kekayaan alam yang dimiliki negara atas nama permintaan pasar. Karena kontrak sudah terlanjur berjalan, maka alternatif yang dapat dilakukan pemerintah adalah mencari alternatif ke pasar lain dengan tingkat harga wajar sesuai dengan harga pasar, misalnya Jepang.

Buyer’s market seharusnya tidak menjadi alasan mengapa Indonesia akhirnya memilih pasar dengan harga yang rendah. Saya kembali sepakat dengan pendapat yang dikemukakan Dr.Kurtubi bahwa jika seluruh produksi LNG Tangguh tetap dijual dengan harga yang sangat murah sesuai dengan kontrak semula, negara nyaris pasti tidak akan memperoleh bagian yang wajar, bahkan boleh jadi tidak akan memperoleh bagian jika prinsip First Trench Petroleum (20% produksi kotor yang harus diambil terlebih dulu untuk dibagi sebelum produksi tersebut dipotong untuk cost recovery) tidak diterapkan.

Keempat, renegosiasi merupakan sebuah alternatif paling akhir yang sesungguhnya dapat dihindari jika pemerintah tidak terburu-buru menandatangani kontrak yang berniolai strategis, terlebih dalam jangka panjang. Memang, efisiensi waktu sangat dibutuhkan dalam mengambil keputusan terlebih segala sesuatu yang terkait dengan tender jika tidak ingin terlibas oleh negara lain. Meskipun demikian, pemerintah perlu mempertimbangkan dampak jangka panjangnya secara matang. Renegosiasi cenderung menimbulkan efek jera dan bahkan ketakutan dari pihak China untuk melanjutkan kerjasamanya dengan Indonesia di masa yang akan datang.

Lebih dari itu, itikad baik untuk memikirkan kepentingan seluruh rakyat dalam jangka panjang dari para pengambil kebijakan, menjadi kunci pokok yang menentukkan segalanya. Jika itikad baik telah muncul, strategi yang tepat pun akan lahir. Jika kesalahan terlanjur terjadi, adu mulut yang tidak membawa solusi hendaknya tidak menjadi respon pertama.

Akhirnya kita semua berharap agar kasus LNG Tangguh ini menjadi kali terakhir sejarah buruk kontrak penjualan LNG Indonesia. Amin!

Advertisements

5 thoughts on “Pelajaran dari Kasus LNG Tangguh

  1. Hi, sylvie skrng saya bener kan mengeja namamu. Saya sdh baca nih. Saran bolehkan, terlalu mendetail, jadi ketika aku buka blog kamu, wuihhhhhh…..panjang banget. Sebaiknya di perpendek pada masalah, but solusi yang diberikan sih lumayan ngena tuh tapi masih kurang efisien dengan kalimat. Ok sepertinya itu aja. Keep up the good work. Bye

  2. Halo Mbak Sylvie.
    This is a great post. It inspires me a lot to start writing thesis about this.
    Can you help me with this? Like some infos or anything u get.
    Kindly give me the feedback. Thanks before.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s