BOOK REVIEW – Pelajaran dari Tiongkok

Judul : Pelajaran dari Tiongkok
Penulis : Dahlan Iskan
Penerbit : JP BOOKS
Cetakan : II, Juli 2008
Tebal Buku : xx + 268 halaman

Tiongkok bertumbuh dengan sangat fantastis dan sangat baik apabila Indonesia mempelajarinya. Inilah kira-kira pesan yang hendak disampaikan oleh Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group yang terpilih sebagai “Entrepreneur of The Year 2002” dalam buku ini. Dahlan Iskan tidak membiarkan pengalamannya (yang sangat banyak) selama berada di Tiongkok, lenyap begitu saja. Buku ini merupakan kumpulan artikel Dahlan Iskan yang telah dimuat dalam harian Jawa Pos yang berisi berbagai pengalaman dan curahan hati sang penulis dalam perjalanannya di Tiongkok.

Namun buku ini bukanlah buku mengenai pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang bersifat sangat akademis. Sebaliknya, Dahlan menuliskan ragam pengalamannya dengan tutur bahasa yang sangat ringan dan mengasyikkan, beberapa artikel bahkan cenderung mengundang senyum dan gelengan kepala.

Sebagai contoh, pada bab-bab awal Dahlan mengungkapkan pengalamannya dalam belajar bahasa Mandarin di Nanchang. Dalam mempelajari bahasa tersulit di dunia ini, Dahlan memilih untuk belajar membaca dan berbicara saja. Biarlah saya tetap tidak bisa menulis, agar di dunia ini ada orang yang disebut “setengah buta huruf” (hal 13), ujar Dahlan dalam kalimat penutup bab Sulitnya Menulis Han Zi.

Ketika menelusuri apa yang dilakukan Dahlan berikutnya, maka kita akan sibuat kagum karena beliau ternyata berhasil “menulis” Han Zi (huruf Tiongkok) dengan menggunakan komputer berprogram bahasa Mandarin. Dahlan juga menceritakan kesannya bagaimana para mahasiswa Tiongkok belajar berbicara bahasa Inggris dengan penuh semangat di taman terbuka di kampus Jiang Xi Normal University sekalipun hujan turun dengan deras disertai dengan suhu yang dapat membuat tubuh menggigil kedinginan.

Tidak hanya itu, buku yang terdiri atas 76 artikel dengan pengantar dari Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu ini mampu membuat setiap pembacanya merasa “berpetualang” ke setiap sudut Tingkok yang diceritakan oleh Dahlan. Kemampuannya dalam bertutur patut diacungkan jempol.

Ketika membaca bab berjudul Maglev, Mahal karena Hanya Delapan Menit, misalnya, saya seolah-olah dapat turut merasakan bagaimana kereta tercepat di dunia yang terletak di Shanghai ini melaju dengan kecepatan mencapai 430 km per jam dengan kecepatannya yang sangat mendebarkan. Dalam catatannya, Dahlan bahkan sempat mengungkapkan bahwa dua orang Jepang yang duduk di depannya, sibuk memfoto top speed kereta, lalu bergantian memotret diri dengan handphone kamera di depan angka itu. Turun dari kereta pun mereka masih sibuk saling memotret di samping Maglev! Maglev hanyalah salah satu cermin majunya infrsatruktur di Tiongkok.

Lebih dari itu, Dahlan juga banyak bertutur mengenai perkara insfrastruktur yang disertai dengan saran-sarannya bagi Indonesia, bahkan ASEAN. Dahlan tidak bermaksud untuk menguraikan kekagumannya tentang Tiongkok secara berlebihan namun beliau ingin agar masyarakat Indonesia belajar dari cara pemerintah Tiongkok membangun masyarakat dan negaranya. Belajar dari semangat masyarakat Tiongkok dalam membangun wilayahnya. Dalam hal ini, mentalitas adalah sebuah hal penting bagi pembangunan. Dahlan mengungkapkan pengalamannya di mana setiap petugas publik yang diberinya ‘tip’, selalu menolak tegas.

Pembangunan demi pembangunan pun berjalan dengan begitu pesat meskipun menimbulkan sisi negatif dalam hal lingkungan hidup, eksploitasi buruh, ketimpangan sosial, dan kondisi perekonomian nasional yang “terlalu panas”. Kecepatan pembangunan Tiongkok dari sudut positif, memang patut dipelajari. Salah satu tujuannya, seperti yang diungkapkan Dahlan Iskan, adalah agar Indonesia mampu membalikkan situasi dari “potensi bahaya menjadi pasarnya Tiongkok” ke situasi “memanfaatkan Tiongkok sebagai lahan ekonomi kita”.

Lebih dari itu, dalam jangka panjang kita berharap agar seluruh bangsa Indonesia dapat menikmati berbagai kemajuan seperti yang dialami Tiongkok. Untuk itu, buku Pelajaran dari Tiongkok ini sangat saya sarankan untuk dibaca oleh siapapun yang ingin belajar dari Tiongkok. Ringan sekaligus menohok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s