Inspirasi dari Kejuaraan Tenis AS Terbuka 2008

The spirit, the will to win, and the will to excel are the things that endure. These qualities are so much more important than the events that occur

Vince Lombardi – American Football Coach, national symbol of single-minded determination to win 1913-1970

Menarik jika kita terus mengamati sepak terjang dunia tenis belakangan ini, terutama pada perhelatan Kejuaraan Tenis AS Terbuka 2008 yang baru saja berakhir. Menarik dalam hal ini bukan hanya karena faktor fisik pemain yang berparas ayu plus bertaburan aura bintang. Pasalnya, pada kejuaraan tenis AS Terbuka kali ini saya menangkap sebuah pesan moral yang luar biasa. Menjadi inspirasi yang luar biasa bagi saya dan mungkin bagi teman-teman sekalian.

Meskipun bukan penggemar tenis, akhir-akhir ini saya memang sedikit mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia tenis. Sebelum perhelatan akbar Olimpiade Beijing 2008 berlangsung, nama atlit tenis yang paling santer disebut adalah Rafael Nadal. Nadal terus-menerus menuai prestasi di sepanjang tahun 2008 dengan hasil-hasil fantastis yang membawanya ke posisi puncak dunia. Kemenangan demi kemenangan diraihnya dalam berbagai grand slam (Prancis Terbuka, Wimbledon, dll). Emas pun olimpiade menjadi pencapaian yang makin mengukuhkan posisinya.

Maka ketika nama Roger Federer dan Serena Williams muncul sebagai pemenang Kejuaraan AS Terbuka 2008, saya pun bertepuk tangan sembari terkagum-kagum. Nama kedua orang ini tentu sudah tidak asing lagi bagi siapapun. Yang membuat saya berdecak kagum adalah karena kedua orang ini mampu memberikan sebuah pelajaran moral yang sangat berharga.

Serena Williams. Siapapun pasti mengingat sang bintang yang pernah menduduki posisi nomor satu dunia selama 57 minggu hingga Agustus 2008. Kemenangan yang diraih petenis berusia 26 tahun pada kejuaraan AS Terbuka ini, membawanya kembali pada posisi puncak. Sebagaimana yang ditulis oleh berbagai media massa, pencapaian ini luar biasa karena rentang waktu lebih dari lima tahun menjadi rekor terlama petenis putri untuk kembali ke peringkat teratas dunia. Usai pukulan backhand-nya gagal dikembalikan Jelena Jankovic pada game ke-12 set kedua, tak heran jika Serena langsung melempar raketnya ke udara dan melompat-lompat girang.

Pelalajaran moral yang saya peroleh dari Serena Williams adalah kerja keras yang luar biasa, tidak mengenal usia, dan tidak pernah mengenal kata terlambat. Serena berupaya keras mengembalikan kondisinya. Perjuangan yang harus dilaluinya tentu bukan merupakan sebuah hal yang mudah. Seringkali saya dengar bahwa usia emas seorang atlit adalah di bawah 25 tahun. Dan Serena tidak terlalu mempedulikan hal ini. “Saya berusaha keras bertahun-tahun. Kadang saya bangun saat hari masih gelap dan harus menunggu matahari terbit untuk berlatih. Semua kerja keras itu terbayar sudah,” ujarnya setelah memenangkan kejuaraan AS Terbuka 2008.

Yang membuat saya semakin angkat topi adalah ucapannya yang mencerminkan seorang atlit sejati: “Saya sangat gembira. Saya bahkan tak berpikir soal peringkat nomor satu. Itu bonus yang istimewa.” Ini berarti Serena lebih memilih untuk bermain tenis dengan hati, bukan dengan ambisi kosong semata. Terus terang apa yang dilakukan dan diucapkan Serena, membuat saya merasa sangat malu. Seringkali saya mudah menyerah terhadap keadaan. Sering pula saya terlena ketika keadaan menguntungkan dan sebaliknya, malas untuk bangkit kembali tatkala mengalami kemunduran. Sungguh bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Serena Williams.

Usai kemenangan Serena Williams pada 7 September 2008, keesokan harinya saya kembali dibuat kagum (sekaligus malu) oleh kemenangan Roger Federer. Dengan hasil ini, petenis berusia 27 tahun ini menjadi orang pertama setelah Bill Tilden (1920an) yang berhasil memenangi kejuaraan ini selama lima gelar berturut-turut. Yang membuat saya kagum adalah kerja kerasnya dalam meraih gelar grand slam pertamanya selama tahun ini.

Sebelumnya, Federer berkali-kali dikalahkan oleh Rafael Nadal di Prancis Terbuka dan Wimbledon yang sangat menegangkan. Satu-satunya gelar, diraihnya bersama Stanislas Wawrinka di nomor ganda pada Olimpiade Beijing setelah kegagalan di nomor tunggal. Tanggal 18 Agustus 2008, predikat nomor satu yang digenggamnya selama 237 minggu sejak 2 Februari 2004 bahkan berhasil digeser Nadal. Terpuruknya prestasi Federer pun mengundang cemooh. “Banyak orang mencoba menghubungi saya, mengatakan bahwa saya butuh bantuan baik mental maupun fisik. Anda bisa tertawa, tetapi itulah yang terjadi, cukup menyakitkan”, ujarnya.

Tidak hanya itu, banyak pula yang berspekulasi bahwa Federer tidak akan memenangi grand slam kembali. Meski demikian, Federer memilih untuk tidak perduli dengan cemoohan itu. Ia kembali bangkit dan tidak pernah menyerah. Hasilnya, pada final Kejuaraan AS Terbuka 2008 ini Federer tampil nyaris tanpa cacat dengan membuat 36 pukulan winner tanpa sekalipun membuat kesalahan ganda pada servis. Maka seperti halnya Serena Williams, usai pukulan Andi Murray menyangkut di net pada game kedelapan set ketiga, Federer berlutut dan menjatuhkan diri ke lapangan biru Stadion Arthur Ashe dengan penuh kegembiraan.

Tidak pernah menyerah apapun yang terjadi dan apapun kata orang serta terus berusaha untuk meraih hasil yang maksimal. Itulah pelajaran moral yang saya peroleh dari Serena Williams dan Roger Federer.

Pesan moral ini nampak sangat sederhana dan sudah sering dibahas dalam berbagai kesempatan. Namun apa yang ditunjukkan oleh kedua atlit ini sungguh nyata dan sekali lagi menjadi tamparan keras bagi saya yang senang berleha-leha ini. Perkaranya bukan tentang nama besar, menjadi terkenal, ataupun menjadi nomor satu, tetapi bagaimana saya dan teman-teman mampu melihat ke depan dengan penuh harapan disertai dengan kerja keras untuk mencapainya. Mudah? Tentu tidak. Untuk itu marilah kita berusaha tanpa putus asa dengan semangat seorang pemenang! Well done!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s