Keamanan Produk China dalam Hubungan Perdagangan China-AS

To keep up with the pace of global commerce, we need a fundamental shift from trying to catch unsafe products as they come in, to building quality and safety into products before they reach our borders.

U.S. Health Secretary Mike Leavitt statements about agreements to increase safeguards over Chinese products (December 2007)

Setelah berbagai kasus terkait keamanan produk asal China melanda dunia, kali ini dunia kembali dikejutkan oleh munculnya skandal susu China yang mengandung zat kimia melamin. Skandal ini jelas bukan kasus main-main. Sedikitnya jumlah bayi dan anak yang sakit karena susu tercemar ini mencapai lebih dari 54.000 orang dengan 104 di antaranya kritis. Hampir 13.000 orang dirawat di rumah sakit dengan beragam kasus mulai dari muntah-muntah, kencing batu, gagal ginjal, bahkan kematian. Sudah empat bayi meninggal dunia karena skandal ini.

Kasus susu tercemar ini membuat Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Jepang, Bangladesh, Vietnam, Kamboja, Gabon, Burundi, dan Filipina memutuskan untuk menarik dan melarang penjualan semua produk susu China. Pemerintah Taiwan telah menarik semua produk susu asal China beserta turunannya (permen, dll). UNICEF bahkan meminta pihak berwenang untuk melakukan penyidikan penuh atas kasus yang menelan korban jiwa ini.

Skandal ini semakin ‘panas’ dengan adanya kabar bahwa kisruh terkait susu tercemar melamin ini sesungguhnya sudah muncul pada awal Juli 2008 sebelum perhelatan Olimpiade Beijing dimulai. Media massa menduga bahwa skandal susu tercemar ini disimpan karena merupakan sebuah berita buruk bagi Olimpiade Beijing, jauh lebih buruk daripada protes warga Tibet.

Skandal terkait keamanan produk asal China jelas akan selalu menguras perhatian dunia terutama dari AS sekalipun bukan merupakan kasus baru. Pasalnya, China merupakan salah satu eksportir terbesar dunia sekaligus eksportir terbesar kedua bagi AS. Besarnya arus ekspor China ke AS ini bahkan menciptakan defisit perdagangan yang semakin meningkat tiap tahunnya. Laporan yang dirilis oleh Congressional Research Service (CRS) pada 7 Maret 2008 mengungkapkan bahwa jumlah defisit perdagangan ini adalah 30 miliar dollar AS tahun 1994 dan melonjak menjadi 256 miliar dollar AS pada tahun 2007. Angka ini merupakan angka defisit perdagangan terbesar bagi AS (-256,3) bahkan jika dibandingkan dengan defisit dengan Uni Eropa (-107,4).

Adapun lima besar komoditas impor terbesar AS ke China mencakup peralatan komputer, produk-produk manufaktur (seperti mainan), peralatan komunikasi, pakaian, serta peralatan audio dan video. Produk makanan pun termasuk salah satu komoditas impor yang cukup besar.

Melihat jenis komoditas impor semacam ini, tak heran apabila AS menjadi salah satu pihak yang bersuara paling lantang menuntut jaminan keamanan produk China. Wajar saja jika akhirnya pemerintah AS menempatkan masalah keamanan produk China sebagai agenda terdepan dalam masalah hubungan perdagangannya dengan China di samping masalah lain seperti kebijakan moneter, evaluasi pasca masuknya China dalam WTO, kasus tekstil dan pakaian, serta masalah pembajakan hak cipta.

Masalah keamanan produk China yang secara langsung berdampak terhadap warga AS, sesungguhnya bukan merupakan kali pertama. Pada Maret 2007, 200 binatang piaraan di AS mati setelah mengkonsumsi makanan hewan asal China. Belakangan diketahui bahwa pemasok dari China menambahkan melamin dalam gluten gandum untuk makanan hewan ekspor itu. Heparin (pengencer darah) buatan China pun dianggap sebagai penyebab jatuhnya korban di AS. Di AS, heparin tercemar asal China tersebut dikonsumsi oleh sedikitnya 81 pasien yang tewas. Mengerikan mengingat bahaya produk China ternyata turut merasuki barang-barang yang langsung dikomsumsi oleh masyarakat.

Bulan Juni 2007, Biro Keselamatan Transportasi Jalan Raya nasional AS mendesak penarikan 450.000 ban buatan Hangzhou Zhongce Rubber Co. Ltd. Ban-ban asal China ini terbukti tidak dilangkapi dengan kandungan serat yang berguna untuk mencegah peletusan ban.

Skandal keamanan produk China yang menghebohkan pasar AS juga terjadi dalam hal mainan yang mengandung bahan berbahaya. Data US International Trade Commission (2007) menyebutkan bahwa 33% mainan yang dijual di AS, datang dari China. Data lebih fantastis dari Congressional Research Service (CRS) bahkan menyebutkan bahwa impor mainan China ke AS mencapai 89% total impor AS! Bulan Juli-Agustus 2007, 1,5 juta mainan China ditarik dari AS setelah munculnya kekhawatiran terhadap bahan catnya yang mengandung timah.

Selang beberapa minggu kemudian, Toymaker Mattel menarik lebih dari 18 juta produk mainan China di seluruh dunia karena kandungan magnet yang berbahaya bila tertelan. Dugaan lain menyebutkan bahwa beberapa mainan China juga berbahaya karena dapat melukai jari dan bersifat mudah terbakar. Penggunaan bahan lem yang berbahaya bagi kesehatan juga menjadi isu utama.

Economist mencatat bahwa produsen handphone Nokia juga memperingatkan konsumennya bahwa baterai buatan China dalam handphone buatannya juga mudah menjadi sangat panas (overheating) sekalipun dibuat oleh pabrik Matsushita di Jepang. Kondisi ini tentunya juga sering dijumpai oleh para konsumen handphone buatan China. Berbagai produk lainnya seperti pasta gigi hingga furniture China juga ternyata mengandung bahan berbahaya bagi tubuh.

Pasca terjadinya kasus-kasus ini, aktor pembuat kebijakan AS telah menekan pemerintah China untuk meningkatkan standar keamanan ekspornya sebaik berjalannya sistem regulasi AS yang bertugas memantau keamanan produk impor asal China. Pemerintah AS melalui berbagai lembaganya seperti The Food and Drug Administration (FDA), The National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), dan The Consumer Product Safety Commission (CPSC) telah mengirimkan sinyal dan larangan impor terhadap ditemukannya beragam produk berbahaya asal China.

Beberapa analis menilai bahwa maraknya kasus produk berbahaya asal China disebabkan oleh minimnya kerangka peraturan dalam rangka meningkatkan standar keamanan dan kesehatan. Di samping itu, China juga dipandang sangat lemah dalam hal pengawasan dan sanksi bagi para pelanggar, membiarkan beredarnya produk yang tidak memiliki lisensi, kacaunya dokumen ekspor, tingkat polusi yang tinggi, ketiadaan lembaga perlindungan konsumen, kacaunya sistem monitoring terhadap kualitas produk, maraknya korupsi dan ketiadaan transparansi di tingkat pemerintah daerah, serta ketatnya pengawasan terhadap media massa.

Kerjasama antara AS dan China dalam hal keamanan produk sebenarnya telah diupayakan. Tanggal 11 September 2007, misalnya, The Consumer Product Safety Commission (CPSC) dan China telah menandatangani pernyataan bersama untuk meningkatkan keamanan produk konsumsi. China berjanji untuk meningkatkan upayanya dalam menjamin keamanan produknya seperti upaya pengawasan dan pendidikan terhadap pekerja dan pengusaha manufaktur. Kedua belah pihak juga telah sepakat untuk menjalin hubungan bilateral dalam bentuk pertukaran pekerja teknis dan pelatihan.

Pada 11 Desember 2007, U.S. Health and Human Services (HHS) dan China juga telah menandatangani Memoranda of Agreements (MoA). Isi MoA ini mencakup jenis makanan spesifik yang menjadi konsentrasi AS serta obat-obatan dan peralatan medis. MoA ini mensyaratkan adanya sertifikasi dari produk-produk ini sebelum diekspor ke AS. MoA ini juga menjadi wadah yang lebih luas untuk berbagai informasi, meningkatkan akses ke fasilitas produksi di AS, serta nenciptakan kelompok-kelompok bersama yang dapat memperkuat kerjasama bagi kedua belah pihak. Di samping itu, Joint Statement terkait keamanan produk juga telah dsepakati pada tanggal 11 September 2007.

Menanggapi berbagai keluhan yang bertubi-tubi terhadap keamanan produknya, pemerintah China telah membenahi regulasinya dan memperketat pengawasan terhadap produk-produk konsumsi. US-China Bussiness Council (2007) mencatat bahwa pemerintah China telah membentuk struktur lembaga yang berfungsi sebagai pengawas produk-produk China. Lembaga pengawasan utama ini berada di bawah tanggung jawab menteri pertanian, badan Administrasi Supervisi Kualitas, Inspeksi, dan Karantina (AQSIQ), kementerian industri dan perdagangan, menteri kesehatan dan menteri perdagangan. Masing-masing lembaga ini memiliki tanggung jawab yang bervariasi dengan tujuan utama meyakinkan dunia bahwa produk China aman untuk dikonsumsi.

Tindakan tegas China dalam menjaga keamanan produknya juga telah dibuktikan dengan hukuman mati yang dijatuhkan pada Ketua Badan Pengawasan Obat dan Makanan Cina, Zheng Xiaoyu. Zheng dinyatakan bersalah menerima suap senilai 6,5 juta yuan ($860.000) dan mengabaikan tugasnya. Zheng terbukti mengesahkan izin obat-obatan tanpa tes dengan imbalan uang suap tersebut. Eksekusi terhadap Zheng ini menjadi kasus pertama China menjatuhi hukuman mati terhadap seorang pejabat sejak tahun 2000.

Meski demikian, munculnya skandal susu asal China yang mengejutkan dunia memperlihatkan bahwa sistem regulasi pengawasan China ternyata belum berjalan dengan efektif. Tindakan tegas yang dilakukan terhadap aparat berwenang hanya bersifat kuratif. Sidang dewan negara (kabinet) yang dipimpin Perdana Menteri Cina Wen Jiabao pada 17 September 2008 juga mengakui bahwa “insiden susu bubuk bayi Sanlu mencerminkan kekacauan dalam pasar produk susu dan lubang-lubang dalam pengawasan dan penataan.”

Tuduhan miring bahkan mengatakan bahwa pemerintah China sengaja menutup-nutupi kasus ini untuk menjaga citranya menjelang Olimpiade Beijing. Padahal, keluhan-keluhan terhadap produk susu China yang diproduksi oleh produsen susu terbesar China, Shijiazhuang Sanlu Group Co., sudah muncul sejak akhir Desember 2007!

Perusahaan Selandia Baru yang menjadi pemegang saham di Sanlu, Fonterra diberi tahu sejak awal Agustus dan publik baru diberi tahu pada 11 September 2008 setelah Fonterra melaporkan susu tercemar tersebut pada pemerintah Selandia Baru! Kepala quality supervisor China, Li Changjiang pun akhirnya mengundurkan diri pada hari Senin, 22 September 2008 setelah menyatakan kegagalannya dalam mencegah kontaminasi melamin pada susu. Pemerintah China juga telah mengkategorikan susu bubuk produksi Sanlu sebagai “sever food safety incident” (International CCTV, 23 September 2008).

Secara keseluruhan, kasus susu tercemar asal China ini tidak menimbulkan banyak komentar dari AS sebanyak kasus mainan berbahaya karena impor AS terhadap mainan jauh lebih besar daripada susu. Meski demikian, pemerintah AS tetap melarang impor susu asal China dan menuntut penjelasan lebih lanjut bagaimana skandal ini terjadi dan berkembang (BBC,19 September 2008). Susu formula bayi asal China telah dinyatakan ilegal di AS. USFDA (U.S. Food and Drug Administration) juga telah meminta konfirmasi dari lima pabrik susu formula AS yang semuanya menyatakan tidak menggunakan bahan-bahan dari China.

Penyelidikan peredaran susu asal China pun telah dilakukan di kantung-kantung komunitas China AS seperti di Los Angeles, San Francisco, Seattle dan New York. Investigasi dilakukan terhadap lebih dari 1.000 pasar retail. Hasilnya, susu tercemar asal China memang tidak ditemukan.

Lebih lanjut, FDA juga mengarahkan konsumen AS agar tidak membeli susu bayi formula asal China baik dari internet maupun dari smmber-sumber lainnya. Dalam situsnya, FDA juga menyatakan akan terus pro-aktif dalam menjamin keamanan produk makanan AS. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menyelidiki pasar atau supermarket yang menjual beragam produk makanan impor dari China yang mengandung protein yang besar. FDA juga melakukan penyelidikan terhadap makanan impor berbahan baku susu dan produk turunan susu. Untuk itu, FDA juga bekerja sama dengan U.S. Customs and Border Protection, U.S. Department of Homeland Security, U.S. Department of Agriculture, dan agen federal lainnya.

Belajar dari pengalaman pada kasus-kasus sebelumnya, pemerintah AS tentu akan sangat berhati-hati dalam mengidentifikasi keamanan produk yang diimpor dari China. Keamanan dan kualitas produk impor jelas merupakan masalah serius yang harus ditangani dengan cepat dan transparan dalam rangka menjaga kepercayaan konsumen. Upaya pemerintah AS di bawah Bush untuk mendirikan U.S. Import Safety Working Group, merupakan sebuah langkah yang baik. Seperti yang dilansir US-China Bussiness Council (2007), AS sebaiknya memandang China sebagai ‘rekan’ daripada sebagai ‘musuh’. dalam menyikapi masalah keamanan produk. Pasalnya, baik China maupun AS sebenarnya memiliki perhatian yang sama terhadap kasus yang juga berdampak langsung terhadap warganya.

Meskipun demikian, wajar jika AS akan semakin waspada terhadap keamanan produk yang diimpor dari China. Sebaliknya, China harus berupaya lebih keras dalam “menutup lubang-lubang dalam pengawasan dan penataan” produk-produknya sebagaimana dinyatakan dalam Rapat Dewan Negara. Jika tidak, citra China sebagai penghasil produk berkualitas buruk dan berbahaya akan semakin bergaung dan bukan tidak mungkin menimbulkan ketakutan berlebihan dari rekan dagang besarnya seperti AS. Kemungkinan kedua adalah AS akan semakin memiliki alasan untuk ‘memojokkan’ China dalam WTO.

Kasus susu bubuk tercemar China tidak hanya menjadi bencana nasional China tetapi juga telah menjadi bencana bagi pasar internasional. Pada hakikatnya, yang terancam dari kasus produk yang tidak aman bukan hanya warga China atau AS, tapi warga dunia.

Bagaimanapun, China harus bertanggung jawab atas keamanan produk impornya. China pun harus menunjukkan itikad baiknya untuk tidak menyembunyikan fakta yang penting diketahui publik terkait keamanan suatu produk. Di sisi lain, China dan AS harus terus memperkuat kerjasamanya agar kejadian serupa tidak terulang kembali. AS tentu tidak ingin warganya mengkonsumsi produk berbahaya asal China. China pun tentu tidak ingin citranya sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dunia, ‘tercemar’ oleh fakta bahwa sebagian besar produknya tidak aman.

China juga tentu tidak ingin generasi penerusnya (yang saat ini masih bayi) harus mengalami keracunan karena mengonsumsi susu bermelamin.

Advertisements

One thought on “Keamanan Produk China dalam Hubungan Perdagangan China-AS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s