Sebutir Permen White Rabbit

“Mama, kenapa Cen-Cen nggak boleh makan permen Da Bai Du lagi?” tanya anakku sambil meringis heran. Tangan kanannya yang mungil dikibas-kibaskan di depan wajahku. “Kenapa Ma? Kan Mama juga dulu pernah bilang kalo permennya enak banget!” protesnya lagi. Kali ini kedua tangannya dikibas-kibaskan dengan lebih cepat. “Ayo Ma, knapa Ma?”

Aku menghela napas. Cukup bingung aku menjawabnya. Jika kukatakan bahwa permen itu mengandung melamin, ia tentu balik bertanya ‘apa itu melamin? trus kenapa’? Tapi jika kukatakkan bahwa rasa permennya sudah tidak enak lagi, sudah pasti ia berkata ‘masa sih, Cen-Cen cobain dulu kalo gitu!’

Sejurus kemudian, kutatap anakku lekat-lekat. “Cen, permennya ternyata ada racunnya. Bahaya banget buat kesehatan kamu,” ujarku dengan nada suara yang tenang. “Nah, Mama takut kamu jadi sakit gara-gara makan permennya. Jadi permennya Mama buang. Untuk sementara jangan dimakan dulu ya!”

Cen Cen kecilku hanya mengerut-ngerutkan dahinya dengan bingung. Pasti ia bingung. Demikian pula diriku. Aku hanya berharap suatu saat dapat kembali mendengar kabar dari Zhou Ling bahwa permen White Rabbit tidak lagi mengandung bahan berbahaya. Sebuah harapan yang sangat kuiimpikan.

* *

“Fang-Fang, mami udah beli permennya!” Hatiku langsung bergirang. Dengan segera kutinggalkan mainan bola bekel-ku yang masih berserakkan di lantai. Kuhampiri mami dengan air liur dan mata yang berbinar-binar. “Horeeee!!! Mana Mi? Fang-Fang dari tadi udah pengen makan Da Bai Du.

Da Bai Du adalah nama mandarin dari permen kelinci putih alias White Rabbit Candy. Permen yang paling tersohor saat itu, dan mungkin saat ini. Aku menyebutnya ‘everlasting milk candy’.

“Eiiits, entar dulu! Copot seragamnya, beresin mainannya, terus cuci tangan dulu.” Aku terpaksa menurut. Kulepas seragam SD-ku yang belum kulepas sejak tiga jam lalu. Kulangkahkan kakiku dengan gontai ke arah wastafel. Kubasuh dan kukeringkan lenganku. “Udah Mi! Sekarang mana permennya………?”

Entah kenapa, sejak dulu aku senang dengan permen susu Da Bai Du alias White Rabbit. Saat bungkus permen dibuka, senang sekali rasanya melomoti jeli plastik di permukaan permen. Jeli yang menggoda. Rasanya tawar, namun mengesankan. Setelah itu kusesapi rasa susunya yang manis. Sangat nikmat.

Rupanya, mami pun menggandrungi permen itu. “Permen ini malah jadi jualan yang paling laris dari tokonya engkong dulu. Lebih laris daripada mainan gundu yang jadi mainan paling heboh saat itu!” ujar mamiku bersemangat dengan nostalgianya. Aku mengangguk-angguk saja.

Permen yang sangat enak memang. Dua puluh tahun kemudian barulah aku sadar bahwa permen ini pernah dihadiahkan oleh Mao Zedong ketika presiden AS, Richard Nixon melakukan kunjungan bersejarahnya ke China untuk pertama kalinya tahun 1972. Permen ini juga ternyata adalah snack favorit Zhou Enlai, PM China saat itu. Bayangkan: snack kesukaan seorang perdana menteri!

“Mi, ayo kita ke toko ko Asiong” ujarku menarik lengan mama. “Ngapain Fang?” mamiku bertanya dengan heran. “Beli Da Bai Du lagi Mi!” jawabku setengah memaksa.

Untuk meyakinkan mamiku, kukeluarkan hasil ulangan matematikaku hari ini. “Liat Mi, ulangannya kan dapet sembilan koma dua….jadi boleh dong beli Da Bai Du lagi?” tanyaku sambil memutar-mutarkan bola.

Mamiku Cuma tersenyum. Senyum yang setengah dipaksakan. “Duh Fang, kan baru kemaren beli, masa sekarang udah beli lagi. Jangan sering-sering ah, ntar giginya kuning trus bolong,” mamiku menakut-nakuti.

Tidak kehabisan akal, kukerutkan mukaku. “Ih Mih, tapi kan mami udah janji kalo ulangan Fang-Fang nilainya di atas delapan ntar Fang-Fang bakal dikasih Da Bai Du lagi. Jangan bohong Mih,” ujarku. Kali ini dengan paksaan penuh. Mendengar itu, mamiku hanya menghela napas.

Da Bai Du memang enak. Tapi masalahnya kamu udah keseringan makan. Kalo udah keseringan, malah jadi racun. Ga bagus buat kesehatan. Tapi karena kamu udah dapet sembilan koma dua dan mami juga ternyata udah janji, ya udah. Ntar siang kita ke toko Ko Asiong. Kita beli Da Bai Du, tapi kamu hanya boleh makan paling banyak tiga biji dalam seminggu!”

Kali lain, aku terjatuh ketika sedang berjalan usai pulang sekolah. Daguku langsung mencium aspal dan sobek sebesar lima sentimeter. Fang-Fang kecilpun meraung-raung dengan hebatnya karena kesakitan.

Setibanya di rumah, mami segera menenangkan. “Sssttt Fang… jangan nangis lagi,” bujuknya sambil memberikan sebutir Da Bai Du padaku. Akupun berhenti menangis. Da Bai Du di mulutku kugigit keras-keras untuk menahan rasa sakit yang luar biasa di daguku.

* *

Kutelepon Zhou Ling tatkala mendengar berita itu. Zhou Ling, rekanku yang kini bekerja di Singapore’s Agri-Food and Veterinary Authority (AVA), segera menjawab pertanyaanku dengan cepat.

“It’s true! Betul sekali Fang. Dalam daftar kami, permen White Rabbit yang diproduksi oleh Sheng Yuan memang mengandung melamin dengan kadar 456,04 miligram per kilo untuk White Rabbit kemasan biru dan 945,04 miligram per kilo untuk White Rabbit kemasan merah.”

Aku terhenyak. Ternyata bukan kabar burung. Selama ini kabar miring seputar permen ‘everlasting milk candy’ku, hanya kuanggap angin lalu. Bohong. Tipuan dagang. Sabotase miring dari produsen yang iri hati, akal bulus negara-negara Barat untuk menghancurkan nama baik produk China karena defisit perdagangan mereka yang semakin besar.

Maka kudapati diriku melamun bingung menghadapi kenyataan ini. Kutengok surat kabar. Belum ada berita lebih detail dari BPOM Indonesia tentang nama-nama produk yang sudah pasti mengandung melamin. Namun Singapura ternyata sudah melarang keras impor produk yang iconic tersebut.

Yang kupikirkan adalah kesehatan Cen-Cen. Hampir setiap bulan kami membeli Da Bai Du ke toko kelontong Ko Asiong yang kini sudah diwariskan pada anaknya, Lin Bo atau Ko Abuo. Akulah yang pertama kali memperkenalkan permen ini pada Cen-Cen. Dan seperti halnya diriku, Cen-Cen pun menyukainya. Sangat menyukainya.

Kecurigaanku berawal ketika permen tersebut tidak dijual lagi oleh Ko Abuo. Padahal, permen yang dijual turun temurun tersebut menjadi salah satu jualan terlaris dari tokonya.

“Iya Ci, permennya kita tarik terus kita retur karena katanya mengandung melamin,” kata Ko Abuo pasrah. “Kalo mau permen susu, ada juga merek lokal…”

Demi anakku, Cen-Cen, aku membuang seluruh permen yang masih tersisa di rumah. Dengan sangat berat hati. Entah apa yang harus kujelaskan padanya satu jam lagi ketika ia pulang sekolah. Kutatap Da Bai Du yang berjatuhan ke tempat sampah dengan mata nanar. Tak tega.

Nostalgia indahku bersama Da Bai Du seolah terbang begitu saja ketika mengetahui bahwa Da Bai Du kesukaanku, Da Bai Du kesukaaan perdana menteri China, ternyata tercemar melamin. Tapi aku tidak mau Cen-Cen mengalami nasib yang sama seperti anak-anak China yang kutonton di televisi. Kasihan sekali mereka.

* *

“Mama, kenapa Cen-Cen nggak boleh makan permen Da Bai Du lagi?” tanya anakku sambil meringis heran. Tangan kanannya yang mungil dikibas-kibaskan di depan wajahku. “Kenapa Ma? Kan Mama juga dulu pernah bilang kalo permennya enak banget!” protesnya lagi. Kali ini kedua tangannya dikibas-kibaskan dengan lebih cepat. “Ayo Ma, knapa Ma?”

Aku menghela napas. Cukup bingung aku menjawabnya. Jika kukatakan bahwa permen itu mengandung melamin, ia tentu balik bertanya ‘apa itu melamin? trus kenapa’? Tapi jika kukatakkan bahwa rasa permennya sudah tidak enak lagi, sudah pasti ia berkata ‘masa sih, Cen-Cen cobain dulu kalo gitu!’

Sejurus kemudian, kutatap anakku lekat-lekat. “Cen, permennya ternyata ada racunnya. Bahaya banget buat kesehatan kamu,” ujarku dengan nada suara yang tenang. “Nah, Mama takut kamu jadi sakit gara-gara makan permennya. Jadi permennya Mama buang. Untuk sementara jangan dimakan dulu ya!”

Cen-Cen kecilku hanya mengerut-ngerutkan dahinya dengan bingung. “Sampai kapan Cen-Cen nggak boleh makan Da Bai Du-nya Ma?” tanyanya polos. Aku kembali menghela napas. “Mama juga belum tahu, sayang……….”

* * *

Sylvie Tanaga
Bandung, 28 September 2008

Advertisements

3 thoughts on “Sebutir Permen White Rabbit

  1. For Amel: Sedikit pake emosi sih. hahaha krn gw sama kaya wulan, seneng bgt ma permen ini…

    For Wulan: Sama Lan, gw juga doyan bgt2 sama permen ini dari jaman gw TK. Agak illfeel. Tapi ada kabar baik yang gw baca di KOMPAS (8/10/2008). Katanya permeni ini ud diproduksi lagi dan kali ini udah bebas melamin. Aminnnn!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s