Eksistensi Ruang Terbuka Hijau, Awal Kelestarian Lingkungan Hidup

Ketika menonton program televisi bernama Wild Wild World di sebuah stasiun televisi swasta, saya cukup terperangah. Saat itu, program tersebut membahas kawasan hutan yang sangat indah di Kalimantan, Borneo. Saya baru menyadari bahwa Indonesia memiliki hutan tropis dengan kekayaan alam yang sangat indah. Program tersebut juga mencatat bahwa hutan Borneo merupakan salah satu hutan dengan spesies hewan dan tumbuhan terlengkap di Asia.

Ada air mancur alami yang mengalir indah hingga ke laut, kawanan kelelawar yang berotasi megitari gua yang eksotik, orang utan yang menggemaskan, dan berbagai binatang lain yang tergolong langka seperti gajah dan badak bercula satu. Ada juga hutan bakau dengan kekayaan hayatinya yang menakjubkan. Betapa sedihnya saya ketika di akhir acara sang narator menceritakan bahwa luas lahan Borneo ini sudah berkurang hampir 50%nya. Aktivitas pembalakan liar dan pembakaran hutan mengancam kehidupan Borneo yang menjadi Ruang Terbuka Hijau bersifat vital, bukan saja bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia.

Ketika mendengar kabar mengenai kisruh Babakan Siliwangi, mau tak mau ingatan saya kembali melayang ke Borneo. Sudah tentu kita merasa bosan dicekoki dengan pentingnya Ruang Terbuka Hijau untuk melestarikan lingkungan hidup. Siapapun tentu mengetahui bahwa Ruang Terbuka Hijau merupakan paru-paru kota sekaligus berfungsi sebagai wilayah resapan air. Masalahnya, kita selalu baru menyadari dampak nyata kerusakan lingkungan setelah melihat dan merasakan sendiri: es kutub yang meleleh, penguin dan beruang kutub yang lucu harus berenang-renang karena tidak mendapat pijakan, dan (yang kini mulai dirasakan warga Bandung) cuaca ekstrim. Itu pun belum menjamin kita untuk segera bertindak.

Sangat ironis ketika hal ini terjadi berulang kali di kota Bandung. Belum habis saya merasa heran karena jalan raya sepanjang sekolah saya dulu, Jl. LLRE Martadinata menjadi gersang karena menjamurnya Factory Outlet, masalah Babakan Siliwangi kini kembali mencuat ke permukaan. Babakan Siliwangi yang menjadi salah satu Ruang Terbuka Hijau penting di Bandung yang semakin panas ini, terancam ‘ditemani’ oleh beberapa bangunan baru. Proyek ini tetap dilakukan pemerintah kendati sejumlah elemen masyarakat Bandung menolak tegas.

Walikota Bandung, Dada Rosada, berkata bahwa rencana pendirian rumah makan dan pusat budaya Sunda di Babakan Siliwangi terkait dengan upaya mendorong iklim investasi dan bermanfaat sebagai salah satu obyek wisata di Kota Bandung. Kepala Dinas Tata Kota Bandung, Juniarso Ridwan juga mengatakan bahwa pembangunan di Kota Bandung tetap diprioritaskan, namun berwawasan lingkungan. Masih senada, Dinas Bangunan Kota Bandung, Ubad Bachtiar, menyatakan bahwa pembangunan di kawasan Babakan Siliwangi tidak akan mengganggu keberadaan Ruang Terbuka Hijau karena yang digunakan hanyalah sebagian kecil lahan.

Alasan yang melegakan? Tidak! Sejumlah aktivis lingkungan, mahasiswa, dan seniman pun beramai-ramai memprotes keputusan pemkot. Segala upaya dilakukan mulai dari pameran amal, demonstrasi, hingga protes di berbagai weblog dan pembuatan petisi online Babakan Siliwangi. Petisi ini sudah ditandatangani oleh lebih dari 4.650 orang (8/10/2008) sejak didirikan tanggal 10 September 2008. Petisi ini ditujukan pada Pemkot dan pihak pengembang. Poin yang disampaikan antara lain adalah tuntutan agar Pemkot memperhatikan target Ruang Terbuka Hijau sebesar 30% dari luas total kota, termasuk di dalamnya Babakan Siliwangi, serta menolak komersialisasi Babakan Siliwangi.

Ternyata protes ini tidak membuat pemerintah dan pengembang bergeming. Tahap penjajakan terus berlanjut dengan alasan proyek ini dilakukan dengan AMDAL, mampu melestarikan lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomis. Ternyata pola pikir pemkot Bandung tentang pembangunan ekonomi cenderung tidak tepat, meski tidak sepenuhnya keliru. Pembangunan ekonomi, tak dapat disangkal lagi memang penting untuk menggerakan sebuah kota atau desa.

Namun, tujuan utama dari pembangunan ekonomi pada hakikatnya harus ditujukan demi kebaikan warga Bandung dalam jangka panjang. Harga yang dikandung oleh Babakan Siliwangi dalam jangka panjang jauh melebihi perolehan pendapatan pemkot dari bisnis di Babakan Siliwangi. Perolehan pemkot dari bisnis di Babakan Siliwangi pun tidak lebih besar daripada harga yang harus dibayar kemudian untuk merehabilitasi kerusakan lingkungan.

Jika pemkot berbicara mengenai kalkulasi pendapatan, keuntungan yang diperoleh pihak pengembang dan pengelola bisa saja lebih besar daripada pendapatan yang masuk ke kantung pemkot untuk menggerakan nafas Bandung. Dengan kata lain, bisnis ini akan menguntungkan Bandung dalam jangka pendek sekaligus menguntungkan segelintir pengembang yang sering mengatasnamakan ‘arsitektur hijau’ untuk melegalkan pembangunan berbasis kalkulasi bisnis.

Siapa yang dapat memastikan bahwa pembangunan ini kelak tidak akan mencemari Babakan Siliwangi? Apakah pemkot dan pengembang berani membuat kontrak legal bahwa jika pembangunan ini ternyata merusak kelestarian Babakan Siliwangi, kompensasi akan diberikan pada seluruh warga Bandung (meskipun tentunya tidak menyelesaikan masalah)?

Jika alasan yang digunakan pemkot adalah untuk membangun perekonomian kota Bandung, alangkah lebih baik jika yang dilakukan adalah meningkatkan industri kreatif yang selama ini menjadi icon kota Bandung. Selain tidak membutuhkan ekstensifikasi lahan (apalagi hingga mengorbankan Ruang Terbuka Hijau), dukungan pemkot terhadap tumbuhnya industri kreatif juga akan meningkatkan kualitas ide para pelaku ekonomi. Produktivitas ekonomi Bandung secara menyeluruh pun akan terpacu.

Butik dan rumah makan sudah terlalu banyak didirkan dan terkesan eksklusif. Berbagai pusat seni pun sudah dimiliki. Sekali lagi, hakikat pertumbuhan ekonomi adalah kesejahteraan warga Bandung secara adil dan menyeluruh. Dengan jumlah sebanyak ini (belum termasuk lahan parkir), bagaimana mungkin pemkot dan pengembang dapat menjamin bahwa pembangunan tidak akan mengancam keberadaan Babakan Siliwangi? Dengan kata lain, fungsi ekonomi-lah yang harus mendukung fungsi lingkungan, bukan sebaliknya.

Sekalipun pembangunan ini juga diperuntukkan bagi kegiatan non-bisnis seperti pertunjukan dan gedung olahraga, namun patut dicermati bahwa hakikat Ruang Terbuka Hijau menjadi hilang, berganti dengan ‘Ruang Tertutup Hijau’ (yang penting masih ada kata ‘hijau’nya). Walikota memang sudah menolak rencana pembangunan apartemen di Babakan Siliwangi tetapi mengijinkan pembangunan lain, meski mengatasnamakan fungsi sosial, tidak akan memberikan dampak yang berbeda jauh: sama-sama mengancam fungsi Ruang Terbuka Hijau.

Ketika masa kampanye pemilihan walikota-wakil walokita Bandung berlangsung, Pak Dada juga telah berjanji untuk membangun Kota Bandung yang berwawasan lingkungan serta tidak akan mengalihfungsikan Babakan Siliwangi selain untuk Ruang Terbuka Hijau. Kita tentunya berharap walikota tidak mengingkari janjinya. Kita juga berharap pemkot tidak lagi memutuskan sebuah kebijakan tanpa melibatkan peran publik dan kemudian menutup telinga terhadap kritik warga.

Namun perlu diingat bahwa upaya menjaga eksistensi Ruang Terbuka Hijau saja tidak membuat lingkungan hidup serta merta lestari. Tidak lucu jika kita berkoar-koar marah pada pemkot terkait Babakan Siliwangi tetapi dalam keseharian, kita sering membuang sampah sembarangan.

Artinya, warga dan pemkot harus bahu-membahu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Pemkot harus memiliki political will untuk menjaga Ruang Terbuka Hijau. Pengembang dituntut untuk tidak terlalu tamak seperti yang ditunjukkan oleh para pelaku investor Wall Street yang kelak memicu bencana dahsyat. Selain mengkritisi perilaku pemkot dan pengembang, warga Bandung pun seharusnya memiliki gaya hidup berwawasan lingkungan dimulai dari hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya.

Sekali lagi, upaya menjaga eksistensi Ruang Terbuka Hijau adalah sebuah langkah awal yang penting bagi kelestarian lingkungan. Dampak positif yang dirasakan memang lebih banyak yang bersifat jangka panjang. Meski demikian, upaya ini mendesak untuk dilakukan sesegera mungkin. Negara-negara maju seperti AS dan Uni Eropa bahkan sudah menyadari arti penting Ruang Terbuka Hijau. Di tengah derasnya arus aktivitas ekonomi, mereka telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan dan bahkan menambah ruas Ruang Terbuka Hijau. Bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan Bandung, Parijs van Java ?

Advertisements

6 thoughts on “Eksistensi Ruang Terbuka Hijau, Awal Kelestarian Lingkungan Hidup

  1. ow!
    slamat kepada kota bandung dan walikota nya. kota anda sudah berantakan akan semakin berantakan…

    coba liat dari ketinggian tertentu, liat kota bandung. pemandangan yang terlihat adalah atap2 dan bangunan2 rumah yang saling tumpuk satu sama lain.

    dengan adanya proyek baru di babakan siliwangi ini, bisa2 klo diliat dr atas selain atap2 dan bagunan2 yang bertempuk, nambah juga papan2 billboard yg mempromosikan butik2 dan tmpat2 makan yang menjamur.

    taruhan, butik2 dan tmpt2 makan itu hanya akan menjadi investasi jangka pendek. bbrp tahun lagi juga orang2 pada bosen ke bandung klo apa2 semua nya menjamur.

    jadi inget kisah Route 66 nya amrik….

  2. Bener bgt Na, makanya kelemahan pemkot salah satunya kurang punya inovasi buat mendiversifikasi dunia usaha… Satu bidang udah sukses bukannya nyari yang lain tp justru bikin yang serupa… Ya mudah2an aja next generation pemerintahan kita punya ide2 yang nggak monoton dan nggak makin ngerusak lingkungan yang udah rusak ini. Amin.

  3. Bener bgt Na, makanya kelemahan pemkot salah satunya kurang punya inovasi buat mendiversifikasi dunia usaha… Satu bidang udah sukses bukannya nyari yang lain tp justru bikin yang serupa… Ya mudah2an aja next generation pemerintahan kita punya ide2 yang nggak monoton dan nggak makin ngerusak lingkungan yang udah rusak ini. Amin.

  4. Sedih bgt sih Bandung, sedih bgt Indonesia alias menyedihkan. Knp pemerintah kota begitu bodoh dan tidak memikirkan dampak jangka panjang yg akan kita (dan mrk juga) akan dirasakan?!?! Mereka bilangnya sih mau ambil SEDIKIT lahan utk kepentingan yg ga jelas itu, tp gw yakin dr yg awalnya sedikit itu lama2 banyak sampe ruang terbuka hijuanya abis. Mending uang yg akan digunain utk habisin Baksil itu untuk memperbaiki sistem pembuangan sampah pemkot Bandung yg menurut gw udah keterlaluan bgt. Apakah pemkot ga liat ya bahwa masalah sampah masih merupakan isu yg blm tuntas???? Gw sampe skarang masih sering liat sampah2 yg menumpuk dan tentunya mengeluarkan bau yg ga enak bgt dan mengganggu pemadangan pula. Bagaimana wisatawan (khususnya wisatawan asing) mau tertarik dgn Bandung kalo apa yg mrk liat Bandung yg ga BERMARTABAT lg tp malah menjadi BANDUNG KOTOR!!!
    Kalo pemkot ga mau tau ttg dampak jangka panjang coba mrk liat deh dampak yg kita rasakan skarang? PANAS LUAR BIASA! gw yakin slain bandung dan borneo hampir smua wilayah di indonesia ini, pemkot/pemdanya kurang aware dgn yg namanya lingkungan… Gausa jauh2, gw orang Jakarta dan gw hampir ga melihat adanya ruang terbuka hijau sperti taman2, yg gw liat cm MALL aja. gila ya kasian bgt anak zaman skarang, maenan cm mall aja ga pernah maen di taman. kalo ada anak maen di taman dianggap orang freak. Pola pemikiran sperti itu tumbuh krn itu td, kurangnya ruang terbuka hijau di jakarta (sperti halnya di bandung)!
    Pantes anak2 zaman skarang kurang cerdas, orang maennya di mall trus. untung masa kecil gw ga sperti itu!!! hahahaha… Mungkin menurut para pembaca comment gw jauh bgt hubungan awareness thdp lingkungan sm pola pikir anak2 tp menurut gw itu merupakan 2 hal yg sgt berkaitan krn menurut mrk maen di mall lbh keren pdhl sebenarnya scara psikologis engga.
    maap kalo panjang sil, abisnya kalo ngomongin masalah lingkungan ga ada habisnya deh, rasanya gw pengen bgt ketok kepala orang2 bodoh yg ga pernah aware pentingnya menjaga lingkungan!!!

  5. Ya betul. Mungkin saat ini yang perlu dilakukan adalah mengkaji ulang rencana pembangunan di Baksil dengan melibatkan publik. Protes-protes yang dilontarkan seperti ini harus didengar oleh pemkot dan walikota serta pihak pengembang. Dalam jangka panjang, pandangan mengenai pertumbuhan ekonomi perlu dibenahi (karena pasti membutuhkan proses). Setidaknya jangan sampai lingkungan hidup dikorbankan atas nama pertumbuhan ekonomi. Toh, diversifikasi bidang yang tidak memerlukan ekstensifikasi lahan sebenernya banyak banget.

    Menurut saya pribadi, memang ada kaitan yang sangat erat antara pola pikir dan lingkungan sekitar. Pasalnya, anak-anak sangat mempelajari pola hidup dari lingkungan dan kelak mereka akan melakukan kebiasaan demi kebiasaan dari pola hidup yang mereka pelajari ketika kecil. Artinya, kelak mall ataupun bisnis atas nama alam akan menjadi pilihan utama. Dari sini anak2 mereka kelak akan melakukan hal serupa dan seterusnya (membentuk siklus)…

    Nah, maka dari itu pemkot harus memberi contoh yang baik pada masyarakat Bandung tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup di atas kepentingan bisnis. Kalo pemkot tidak melakukan itu, ya para pebisnis akan selalu mencari celah untuk membujuk pemkot dengan mengabaikan kata hati publik seperti yang elu lakukan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s