Uniknya Diplomasi Kuliner

The culinary art follows diplomacy and every prime minister is its tributary
Antonin Carême (Marie-Antoine Carême) [1783-1833]

Ketika mendengar kata Tom Yam, apa gambaran pertama yang terlintas di benak anda? Yang pertama terlintas di benak saya ketika mendengarnya adalah kuah yang rasanya pedas-pedas asam dan sebuah negara nun jauh di sana yang terkenal dengan pagoda dan gajah-gajah. Ya, Thailand. Demikian juga ketika kita mendengar kata capcai, sukiyaki, tortilla maupun gado-gado. Dari kuliner jugalah kita mengetahui kebiasaan orang China atau Jepang makan dengan sumpit. Masakan adalah ‘duta besar’ negara dalam wujudnya yang sangat khas. Jika pada tulisan sebelumnya saya pernah berbicara tentang diplomasi meja makan, maka diplomasi kuliner adalah bagian yang tidak terpisahkan darinya.

Diplomasi kuliner tentu saja merupakan sebuah aktivitas diplomasi meja makan dengan menyajikan makanan khas suatu negara. Tujuan dasarnya sangat sangat sederhana yakni memperkenalkan budaya khas negara. Di balik kesederhanaannya inilah masakan-masakan kuliner ternyata sangat melekat erat dalam benak masyarakat sehingga kita langsung teringat Thailand tatkala mencicipi Tom Yam atau China tatkala mencicipi capcai. Itu sebabnya, kuliner mulai akrab digunakan sebagai salah satu sarana diplomasi budaya seperti halnya diplomasi musik, diplomasi film, dan diplomasi olahraga.

Diplomasi kuliner dalam tataran hubungan antar negara, sudah tentu saja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jamuan makan resmi maupun tidak resmi. Dalam jamuan makan, ada yang menyajikan menu masakan konvensional yang identik dengan olahan masakan ala Barat seperti daging ayam, steak, roti dan buah-buahan. Banyak pula yang menyajikan panganan khas negara dalam mendukung kesuksesan misi diplomasi meja makan pada khususnya, serta diplomasi budaya dan politik pada umumnya.

Diplomasi kuliner tak jarang menimbulkan pengalaman unik. Salah satu contoh diplomasi kuliner antar negara diperlihatkan Bush saat menjamu mantan PM Jepang, Shinzo Abe yang saat itu melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS. Menu makan siang yang disajikan untuk Abe adalah cheeseburger, onion rings dan kue apel dengan es krim untuk penutup. Menu makan malam yang disajikan antara lain adalah udang chesapeake dan bebek panggang selain makanan Jepang seperti jamur shiitake yang dimasak di panci dan selada mizuna yang dimasak dengan daging.

Hal menarik terjadi ketika dua senator AS dari wilayah penghasil lembu, menyurati koki kepala di Gedung Putih, Cristeta Comerford agar menyajikan sapi AS selama kunjungan Abe. Mengapa demikian? Ternyata Jepang tercatat sebagai negara yang sangat ketat dalam menjalankan kebijakan impor daging sapi. Industri sapi dan sebagian anggota kongres AS sangat berharap Jepang dapat mengendurkan peraturan impornya untuk memungkinkan pengiriman lebih banyak sapi AS. Kedua senator ini rupanya percaya bahwa penyajian daging sapi dapat mendorong Abe melonggarkan impor sapinya.

Hal menarik juga terjadi ketika mantan PM Thailand yang terkenal sangat pandai memasak, Samak Sundaravej, mengundang petinggi Myanmar, Jenderal Thein Sein berkunjung ke Thailand. Samak memutuskan untuk membeli bahan dan memasak sendiri jamuan makan bagi Thein Sein. Menu yang disajikan oleh Samak adalah menu-menu khas Thailand. Dalam jamuan makan ini, keduanya sempat berbincang mengenai upaya penguatan hubungan yang lebih erat antara kedua negara.

Masih terkait dengan diplomasi kuliner antar negara, masih ingat dengan acara buka puasa bersama antara Condoleeza Rice dengan Moammar Khadafi yang fenomenal? Acara santap malam bersama yang penuh kehangatan di tenda Khadafi ini disajikan dengan berbagai menu makanan tradisional Libya seperti iftar dan sup pedas. Malaysia, pun mempromosikan diplomasi kulinernya pada dunia internasional. Makanan yang disajikan dalam perayaan festival makanan Malaysia-Melaka yang diselenggarakan pada tanggal 12-23 Mei 2008, misalnya, turut dihadirkan dalam meja makan malam para delegasi PBB (United Nations Delegates Dining Room).

Masakan Malaysia ini disponsori oleh badan turisme Malaysia dan diolah oleh lima orang koki, termasuk koki dari Malaysian Airlines. Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa sajian ini tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan masakan Malaysia dan Melaka pada dunia, tetapi juga untuk memberi gambaran sejarah dan evolusi masakan tradisional Malaysia. Menu-menu yang disajikan pada para delegasi PBB ini sebenarnya sangat mirip dengan nama-nama menu Indonesia. Ada Nasi Goreng Cincalok, Roti Canai, Kari Ayam, Cucur Udang, Acar Awak (sayuran kacang), Bingka Ubi (kue ubi), dan Bubur Pulut Hitam sebagai hidangan penutup.

Tak mau tertinggal, Dubes RI untuk Ceko, Salim Said pun pernah menjamu para dubes asing dan pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Ceko dengan menu nasi uduk pada tradisi perayaan Idul Fitri tanggal 6 Oktober 2008. Selain nasi uduk, Dubes Salim Said juga menghidangkan aneka makanan khas Indonesia lainnya seperti Soto Betawi, Sate, Mi Goreng dan Es Doger. Said berharap kegiatan ini dapat mempererat persahabatan antar negara dan antar anggota korps diplomatik di Praha, ibukota Ceko.

Diplomasi kuliner jelas bukan menjadi hak eksklusif para pejabat tinggi. Tujuan dasar diplomasi kuliner adalah memperkenalkan budaya negara pada masyarakat luas. Oleh karena itu, aktivitas diplomasi kuliner juga digalakkan dalam acara-acara yang dihadiri masyarakat dari negara lain.

Negara yang tercatat menjalankan diplomasi kuliner paling aktif di dunia adalah Thailand. Pada tahun 2003, pemerintah Thailand mencanangkan diplomasi kuliner dengan nama Global Thai Food. Agendanya adalah meningkatkan jumlah restoran di Thailand di seluruh dunia hingga mencapai 8.000 restoran. Tujuannya bukan hanya memperkenalkan makanan lezat ala Thailand namun juga mendorong minat turis asing untuk berkunjung ke Thailand serta mempererat hubungan antar negara.

Diplomasi kuliner Thailand bukan hanya wacana. Saat memperingati festival Songkran (perayaan Tahun Baru di Thailand) tanggal 28 Maret 2008 lalu, Kedutaan Besar Thailand di Indonesia mengadakan acara “Taste of Thai” yang bekerja sama dengan berbagai hotel dan restoran di Indonesia. Tidak sebatas memperkenalkan budaya Thailand, acara ini juga membagi-bagikan hadiah berupa paket wisata ke Bangkok tiga hari dua malam, dan berbagai voucher yang diberikan melalui mitra restoran dan hotel.

Korea Utara yang dicitrakan AS sebagai ‘negara teroris’ juga membuka restorannya di luar negeri. Sebuah restoran di Baltimore, AS bahkan dioperasikan oleh saudara dari Hamid Karzai. Melalui India Tourism Development Corporation-nya, India juga sukses menyelenggarakan diplomasi kuliner dengan menu tradisional seperti shammi kabab, mutton roganjosh, kashmiri pulao, kachumber salad, dan shahi halwa. Diplomasi yang awalnya ditujukan sebagai festival makanan India ini ternyata turut dihadiri oleh masyarakat AS dan Inggris berkat promosi ke wilayah-wilayah tujuan wisata turis asing.

Indonesia yang sangat kaya akan budaya kuliner juga telah melakukan berbagai upaya diplomasi pada komunitas internasional. Contoh unik diplomasi kuliner Indonesia dilakukan oleh prajurit Kontingen Garuda (Konga) XXIII B di Lebanon Selatan yang tergabung dalam pasukan UNIFIL. Bertempat di halaman depan Elementary School Bani Hayyan, Lebanon Selatan, para prajurit Garuda beraksi seperti seorang koki profesional yang mendemontrasikan cara memasak masakan dan minuman khas Indonesia.

Demonstrasi ini dilakukan di hadapan sekitar puluhan warga lokal yang terdiri dari ibu-ibu, remaja putri, bapak-bapak, dan anak-anak yang tengah mengisi waktu liburan musim semi bagi masyarakat setempat. Di bawah komando langsung dari Komandan Kompi Mekanis-B, Ajax Kapten Inf Mahbub Junaidi, aneka masakan seperti bakso, sup ayam, perkedel kentang, nasi putih, dadar gulung dan es buah kopyor pun didemokan. Demo masakan dan minuman khas Indonesia ini berlangsung meriah karena warga sangat antusias mengikuti tahap demi tahap pengolahan masakan tersebut. Kata-kata ‘Mak Nyuuuss’ yang diajari Kapten Mahbub pun terlontar dari mulut warga Lebanon.

Tokoh masyarakat Bani Hayyan yang hadir saat itu, Mochtar Salah Jabbar (tokoh agama) dan Mayor Mohammad Shihab (kepala wilayah) memuji kreativitas yang dilakukan oleh pasukan Indonesia. Menurutnya selama UNIFIL berdiri sejak tahun 1978, baru kali ini ada tentara dari negara lain yang mengenalkan dan mengajarkan cara memasak masakan khas dari negara asal tentara itu, namun dengan bahan-bahan yang mudah dijumpai Lebanon. Pendekatan unik dari pasukan Indonesia pun banyak dipuji. Inovasi ini dinilai sangat penting dalam mewujudkan perdamaian permanen di wilayah Lebanon Selatan.

Meski demikian, diplomasi kuliner Indonesia masih kurang terstruktur dengan baik dan cenderung bersifat temporer. Artinya, diplomasi kuliner belum diagendakan secara lebih terencana seperti yang dilakukan Thailand. Secara umum, kegiatan kuliner Indonesia memang meningkat, namun lebih banyak berkembang di dalam negeri.

Ada baiknya pemerintah mengagendakan festival makanan tradisional Indonesia dalam skala internasional secara konsisten di mancanegara. Acara-acara ini semacam dapat dilakukan melalui kerjasama dari berbagai pihak mulai dari penduduk lokal, maskapai penerbangan, himpunan mahasiswa di luar negeri, hingga restoran dan hotel asing. Penyajian menu tradisional juga perlu disajikan pada forum-forum internasional yang diselenggarakan di Indonesia termasuk dalam pertemuan dengan korps diplomatik.

Kreativitas pun menjadi salah satu kunci penting yang sering terlupakan. Selain meningkatkan mutu koki masakan kuliner khas Indonesia, pengemasan, iklan, dan promosi pun penting untuk dilakukan. Lihat saja bagaimana restoran Korea, Thailand, China, Jepang, dan AS banyak ‘bertebaran’ di penjuru tanah air dengan iklan yang terus-menerus didengungkan. Restoran-restoran yang menyajikan makanan asing ini bersaing ketat dengan restoran tradisional yang menyajikan panganan kuliner khas Indonesia.

Diplomasi kuliner sesungguhnya merupakan potensi besar bagi diplomasi Indonesia yang perlu digali secara lebih maksimal. Indonesia sudah dikenal dunia sebagai negara yang sangat kaya akan budaya, termasuk masakan khasnya. Meskipun kuliner hanya menjadi bagian kecil dalam aktivitas diplomasi, keberadaannya melekat dalam benak masyarakat. Saya bermimpi suatu saat nanti diplomat dan masyarakat internasional tidak hanya berkata “I love McDonald” namun juga dapat berkata “I love gado-gado” seperti yang diserukan oleh seorang bule pada acara tahunan Enchanting Indonesia di Singapura.

Advertisements

7 thoughts on “Uniknya Diplomasi Kuliner

  1. Terima kasih…

    Rasanya belum ada buku tentang diplomasi kuliner karena istilah ini saya ciptakan sendiri… Diplomasi kuliner intinya adalah diplomasi dengan menggunakan media panganan. Nah, diplomasi ini bisa berlangsung dalam konteks negara (di atas meja makan pejabat tinggi negara) ataupun dalam hidup sehari-hari (diplomasi publik. Obama doyan makan nasi goreng Indonesia adalah salah satu contoh diplomasi kuliner yang bisa mengangkat nama Indonesia, paling tidak budayanya. Di luar itu, diplomasi kuliner sifatnya sangat luas…

  2. ya benar… ini jenis diplomasi yang sangat menarik…
    Itu dia, saya sudah lupa sumbernya darimana saja… Ini tulisan opini saya seteleah membaca berita-berita di berbagai media terutama Economist dan New York Times… Terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s