Pentingnya Gaya Hidup Menghargai Uang

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
(Lukas 16:10)

Mungkin telinga kita sudah sangat bosan mendengar nasihat pentingnya menabung. Nasihat ini sangat klasik (sudah digaungkan sejak jaman nenek moyang) dan mungkin terkesan sangat sepele. “Boro-boro buat nabung, buat makan aja susah!” demikian celetukan yang sering kita dengar. Bagi mereka yang belum berpenghasilan atau berpenghasilan sangat minimum, celetukan ini dapat ditolerir meski tidak sepenuhnya tepat. Namun bagi mereka yang berpenghasilan ‘normal’, urusan mencatat keuangan dan menabung sudah semestinya dilakukan dengan rutin dengan kalkulasi yang baik.

Belajar untuk mencatat pengeluaran dan pemasukkan serta menabung, adalah bagian dari gaya hidup menghargai uang. Nah, perlu ditekankan bahwa menghargai uang tidak sama dengan terlalu berhemat hingga cenderung kikir dan akhirnya tidak menikmati hidup. Belajar menghargai uang serupa dengan belajar menghargai kesehatan. Keduanya sama-sama dilakukan demi masa depan kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Sebelumnya, saya termasuk orang yang berpendapat bahwa gaya hidup menghargai uang adalah perilaku yang sangat idealis dan tidak memiliki dampak yang terlalu signifikan.

Ternyata saya salah besar. Meskipun sepele, gaya hidup menghargai uang ternyata memiliki dampak yang sangat besar, tidak hanya bagi masa depan namun juga bagi pembangunan ekonomi negara. Lho kok bisa? Saya baru menyadarinya tatkala membaca forward sebuah e-mail dari seorang rekan yang isinya sangat membuka mata saya.

E-mail ini pada intinya bercerita mengenai perbedaan gaya hidup antara orang Barat, orang China (Shanghai), dan orang Indonesia (yaitu sang penulis e-mail sendiri). Orang Barat dan orang China ini tak lain adalah rekan sekantor sang penulis. Selama bekerja selama tiga tahun bersama kedua rekannya, penulis menemukan adanya perbedaan gaya hidup yang sangat berbeda antara dirinya dan teman-teman sekantornya. Perbedaan tersebut terkait dengan masalah pengaturan uang, pekerjaan dan keadaan rumah.

Pertama adalah masalah uang. Usai menerima gaji, orang Barat langsung mengunjungi bar, minum-minum hingga mabuk, makan-makan di restoran mahal dan membeli berbagai macam hadiah untuk istri. Bagian yang ditabung adalah 10%. Orang China, langsung menyimpan 75-80% penghasilannya di bank, terkadang diinvestasikan lagi di bank atau dibelikan saham. Baju yang dikenakannya itu-itu saja. Sang penulis yang orang Indonesia, menabung sekitar 15-20% dari penghasilannya. Selebihnya dipergunakan untuk sedikit makan-makan, membeli baju discount, dan barang-barang kebutuhan istri.

Kedua adalah masalah pekerjaan (produktivitas). Orang Barat bekerja dari hari Senin hingga Sabtu mulai dari jam delapan pagi hingga jam enam sore. Sabtu dan Minggu dipergunakan untuk ke bar atau makan-makan menghabiskan gaji. Jika diperintahkan untuk lembur, orang Barat merasa kesal. Hari Senin, wajahnya murung karena sudah memikirkan weekend sementara hari Kamis malas bekerja karena hanya berpikir untuk hari Jumat. Jalan-jalan dan bergosip pun sering dilakukan. Usai bekerja, orang China langsung pulang dan memasak di rumah. Tawaran makan di luar selalu ditolak. Perintah lembur tidak pernah ditolak bahkan justru menawarkan diri untuk lembur. Tidak hanya itu, kerja part-time di perusahaan lain pun dilakukan.

Sang penulis sendiri cukup malas jika diperintahkan untuk lembur karena terkadang telah memiliki rencana makan di luar bersama teman-teman kantor. Meski demikian perintah tersebut mau tidak mau dilakukan meski terkesan sangat terpaksa, tidak seperti orang China yang sangat rela. Penulis mengatakan malasnya lembur pada saat weekend.

Masalah ketiga adalah mengenai rumah. Apartemen orang Barat bergaya kontemporer yang sangat mewah dengan perabotan dan furniture mahal. Gajinya dipastikan habis untuk mengurus apartemen semewah itu.

Apartemen orang China sangat buruk. Selain berada di daerah kumuh, hanya ada satu ranjang di lantai, dua kursi jelek dan sebuah TV kecil. Mottonya adalah “’bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian“. Apartemen sang penulis sendiri dapat dikatakan lumayan, tidak separah apartemen orang China meski gajinya lebih kecil daripada gaji orang China. Sepuluh tahun kemudian, orang Barat masih tinggal dalam apartemennya dan baru mulai berhutang untuk membeli rumah. Orang China sudah dapat membeli rumah sendiri karena sangat giat menabung.

Di akhir tulisannya, sang penulis membuat sebuah kesimpulan yang luar biasa. Menurutnya, orang yang tidak membuat keputusan berdasarkan gengsi umumnya negara asalnya akan maju. Orang China tidak menyerah pada nasib dan selalu ingin meningkatkan taraf hidupnya sementara orang Indonesia umumnya cepat puas dengan keberhasilan dan kemudian bermalas-malasan karena merasa sudah diatas angin.

Pada dasarnya e-mail ini tidak berbicara mengenai masalah etnis tetapi masalah kecenderungan gaya hidup menghargai uang yang berbeda pribadi lepas pribadi. Hanya saja kecenderungan gaya hidup ini memiliki kemiripan dalam satu komunitas yang bila dikalkulasikan akan sangat terlihat dari performa negara yang bersangkutan.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu sebelum kasus kredit perumahan AS terjadi, Oprah Winfrey Show pernah menayangkan fakta penting mengenai banyaknya orang AS yang mengandalkan konsumsinya dengan kartu kredit tanpa mempertimbangkan kemampuan untuk mengembalikan. Minggu lalu dalam acara yang sama bercerita mengenai kisah seorang wanita AS yang terbelit hutang kartu kredit dari suaminya yang bunuh diri. Jumlahnya mencapai puluhan ribu dollar sementara sisa tabungan di bank hanya mencapai 72 dollar. Ironisnya, rumah yang ditinggalinya sangat mewah dengan dekorasi mahal di setiap sudutnya. Biaya rumah mewahnya ditutupi dengan kartu kredit.

Krisis perumahan di AS juga ditenggarai bermula dari gaya hidup serba kredit dan serba boros di samping regulasi yang buruk, tentunya. Dari data CIA World Fact Book, tercatat bahwa jumlah hutang masyarakat AS mencapai 60,8% total GDP (2007) dengan pertumbuhan ekonomi yang terus menurun. Bandingkan dengan jumlah hutang masyarakat China yang hanya mencapai 18,4% total GDP (2007), menurun dari tahun sebelumnya sebesar 22,4% dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat (kecuali untuk tahun 2008). Tidak heran bila cadangan devisa China yang hingga akhir Maret 2008 mencapai 1,628 triliun dollar AS, meningkat 39,9% dari tahun sebelumnya. Jumlah ini merupakan jumlah cadangan devisa terbesar di dunia.

Meski demikian, bukan berarti saya melakukan generalisasi bahwa seluruh orang AS konsumtif dan mengandalkan kartu kredit. Orang kedua terkaya di dunia asal AS, Warren Buffet, tetap menjalankan gaya hidup ekonomis dengan menabung uang kecil dan hanya mengkonsumsi apa yang dibutuhkan. Apa yang diraih Buffet jelas bukan merupakan proses sekejap mata. Gaya hidup menghargai uanglah yang membuatnya sukses.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah bahwa gaya hidup menghargai uang bergantung pada masing-masing pribadi. Setidaknya, mulailah dari hal yang paling sederhana yaitu mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari. Hal lain yang perlu diperhatikan dan sebenarnya sering diulang adalah berhati-hati dalam pengeluaran. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Selain itu, sedapat mungkin hindari konsumsi yang bersifat no-return (tidak produktif) dengan berkredit. Jika terpaksa, gunakan kartu kredit secara selektif dengan kalkulasi pengembalian yang matang sesuai dengan kemampuan kita.

Lho, bukankah pertumbuhan ekonomi justru bertahan dengan adanya peningkatan daya beli masyarakat? Itu benar. Namun daya beli masyarakat tidak sama dengan perilaku konsumtif yang berlebihan apalagi yang dikonsumsi adalah barang-barang impor untuk gengsi. Dalam hukum psikologi konsumsi, Keynes mengemukakan bahwa setiap pertambahan pendapatan akan menyebabkan pertambahan konsumsi dan pertambahan tabungan. Nyatanya, peningkatan konsumsi yang disengaja (bukan karena inflasi), sering terjadi meski pendapatan tidak bertumbuh.

Perlu dicatat pula bahwa gaya hidup menghargai uang ini perlu didukung oleh gaya hidup yang produktif. Bukan berarti saya menyuruh anda untuk menjadi gila kerja. Produktif artinya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menghasilkan sesuatu. Banyak sekali orang yang rajin menabung namun taraf hidupnya masih begitu-begitu saja karena hidupnya tidak terlalu produktif.

Salah satu alasan mengapa China menjadi tujuan investasi asing bukan semata-mata karena upahnya yang rendah tetapi produktivitasnya yang luar biasa seperti yang sudah diceritakan pada bagian awal. Dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Bisnis Orang China”, Ann Wan Seng menulis bahwa orang China berhasil karena kebiasaan bekerja keras. Seluruh usaha, tenaga, dan pikiran dicurahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mereka juga tidak berhenti ketika telah berhasil mencapai tujuan. Inilah yang nampaknya perlu dicontoh oleh masyarakat kita.

Meski demikian, bukan pula berarti saya mendorong anda untuk terlalu berhemat sampai cenderung kikir. Bagaimanapun hasil pekerjaan harus kita nikmati. Hanya saja lakukan dengan cara yang wajar. Kesuksesan ekonomi suatu negara bukan hanya ditentukan kebijakan negara namun juga bergantung pada gaya hidup warganya.

Dengan kata lain, segala sesuatunya bermula dari diri kita sendiri, dari gaya hidup yang menghargai uang. Perkara gaya hidup ini mungkin terasa sangat klasik dan sepele, namun dampaknya luar biasa besar. Yang bener aja, masa iya gaya hidup saya bisa merubah Indonesia? Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Oleh karena itu, mulai saat ini mari kita bersama-sama belajar untuk menghargai uang. Sulit? Setidaknya mari kita coba terlebih dahulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s