Perjuangan Para Badut

Anyone who can make people laugh has the greatest gift God can give a man
Al Ross (1907-1981)

Selama ini, saya selalu mengabaikan kehadiran para badut. Di mata saya, para badut tidak lebih dari seorang pekerja di dunia hiburan yang identik dengan kekonyolan. Sebuah hiburan masa kanak-kanak. Lebih dari itu, istilah ‘badut’ pun sering saya pinjam untuk mengolok mereka yang bermuka dua alias gemar berbohong. Itu sebabnya saya merasa sangat heran ketika mendengar bahwa para badut berkumpul dalam ajang Konferensi Badut Internasional. Usai berselancar di dunia maya untuk mencari tahu lebih detail mengenai seluk beluk dunia badut, serta merta saya merasa amat bersalah.

Perasaan bersalah saya muncul ketika mengetahui bahwa dunia badut bukanlah dunia hiburan kelas dua. Mereka adalah pekerja seni profesional, sarat dengan kemampuan yang tidak dapat dikatakan mudah. Dengan berbalut riasan wajah dan busana tebal, mereka harus mampu mengundang tawa para penontonnya. Mereka harus bersusah payah melakukan hal-hal konyol mulai dari permainan bahasa tubuh, mimik muka, hingga kemampuan beratraksi dengan benda-benda. Jelas bukan pekerjaan mudah. Kegagalan terbesar para badut adalah ketika atraksi mereka tidak mengundang tawa.

Perasaan bersalah kedua saya muncul ketika mengetahui bahwa para badut melakukan pekerjaan ini dengan serius sebagai sebuah pilihan profesi. Berapa banyak orang yang rela dirinya menjadi bahan tawaan atau bahkan olokan orang lain? Tentu lebih banyak orang yang lebih memilih menghibur dengan ‘bantuan materi’ ketimbang menjadikan dirinya bahan tawaan, apalagi harus membubuhi bedak amat tebal pada wajahnya. Apalagi konon gaya bedak dan kostum pun harus diperhatikan teliti para badut.

Hal yang paling mengagumkan adalah keseriusan para badut untuk menampilkan yang terbaik pada penonton. Di beberapa negara, para calon badut bersekolah di sekolah atau akademi khusus badut. Mereka harus mempelajari beragam hal mulai dari cara bermake-up, mengenakan kostum, hingga melakukan berbagai atraksi. Atraksi yang dipelajari pun sangat beragam dari yang paling sederhana hingga rumit. Perjuangan ini dilakukan demi membuat orang tertawa, lepas dari rasa stress.

Atraksi badut di sejumlah negara di Eropa dan Amerika Latin (yang kaya akan parade jalanan), telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warganya. Yang lebih mengharukan, para badut ini tidak hanya beraksi untuk mengundang tawa penonton. Mereka pun sering berkeliling untuk menghibur anak-anak dan orang-orang cacat. Lihat saja atraksi dari badut bernama Dan Roberts di Indonesia.

Dan Roberts adalah perwakilan badut dari Clowns Without Borders, sebuah organisasi non-profit yang berkeliling dunia dengan atraksi badut. Visinya ‘tak ada anak tanpa senyuman’. Roberts berkeliling di Indonesia pada Februari hingga April 2008 untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri anak-anak kurang mampu. Roberts yakin bahwa rasa percaya diri tumbuh seiring hadirnya senyum. Dalam aksinya, Roberts membawa kotak besar berisi sepatu badut, hidung badut, alat-alat atraksi ‘juggling’, kotak cerutu, yo-yo, piring-piring plastik untuk diputar-putar, dan stick flowers.

“Saya bukan seorang dokter, atau ahli matematika. Saya tidak punya uang yang banyak. Saya tidak bisa memberikan obat atau menyembuhkan penyakit di sini. Tapi saya seorang badut. Jadi saya datang ke sini, membantu anak-anak supaya bisa tertawa dan mereka akan membiarkan pengalaman mereka beberapa bulan setelah saya pergi dari sini. Jadi kalau mereka sedih, mereka bisa bercanda dengan teman-teman mereka ketika mereka ingat pengalaman mereka,“ ujar Dan Roberts. Alhasil, anak-anak Indonesia pun amat terhibur dengan kehadiran Dan Roberts.

Dengan jasa yang sedemikian besar, tak heran jika presiden AS Richard Nixon, mengumumkan proklamasi Minggu Badut Nasional (National Clown Week) pada tahun 1971. Nixon juga mengundang para gubernur negara bagian di seluruh AS untuk mengumumkan proklamasi serupa. Nixon mendorong warga AS agar mengakui kontribusi para badut dalam menghibur anak-anak di rumah sakit, lembaga amal, lembaga penyandang cacat serta jasa badut dalam membantu meningkatkan semangat.

Guna mewadahi aktivitas para badut, Asosiasi Badut Internasional dengan nama Clowns International didirikan enam puluh satu tahun silam. Sejak itu, berbagai organisasi badut pun bermunculan. Salah satu organisasi yang menonjol adalah The International Clown Hall of Fame Museum and Research Centre (ICHOF) yang digagas tahun 1987 di Delavan, AS. ICHOF antara lain memperagakan dan mengajar ‘Seni Membadut’ (Art of Clowning) serta menekankan pentingnya ‘membadut dengan hati’ (clowning from the heart).

Tak hanya itu, ICHOF juga memberi penghargaan ‘The Lifetime of Laughter’ pada mereka yang berkontribusi besar dalam memancing tawa anak-anak. Yang berhak menerima pengharhaan ini adalah mereka yang telah berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan tempat yang lebih membahagiakan di dunia ini. Ketika membaca sekilas latar belakang dan sejarah kehidupan para pemenang penghargaan ini, kembali saya merasa kagum. Mereka benar-benar para badut ‘membadut dengan hati’, yang mendedikasikan hidupnya demi kebahagiaan banyak orang.

Bagaimana dengan para badut di Indonesia? Badut di Indonesia, sayangnya, lebih banyak dimanfaatkan sebagai instrumen bisnis daripada berfungsi sosial. Siapapun dapat ‘tiba-tiba’ menjelma menjadi badut untuk acara ulang tahun, icon penyambut di pintu masuk mall, hingga meramaikan acara peluncuran produk. Para badut Indonesia cenderung kehilangan makna hakiki badut untuk ‘mengundang tawa’.

Jarang sekali saya melihat seorang anak tertawa dihibur badut Indonesia yang memang terlihat sangat pasif dan tidak menunjukkan upaya maksimal mengundang tawa. Alhasil, kehadiran badut di Indonesia sering diabaikan atau setidaknya hanya menjadi ‘teman berfoto’. Mengapa demikian? Penilaian sementara saya adalah karena para badut Indonesia cenderung tidak ‘membadut dengan hati’. Pekerjaan sebagai badut masih dipandang sebagai pekerjaan nomor dua yang sedapat mungkin dihindari.

Sejauh ini, saya juga belum menemukan informasi mengenai organisasi badut di Indonesia. Salah satu kuncinya mungkin terletak pada kesejahteraan para badut itu sendiri. Kunci lain adalah minimnya apresiasi warga Indonesia terhadap para badut seperti yang telah saya lakukan. Meski demikian, nampaknya kita wajib memberikan apresiasi yang sangat mendalam terhadap perjuangan para badut. Tidak banyak orang yang bersedia berprofesi sebagai badut. Bagaimana dengan mereka yang takut badut? Phobia terhadap badut lazim dikenal dengan nama Coulrophobia. Untuk mereka yang mengidapnya, saya hanya bisa berdoa: semoga lekas sembuh! ^_^

Advertisements

12 thoughts on “Perjuangan Para Badut

  1. iya neh sil, gw termasuk salah satu orang yg agak takut badut gara2 film horor gitu, tp ga parah2 amat sih. interesting info by the way, i didnt know that there is ICHOF. di Indonesia, pekerjaan sperti itu emank kurang dianggap, yah paling cm hiburan sperti di mall2 aja sperti lu bilang. kita blum mempunyai pola pikir sjauh Nixon, dan gw termasuk salah satu orang yg menganggap badut bukanlah sebuah profesi (mungkin ada pengaruh krn nonton film srem itu kali ya?)
    tp menurut gw badut di Indonesia pun tidak brusaha utk menunjukkan “bakat” sebenarnya (secara profesional) atopun yg bisa membantu orang lain sperti yg dilakukan Roberts. yah pola pikir mereka kira2 sperti ini: “gw badut utk menghibur aja” TITIK. dan akirnya emank ga berkembang sperti di negara2 lainnya. Di negara2 barat, khususnya Amerika dan Eropa, profesi badut, sulap dll emank dihargain bgt dan lu bisa liat itu dari acara2 sperti Just for Laughs.

  2. Oh, gw malah blon pernah nonton acara Just for Laughs…
    Iya sih, masalahnya gaji badut Indonesia tuh ga gede… Kadang ada joke bahwa buat nolong orang pun butuh biaya. hahaha. ^_^ Rata2 orang Indonesia jadi badut karena terpaksa (meski ga semua kaya gitu). Sip!!!

  3. aduh silvi…
    gw adalah salah satu orang yg takut ama badut, dan segala macem boneka yg dalemnya orang; yg suka dibuat promosi di dalem mal2 tuh…
    klo ada itu gw memilih lewat jalan lain, klo ga ada jalan lain, gw mengambil jarak sejauh mungkin…..
    gw ga tau knp gw takut ama “mahluk” seperti itu, padahal klo dipikir2 pas kecil gw ga pernah ada trauma dg badut atau dijahatin ama badut sih…
    dan satu hal, menurut gw badut (indonesia) itu ga lucu sama sekali,
    gw ga ngerti kenapa org2 ketawa liat badut disini….

    bener kata lo sil, klo badut di indoneia itu cuma asal ngebadut doang….
    dan beberapa dr mereka memakai kostum yg sangat tidak higienis, kotor, klo ada bulu2nya, bulunya udah agak gimbal2 gt, berwarna agak kecoklatan….
    trus kebanyakan dr mereka cm dipake buat promosi…
    mereka cm goyang2 n ngasih brosur, salaman ama anak2
    jarang ada org ultah ngundang badut…
    pernah gw liat di sisi lain, ttg ultah anak2.
    sekarang ada eo buat ultah anak2, budgetnya 20 juta
    pake sewa kereta api mini di dalem rumah, pake pignata, kue kantongnya tidak lupa, trus tiap pesta ada temanya, misalnya dora, princess, dll…
    tapi tanpa badut
    klo ga salah, yg ada barney…tp itu tergantung permintaan anak jg

    pas gw baca ada konferensi badut internasional, gw kaget banget…yg ada pikiran gw adalah: penting banget ya harus ada persatuan badut..?
    tp setelah denger perjuangan dan roberts, gw sadar kalo badut emang penting buat menghibur orang…krn ga smua hiburan harus berupa mainan, hadiah, coklat yg mahal2, bisa membuat orang ketawa, sejenak melupakan kesedihan mereka adalah hal yg luar biasa mulia….

    tp kayaknya gw bakal tetep takut ama badut n teman2…

  4. Hahahaha. Ternyata banget temen gw yang nggak suka sama badut. ^_^ Well, memang semuanya emang sangat bergantung sama image badut domestik… Kalo kita tinggal di Eropa kita mungkin baru ngeh klo badut tu salah satu pekerjaan profesional seperti dokter, dosen, pilot, dll. Iya, gw pun baru sadar bahwa pekerjaan badut (yang bener2 badut) memang sebenernya mulia dan ga gampang… Makanya gw cukup salut sama mereka yang ‘punya hati’ jadi badut, bukan asal ngebadut yang penting dapet duit. Salah satu yang dapet penghargaan badut internasional tuh Charlie Caplin. Dan dia emang badut yang kocak luar biasa. Moga2 aja kualitas badut Indonesia cepet membaik n bisa ngasih yang terbaik buat semua anak n bahkan orang dewasa.

  5. syl, g jg takut ama badut
    entah kenapa g merasa seram kalo liat badut
    mungkin pengaruh g pernah ntn film “Friday 13th” waktu g masih SD kelas 1 gt..(agak lupa juga), g ntnnya malem2 jam 11an gt, trus si badutnya meneror orang2 gt
    huhuhuhuhu

    waktu kecil, g pernah diajak ntn sirkus eropa ama bokap g pas mereka ada di jkt, kalo ntn dari tribun yang agak jauh dan liat mereka beratraksi, g ketawa2 aja
    tapi kalo dari deket, g takut…

    g jg sama kayak dita, mgk g menganggap mereka ga terlalu penting, tapi setelah membaca tulisan lu, seengganya g tau kalo cara berpikir g harus diubah…

    g salut ama perjuangan dan ketulusan hati mereka

    thx vy, to broaden my perspective
    =)

  6. Hahaha, skrg gw malah makin susah nyari temen yang suka sama badut. ^_^ Well lagi, sekali lagi gw pengen bilang klo badut horor bulan badut yang sebenernya bahkan merusak image badut. Tujuan utama badut tu bikin orang ketawa n lepas dari stress, bukannya bikin orang takut & malah tambah stress… Ga ada satupun anggota atau dandanan resmi badut internasional yang pake dandanan horor… Adapun Coulrophobia ato phobia badut juga bukan muncul karena si badutnya bertampang horor tapi karena (katanya sih) efek make-up yang tebel banget (plus bibirnay itu loh…). Jadi kayaknya ga ada satupun badut profesional yang bakal bilang klo badut horor tuh bagus & kerjaan profesional. Gw pribadi nggak takut tapi sebel n jijik krn image badut jadi rusak… ^_^

  7. wah, akhirnya gue bisa baca postingan ini dgn serius.
    nway, buat gue dan keluarga gue, tokoh ‘badut’ punya makna tersendiri. adek gue yg paling kecil (skrg kls 1 sma), dulu waktu msh umur 3-4 tahun paling doyang pake kaos tanpa lengan warna putih yg gambar dpn nya badut yg lagi juggling. kaos itu kaos kesukaannya, dan tiap kali dia ditanya cita2nya apa, dia selalu bilang ‘mau jadi badut!’

    yaa, dulu sejujurnya gue suka ketawa sndr tiap adek gue blg dia mau jadi badut. menganggap remeh gitu.
    tapi makin kesini, dan apalagi stlh baca postingan ini, gue smakin sadar klo jadi badut itu pekerjaan paling ga mudah dan mulia. harus ttp senyum, mengalahkan senyumnya SPG atau petugas front office. dan mereka selalu berusaha menyebarkan senyum ke orang lain.

    untuk badut di indonesia sndr, gue ga sepenuhnya menyalahkan si badut yang ‘ga ada usaha’ untuk terlihat lucu. kita yg nonton dia juga salah, apalagi klo uda punya pandangan kyk gue ngetawain cita2 adek gue itu dulu.

    semoga profesi badut bisa tetap ada ya. bukan sekedar menjadi icon fisik *yang mukanya sll tersenyum*, tapi juga icon penghibur secara psikis *yang selalu membuat kita tersenyum dgn tulus*.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s