Becak di Tengah Guyuran Hujan

becak

Kala derai hujan menusuk kulit
Kala hawa dingin bergumul dengan aroma tanah
Kala semburan angin memukul-mukul wajah
Kala genangan menenggelamkan lutut
Membekukan buku-buku jemari
Papa, aku melihatnya!
Seorang penyongsong jejak
Mengayuh dan terus mengayuh
Membelah banjir bak Musa menerjang Laut Merah

Kala tunas bumi menggaungkan jerit terakhirnya
Kala terang berganti pekat
Kala bara peraduan menggoda asa
Kala aroma nasi goreng dan kopi hangat menyeruak di balik tenda
Papa, aku melihatnya!
Seorang gigih yang terus berjuang
Menyeruak kelebat jarum-jarum demi segenggam harap

Wajahnya yang renta
Tertutup oleh topi perahu ala kadarnya
Coleng rombeng benang yang menjuntai sekujur tubuh
Papa, aku melihatnya!
Seorang gagah yang tidak bergelayut pada nasib
Wajah penuh damai di tengah amuk

Papa papa, aku melihatnya…
Ingin sekali kudekati dia, papa…
Ingin sekali kutanya mengapa ia begitu gigih
Melabuhkan ketiga simetri putarnya pada riak-riak
Yang tak kenal ampun menghajarnya

Papa, mengapa ia begitu bersemangat?
Kala renta tak jadi perkara
Kala teknologi kendaraan mengepung
Menjebak, merongrong, menghasut, menggoda, memaki…
Aku melihatnya, papa!
Roda-roda yang terjejak dengan sempurna
Kemudi riak ganas yang diambil alih
Oleh sesosok postur yang selalu dikejar-kejar tibung

Jelaskan padaku papa….
Apakah ia tidak masuk angin, papa?
Apakah ia tidak terkena salesma, papa?
Apakah ia tidak kena encok, papa?
Apakah ia tidak kedinginan, papa?

Sylvie Tanaga
Bandung, 6 November 2008 pk 22.06 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s