Belajar dari Para Penyandang Cacat

Now as Jesus passed by, He saw a man who was blind from birth. And His disciples asked Him, saying, “Rabbi, who sinned, this man or his parrents, that he was born blind?” Jesus answered, “Neither this man nor his parents sinned, but that the works of God should be revealed in him.
(John 9:1-3 – New King James Version)

Saya sangat terkejut ketika mengetahui fakta bahwa penari seribu tangan yang sangat artistik pada acara pembukaan Olimpiade Beijing 2008 adalah para penyandang cacat, yakni tuna rungu. Luar biasa! Selain harus memperhitungkan jarak antar lengan, tarian seribu tangan ini juga harus seirama dengan lagu yang menjadi latar (padahal mereka tuna rungu!). Bahkan saya tidak yakin manusia ‘normal’ sekalipun dapat menari dengan ketepatan dan gaya artistik yang kompleks seperti yang ditunjukkan dalam tarian tersebut. Pada kesempatan yang berbeda, saya pun kagum usai mendengar beragam kisah sukses dari para penyandang cacat di seantaro dunia.

Sebut saja Hellen Keller yang kisahnya tentu tak asing lagi bagi kita semua, Nick Fujivic yang hidup tanpa lengan dan kaki yang normal dan kini tercatat sebagai salah satu pebisnis paling sukses di dunia, perjuangan para atlet paralympic yang sangat menggugah perasaan, hingga kisah sukses para penyandang cacat asal Indonesia seperti Eko Ramaditya Adikara, tuna netra yang mampu menciptakan beragam karya komputer yang berkualitas. Desain cover yang dibuat Eko Ramaditya Adikara untuk websitenya benar-benar membuat saya berdecak kagum.

Saat di perjalanan menuju kampus, saya juga merasa sangat kagum dengan kegigihan teman-teman tuna netra yang terus menuntut ilmu di sebuah panti sekalipun hujan terus berjatuhan ke bumi dengan dahsyatnya. Dengan mengandalkan ‘insting’, mereka sangat menguasai waktu dan kontur tanah yang mereka pijak. Saya hanya mematung bingung ketika seorang teman bercerita bahwa pada suatu sore ia mendapati salah seorang dari penderita tuna netra ini tengah menunggu angkutan umum (angkot) untuk pulang ke rumahnya. Ketika saya bertanya bagaimana sang tuna netra tersebut dapat mengetahui jurusan angkutan umum yang akan ditumpanginya, teman saya hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.

Ketika berbicara mengenai penyandang cacat, pikiran pun mau tak mau beralih pada sang adik. Adik bungsu saya adalah penderita tuna grahita sejak lahir dengan ciri-ciri tidak mampu berbicara dan tidak mampu melakukan beberapa aktivitas harian secara mandiri. Singkatnya, hidupnya sangat bergantung pada orang di sekitarnya. Namun dari titik inilah saya justru belajar untuk lebih menghargai kehidupan. Saya diajar untuk selalu bersyukur karena masih dikaruniai tubuh yang sempurna dan sehat. Saya pun makin sadar bahwa penyandang cacat adalah orang-orang yang luar biasa, orang-orang yang mampu berkarya di tengah berbagai keterbatasan yang dideritanya.

Tatkala sang adik dibawa ke sebuah panti khusus penderita tuna grahita di Yogyakarta untuk diasuh, saya kembali mempelajari berbagai hal baru yang semakin membuka mata saya. Ketika pertama kali tiba di panti, perasaan pertama yang saya rasakan adalah ingin menangis. Betapa tidak, saya melihat bangsal-bangsal penuh dengan anak penderita tuna grahita dalam kondisi yang memprihatinkan. Ada anak yang sepanjang hari hanya mampu berteriak-teriak, memasukkan jari ke dalam mulut, bermain ludah, hingga membentur-benturkan kepala ke tembok. Alhasil beberapa di antara mereka terpaksa ‘diikat’ dengan tali ke sebuah kursi. Ironisnya, banyak di antara anak-anak ini yang sengaja ditinggalkan begitu saja oleh kedua orangtuanya.

Beberapa anak yang kondisinya lebih lumayan, turut membantu para pengasuh seperti mempersiapkan makanan dan mencuci baju. Hati saya kembali miris tatkala mendengar jumlah upah yang diterima para pengasuh yang jauh dari kata cukup. Para pengasuh benar-benar bekerja hanya demi amal dan kasih sayang mereka pada anak-anak. Kehidupan panti pun cukup banyak bergantung dari para donor mulai dari donatur dana hingga donatur barang (makanan, pakaian, tempat tidur, seprai, dan lain-lain). Meski demikian, semangat kerja para pengasuh tidak berkurang. Sebelum sarapan pagi dan memulai hari, para pengasuh dan anak-anak ini pun berdoa pada Tuhan untuk mengucap syukur: sebuah adegan yang sangat mengharukan.

Ini adalah sebuah gambaran kecil dari kehidupan anak-anak penyandang cacat yang keberadaannya seringkali diabaikan atau minimal menimbulkan melodrama sesaat seperti yang mungkin tersirat dalam paragraf sebelumnya. Saya segera menyadari bahwa bukan rasa kasihan yang dibutuhkan oleh para penyandang cacat ini. Yang sangat mereka butuhkan adalah langkah nyata. Langkah nyata untuk memberikan penghargaan dan kedudukan yang setara, membangun infrastruktur yang tidak diskriminan, mendorong partisipasi aktif dalam membangun bangsa dengan caranya yang unik, meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan, serta meningkatkan kesejahteraan para penyandang cacat dan orang-orang atau institusi yang merawatnya.

Saya bersyukur ketika mengetahui bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusinya yang bernomor 37/521, menetapkan Hari Penyandang Cacat Internasional pada tanggal 3 Desember 1982 yang kemudian diperingati tiap tahun pada tanggal yang sama. Tujuan utamanya adalah mempromosikan pengertian mengenai masalah penyandang cacat dan meningkatkan perhatian terhadap para penyandang cacat dalam segala aspek yakni politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Pada tahun 1982, PBB juga mengumumkan The World Programme of Action (WPA) concerning Disabled Persons yang kemudian dilengkapi dengan Standard Rules on Equalization of Opportunities for Persons with Disabilities pada tahun 1993. WPA adalah sebuah strategi global untuk meningkatkan perlindungan, rehabilitasi, dan kesamaan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan pembangunan nasional. WPA juga menekankan pentingnya pendekatan HAM. Meski WPA tidak menjadi kewajiban, negara tetap memiliki komitmen moral dan politik untuk memberikan kesamaan kesempatan bagi para penyandang cacat.

Dalam aspek sosial, saya berpendapat bahwa penghargaan terhadap para penyandang cacat sudah cukup positif. Meski demikian, penghargaan ini masih menjadi sekedar penegakuan simbolis. Nyatanya, pemerintah masih belum mampu menyediakan infrastruktur yang memadai dan toleran bagi para penyandang cacat. Contoh konkretnya adalah trotoar. Jangankan bagi para penyandang cacat, bagi manusia ‘normal’ pun kondisi trotoar Indonesia masih jauh dari kata manusiawi. Tidak heran jika saya sering melihat para penderita tuna netra yang sering tersandung-sandung dengan penuh kesengsaraan pada saat berjalan di atas trotoar.

Bagaimana dengan kemauan politik dan ekonomi? Masih jauh panggang dari api. Contohnya adalah upah atau bantuan bagi institusi yang merawat dan mendidik para penyandang cacat. Jangankan bagi mereka, bagi pendidik ‘normal’ pun upah yang diberikan jauh dari kata memadai. Akhirnya, pekerjaan mengasuh dan mendidik para penyandang cacat adalah murni pekerjaan amal. Jelang resesi global, panti tempat adik saya bernanung bahkan terpaksa mempertimbangkan opsi mengurangi jumlah karyawannya. Memperketat anggaran? Saya menyaksikan sendiri bagaimana sedari awal anak-anak ini hanya sarapan dengan dua macam sayuran tiap harinya.

Pada intinya, saya hendak mengajak pemerintah dan semua pembaca untuk bahu-membahu memberikan sumbangsih bagi para penyandang cacat yang membutuhkan di samping mengucap syukur dan terus memberikan apresiasi bagi mereka yang sudah berprestasi. Patut kita sadari bahwa sebagian besar para penyandang cacat di Indonesia berasal dari kalangan menengah ke bawah. Empati melodrama alias rasa kasihan sesaat, sesungguhnya sama sekali tidak mengubah keadaan.

Di satu sisi, pemerintah wajib mengimplementasikan kerangka WPA yang sudah dirumuskan dengan sangat baik oleh PBB minimal menyediakan infrastruktur yang ‘manusiawi’ bagi para penyandang cacat. Masyarakat umum pun disarankan untuk terus mempertahankan sikap toleransi dan penghargaannya bagi kreativitas para penyandang cacat serta sebisa mungkin terlibat aktif dalam donasi terhadap aktivitas atau pendidikan bagi para penyandang cacat. Di sisi lain, para penyandang cacat pun sebisa mungkin harus terus optimis untuk berkarya.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa ‘kecacatan’ bukanlah sebuah musibah yang perlu disesali melainkan sebuah berkat tersendiri. Tuhan ingin berkarya dalam diri para penyandang cacat dengan caraNya yang sangat unik. Oleh karena itu, sudah semestinya pemerintah dan masyarakat saling bahu-membahu mendukung kreativitas dan kesamaan kesempatan bagi para penyandang cacat sebagaimana diamanatkan dalam resolusi PBB. Kita tentu berharap peringatan Hari Penyandang Cacat Internasional dapat menjadi momentum positif untuk bergerak secara nyata dalam mewujudkan perlindungan dan kesamaan kesempatan bagi para penyandang cacat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s