Bahasa Ibu dan Bahasa Internasional

The world is a mosaic of visions, and each vision is encapsulated by a language…
Everytime a language is lost, one vision of the world disappears

Linguist David Crystal

Selama ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi utama bagi umat manusia. Bahasa memberikan identitas yang khas pada kelompok individu melalui apa yang disebut sebagai ‘bahasa ibu’. Seiring dengan makin suburnya globalisasi, bahasa internasional pun memainkan peran yang semakin penting. Yang menjadi dilemma pada saat ini adalah bagaimana mengembangkan keduanya sekaligus? Jika merujuk pada Singapura yang mahir berbahasa Inggris dan Mandarin sekaligus, muncul sanggahan bahwa bahasa tersebut sama-sama tergolong sebagai bahasa internasional.

Ralph Linton mengatakan bahwa salah satu sebab terpenting dalam melambangkan budaya sampai mencapai tarafnya seperti sekarang ialah pemakaian bahasa. Melalui bahasa, kebudayaan suatu bangsa dapat dikembangkan, dibina, dan diwariskan pada generasi-generasi berikutnya. Pendapat ini nampaknya memang tidak perlu diperdebatkan. Pentingnya bahasa daerah yang sangat terkait erat dengan pelestarian kebudayaan ini telah disadari sepenuhnya oleh UNESCO. Melalui Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang diadopsi pada bulan Oktober 2003, UNESCO mengakui bahasa sebagai bagian penting warisan budaya dunia.

Pada bulan November 1999, Konferensi Umum UNESCO pun telah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai ‘Hari Bahasa Ibu Sedunia’. Peringatan ini dilakukan untuk melindungi keberagaman budaya dunia. Perayaan ini juga diharapkan dapat memobilisasi individu, organisasi dan pemerintah untuk berbuat sesuatu dalam rangka melestarikan bahasa-bahasa dunia. Sejauh ini UNESCO memperkirakan 50% dari 6.000 bahasa di dunia akan musnah. Jumlah bahasa daerah di Indonesia yang kurang lebih berjumlah 700 pun diperkirakan akan terus menyusut. Padahal, melalui bahasa daerah inilah kita mengenal beberapa budaya lokal. Ahli linguistik, David Crystal pun menyatakan bahwa tiap bahasa menangkap visi dunia dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Kehilangan satu bahasa berarti kehilangan sebuah visi dunia.

Di sisi lain, bahasa ibu di Indonesia yang tidak sama dengan bahasa internasional (bahasa resmi PBB yang meliputi bahasa Arab, Mandarin, Inggris, Prancis, Rusia, dan Spanyol), mengalami dilemmanya. Di satu sisi, sebagaimana yang diamanatkan UNESCO, bahasa ibu harus dilestarikan. Di sisi lain, globalisasi menuntut kita untuk semakin fasih berbahasa internasional. Langeveld berpendapat bahwa bahasa berperan sebagai suatu sistem ketetapan hubungan pengertian yang memungkinkan manusia melakukan hubungan di antara sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada era globalisasi, masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat internasional. Terus terang, saya mengalami kesulitan untuk membagi penggunaan bahasa dalam konteks yang tepat. Seringkali penggunaan bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin saya tercampur satu sama lain. Jika saya ingin fasih berbahasa Mandarin, misalnya, mau tak mau saya harus sering melatihnya dalam percakapan sehari-hari. Otomatis bahasa Inggris saya ‘istirahat’ untuk sementara waktu. Demikian pula jika ketika saya mencoba berbahasa Sunda. Tiba-tiba muncul anjuran untuk mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena fungsi utama bahasa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah lambang kebanggaan dan identitas nasional sekaligus alat untuk mempersatukan berbagai suku bangsa.

Di kala saya mencoba untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam keseharian, saya mendapati kenyataan bahwa kefasihan dalam berbahasa Inggris dan Mandarin dalam bidang yang saya geluti, Hubungan Internasional, menjadi sebuah hal yang tidak dapat ditawar-tawar kembali. Demikian juga ketika saya mengerjakan tugas atau meneliti sesuatu. Alhasil banyak sekali penggunaan istilah asing dalam paper berbahasa Indonesia terutama untuk istilah yang sulit diterjemahkan langsung seperti ‘the law of diminishing return’ atau ‘constructive engagement’. Di sisi lain, penggunaan istilah asing yang terlalu banyak dalam sebuah artikel dikatakan sebagai sebuah kegagalan bagi si penulis yang dipandang ingin memamerkan kecerdesannya.

Mengapa Singapura berhasil? Selain karena faktor budaya dan pelajaran sejak dini, dalam kesehariannya warga Singapura memang menggunakan multi-bahasa. Artinya, bahasa-bahasa yang mereka gunakan memang mendapatkan respon yang berimbang dari lawan bicaranya. Di sisi lain, bahasa-bahasa mereka gunakan seperti bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, dan India tergolong sebagai bahasa mayoritas dunia yang dapat dipergunakan di lebih dari satu negara. Bandingkan dengan bahasa Jawa yang paling hanya dapat dipergunakan di Suriname.

Saya sering mendapati bahwa bahasa daerah di tempat tinggal saya di Bandung, bahasa Sunda, digunakan secara serampangan dengan konotasi yang sangat kasar oleh pelajar dan sopir-sopir angkot. Hal ini menyebabkan saya sempat salah kaprah dengan mengidentikkan bahasa Sunda sebagai bahasa kasar yang tidak mencerminkan budaya Sunda yang sebenarnya. Di sisi lain, saya sangat rindu mendengarkan bahasa Sunda yang khas di telinga saya tatkala saya berada di luar Jawa Barat. Mendengar seseorang berbahasa ibu di luar tanah kelahiran, rasanya sangat menghibur.

Dimasukannya bahasa daerah dan bahasa asing sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah memang menjadi langkah positif untuk melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kompetensi siswa di era globalisasi. Meski demikian, upaya ini tidak akan terlalu efektif jika tidak dilatih dalam komunikasi sehari-hari, terlebih jika lingkungannya tidak mendukung. Saya sendiri banyak menggunakan campuran antara bahasa Sunda-Indonesia atau Sunda-Indonesia-Mandarin yang tak beraturan tatkala berkomunikasi dengan keluarga. Bahasa Indonesia yang baik dan benar banyak dipergunakan di kampus sementara bahasa ‘gaul’ ataupun gabungan Indonesia-Inggris menjadi bahasa dominan ketika berkomunikasi dengan teman-teman. Sunda? Sangat jarang mengingat lingkungan teman-teman yang sangat multikultur.

Artinya, cukup sulit untuk lebih mengedepankan bahasa ibu dan bahasa nasional, apalagi perkembangan dunia dan media menuntut kita untuk makin fasih berbahasa internasional. Hanya ada satu atau minimal dua macam bahasa yang menjadi titik berat. Dari 210 juta penduduk Indonesia saja, hanya 10% masyarakat Indonesia yang dapat berbahasa Indonesia. Demikian pula dengan RRC yang rupanya masih lebih banyak mempergunakan bahasa daerah daripada Mandarin.

Meski demikian, penggunaan bahasa internasional pada saat ini pun tidak dapat dikesampingkan dengan dalih pelestarian bahasa ibu. Menurut Michael Backman, bahasa yang sama akan memperkecil biaya transaksi selain memungkinkan pasar berfungsi lebih efisien dan transparan, serta meningkatkan mobilitas tenaga kerja. Bahasa Inggris bahkan tidak hanya berguna untuk perdagangan, bisnis, dan pariwisata, tetapi juga berguna sebagai gerbang menuju kesempatan kerja di negara-negara kaya. Hal ini sangat disadari oleh pemerintah RRC.

Meski jumlah penutur bahasa Inggris di RRC masih terbatas, RRC kini mampu menghasilkan lebih dari 20 juta penutur Inggris setiap tahunnya. Ini berarti bahwa RRC akan segera memiliki lebih banyak orang yang mahir berbahasa Inggris daripada India. Tak lama lagi RRC bahkan akan mengalahkan AS sebagai negara dengan jumlah penutur bahasa Inggris terbesar di dunia.

Kita juga perlu ingat bahwa penggunaan ICT (Information & Communication Technology) sebagai kunci pembangunan ekonomi mutakhir, mayoritas masih mempergunakan bahasa Inggris dalam rangka meraih pangsa pasar yang seluas-luasnya. Dengan ICT berbahasa Inggris, perusahaan-perusahaan di China lebih mampu memasarkan produk mereka mereka. Tak hanya itu, kecepatan alih teknologi akan semakin bertambah karena makin banyak rakyat RRC yang dapat membaca jurnal-jurnal teknologi dan akademi termutakhir dalam bahasa Inggris.

Meski demikian, saya tidak bermaksud memprovokasi para pembaca untuk lebih mengedepankan bahasa internasional daripada bahasa ibu dan bahasa nasional. Sama sekali tidak! Lihat saja Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologinya berhasil mempertahankan kelestarian bahasa ibunya di tengah derasnya arus globalisasi. Sama seperti candi Borobudur yang harus dilestarikan di tengah maraknya pembangunan mall, bahasa ibu dan bahasa nasional pun harus tetap dilestarikan di tengah derasnya tuntutan untuk fasih berbahasa internasional.

Saya setuju dengan anjuran UNESCO untuk memelihara, menggunakan, dan menurunkan bahasa ibu pada generasi selanjutnya. Meski demikian, jangan heran apabila kedalaman kemampuan berbahasa antara bahasa ibu akan makin tereduksi pada masa-masa mendatang mengingat lingkungan yang menuntut kita untuk mampu menggunakan minimal tiga hingga empat bahasa yang berbeda. Lihat saja dengan makin suburnya sekolah-sekolah internasional maupun program bilingual di sekolah-sekolah umum yang relatif jarang menggunakan bahasa ibu.

Jika penggunaan bahasa ibu dan bahasa nasional tidak diimbangi dengan bahasa internasional, SDM Indonesia akan mengalami kesulitan tatkala harus berkompetisi secara terbuka dengan SDM negara lain. Pengembangan kemampuan bahasa internasional jangan dipandang sebagai tindakan tidak nasionalis, lupa identitas, lupa sejarah atau ‘sok gaya’. Kemampuan berbahasa internasional telah menjadi kebutuhan mutlak seperti yang telah dikatakan oleh Michael Backman.

Dengan demikian, satu-satunya cara agar bangsa Indonesia mampu berkompetisi di era globalisasi tanpa kehilangan identitasnya adalah dengan perimbangan penggunaan bahasa ibu, bahasa nasional, dan bahasa internasional. Resikonya, pendalaman terhadap bahasa ibu akan semakin sedikit karena masih banyak bahasa yang harus dipelajari sebagai bekal hidup. Kelak jika penggunaan multi-bahasa ini sudah lebih tersosialisasi di seluruh tanah air, kendala-kendala dalam berbahasa pun dapat diminimalisir seperti yang terjadi di Singapura.

Syaratnya, hilangkan pola pikir semu bahwa perimbangan dalam penggunaan bahasa ibu, bahasa nasional, dan bahasa internasional hanya akan mencemari dan merusak identitas nasional. Gunakan bahasa Inggris yang baik dan benar ketika memang seharusnya kita berbahasa Inggris. Sebaliknya, gunakanlah bahasa Indonesia atau bahasa ibu yang baik dan benar ketika kita berada dalam konteks menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa ibu. Percampuran nampaknya tidak dapat terhindari, namun dapat diminalisir ketika kita memang berniat untuk menggunakan sebuah bahasa secara baik dan benar.

Pemerintah pun perlu berbuat sesuatu selain hanya memasukkan kurikulum bahasa ibu dan bahasa asing dalam mata pelajaran siswa. Gunakan bahasa ibu yang santun, bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bahasa Inggris seusai dengan kaidahnya. Lucu sekali ketika mendengar berita bahwa kantor imigrasi di Bandung di’sidak’ dan kemudian dipermasalahkan karena tidak mencantumkan pengumuman-pengumuman dalam bahasa Inggris. Juga sangat menggelikan ketika melihat campuran bahasa Indonesia-Inggris yang ganjil di sudut-sudut jalan. Oleh karena itu, pemerintah harus mulai memberi contoh dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, minimal dalam pengumuman dan website resminya

Advertisements

2 thoughts on “Bahasa Ibu dan Bahasa Internasional

  1. Serba salah jadinya. Berusaha untuk memenuhi tuntutan jaman tapi berbenturan dengan niat untuk melestarikan budaya. Pada akhirnya, penggunaan bahasa akan kembali pada fungsi dasar bahasa itu sendiri, yaitu untuk berkomunikasi. Dan dalam hal ini, sepertinya bahasa daerah akan sangat sulit untuk mempertahankan eksistensinya. Berkurangnya jumlah penutur suatu bahasa berarti kesempatan yang lebih kecil bagi para penutur bahasa tersebut untuk mengkomunikasikan pikirannya. Padahal semakin kuatnya kultur ‘global’ justru menuntut orang untuk menggunakan bahasa yang dapat dimengerti secara universal. Inilah paradoks yang menjadi tantangan pelestarian bahasa daerah.

  2. Setuju, upaya ‘penyelamatan’ mungkin masih bisa dilakukan namun hampir dapat dipastikan bahwa jumlah penutur bahasa ibu akan semakin menyusut. Bicara fakta, mau tidak mau penyusutan tidak dapat dihindari lagi meskipun masih dapat diperlambat dengan beragam upaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s