Wayang di Kancah Dunia

Siapa yang tidak mengenal wayang? Sekalipun belum berkesempatan menontonnya secara langsung, jenis kesenian yang satu ini rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Beragam jenis wayang sangat bertaburan di bumi pertiwi ini mulai dari wayang kulit, wayang sunda, wayang beber pacitan, wayang golek, hingga wayang adaptasi seperti wayang potehi.

Penghargaan dari UNESCO pun diraih. Suburnya tradisi wayang membuat kesenian ini menjadi sebuah collective memory atau kenangan bersama yang identik dengan Indonesia, sama halnya seperti batik.

Namun tradisi wayang tidak menjadi monopoli Indonesia. Seluruh negara anggota ASEAN, kecuali Brunei Darussalam ternyata memiliki tradisi sejenis yang juga telah lama berkembang.

Oleh karena itu, tak heran jika pada 7 November 2003, UNESCO memproklamasikan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Tak berhenti begitu saja, ASEAN pun mendirikan Asosiasi Wayang ASEAN (ASEAN Puppetry Association) yang bersidang untuk pertama kalinya pada tanggal 5-8 September 2007 di Palembang. Sidang ini dihadiri Indonesia, Filipina, Thailand, Myanmar, Laos, Singapura, Brunei Darussalam, dan Kamboja.

Selain menetapkan rencana aksi, rencana menerbitkan buku wayang ASEAN dan peluncuran website Asosiasi Wayang ASEAN, sidang ini secara luar biasa mengusulkan agar seni tradisi wayang dijadikan sebagai ikon dan identitas budaya ASEAN.

Pasalnya, hampir semua negara anggota ASEAN memiliki seni wayang meskipun dalam format yang berbeda. Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia, Solichin, mengatakan bahwa usulan agar wayang dijadikan identitas budaya ASEAN ini bertujuan untuk mempererat hubungan antarpersonal di antara sesama warga ASEAN. Dalam hubungan ASEAN selama ini, pilar seni-budaya jarang tersentuh dibandingkan dengan pilar politik dan ekonomi.

Senada dengan Solichin, Sekjen Asosiasi Pewayangan Indonesia, Tupuk Sutrisno juga mengatakan bahwa masyarakat pada umumnya menolak kerjasama budaya dalam level regional meski sesungguhnya budaya mempengaruhi hubungan internasional. Meski demikian, kesenian wayang bukan merupakan hal yang asing bagi negara anggota ASEAN. Oleh karena itu, Asosiasi Wayang ASEAN diharapkan mampu melestarikan tradisi wayang dan pada saat yang bersamaan mampu menyeimbangkan agenda ekonomi dan politik ASEAN yang lebih serius.

Sidang pertama Asosiasi Wayang ini berlanjut pada sidang kedua yang berlangsung pada tanggal 13-14 Desember 2008 di Yogyakarta. Sidang kedua ini dihadiri oleh 10 negara termasuk Brunei yang tidak memiliki kesenian wayang. Yang menarik, India, Jepang, dan China turut diundang sebagai peninjau sehingga sidang ini disebut sebagai Temu Wayang Asia. Seperti halnya sidang pertama, sidang kedua ini secara luar biasa juga mencetuskan rencana untuk bergabung dengan Asosiasi Wayang Dunia atau Union Internationale de la Marionette.

Menurut Sekjen Asosiasi Wayang ASEAN, Tupuk Sutrisno, sudah saatnya wayang ASEAN menembus tingkat yang lebih tinggi. Jika kesenian wayang ASEAN maju bersama, lembaga-lembaga donor akan melirik dan akhirnya akan membuat kesenian wayang semakin hidup. Sidang kedua ini juga membicarakan kerjasama bidang pelestarian dan pengembangan wayang, tukar-menukar pertunjukkan serta serta tenaga ahli bidang wayang di kalangan anggota ASEAN dan negara peninjau. Kerjasama pendirian sanggar-sanggar wayang di tiap negara pun akan dijalin.

Pernyataan yang menarik muncul dari Direktur Program Asosiasi Wayang ASEAN, Suparmin Sunjoyo yang mengatakan bahwa pengembangan wayang harus menyentuh tahapan sebagai penunjang pariwisata, jangan berhenti pada tataran lokal yang hanya dinikmati masyarakat dan sebagian wisatawan. Pernyataan ini patut menjadi bahan perenungan kita bersama. Masalahnya, di tanah air saja perkembangan wayang masih belum terlalu memasyarakat jika dibandingkan dengan budaya-budaya populer.

Jika mengamati keadaan yang sesungguhnya, kalangan pemuda yang sebenarnya menjadi pewaris tradisi wayang, cenderung lebih menyenangi pertunjukkan band atau konser-konser musik lainnya daripada pertunjukkan wayang. Pertunjukkan wayang masih dipandang sebagai sesuatu hal yang sangat membosankan dan terkesan kuno sekalipun berbagai inovasi seperti wayang listrik atau wayang berbahasa Inggris, telah dilakukan. Karier sebagai dalang pun cenderung kurang diminati.

Oleh karena itu, tantangan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kesenian wayang menjadi tugas kita bersama terlebih wayang kini tidak hanya menjadi kenangan bersama namun juga menjadi identitas ASEAN dan warisan budaya dunia yang berharga.

Artinya, jangan sampai berbagai acara wayang, baik pada level regional maupun internasional hanya menjadi acara seremonial yang lagi-lagi hanya bersifat government-to-government dan bukan people-to-people sebagaimana yang selama ini dituntut dari implementasi ASEAN Charter. Membiasakan pertunjukkan wayang dalam sidang formal dan informal ASEAN merupakan sebuah langkah yang baik.

Di luar itu, sosialisasi dan pelibatan aktor yang berkecimpung dalam dunia pewayangan tanah air juga perlu dilakukan. Kesejahteraan dalang harus diperhatikan sehingga produktivitas mereka dalam meluncurkan berbagai inovasi wayang pun terus berkembang, jika perlu menggunakan media internet. Jika inovasi dan kecintaan pada wayang terus berkembang, potensi pariwisata pun akan semakin tergali.

Lihat saja kebangkitan batik nasional tidak hanya mampu membangkitkan kecintaan pada identitas nasional namun juga berkontribusi pada sektor manufaktur dan pariwisata meski belakangan ini terancam oleh batik buatan China yang lebih murah.

Inovasi dan penumbuhan kecintaan atau we feeling terhadap wayang ini menjadi kata kunci baik bagi Indonesia maupun bagi ASEAN. Dengan demikian, wayang jangan hanya dipandang sebagai budaya yang perlu dilestarikan namun juga potensi yang perlu dikembangkan, baik potensi ekonomi maupun potensi penting dalam rangka menumbuhkan kebersamaan ASEAN dan dunia.

Sejauh ini, saya terpaksa setuju dengan berbagai pendapat yang mengatakan bahwa pilar ekonomi dan politik dalam ASEAN nampak lebih menonjol daripada pilar sosial-budaya. Padahal, pilar sosial-budaya inilah yang lebih berpotensi untuk menjalin hubungan antar individu antar sesama anggota ASEAN.

Kerjasama sosial-budaya ASEAN selama ini hanya bersifat simbolis dan seremonial. Untuk itulah kita perlu memberikan apresiasi dan dukungan yang setinggi-tingginya pada Asosiasi Wayang ASEAN sebagai salah satu motor utama pilar sosial-budaya ASEAN.

Semoga saja pertunjukan si Cepot, Semar, Petruk, Gareng dan aneka wayang ASEAN lainnya pada masa-masa mendatang dapat ‘bersuara’ di dunia dan memberikan manfaat yang maksimal bagi seluruh dalang, bagi kebersamaan ASEAN, sekaligus bagi perkembangan budaya dunia mengingat Festival Wayang Internasional pun untuk pertama kalinya diselenggarakan di Hanoi, Vietnam. Dengan demikian, Asosiasi Wayang ASEAN hanyalah sebuah permulaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s