Imlek, Bhinneka Tunggal Ika, dan Solidaritas Bersama

Tahun baru dalam penanggalan China yang dikenal dengan Imlek atau Xin Nian dalam bahasa Mandarin, sudah mulai terdengar gaungnya sebulan sebelum hari raya tersebut berlangsung. Beragam hiasan Imlek seperti lampion gantung berwarna merah sudah ramai menghiasi wajah-wajah mall dan perkantoran. Berbagai pusat perbelanjaan telah memajang pernak-pernik, panganan dan ragam busana Imlek.

Apabila kita membuka surat kabar, maka dengan mudah kita temukan berbagai liputan menarik mengenai persiapan Imlek termasuk iklan-iklan berisi kegiatan yang akan digelar terkait dengan perayaan Imlek. Perayaan Imlek sendiri menjadi sebuah catatan bersejarah bagi Indonesia terutama setelah era pemerintahan Gus Dur menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 13 tahun 2001.

Ketika era Orde Baru Baru masih berlangsung, saya baru dapat merayakan Imlek bersama keluarga hanya setelah pulang dari sekolah. Makan dan bercengkerama bersama keluarga besar dan berbagi amplop merah atau hungpao pun berlangsung menjelang sore. Pagi harinya, ayah saya yang seorang karyawan swasta harus terlebih dahulu bekerja sementara saya sendiri masih harus bersekolah.

Maka diakuinya Imlek sebagai hari libur nasional sudah pasti merupakan sebuah kegembiraan besar bagi penulis, keluarga besar penulis serta bagi siapapun yang merayakan Imlek. Kemeriahan perayaan Imlek mungkin dapat disejajarkan dengan perayaan Idul Fitri atau Natal. Yang lebih menyenangkan, perayaaan Imlek kini tidak lagi menjadi milik eksklusif warga etnis Tionghoa namun menjadi sebuah perayaan bersama seluruh bangsa Indonesia. Imlek merupakan sebuah momen kebersamaan dalam keragaman Indonesia.

Saya masih ingat ketika beberapa tahun yang lampau menonton sebuah kejuaraan barongsay dalam rangka perayaan Imlek, sebagian pemainnya justru bukan berasal dari etnis Tionghoa. Makanan-makanan di pusat perbelanjaan yang bernuansa Imlek seperti dodol keranjang dan beraneka ragam jenis permen juga sangat diminati oleh teman-teman penulis yang tidak merayakan Imlek.

Yang membuat saya benar-benar tercengang adalah mereka yang mampu membawa nuansa ‘nusantara’ yang dipadukan dengan tradisi Imlek. Ada paduan suara yang menyanyikan lagu ‘Tanah Airku’ dengan musik bernuansa oriental, ada pula paduan suara yang menyanyikan lagu berbahasa Mandarin dengan musik bernuansa nusantara seperti suling dan gamelan. Di samping itu, ada pula desain baju kebaya bergaya Imlek, dodol lokal yang menjadi salah satu menu Imlek, serta pertunjukkan wayang yang bertema Imlek. Ini menjadi sebuah ciri khas dari Imlek ala Indonesia yang sangat unik.

Oleh karena itu, semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang secara sederhana dapat diartikan sebagai “meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu” sangat tepat diposisikan ketika kita memandang perayaan Imlek. Masyarakat Indonesia secara umum dapat menerima dengan baik dan menghormati keputusan pemerintah yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Sikap toleransi semacam ini tidak saja mulai tumbuh namun sudah berkembang dengan sangat pesat seperti yang dapat kita lihat pada saat ini.

Sebagai bangsa bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, sudah seharusnya kita memiliki sebuah sikap kedewasaan dalam pola pikir. Perbedaan adalah sebagai sebuah hal yang positif yang menjadi salah satu ciri khas Indonesia. Gesekan yang terjadi sangatlah wajar mengingat perbedaan yang ada namun tidak seharusnya menjadi benih konflik yang justru merugikan diri sendiri. Saya sendiri berkawan akrab dari berbagai suku seperti Batak, Sunda, dan Betawi. Tidak pernah ada di antara kami yang saling memburuk-burukkan identitas kesukuan masing-masing.

Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional dan sedemikian antusiasnya seluruh bangsa Indonesia dalam menyambut perayaan Imlek merupakan sebuah langkah awal menuju pola pikir yang makin dewasa. Sebagai seorang generasi muda keturunan Tionghoa, penulis sangat mensyukuri keragaman suku dan budaya yang terdapat di lingkungan sekitar karena hal tersebut jutru membuat penulis memiliki pola pikir yang makin terbuka dalam menerima dan memandang setiap perbedaan budaya sebagai sesuatu yang patut disyukuri, bukan sebagai ancaman apalagi sebagai musuh.

Betapa luar biasanya apabila kita bersama-sama dapat merayakan Imlek dengan solidaritas bangsa di tengah terjadinya berbagai kesulitan akibat krisis ekonomi. Sudah saatnya warga keturunan Tionghoa dan seluruh elemen warga Indonesia bahu membahu membangun bangsa dengan tidak memandang perbedaan suku. Pesan ini mungkin terdengar begitu klasik, namun hanya dengan kesatuanlah hambatan bangsa di depan mata dapat ditangani. Sejahtera selalu bagi Indonesia. Gong Xi Fa Cai!

—————————————————————————————————————————–

Dimuat dalam Harian Pikiran Rakyat – Februari 2009

Advertisements

2 thoughts on “Imlek, Bhinneka Tunggal Ika, dan Solidaritas Bersama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s