DPR oh DPR: Dilema Kepemimpinan dalam Demokrasi

Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat.
Amsal 29:2

Leadership Offices. Nama inilah yang pertama kali muncul ketika saya mengetikkan kata ‘US Senate’ dan ‘US Congress’ di mesin pencari google. Sudah tak asing lagi kita ketahui bahwa dalam sebuah negara demokrasi, DPR memegang peranan yang amat vital. Juga tak asing bahwa intrik politik selalu bergema di DPR manapun di seluruh negara. Pertanyaannya: apakah DPR RI pasca reformasi mampu menunjukkan dirinya sebagai leadership office? Bukankah Indonesia selalu dipuji sebagai salah satu negara paling demokratis di dunia? Obama bahkan mengutus seorang Hillary Clinton untuk menjejakkan kakinya di Indonesia.

Sebelum menjawab berbagai pertanyaan di atas tentu akan muncul pertanyaan: “Apa bukti bahwa DPR AS memang menjadi Leadership Offices?” atau bahkan ada yang berteriak: “Jangan menyamakan AS dengan Indonesia yang tingkat demokrasinya masih rendah daripada AS!” Untuk itu, saya meyakini bahwa akan muncul jutaan variasi jawaban. Masalahnya, leadership tidak sepenuhnya terkait dengan jam terbang kehidupan demokrasi suatu negara. Determinan sukses leadership dalam politik adalah kepercayaan rakyat: kepercayaan saat memilih dan kepercayaan untuk memilih kembali sang pemimpin.

Hugo Chavez baru saja memenangkan referendum yang memungkinkan dirinya terpilih kembali sebagai presiden Venezuela dalam Pemilu tahun 2012. Ia sudah memerintah sejak tahun 1994 dan menegaskan bahwa dirinya tidak akan menjadi diktator. Meski para oposan dan mahasiswa membujuk rakyat berkata ‘tidak’, rakyat rupanya berkata lain. Meski demikian, saya tidak menyarankan hal serupa terjadi karena bagaimanapun kepemimpinan yang kuat tanpa demokratisasi hanya akan meningkatkan potensi penindasan. Namun demokratisasi yang pesat tanpa kepemimpinan yang kuat pun akan berbuah malapetaka.

Sebagai pawang demokrasi terbesar di dunia, DPR AS tak pernah lepas dari tarik menarik kepentingan politik. Contoh paling aktual terjadi tatkala presiden Obama hendak menggulirkan paket stimulus. Dengan hasil pemungutan suara 246: 183, DPR AS akhirnya meloloskan paket stimulus ekonomi senilai 787 miliar dollar AS yang akan digunakan untuk merangsang ekonomi AS. Hasil ini pun diterima dengan baik oleh seluruh pihak sambil terus dipantau dalam efektivitas penggunaannya.

Hapnes Toba (Ciri Pribadi dan Sikap Seorang Pemimpin. 2007), membagi sikap seorang pemimpin menjadi dua bagian besar. Pertama adalah sikap terhadap diri sendiri yakni: berani dan berinisiatif, fokus, memiliki kompetensi pada bidang yang dipimpinnya, terus belajar, disiplin, dan penuh motivasi. Kedua adalah sikap terhadap orang lain yang terdiri dari: komitmen, murah hati dan pemaaf, bertanggung jawab, mendengarkan, sikap positif, dan mau melayani orang lain. Inilah sedikit contoh sikap kepemimpinan yang sangat ideal.

Adalah sebuah pertanyaan besar (meski sudah tidak terlalu mengherankan) mengapa DPR Indonesia pasca reformasi justru semakin banyak mengundang kecaman. Jawabannya bukan karena pada era Soeharto kritik yang ditujukkan pada DPR dibungkam. DPR era Soeharto bukan DPR yang sesungguhnya sehingga kita tidak perlu lagi membahasnya. Sangat miris ketika sebagian besar rakyat mempersepsikan DPR sebagai ‘tukang berantem’, ‘tukang ngibul’, dan ‘jago korupsi’. Juga ironi ketika media massa memberitakan kisah anggota DPR yang doyan ‘titip absen’, memakan uang rakyat dengan kinerja yang jauh dari harapan, apalagi untuk meraih sukses sebagai Leadership Offices.

Satu contoh kecil. Soal disiplin. Sudah seberapa sering kita mendengar anggota DPR yang datang terlambat ke rapat atau bahkan tidak datang rapat namun menitip absen? Belum lagi UU yang disahkan justru dilanggar sendiri oleh DPR semisal aturan merokok di ruang umum. “DPR juga manusia!” Memang benar. Justru karena DPR manusia dan pemimpin manusia maka segala tindakan yang dilakukannya juga harus manusiawi. Sangat menggelikan ketika mendengar seseorang yang sangat pandai gagal menjadi diplomat karena pada saat fit and proper test, sang calon tidak dapat menyanyikan sebuah lagu nasional yang diminta DPR.

Semakin memprihatinkan ketika satu per satu anggota DPR yang terhormat, yang seharusnya melayani rakyat, harus tertangkap tangan oleh KPK. Mungkin Indonesia adalah satu-satunya negara yang ruang DPR-nya sampai harus digeledah oleh komisi lain. Ini adalah segelintir contoh yang kasat mata. Belum lagi jika kita berbicara mengenai fungsi DPR yakni fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Dalam buku DPR Uncensored, Dati Fatimah mengungkapkan bahwa ketiga fungsi ini sangat mandul. Salah seorang teman saya sempat mengeluarkan guyonan: “DPR kan emang nggak ada lembaga pengawasnya!”

Contoh berikut ini hanya menambah sederet bukti bahwa DPR sangat arogan (meski tidak semua anggota DPR demikian dan saya bukan termasuk orang yang pesimis terhadap kinerja DPR). PT Pertamina mengirim surat protes pada Komisi VII DPR karena kecewa dalam Rapat Dengar Pendapat dengan direksi pada 10 Februari 2009 lalu. Alasannya, anggota DPR banyak menyampaikan pertanyaan yang seper timengadili jajaran direksi baru. Pertamina juga menilai bahwa apa yang dilakukan DPR sudah menyimpang dari tata tertib DPR RI. Dalam Rapat Dengar Pendapat pada 6 Februari 2009 salah satu anggota Komisi VII bahkan mengeluarkan pernyataan yang menyamakan kemampuan direksi baru dengan satpam.

Bukannya ditanggapi dengan positif, ketua Komisi VII, Sony Keraf justru berkata: “Ini sangat menyinggung DPR. Anggota berhak menanyakan apa saja, ini sama dengan mengintervensi DPR”. Anggota DPR lainnya mengatakan: “Menteri saja tidak pernah membuat surat seperti ini”. Di sebuah televisi swasta saya bahkan mendengar celotehan salah seorang anggota DPR: “Harusnya presiden sendiri yang menyampaikan (keberatan)!”. Bagaimana mungkin DPR menjadi lembaga superior yang tak mempan dikritik? Jika perlu, hasil dengar pendapat sebaiknya dipublikasikan agar rakyat dapat turut menilai apakah benar tuduhan Pertamina bahwa substansi pertanyaan DPR sudah melenceng.

Inilah salah satu kelemahan DPR RI. Lebih suka membuka mulut daripada mendengar dan memahami seolah serba tahu. Ini mengingatkan saya pada kasus ketika DPR mengajukan protes keras hanya karena penjelasan mengenai voting pro terhadap Resolusi PBB No 1747 terhadap Iran tidak dikemukakan langsung oleh presiden. Respon yang diungkapkan pun seolah hanya menjadi respon ‘buta’ demi meraih simpati massa tanpa memperhatikan penjelasan dari Deplu yang sebenarnya sudah sangat jelas dan sangat masuk akal. Padahal komunikasi adalah bagian terpenting dari sikap leadership yang baik.

Dengan berbagai borok dan minimnya prestasi, tak heran jika nada-nada kecaman dan pesimistis terhadap DPR makin sering bermunculan. Kalaupun ada anggota DPR yang memang memiliki leadership yang sangat baik, ada dua kemungkinan: yang besangkutan digosipkan mencari perhatian demi kepentingan politik atau akan ‘dilibas’ oleh anggota yang memang menjadi DPR demi motivasi yang tidak tulus. Hilangnya figur pemimpin yang baik akhirnya membuat rakyat yang kehilangan arah. Demokrasi pun menjadi tidak berarti lagi karena perut rakyat sudah keburu meronta-ronta. Mudah-mudahan saja Pemilu 2009 berhasil membawa perubahan ke arah yang lebih positif. Amin.

Advertisements

2 thoughts on “DPR oh DPR: Dilema Kepemimpinan dalam Demokrasi

  1. Dear sylvie…
    Semoga harapan kita terhadap munculnya lembaga perwakilan yang lebih baik bisa terpenuhi dengan pemilu 2009.
    Dan seperti Sylvie sampaikan tadi, kalau kita mengeja “kantor pemimpin rakyat” maka yang muncul adalah lembaga DPR di “mbah google”.
    Saya membaca blog Sylvey setelah mencari “diplomasi internasional indonesia 2009” di mbah google. Dan ketemu deh ama weblognya Sylvie.
    tukar info yaa tentang hal seperti ini. Saya yang drop out-an Fisipol HI Unpas Bandung pingin mengulang dan mengasah lagi banyak hal tentang diplomasi internasional kita.
    Thank’s inspirasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s