Kongres Nasional Partai Komunis China 2009 dan Tingginya Optimisme China

It needs to be stressed that in projecting the GDP growth target at 8 percent, we have taken into consideration both our need and ability to sustain development in China. As long as we adopt the right policies and appropriate measures and implement

them effectively, we will be able to achieve this target.

Prime Minister Peoples Republic of China, Wen Jiabao – March 2009

Kalimat yang sarat dengan nuansa optimisme ini dinyatakan oleh perdana menteri RRC, Wen Jiabao pada sesi awal Kongres Nasional PKC. Dengan jelas Wen Jiabao menegaskan bahwa target pertumbuhan sebesar 8% tidak mustahil tercapai. Sebelumnya, berbagai pihak memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi China ke depan hanya mencapai 5-6% (angka ini sudah jauh menurun dari rata-rata pertumbuhan ekonomi China dekade terakhir yang mencapai 10%).

Optimisme ini masih muncul tak lama sesudah China dibanjiri para calon pekerja migran pasca perayaan Tahun Baru China. Berbagai media internasional menayangkan foto yang memperlihatkan derasnya arus migran China yang makin sulit memperoleh pekerjaan di kota, bahkan bagi sarjana. Seorang profesor ekonomi politik dari MIT Sloan School of Management, Huang Yasheng, menyatakan pesimismenya. Pasalnya, dari 130 juta migran pencari kerja, hanya 70-80% yang terserap oleh lapangan kerja (International Herald Tribune, 25 Januari 2009).

Untuk itu, dalam Kongres Nasional PKC Wen menyatakan alasan optimismenya. Wen antara lain mengatakan bahwa pemerintah China menggunakan insentif pajak dan kebijakan fiskal guna mendukung aktivitas ekspor. Beijing juga terus menjaga kebijakan jangka panjang mata uang yuannya. Wen juga mengatakan bahwa ia mencermati rencana pembangunan infrastruktur sesuai dengan paket stimulus yang telah digelontorkan sebesar 4 triliun Yuan atau 586 miliar dollar AS.

Meski demikian, Wen tetap mengakui bahwa krisis keuangan global menyebar dan memburuk. Untuk itu, Wen mengatakan bahwa pemerintah China terus berupaya mencegah terjadinya keresahan sosial akibat tingginya angka pengangguran, pemutusan hubungan kerja, dan penurunan pendapatan masyarakat. Langkah ini merupakan sebuah langkah yang sangat strategis mengingat beberapa industri berbasis ekspor dan industri kontruksi China banyak yang mengalami gulung tikar akibat krisis. Fakta inilah yang menyebabkan fokus pembahasan Kongres Nasional PKC 2009 kembali dititikberatkan pada sektor ekonomi setelah tahun sebelumnya diarahkan pada isu kesenjangan sosial pasca pesatnya pertumbuhan ekonomi China.

Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang nampaknya turut menjaga rasa optimisme China dalam meraih pertumbuhan sebesar 8%. Pertama adalah besarnya jumlah paket stimulus yang digelontorkan China yakni sebesar 586 miliar dollar AS. Jumlah ini diperuntukkan Beijing untuk ‘menjaga pertumbuhan’ dan ‘meningkatkan permintaan domestik’ dengan perluasan lapangan kerja sebagai agenda utamanya. Meski memunculkan perdebatan dari para penatua PKC yang menyatakan bahwa penggunaan dana ini tidak transparan dan berpotensi menghambur-hamburkan kas negara dan meningkatkan angka korupsi, proyek ini masih terus bergulir dan memperoleh jaminan pengawasan seperti yang diungkapkan oleh Wen Jiabao.

Kedua adalah besarnya ketergantungan AS terhadap pembelian surat-surat berharganya oleh pemerintah China. Hal ini menyebabkan nilai strategis China bagi dunia masih tetap kuat. Bahkan faktor ini disinyalir menjadi salah satu penyebab Menlu AS, Hillary Clinton tidak menyinggung masalah HAM yang sensitif dalam kunjungannya ke negeri panda itu. Secara terus terang Clinton bahkan mengatakan bahwa AS dan China saling membutuhkan. Pulihnya ekonomi AS akan berdampak positif pada pulihnya pangsa pasar China. “We are in the same boat, and, thankfully, we are rowing in the same direction”, demikianlah yang dikatakan Clinton.

Ketiga adalah maraknya opini dari para analis yang menyatakan bahwa Asia cenderung lebih mampu bertahan dari terpaan krisis finansial global daripada wilayah Eropa dan AS. Meski tidak ada satu negarapun kebal, krisis kali ini justru dipandang sebagai peluang bagi Asia untuk menunjukkan kemandirian ekonominya.

Dalam artikel berjudul A chance for Asian countries to stand on their own (International Herald Tribune, 16 Februari 2009), dikatakan bahwa Asia tahun 1997-1998 mengalami krisis karena tingginya ketergantungan terhadap pemodal asing. Namun kini Asia mampu melepaskan diri dari ketergantungan ini sehingga setidaknya tidak mengalami perlambatan ekonomi separah AS dan Eropa. Opini-opini semacam ini secara tidak langsung semakin meningkatkan nilai China yang memang sudah dipandang sebagai ‘pemimpin Asia’ dalam teori angsa terbang (flying geese theory) menggantikan posisi Jepang yang lebih tersaruk-saruk dalam menghadapi krisis.

Apakah rasa percaya diri China didukung oleh fakta? Setidaknya ada dua catatan penting yang memang memperkuat optimisme Wen sekalipun ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah di depan mata. Pertama adalah reaksi positif yang diperlihatkan lantai bursa China dalam menanggapi berjalannya paket stimulus China. Hingga tanggal 4 Maret 2009, indeks pasar saham China melompat 4,7% sementara indeks Hang Seng di Hongkong meningkat 0,7% dan indeks Taiwan meningkat 2,4%. Hal ini mendorong Beijing makin serius dalam menjalankan paket stimulusnya.

Kedua adalah rencana pemerintah China untuk meningkatkan anggaran militernya sebesar 14.9% pada tahun 2009. Keputusan yang selalu dipersepsikan sebagai ancaman oleh Washington dan negara-negara tetangganya ini, berupaya diredam China. Juru cicara Kongres Nasional PKC, Li Zhaoxing mengatakan bahwa kenaikan anggaran ini biasa saja dan cocok untuk sebuah negara berkapasitas ekonomi terbesar di dunia. Kenaikan anggaran ini pun dipergunakan untuk meningkatkan upah tentara.

Dengan keseriusan pemerintah semacam ini, tidak mustahil pernyataan Wen bahwa target pertumbuhan 8% bagi China adalah sesuatu yang realistis adalah benar. Setidaknya pernyataan Wen bukan hanya menjadi sebuah retorika politik untuk menenangkan massa. Pemerintah China menunjukkan pertimbangannya yang matang dalam alokasi penyaluran paket stimulus secara mendetail dan penguatan berbagai proyek jangka panjang di bidang kesejahteraan sosial.

Meskipun reaksi positif dari lantai bursa tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur kesuksesan pemerintah, berita ini minimal menjadi angin segar yang dapat memacu masyarakatnya terus berjuang dalam menghadapi terjangan krisis. Indonesia yang juga telah mengeluarkan paket stimulus dapat mempelajari bagaimana China, AS, dan Eropa menjalankan paket stimulusnya. Ke depan kita berharap secercah rasa optimis masih muncul di Indonesia yang sudah sangat letih dengan retorika kosong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s