BOOK REVIEW – Dinamika Hubungan Indonesia-Tiongkok di Era Kebangkitan Asia

cover-buku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul                 :   Dinamika Hubungan Indonesia-Tiongkok di Era Kebangkitan Asia

Penulis              :   Sukamdani Sahid Gitosardjono

Penerbit           :   Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial, dan Budaya China

Cetakan            :   I, 5 Juli 2006

Tebal Buku      :   xxxiv + 224 halaman

 

Awal mula hubungan kerjasama Indonesia-Tiongkok, dimulai dari sektor perdagangan yang kemudian menjalar pada bidang lainnya. Seiring dengan bergulirnya waktu, kerjasama antar dua negara menunjukkan perkembangan yang makin positif. Untuk itu, Indonesia perlu memanfaatkan hubungan kerjasama ini dengan sebaik-baiknya. Inilah poin utama yang disampaikan oleh Sukamdani Sahid Gitosardjono dalam bukunya. Sebagai salah seorang saksi sejarah berdirinya hubungan diplomatik kedua negara, Sukamdani mampu memaparkan kronologis sejarah dan perkembangan hubungan Indonesia-Tiongkok dengan baik dan akurat.

Sukamdani membagi bukunya menjadi empat bab besar yakni sejarah hubungan Indonesia-Tiongkok, perekonomian Tiongkok dan Indonesia, Tiongkok sebagai mitra sekaligus pesaing, dan visi ke depan.  

Pada bab pertama, Sukamdani memaparkan sejarah hubungan Indonesia-Tiongkok dalam tiga periode yakni awal hubungan diplomatik pada periode 1950-1967, pembekuan hubungan diplomatik pada periode 1967-1990 yang meliputi sub-periode 1967-1985 (hubungan kedua negara beku secara total di segala bidang perdagangan, investasi, kebudayaan, pendidikan dll.) dan sub-periode 1985-1990 (hubungan diplomatik, investasi dan sosial-budaya berada dalam keadaan beku, tetapi hubungan dagang langsung mulai dibuka kembali dengan dunia usaha dari kedua negara berperan sebagai pemrakarsa, pelaksana, dan penanggungjawabnya), serta pemulihan hubungan diplomatik pada periode sejak 1990 hingga saat ini.

Dalam bab ini, Sukamdani memaparkan seluk-beluk sejarah pendirian hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok. Terungkap bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang paling awal membuka hubungan diplomatik dengan RRT sesudah Uni Soviet, negara-negara sosialis Eropa Timur, Korea Utara, Mongolia, Vietnam, dan India. Hadirnya PM/Menlu RRT, Chou Enlai dalam KAA 1955 di Bandung, menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang menonjol.

Hubungan kedua negara terusik oleh peristiwa 30 September yang membuat Soeharto enggan untuk berhubungan kembali dengan RRT. Dengan bergulirnya waktu, hubungan diplomatik kedua negara akhirnya pulih pada 8 Agustus 1990. Pemulihan hubungan diplomatik ini didahului oleh pulihnya hubungan dagang langsung yang ditandai dengan penandatanganan MoU Hubungan Dagang Langsung Swasta Indonesia-Tiongkok pada tanggal 5 Juli 1985. Hingga saat ini, hubungan kedua negara menunjukkan peningkatan yang makin positif.

Bab dua berjudul Perekonomian Tiongkok dan Indonesia. Dalam bab ini dipaparkan kondisi perekonomian kedua negara yang antara lain terdiri dari gambaran singkat profil negara (geografi, SDM, SDA, sejarah kemerdekaan), dan sistem ekonomi dan pembangunan. Kedua negara memiliki SDA dan jumlah SDM yang sangat melimpah. Kedua negara juga mencapai kemerdekaannya melalui sebuah perjalanan sejarah yang panjang.

Dalam hal sistem ekonomi dan pembangunan, Tiongkok telah melalui empat fase yaitu fase transformasi sosialis (1949-1956), fase konstruksi sosialis menyeluruh (1957-menjelang ‘revolusi kebudayaan’), fase ‘revolusi kebudayaan’ kebudayaan yang mendatangkan kemunduran pada perekonomian (Mei 1966-Oktober 1976), dan fase baru pembangunan setelah berakhirnya ‘revolusi kebudayaan’. Tahapan perkembangan perekonomian Indonesia, terdiri dari perekonomian dualistik dimasa transisi (1945-1950), pembangunan perekonomian nasional (1950-1959), ekonomi terpimpin (1959-1966), ekonomi Orde Baru (1966-1996), dan ekonomi era reformasi (1997-2006).

Bab tiga bertutur bagaimana Indonesia dan Tiongkok saling berinteraksi dalam kancah hubungan internasional melalui berbagai kerjasama regional dan internasional. Indonesia dan Tiongkok sama-sama menjadi anggota APEC. Tiongkok juga mulai menjalin kerjasama yang erat dengan ASEAN dalam wadah ASEAN plus Three. Kerjasama inilah yang menciptakan hubungan yang lebih efektif antar kedua negara, terutama dalam hal hubungan perdagangan yang menunjukkan volatilitas yang semakin membesar dari waktu ke waktu.

Perkembangan hubungan ekonomi yang kini tak lagi didominasi hubungan antar pemerintah, memicu gagasan terbentuknya Masyarakat Asia Timur (East Asia Community) yang kini menjadi sebuah forum besar yang meliputi setengah dari jumlah penduduk seluruh dunia. Indonesia dapat memanfaatkan EAC untuk lebih memperbesar perdagangannya, terutama dengan RRT, Jepang, dan India. Dengan fondasi yang sudah terbangun secara gradual ini, EAC dan pasar bebas Tiongkok-ASEAN, diperkirakan akan makin berkembang.

Bab keempat sebagai bab terakhir, berisi visi hubungan Indonesia-Tiongkok saat ini dan di masa yang akan datang. Visi ke depan ini berisi tentang keinginan dan harapan kedua bangsa dan negara untuk menyejahterakan rakyatnya masing-masing. Visi ini dapat diwujudkan secara sendiri-sendiri maupun dengan kerjasama. Ukuran kesejahteraan yang dimaksud adalah kebudayaan yang terpelihara dengan baik, kehidupan sosial yang harmonis dan tertata, dan kehidupan ekonomi yang berkeadilan, baik bagi masyarakat Indonesia maupun Tiongkok.

Adapun misi atau tujuan yang hendak dicapai dengan kerjasama antar kedua negara adalah, pertama, menjaga, mempertahankan, dan mengembangkan semua aspek kerjasama politik, budaya, sosial, ekonomi, dan teknologi. Kedua, kerjasama berfokus pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, kesinambungan budaya dan alih teknologi. Ketiga, menciptakan akses perdagangan dan investasi yang mudah dan menarik. Sukamdani memaparkan bahwa misi ini berdasar pada kenyataan bahwa kawasan Asia sangat pluralistik sehingga diperkirakan akan mampu memberikan kebijakan yang unik berupa keuletan untuk meningkatkan diri dalam menciptakan nilai tambah pada sektor-sektor ekonomi unggulan.

Program atau tindakan nyata perlu dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut. Pertama, adalah dengan membentuk kelompok pemikir dan agent of development untuk menciptakan share mindsets yang menentukkan dan menguntungkan bagi Indonesia-Tiongkok di masa depan. Kedua, bahu-membahu mengatasi tingkat kemiskinan dan mengurangi pembajakan hak cipta. Ketiga, penataan pasar demi pertumbuhan ekonomi kedua negara. Keempat, meningkatkan ICT (information & communication technology). Kelima, menciptakan rasa saling percaya dalam investasi antar dua negara.

Akhirnya, buku ini dapat menjadi salah satu referensi penting sejarah hubungan Indonesia-Tiongkok. Di samping itu, visi, misi, dan program yang ditawarkan oleh Sukamdani (yang juga berlatar belakang sebagai pengusaha), patut dipertimbangkan sebagai salah satu langkah strategis Indonesia terhadap Tiongkok yang merupakan kawan sekaligus pesaing. Sekalipun diterbitkan sebelum mencuatnya krisis finansial global akhir tahun 2007, buku ini tetap relevan. Pasalnya, posisi strategis RRT sebagai pemimpin ekonomi Asia terpenting, masih belum tergoyahkan oleh hantaman krisis sekalipun secara umum pengaruhnya amat terasa.

Advertisements

3 thoughts on “BOOK REVIEW – Dinamika Hubungan Indonesia-Tiongkok di Era Kebangkitan Asia

  1. saya tertarik dengan buku yang telah anda review, yaitu:

    Judul: Dinamika Hubungan Indonesia-Tiongkok di Era Kebangkitan Asia

    Penulis: Sukamdani Sahid Gitosardjono

    Penerbit: Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial, dan Budaya China

    Cetakan: I, 5 Juli 2006

    Tebal Buku : xxxiv + 224 halaman

    saya ingin memiliki buku tersebut guna mendukung penulisan thesis saya. bagaimana caranya agar saya mendapatkan buku tersebut? apakah anda menjualnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s