A Little Story about The Music…

guitar-for-blog

Ketika saya mulai tertarik mengikuti kuis-kuis yang aneh ‘bin ajaib’ di facebook, ada beberapa kuis yang cukup menggelitik. Selain kuis berjudul ‘tokoh kartun Doraemon apakah Anda?’, kuis berjudul ‘aliran musik apakah Anda?’ membuat saya tertantang untuk mencobanya. Entah apakah saya yang kurang gaul atau opsi jawabannya terlalu sedikit, the result (kurang lebihnya) is…. ‘anda suka lagu yang mendayu-dayu, tipikal Melayu bangetlah!’ Saya terkaget-kaget melihat hasil tersebut. Rasa-rasanya sih saya tidak begitu menyukai pop mendayu-dayu. Paling tidak pop R&B atau pop Rock-lah.

Yap, sering sekali kita mendengar bahwa jenis musik yang kita gemari mencerminkan karakter atau ciri khas kita. Yang suka musik rock orangnya cenderung ‘keras’lah, yang suka dengan pop cenderung melankolis, dan sebagainya. Lha, kalau suka dengan nyaris seluruh jenis musik? “Nah, buat Anda yang suka dengan semua jenis musik, artinya Anda orang yang tidak konsisten!” demikian salah seorang penyiar radio berkata ketika saya sedang menyantap bakmie di salah satu sudut kampus di Bandung. Nah lhooooo……..

Terlepas dari refleksi karakter, banyak orang mengatakan beberapa mitos tentang musik. Pertama, mendengar musik yang Anda sukai, dapat memperlancar sirkulasi darah. Kedua, mendengar musik dapat meningkatkan konsentrasi dan bahkan kecerdasan. Suatu hari, saya mendengar (juga) di salah satu radio tentang para ilmuwan yang tengah melakukan penelitian tentang musik. Sang peneliti membagi pelajar menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diperintahkan belajar tanpa musik. Kelompok kedua diperintahkan belajar dengan musik. Ketika hasil ujian keluar, kelompok pelajar yang belajar dengan musik menunjukkan hasil yang lebih baik.

Ketiga, bagi Anda para wanita hamil, dengarkanlah musik klasik untuk meningkatkan kecerdasan anak Anda kelak. Istilah kerennya adalah ‘Mozzart Effect’. Nah, mitos ini sempat mendapat pertentangan dari beberapa pakar yang mengatakan bahwa tidak ada bukti kalau musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan. Sayang, saya lupa nama pakarnya. Kembali ke penelitian tadi, diperoleh fakta bahwa pelajar yang belajar dengan musik klasik memiliki tingkat penyerapan pelajaran yang lebih baik (80%) daripada pelajar yang mendengarkan musik jenis lainnya (30%).

Saya tenang-tenang saja. Pasalnya, saya memang menggemari jenis musik ini. Tapi…. tidak semua! Saya pernah memaksakan diri mendengar orkestra klasik karya Bach dan Mozart. Hasilnya: sukses tertidur! Musik klasik dengan instrumen piano dan biola tunggal-lah yang tidak membuat mata saya terasa berat. Hanya saja mendengar musik klasik memang tidak bisa sambil lalu. Butuh penghayatan dan terkadang imajinasi. Kecuali musik klasik-pop atau klasik kontemporer yang masih bisa membuat tubuh Anda bergoyang-goyang mengikuti harmoni klasik berpadu dengan dentum ritme.

Berbicara tentang penghayatan terhadap musik, ada banyak hal yang menarik yang dapat dicermati. Musik dapat memberi semangat dan ketenangan, namun juga dapat menjatuhkan, seperti yang pernah saya bahas dalam tulisan sebelumnya. Masa sih musik menjatuhkan? Bisa! Bayangkan jika Anda sedang berada dalam kondisi patah hati kemudian Anda mendengarkan lagu sendu berlirik ‘bunuhlah aku’, ‘ingin mati rasanya’, dan sejenisnya, yang ada adalah Anda bertambah down. Bukan hanya lirik, nada pun ternyata dapat menjatuhkan atau membangun mental seseorang.

Mengutip salah satu kisah kekaisaran Tiongkok kuno, pada masa akhir Dinasti Jin, bangsa Hun tiba-tiba menyerang daratan utama China dan kota Jinyang. Sang jenderal yang bertugas menjaga kota, Liu Kun, lantas merasa khawatir. Suatu malam, Liu Kun mendengar keluh kesah dari pasukan Hun yang memberinya sebuah ide. Ia menyuruh para pria memainkan jia (sejenis seruling buluh) yang sebagian besar bernada rindu rumah yang sedih. Jia ini dimainkan berhari-hari ke arah perkemahan musuh. Ketika pasukan Hun mendengar melodi ini, mereka mengusap air mata dengan mental yang terguncang hebat. Sebanyak 50.000 pasukan pun ditarik mundur karena sebuah jia!

Ada satu lagi kisah Tiongkok kuno yang menarik yang saya kutip dari buku ‘Origins of Chinese Music’. Pada suatu musim semi dan musim gugur, Adipati Huan dari Negeri Qi mengirim pasukannya untuk menyerang Negeri Lu. Genderang perang Qi pun ditabuh sebanyak 3 kali dengan suara memekakkan telinga. Penasihat Negeri Lu, Cao Gui mencegah Adipati Zhuang untuk tidak cepat-cepat menabuh genderang perang. Pasukan Lu pun bergeming mendengar tabuhan genderang Qi. Saat genderang perang Qi ditabuh ketiga kalinya, barulah genderang perang Lu ditabuh. Pertempuran pun terjadi dan memperoleh kemenangan yang gemilang.

Sang penasihat, Cao Gui kemudian menjelaskan: “Saat tabuhan pertama, semangat bertempur para prajurit sedang pada puncaknya. Ketika genderang ditabuhkan dua kali, keberanian mereka mulai memudar. Pada tabuhan ketiga, keberanian mereka sama sekali sirna. Setelah pasukan Qi menabuhkan genderang mereka untuk yang ketiga kalinya, keberanian pasukan sudah melemah. Tapi, kita hanya menabuh satu kali sehingga pasukan kita berada pada kondisi puncak. Maka, kita bisa mengalahkan mereka.” Ini memang sebuah strategi. Dalam Alkitab bahkan dikatakan bahwa tembok Yerikho yang sangat raksaksa dapat roboh dengan pasukan ‘band’, bukan dengan pasukan berkuda apalagi dengan buldozer (dengan pertolongan Tuhan, tentu).

Musik memang menyenangkan. Kemudian banyak yang bertanya apakah mempelajari musik membutuhkan talenta dalam bermusik? Antara ya dan tidak. Ya, karena talenta dalam bermusik akan mempermudah seseorang menangkap ‘ilmu’. Orang bertalenta, misalnya hanya membutuhkan waktu 1 bulan untuk mempelajari sebuah lagu. Dengan lagu yang sama, orang yang tidak terlalu bertalenta dalam membutuhkan waktu 3 bulan untuk mengusainya. Tidak, karena percuma saja bertalenta namun tidak giat berlatih. Yang jelas, bermain musik membuat otot motorik dan otak kiri Anda terpacu untuk berkreasi. Kecuali jika Anda lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik!

Karena artikel ini berlompatan ke sana kemari dalam berbicara tentang musik, maka saya juga akan menyinggung musik dan kecenderungan ‘pasar’ musik dewasa ini. Maksudnya adalah bagaimana musik kini lebih banyak dipandang sebagai industri. Kecenderungan ini pernah disinggung oleh Adorno yang berhasil menelurkan teori musik pop. Anda tentu tahu musik pop yang sangat populer pada era Michael Jackson dan para boysband tahun 1980-1990an. Menurut Adorno, musik-musik semacam ini tidak memiliki karakter yang khas dan terjebak dalam industri musik yang ‘asal cetak’ dan ‘asal booming’. Musik pun menjadi industri penghasil uang, bukan sebagai seni.

Penetrasi yang amat kuat dari musik barat dengan drum set dan MTV-nya pun sempat dituding sebagai pemicu hilangnya nilai-nilai musik tradisional. Di China sekalipun, musik hiphop sudah menjadi booming. Masalahnya, produksi musik semakin mahal dan musisi yang keukeuh mempertahankan idealismenya cenderung sulit diterima produsen-produsen besar, kecuali ia meniti jalur independen alias indie. Nah, untuk menampung kepentingan pasar dan idealisme musisi inilah maka muncul berbagai istilah baru dunia musik populer seperti mandapop, cantopop, bahkan klasik-pop.

Karena saya lebih mengamati perkembangan musik Asia, maka saya mengangkat Jay Chou, Vanessa Mae, Maksim, dan 12 Girls Band sebagai contoh-contoh musisi yang suskes dalam misi memadukan musik tradisional dengan musik kontemporer/populer. Jay Chou dari Taiwan mampu memadukan musik berciri khas ‘oriental’ Asia dengan R&B menghasilkan genre baru yang sering disebut ‘oriental R&B’. Demikian pula dengan 12 Girls Band asal China yang berhasil meramu orkestra China jaman baheula dengan musik kontemporer. Vanessa Mae dan Maksim pun terbukti sukses meramu musik klasik kontemporer. Dalam negeri? Tengoklah Balawan atau Trisum. Terakhir, majalah TEMPO membahas tentang sebuah kelompok gamelan elektronik.

Fenomena lain dalam musik kontemporer adalah tentang musik internet. Masalah yang muncul mulai dari isu pembajakan nada dan lirik, hingga tak lakunya Compact Disk (CD) dan kaset karena orang kini lebih banyak mendengar MP3/MP4 dan handphone ketimbang walkman. Maka para musisi pun akhirnya lebih mengandalkan pemasukkan dari konser daripada dari penjualan album. Asosiasi Industri Piringan Hitam Internasional (IFPI) menilai bahwa musik internet dan musik download telepon seluler kini sedang dan akan terus menjadi aliran utama kehidupan konsumsi sedunia.

Akhirnya, musik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kalau boleh bermain dengan perandaian, musik adalah ‘nafas hidup’ yang mewarnai hari-hari kita. Tak heran jika pada tahun 1975, Lord Yehudi Menuhin mencetuskan ‘International Music Day’ untuk mempromosikan seni musik dalam kehidupan setiap masyarakat. Juga tak heran ketika musik menjadi salah satu alat diplomasi (soft-diplomacy) yang cukup diperhitungkan dalam hubungan internasional.

Yang jelas, musik adalah anugerah yang sangat indah dari Tuhan. Oleh karena itu, jika hingga hari ini Anda masih dapat menikmati alunan musik di rumah Anda atau di handphone atau di MP3 Anda, bersyukurlah. Nikmatilah musik-musik berkualitas yang membuat Anda semakin kreatif, produktif, dan bersemangat! Enjoy the music!

Advertisements

2 thoughts on “A Little Story about The Music…

  1. Pingback: Kala Musik ‘Lumerkan’ Militer « Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s