Thailand dan Tahun Baru yang Dilematis

dsc00446

Ada hal menarik yang saya amati. Kala kisruh politik di negeri gajah ini mulai memanas, tim pariwisata Thailand tetap bersemangat menampilkan tarian tradisional Thailand menyambut Tahun Baru Thailand, Tahun Baru Songkran. Tentu saya tidak menyaksikan festival meriah ini di Thailand. Saya hanya menyaksikannya di salah satu mall di kota Bandung. Sungguh meriah. Tarian diiringi tabuhan kendang yang memukau, mampu memikat perhatian penonton yang saat itu berjalan-jalan di area mall tersebut. Sebuah pemandangan langka bagi para pengunjung.

Belum sampai seminggu setelah festival berakhir, saya terkejut gejolak politik Thailand justru semakin memanas. Lautan merah pendukung Thaksin bak kampanye akbar PDIP melakukan aksi demonstrasi. Aksi ini berhasil membuat parea pemimpin negara yang terlibat dalam KTT ASEAN Plus Tiga terpaksa mengungsi dengan helikopter. Belum usai sampai di situ, massa berjumlah sekitar 60 ribu orang ini melakukan aksi blokade terhadap mobil sang Perdana Menteri, Ahbisit Vejajiva di Pattaya. Bentrokan dengan aparat pun tak terhindarkan. Hasilnya, dua orang tewas sementara ratusan lainnya luka-luka. Pada tanggal 14 April 2009 barulah para pengunjuk rasa ini mundur.

Mau tak mau, ingatan saya mulai beralih pada Tahun Baru pada 1 Januari 2008 di Thailand. Kala itu, ledakan bom terjadi di hotel dan area kehidupan malam di Sungai Kolok, Thailand. Bom yang terdapat di dalam klub dansa hotel dan keranjang sepeda motor yang tengah diparkir di luar hotel ini melukai 27 orang. Tak hanya itu. Tanggal 1 Januari 2009, Thailand juga didera kebakaran yang melanda sebuah klab malam terkenal Bangkok. Kebakaran ini menewaskan 59 orang sementara lebih dari 223 orang lainnya cedera akibat terinjak-injak saat merayakan Tahun Baru.

Rentetan peristiwa yang melanda Thailand ini membuat kita menggeleng-gelengkan kepala dengan prihatin. Tahun Baru seharusnya menjadi awal yang baru yang tentu saja diharapkan berjalan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Tak ada yang dapat menduga kapan teroris beraksi dan meledakkan bom. Namun kebakaran karena kembang api adalah sebuah hal konyol. Di sisi lain, kita perlu belajar dari Thailand yang tetap gencar melakukan promosi pariwisata (makanan, tarian, pernak-pernik, dan terutama saya menyukai aoma teh Thailand yang istimewa!) meski kondisi negara tidak menentu. Salut.

Meski demikian, jika kondisi instabilitas terus terjadi, Thailand tetap harus bersiap-siap mengalami penyusutan devisa. Beberapa negara sudah memperingatkan warganya untuk tidak berwisata dulu ke Thailand. Pertama, kepala negara saja terpaksa ‘ngungsi’ dengan helikopter. Kedua, tidak ada jaminan keselamatan terhadap para turis. Ketiga, kita tentu khawatir peristiwa blokade terhadap bandara Suvarnabhumi terulang kembali. Patut disayangkan apalagi mengingat pariwisata adalah salah satu motor ekonomi terpenting Thailand. Namun kita tidak dapat berbuat apapun kecuali berharap pemerintah Thailand mampu menguasai dan menangani situasi ini dengan searif mungkin.

Kembali lagi ke Tahun Baru Songkran 2009. Meski para pengusaha industri pariwisata Thailand khawatir, ratusan penduduk lokal dan turis mancanegara masih setia berkumpul di Jalan Khao San di Bangkok, Thailand pada tanggal 13 April 2009. Festival Songkran atau festival air sudah terlanjur menjadi salah satu magnet pariwisata negeri Gajah Putih itu. Inilah waktu bagi warga Thailand untuk menyiramkan air kepada orang-orang yang lewat di jalanan atau menghabiskan waktu bersama keluarga di luar kota. Masyarakat, dilengkapi dengan ember, saling memercikan air untuk memulai tahun dalam suasana hati gembira. Kontras dengan kondisi politik yang panas.

Tahun Baru Thailand pun berlangsung di Jakarta yang sebagian besar acara berlangsung di alun-alun Sanam Luang, yang Phra Sumen Fort, Wisut Kasat di jalan, di jalan Ratchadomnoen atau di jalan Khao San. Di Bandung, saya hanya sempat menyaksikan acara penutupan di salah satu sudut mall. Sebentar namun sangat berkesan. Wajah-wajah Thailand sangat ramah. Tak terlihat raut lelah sedikitpun di mata para penabuh kendang. Juga tak tampak raut khawatir atas kondisi negaranya yang tengah carut-marut. Yang ada adalah suasana ceria. Dua orang penabuh kendang pun cepat-cepat tersenyum dengan pose pada saat adik saya mengambil foto mereka di salah satu sudut panggung.

Akhirnya, saya hanya dapat berharap situasi keamanan di Thailand kembali pulih sehingga keramahan Thailand dapat lebih menonjol. Lebih dari itu, situasi yang kondusif di Thailand amat dibutuhkan agar negara-negara ASEAN yang belum lama ini telah meratifikasi Piagam ASEAN dapat bersatu suara. Dengan demikian, senyum dari segenap masyarakat Thailand yang merayakan Tahun Baru Songkran dapat berkembang lebih lebar. Masyarakat ASEAN pun dapat terus tersenyum dalam menyongsong setiap Tahun Baru dengan harapan yang baru, meski ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi masih terus membayangi.

Happy new year, Thailand! Wish u all d best.

Advertisements

One thought on “Thailand dan Tahun Baru yang Dilematis

  1. Pingback: Golden Circle Pulihnya Pariwisata Thailand Pasca Krisis 2010 « Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s