Dicari: Calon Pengantin Perempuan

 

Sex-selective abortion accounts for almost all the excess males

British Medical Journal

 

Kalimat ini nampaknya akan melanda jutaan pria di China. Bukan karena kaum adam di sana sedang iseng mencari para wanita di luar China. Bukan pula karena perbedaan rasio umur yang jauh antara pria dan wanita China. Bagaimana tidak, baru-baru ini sebuah investigasi menyatakan bahwa China kelebihan 32 juta anak laki-laki. Ini jelas menunjukkan rasio yang tidak wajar.  Laporan British Medical Journal (BMJ) pun memperingatkan bahwa meledaknya anak laki-laki ini akan menimbulkan persoalan seperti ‘perang sengit’ untuk mendapatkan calon pengantin perempuan.

Kasus kelebihan laki-laki alias kekurangan anak perempuan di China sebenarnya bukan merupakan hal baru. Ini selaras dengan budaya China yang lebih menyenangi kehadiran anak laki-laki, kaum hawa yang baru akan ‘hadir’ ke dunia ini mendapat tantangan yang berat. Aborsi selektif yang didukung ketersediaan diagnosa ultrasound dan praktik aborsi yang murah makin mempermudah aksi ini. Belum lagi pemerintah China masih tegas dengan kebijakan satu anaknya. Jika satu keluarga memiliki dua anak, akan dikenakan denda dan tidak mendapat tunjangan pendidikan.

Cermati saja data ini. 110 anak laki-laki untuk setiap 100 kelahiran anak perempuan pada tahun 2000.  Menjadi 118 di antara 100 kelahiran anak perempuan pada tahun 2005. Saat ini penduduk China mencapai 1.338.612.968 orang (Juli 2009). Data CIA menyebut jumlah pria berusia 0-14 tahun adalah 140.877.745 orang dengan jumlah wanita 124.290.090 orang. Adapun jumlah pria berusia 15-64 tahun 495.724.889 orang dan wanitanya 469.182.087 orang. Bandingkan dengan mereka yang berusia 65 tahun ke atas dengan jumlah pria 51.774.115 orang dan wanitanya 56.764.042.

Meski demikian, harapan untuk diijinkan memiliki anak lebih dari satu nampaknya masih harus dipendam. “Dengan jumlah penduduk yang besar, akan menjadi fluktuasi besar dalam pertumbuhan populasi jika aturan satu anak ditinggalkan sekarang. Itu dapat menyebabkan masalah serius dan menambah tekanan pada perkembangan sosial dan ekonomi,” jelas Zhang Weiqing, Menteri Komisi Kependudukan dan Keluarga Berencana China. Zhang menyatakan bahwa perubahan apa pun pada kebijakan itu hanya dapat dipertimbangkan setelah angka kelahiran di China mencapai puncaknya dalam 10 tahun mendatang.

Sebuah pengecualian hanya berlaku bagi orang tua yang anaknya menjadi korban gempabumi yang dahsyat beberapa waktu lalu. Banyak keluarga yang anak-anaknya meninggal dunia atau cacat. Karena itu Komite Chengdu mengklarifikasi pedoman kebijakan satu anak. Orang tua yang anaknya menjadi korban diberi sertifikat yang mengizinkan mereka memiliki anak lagi.

Namun aturan ini tetap tidak berlaku bagi masyarakat luas. “Kebijakan satu anak adalah satu-satunya pilihan yang kita miliki, karena kondisi sudah seperti itu ketika kita memulai kebijakan tersebut. Ketika merancang kebijakan, kami memerlukan pertimbangan kenyataan. Jadi, ketika semua berkembang, mungkin ada perubahan kebijakan dan departemen yang relevan akan mempertimbangkan hal tersebut,” kata Wu Jianmin, juru bicara Konferensi Konsultasi Politik Rakyat China.

Tak hanya di China, ketimpangan ini juga terjadi di India. Di India, anak perempuan masih dipandang sebagai beban bagi banyak keluarga. Masalah ini diperparah oleh pembayaran mahar yang meski ilegal, tetap dituntut dalam beberapa komunitas. Saat ini hanya ada 6 bayi perempuan untuk setiap 10 bayi laki-laki di India. Michael Backman mengatakan bahwa fakta ini berkebalikan dengan AS yang pada tahun 2006 justru memiliki 9 juta lebih banyak wanita daripada pria.

Sebuah penelitian dari jurnal kedokteran Inggris, The Lancet, menemukan fakta bahwa ketimpangan gender di antara anak-anak sebenarnya meningkat di kalangan keluarga yang lebih berpendidikan dan lebih makmur yang menyiratkan bahwa mereka lebih pandai mencari celah untuk menghindari hukum. Mereka sanggup membayar prosedur untuk mengetahui jenis kelamin anak dalam kandungan lalu membiayai prosedur untuk membereskan keadaan. Karena peralatan ultasonik makin murah, akan lebih banyak lagi klinik di India yang mampu membeli alat itu.

Akibat surplus pria dan defisit perempuan ini tidak hanya menyebabkan para pria terancam kekurangan ‘stok’ pasangan hidup. Dampak lain sudah menunggu. Michael Backman mengungkapkan bahwa di China, pria yang tidak membentuk keluarga sendiri dikenal sebagai guang gun-er atau “ranting gundul” pada pohon keluarga. Mereka cenderung bergabung dengan kelompok yang terus berpindah dan berkumpul di kota-kota, padahal di sana, tanpa stabilitas dan tanggungjawab seperti yang ada dalam kehidupan berkeluarga, mereka lebh mungkin terlibat kejahatan.

Mau tidak mau, pemerintah China dan pemerintah di beberapa negara Asia lainnya yang kelebihan penduduk kini menghadapi dilemma. Di satu sisi, jika kebijakan satu anak dicabut atau diperlonggar, jumlah penduduk makin tak terkontrol. Di sisi lain, jika kebijakan ini terus berlanjut, kesenjangan antara anak laki-laki dan perempuan pun akan semakin menjulang. Tak hanya itu. Angka aborsi selektif diperkirakan akan membesar. Sejauh ini, pemerintah China telah meluncurkan berbagai kebijakan guna meredam ketidakseimbangan ini melalui kampanye “perhatian bagi anak perempuan” dan pembaruan undang-undang tentang harta warisan.

Untuk mengatasi masalah ini memang tak mudah. Salah satu cara yang dilontarkan oleh Michael Backman adalah dengan ‘mengekspor’ pria baik dengan memperbesar angkatan bersenjata maupun mengirim mereka ke luar negeri. Ini dapat dilakukan mengingat partisipasi China dalam mengirim tentara ke pasukan-pasukan penjaga perdamaian internasional kian besar. Sayangnya, ini adalah cara kuno. Iklan berbunyi “dicari: calon istri” tetap saja akan banyak bergaung. Mungkin Anda memiliki ide untuk mengatasi masalah ketimpangan ini?

Advertisements

3 thoughts on “Dicari: Calon Pengantin Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s