Mari Membaca Buku, Kawan!

 

Reading maketh a full man, conference a ready man,
and writing an exact man.
~ Francis Bacon ~

 

Menarik sekali ketika beberapa bulan silam salah seorang dosen menyuruh kami membaca sebuah artikel yang berjudul ‘Is Google Making Us Stupid?’ yang ditulis oleh Nicholas Carr.  Intinya artikel tersebut berbicara soal kebiasaan kita pada saat ini yang lebih mengandalkan abang google untuk mencari segala sesuatunya. Padahal, kebiasaan membaca lewat google dapat mempengaruhi susunan syaraf otak kita. Lho kok bisa? Bisa karena ketika membaca lewat google, mata kita terbiasa membaca dengan sistem scanning (membaca secara sekilas atau sambil lalu).

Google di satu sisi memang positif, terutama bagi mereka yang membutuhkan sumber informasi secara cepat. Tapi di sisi lain google juga membuat kita merasa malas membaca sebuah buku secara tuntas dan mendalam. Inilah yang membedakan era generasi saat ini dengan era kakek-nenek moyang kita dulu. Sebelum mbah google lahir ke dunia ini, kakek-nenek kita tentu harus membaca buku untuk mencari sebuah informasi. Alhasil nyaris isi seluruh buku pun berhasil dianalisa dan ditangkap otak.

Terus terang, saya pun termasuk orang yang lebih banyak membuka mbah google daripada membaca sebuah buku secara mendalam. Membaca buku memang masih dilakukan, tapi bukan yang utama. Nah ketika ditanya mengapa, beragam alasan pun sudah menggema di pikiran mulai dari malas, harga bukunya kemahalan hingga tidak ada waktu. Pokoknya ada saja seribu satu alasan untuk diungkapkan. Padahal saya suka sekali membeli buku dan mata berbinar-binar ketika melihat buku bagus. “Kok udah beli nggak pernah dibaca-baca?” tanya salah saorang teman. “Ntar ah, blon ada waktu. Yang penting udah beli dulu bukunya. Bacanya ntar aja….”

Berbeda ketika buku yang dibeli adalah buku komik atau novel yang menarik. Meski lebih tebal, pasti habis dibaca duluan. Mau kualitasnya novelnya jelek kek, baik kek. Pasti lahap dibaca. Sampai suatu hari sebuah wejangan melintas: “kalo segala macem dibaca tapi isinya nggak berkualitas, ntar otak lu isinya juga nggak berkualitas, man. Inget, input tu nentuin gimana lu dan gimana output lu kelak”. Jadi ia berkesimpulan bahwa membaca itu baik, tapi jika buku tersebut berkualitas. Hanya terkadang saya tak dapat membedakan mana buku berkualitas mana bukan hingga saya membacanya.

Lain lagi dengan ‘curhat’ salah seorang dosen yang mau tak mau saya dengar. “Duh anak sekarang itu ya, susahhh banget disuruh baca. Nggak kaya jaman dulu, jaohhh”. Saya hanya tersenyum-senyum saja mendengarnya, turut merasa jadi terdakwa sang dosen. Wajar saja jika yang terdengar di kampus saat ini bukan “asikkk, ada referensi buku baru” tapi “dohhhh, males banget gw, besok ada tugas baca lageeee….”. Dosen cuma bisa mengelus dada. Fenomena copy-paste dari mbah google pun merajalela hingga membuat para guru dan dosen ketar-ketir berupaya mencegahnya.

Berbicara soal membaca, kadang kita lupa bahwa ini adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan ditambah pengaruh lingkungan. Maksudnya, kegemaran membaca harus dipupuk sejak anak-anak, terlepas apakah si anak lebih bersifat auditoris (mendengar) atau visual (melihat). Bacaan kanak-kanak membawa si pembacanya berimajinasi tinggi. Bahkan tidak ada salahnya orang dewasa membaca bacaan anak-anak. Yang penting, bacalah di manapun dan kapanpun selagi senggang. Paling tidak bawalah satu buku ke manapun anda pergi. Ini sudah saya praktikkan meskipun buku tersebut lamaaaaa sekali baru selesai dibaca. Inilah yang dinamakan kebiasaan membaca.

Membaca buku di manapun dan kapanpun, bukan berarti menjadikan anda kurang pergaulan atau kutu buku. Salah besar. Membaca buku, meski hanya selembar, akan membiasakan otak kita untuk menganalisa. Berbeda dengan hanya menonton televisi yang sifatnya satu arah sehingga otak kita tidak memiliki kesempatan untuk mengelolan informasi yang diterima. Membaca buku pun saat ini sudah dapat dilakukan melalui buku elektronik dalam laptop atau telepon genggam. Mudah kan?

Oya, membaca buku bukan saja meningkatkan ilmu kita. Membaca juga membuka wawasan kita dalam memandang sesuatu, meningkatkan kreativitas, dan bahkan merangsang kita untuk menulis dan membuat buku. Tatanan kalimat dan perbendaharaan kata pun akan semakin diperbaharui. Saya yakin bahwa orang-orang sekelas Enid Blyton dan Andrea Hirata gemar sekali membaca buku sebelum akhirnya sukses mencetak mahakarya.

Ada banyak orang pintar di dunia ini, namun hanya sedikit yang mampu menuangkan gagasannya dalam bentuk buku yang baik. Sebaliknya, banyak orang-orang biasa yang karena ketekunannya berhasil mencetak mahakarya. Cermati saja bagaimana kisah Charles Dickens. Amati kisah perjuangannya sebelum ia akhirnya berhasil mencetak karya fenomenal sekelas Oliver Twist. Awalnya, Dickens hanyalah seorang yang miskin. Artikel pertamanya sudah puluhan bahkan ratusan kali ditolak. Namun ia tak kenal lelah. Dengan daya imajinasinya yang tinggi dan gaya menulisnya yang khas, ia mampu membuat karya yang hasilnya tak lekang dimakan usia.

Pentingnya membaca pun sudah disadari oleh dunia. UNESCO sendiri sudah menetapkan tanggal 23 April 2009 sebagai World Book Day atau Hari Buku Sedunia. Indonesia pertama kali turut memperingati Hari Buku Sedunia ini tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak seperti pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum. Peringatan World Book Day bertujuan untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak–anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang didapat dari buku dan membaca. Seperti yang telah dibahas, kebiasaan membca dipupuk sejak anak-anak.

Tema yang diangkat dalam World Book Day tahun 2009 adalah “Membaca Untuk Cinta”. Tema ini diangkat untuk mengingatkan kita tentang kecintaan terhadap membaca dan pentingnya berbagi kecintaan membaca kepada orang lain di sekitar kita. Dalam kesempatan yang sama, violis Maylaffayza didaulat sebagai Duta Buku WBD Indonesia 2009. “Pentingnya membaca di lingkungan keluarga tidak hanya membuat orang tua lebih pintar tetapi juga mengasah daya pikir anak untuk terus berkembang. Selain itu, adanya interaksi antara orang tua dan anak tentu akan memupuk cinta kasih dalam keluarga” kata Maylaffayza.

Akhirnya, saya percaya bahwa kebiasaan membaca atau kecintaan membaca tidak perlu menunggu momen-momen seperti World Book Day. Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara rutin dalam kehidupan. Memang, pemerintah perlu mendorong upaya cinta membaca dengan menjamin keterjangkauan harga buku dan mendorong pemanfaatan teknologi e-book. Meski demikian, kebiasaan membaca adalah buah dari kesadaran pribadi. Membaca bukan hal yang membuang waktu. Setelah itu, mudah-mudahan masyarakat tidak hanya rajin membaca namun juga rajin menciptakan buku-buku berkualitas. Bagaimanapun, masa depan bangsa ditentukkan oleh generasi muda yang well-informed. Generasi muda yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan.

Advertisements

7 thoughts on “Mari Membaca Buku, Kawan!

  1. To be fair ya Syl’..

    Skimming itu skill yang semua orang butuh kok, toh gw baca buku pun kalo bukan karya fiksi pasti bakal skimming sampe ke bagian yang gw tertarik. Walau ujung2nya gw baca juga dari awal.. Tapi kalo buat tugas mah.. hehehe..

    Dan sebenernya sekarang yang perlu diperhatiin juga bukan cuma ‘ayo baca!’-nya, tapi kualitas bacaan juga. Mending baca buku-buku sampah yang cuma ngerusak otak apa nonton Discovery Channel hayoo?? Sometimes its not about the ‘hows’ but about the ‘whats’ too.

    Tapi setuju banget kok orang-orang harus lebih sering membaca! 😀

    Eh sekedar tambahan:

    Gw lupa banget gw baca dimana, tapi orang yang sering membaca itu punya kemampuan empathy lebih tinggi dari orang yang ga pernah menyentuh buku! Terus social skillsnya juga lebih bagus..

    Ntar deh gw cari, itu research darimana aja sekarang gw udah lupa. Hahaha!

  2. hmmm, tampak akrab dengan tugas-tugas dan kata-kata dosen di atas. hehehe

    membiasakan diri membaca sebenarnya sama beratnya dengan menjaga makanan sehat masuk ke dalam tubuh. terlihat sepele, tapi susah dilakukan, apa lagi kalau sudah terburu-buru waktu. pdhl dua2nya itu sangat baik untuk perkembangan diri lho..

    gue sendiri yang hobi banget baca harus mengakui bahwa menjaga kebiasaan membaca gue itu berat karena godaan bangun lebih siang, maen2 facebook, atau hal-hal lainnya. makanya tiap hari pun gue memaksa diri gue meluangkan waktu setengah jam tiap pagi buat baca kompas.com. berat tapi menyenangkan.

    gue setuju dgn komen atri: “orang yang sering membaca itu punya kemampuan empathy lebih tinggi dari orang yang ga pernah menyentuh buku! Terus social skillsnya juga lebih bagus..”

    sebenarnya itu lebih karena orang banyak membaca menjadi lebih tau banyak, sehingga itu membuat dia lebih banyak mengerti keadaan di sekitarnya…..

    nice post syl!

  3. Yap, setuju banget na! Kemampuan empati yang lebih tinggi dan social skill yang lebih baik adalah salah satu sisi yang sangat positif dari membaca, bukan hanya menambah ilmu di kepala. Mudah-mudahan makin banyak orang yang menyadari hal tersebut. thx na!

  4. “Tapi di sisi lain google juga membuat kita merasa malas membaca sebuah buku secara tuntas dan mendalam.”
    ….????
    betul, tapi tidak semuanya. Sebab,bahkan google membuat kita semakin semangat sebuah buku secara tuntas dan mendalam. Tentu ada penjelasan logis. Tergantung kitanya, saya fikir.
    Ok, terimakasih, artikelnya insiparatif, dan memotivasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s