China dan Mitos Teknologi Batu Bara Bersih

The problem is that clean-coal plants are a lot more expensive than conventional “dirty coal” technology, and the financial crisis is obliterating schemes that would have paid the extra cost

David G. Victor and Varun Rai – Newsweek Jan 3, 2009

Sudah bertahun-tahun silam media barat memberitakan manuver diplomasi energi dengan perspektif yang ‘miring’. Kebutuhan energi China yang makin tinggi, dituding turut melonjakan harga minyak dunia. Demikianpun dengan ketergantungannya yang sangat tinggi akan batu-bara, ditengarai memberikan kontribusi polusi terbesar bagi dunia. Manuver diplomatiknya juga selalu dikaitkan dengan kepentingan energi. Tak heran jika isu energi dan lingkungan menjadi salah satu fokus utama Menlu AS Hillary Clinton dalam kunjungannya ke China beberapa waktu lalu. Kala itu, isu hak asasi manusia yang secara konvensional didengungkan AS bahkan kalah bergaung daripada isu energi.

Dalam pertemuan tersebut, Clinton menyatakan bahwa AS dan China sama-sama sepakat akan pentingnya kebutuhan untuk mengembangkan teknologi energi bersih (clean energy technology). Teknologi tersebut antara lain mempergunakan sumber daya yang tak dapat diperbaharui serta teknologi pengaman terhadap polutan yang dihasilkan dari pembakaran batu-bara. Maklum. Sejak harga minyak dunia melonjak, pesona murahnya batu-bara makin berkilau. Dalam kesempatan yang sama, China dan AS menyepakati peta kerjasama dalam energi dan perubahan iklim. Pengembangan teknologi batu-bara yang rendah emisi menjadi salah satu poin penakanan kedua belah pihak.

Dengan berbagai pemberitaan semacam ini, adalah hal menarik saat New York Times menulis judul ‘China Emerges as a Leader in Cleaner Coal Technology’ (10 Mei 2009). NY Times menulis bahwa meski masih tercatat sebagai pengguna batu-bara terbesar dunia, dalam dua tahun terakhir China telah menjadi pemimpin dalam membangun teknologi batu-bara yang lebih efisien dengan kadar polusi yang lebih rendah. Saat AS masih mengalami dilemma antara membangun pembangkit listrik tenaga batu-bara yang lebih efisien atau menggunakan tenaga panas, China sudah membangun  pembangkit listrik serupa rata-rata sebuah per bulan.

Tak hanya itu. Saat AS masih berpikir untuk membangun proyek yang dapat mengubah batu-bara menjadi gas sebelum dibakar (yang menghasilkan polusi lebih rendah), China sudah menyetujui pembelian peralatan untuk menghasilkan produk serupa. Saking cepatnya reaksi China, presiden ClimateWorks, Hal Harvey, mengatakan bahwa langkah-langkah yang diambil China kemungkinan adalah langkah yang paling cepat dan serius dalam sejarah pembangkit tenaga listrik. ClimateWorks adalah sebuah kelompok di San Fransisco yang membantu pendanaan proyek untuk mengurangi pemanasan global. Tak hanya itu, teknologi batu-bara bersih yang digalakkan China juga dikatakan turut mengurangi biaya produksi.

Namun sebelum pemberitaan ini muncul, berbagai kritik terkait teknologi batu-bara bersih telah bermunculan. Greenpeace Internasional mengatakan bahwa teknologi ini tak lebih dari kebohongan industri yang sangat memuakkan. Dalam hal pengembangan teknologi, batu-bara tidak mungkin menjadi “murah” karena efisiensi batubara dengan teknologi paling canggih sekalipun hanya dapat mencapai angka 38%.  Kalaupun terjadi pengembangan teknologi yang hebat, maksimal tingkat efisiensi batubara adalah 50%. Di samping itu, slogan “batu-bara bersih” hanyalah perubahan merek dagang. Greenpeace menilai teknologi hanya akan membuat batu-bara sedikit lebih bersih namun CO2 tak dapat dihilangkan begitu saja.

Di samping itu, pengembangan batu-bara bersih juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam artikel berjudul ‘Dirty Coal is Winning’ (Newsweek, 3 Januari 2009),  David G. Victor and Varun Rai mengatakan bahwa dalam kenyataannya, pengembangan batu-bara bersih lebih mahal daripada teknologi ‘batu-bara kotor’ konvensional. Artinya, biaya produksi justru akan bertambah terlebih krisis keuangan masih berlangsung saat ini. Sebelum krisis saja, sebuah kelompok dari Universitas Stanford menemukan bahwa dunia hanya berinvestasi sebesar 1% untuk mengembangkan teknologi batu-bara bersih dalam rangka mengurangi tingkat emisi karbon. Masalah lain, pendekatan ‘gasifikasi’ yang dipandang memiliki tingkat efisiensi tinggi ternyata menghasilkan polusi yang tinggi.

Secara garis besar teknologi batu-bara bersih (clean coal technology) adalah teknologi yang digumakan dalam rangka menurunkan kadar polusi tinggi yang lazim dihasilkan dalam proses pembakaran batu-bara untuk keperluan energi.  Adapun secara teknis, ruang lingkup dari teknologi batu-bara bersih terdiri dari tiga bagian. Ketiganya adalah proses dan produksi batu-bara (coal mining, coal preparation, coal blending, coal briquetting, dan coal water mixture); transportasi dan penyimpanan; serta proses konversi batu-bara (combustion, pyrolysis, gasification, liquefaction, dll). Upaya ini dilakukan dengan tujuan menghasilkan batu-bara dengan kadar emisi yang lebih rendah.

Konsep teknologi batu-bara bersih yang diterapkan oleh tiap negara berbeda-beda. Sebagai contoh China menerapkan proses combustion, pyrolysis, gasification, dan liquefaction sementara Indonesia lebih menyinergikan antara pembangkit panas dari energi nuklir (PLTN) sebagai penyedia panas dalam proses gasifikasi dan pencairan batu bara (gasification dan liquefaction). Proses gasifikasi dan pencairan batu-bara menggunakan suhu dan tekanan tinggi untuk melakukan pembelahan terhadap inti bahan nuklir uranium maupun campuran uranium dan thorium yang emisisnya dapat dikatakan nol. Namun masih belum ada penelitian mendetail mengenai emisi yang dihasilkan selama proses ini.

Di luar kontroversi terkait efektivitas dan investasi yang mahal, teknologi batu-bara bersih masih dipertimbangkan sebagai salah satu upaya alternatif penting dalam mengurangi tingkat polusi udara yang makin mengancam kehidupan. Direktur Beijing Research Institute of Coal Chemistry (BRICC), Dr Xu Zhengang menyatakan bahwa batu-bara diperkirakan masih akan mendominasi penggunaan energi pada masa mendatang sehingga teknologi batu-bara bersih adalah sebuah langkah strategis. Pada Maret 2008, China dan Australia menandatangani perjanjian resmi dalam bidang penelitian dan uji coba teknologi batu-bara bersih. Pada April 2008, kedua negara pun menyepakati Australia-China Joint Clean-Coal Project.

Keputusan yang diambil China dan Australia sangatlah strategis. Memang, belum ada jaminan bahwa teknologi batu-bara bersih dapat efektif dalam mengurangi kadar emisi karbon. Biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi ini pun tak sedikit. Namun daripada diprotes dunia karena mengotori lingkungan, negara-negara pengomsumsi energi terbesar pun lebih memilih menerapkan teknologi batu-bara bersih. Di samping itu, ongkos berikut dampak sosial guna membeli minyak-gas bumi dan membangun sumber energi alternatif, jauh lebih besar. Sebagai contoh, pembangunan pembangkit energi three gorges dam yang sangat kontroversial di China, hanya memenuhi 3% kebutuhan listrik penduduknya.

Dengan kata lain, China telah menyadari fungsi strategis pengembangan teknologi batu-bara bersih dan meresponnya dengan reaksi cepat. Saat ini, kita hanya dapat berharap pemerintah para elit di tanah air pun memiliki sikap serupa dalam hal vital bagi bangsa Indonesia seperti ini, jauh melebihi kecepatan merespon perubahan iklim politik demi kepentingan pragmatis pribadi dan kelompok semata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s