Sebuah Oase di Taman Suropati

DSCI1604

Seorang konduktor mengangkat tangannya. Sesaat kemudian, suara biola mengalun indah. Ada yang memainkan nada rendah, ada pula yang memainkan nada sedang dan tinggi. Sebuah harmoni pun mengalir meski masih terasa fals.

Tapi ini bukan pertunjukan New York Philharmonic Orchestra.
Bukan pula pertunjukkan Jakarta Philharmonic Orchestra.

Melaju ke sisi lain, aku melihat musisi biola lainnya.

Para musikus ini tidak terdiri atas cewek-cewek seperti halnya Vanessa Mae, Bond, ataupun Maylafayza. Mereka adalah para cowok. Usia mereka masih sangat muda, mungkin di bawah 17 tahun. Gaya berbusana juga jauh dari kata formal. Semua memakai sandal jepit dan celana santai tigaperempat. Juga berkaos oblong.

Sambil melepas penat, kunikmati nada yang lebih sering terdengar patah-patah. Tapi kali ini agak lain. Untaian nadanya terdengar lebih harmonis karena ‘ditopang’ oleh kocekan sebuah gitar dengan ritme yang stabil.

Heal the world….. Make it better place…. For youuuu…. ngek ngok ngek ngok. Lagu yang masih separuh nyanyian separuh biola-gitar itu berhenti. Berganti menjadi harmoni biola-gitar seutuhnya hingga akhir refrain. Sangat indah. Sayang tak selesai. Lagu ini kembali mereka nyanyikan dengan bahasa Inggris lupa-lupa ingat.

Harmoni biola juga bersahut-sahutan dengan berbagai bunyi lain. Ada bunyi orang mengobrol, orang bergumam, klakson mobil, klakson motor, kicau burung, air mancur, hingga orang berteriak dari atas sepeda: kopiiii-kopiiii atau rokok rokokkk!

Wajar saja. Wa-jar jar jar.
Soalnya ‘orkestra mini’ ini berlangsung di sebuah taman kota yang terjepit hiruk pikuk ibukota. Taman Suropati, begitu orang menyebutnya. Suguhan ini menarik bagiku yang selama ini lebih sering melihat mall dan perkantoran daripada taman. Kalau bicara bunyi-bunyian, paling banter pengamen. Lebih sering deru bajaj.

Tapi Taman Suropati menyajikan suatu pemandangan yang sungguh berbeda.

Tak jauh dari kelompok biola ‘Heal the World’ tadi, beberapa perupa asyik menekuni gambarnya. Aku melangkah pelan-pelan. Mengamati lukisan demi lukisan. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya dua-tiga. Sebuah lukisan menggambarkan taman Suropati dengan arsiran pensil bergaya ‘benang’, sebuah gaya khas perupa di sini.

Nama aliran ‘benang’ ini baru saya ketahui usai berbincang dengan Samuel, salah seorang perupa yang sudah berkarya di taman ini selama satu tahun. Samuel berpenampilan layaknya seniman ‘tulen’. Rambutnya gimbal ala kaum hippies Nikaragua. Pakaiannya semi compang-camping. Tapi tak pernah kusangka pemuda ini bermatapencaharian sebagai art-creative team di salah satu radio. Meski sama-sama berlabel seni, radio dan kertas tentu merupakan dua media berbeda.

Selain Samuel, juga ada Topik yang berkepala licin dengan anting-anting plastik berwarna putih menjulur dari kedua telinganya. Meski berpenampilan bak seorang perupa, ia tidak belajar menggambar. Ia belajar gitar klasik. Aku penasaran..

“Bang, selain divisi gambar sama biola, ada divisi apa lagi di sini?”
“Banyak….. ada divisi gitar, divisi tari, divisi teater, dan divisi-divisi lainnya. Hari Minggu semua divisi ngumpul jam 2 sore. Kalo mo gabung bolehhh…”

Topik tersenyum sesaat.
“Ada juga divisi bahasa Jepang malah…”
“Oh yaaaa?”
“Iyaaa, hari senin bahasa Jepang hari Rabu bahasa Inggris…. Kita berharap ada yang bisa bahasa mandarin juga….”
“Oohhhhhh……Luar biasa bang…..”

Samuel menyambung kalimat Topik.
“Tanggal 8 Agustus entar, kita juga bakal bikin pertunjukkan wayang beber kedua. Wayang beber ini sebelumnya udah pentas di hadapan wapres. Wayangnya digambar pake pensil lho… Ntar dateng aja.”
“Emang kalo pake pensil bisa keliatan dari jauh gitu Bang? Sama penonton yang duduknya di belakang?”
“Keliatannn, kan pake lighting. Jadi wayang beber tuh pake gambar yang digulung panjang per cerita.”
“Tetep ada narasinya bang?”
“Dalang? Ya tetep ada….Ntar semua musiknya digabung dari sini semua”
“Wow, luar biasa bang…..”

Pembicaraan ke arah yang sedikit lebih berat berlanjut. Samuel mengutarakan ketidaksetujuannya soal wayang beber yang sangat diritualkan sehingga membuat seniman terbelenggu. Samuel juga menjawab pertanyaan saya mengenai komunitas yang lebih banyak didukung ISI Yogyakarta, bukan lembaga seni di Jakarta.

“Ngomong-ngomong dulunya Taman Suropati ini dikenal sebagai sarang perampok”
“Ah, yang bener Bang?”
“Bener… tuhhh (telunjuknya mengarahkan mata saya ke aras sebuah ‘camp’ kecil yang sayangnya tak terlihat jelas). Itu dulunya jadi tempat transit mereka. Tapi sekarang jadi base-camp kita!”
“Wah, keren Bang!”
“Iya, sayangnya taman-taman lain seperti taman Menteng, masih jadi sarang narkoba. Intinya, kita ingin memberikan suasana baru pada taman. Taman bukan hanya untuk diliat. Tapi bukan berarti kita jadi penguasa semua taman lho…”
“.Iyaa…luar biasa Bang.”
“Kalo mau gabung ajaaa.”

Tak berlebihan menyebut mereka luar biasa. Mungkin juga karena aku yang cukup katrok. Sebelumnya, aku tak mengetahui keberadaan taman ini. Informasi pun tak pernah saya dengar. Padahal menurut Samuel, kegiatan mereka di Taman Suropati ini sudah diliput berbagai media.

Tak enak hati akan menganggu Samuel dan Topik lebih lama, aku berpamitan pulang dengan embel-embel serius akan kembali berkunjung. Keduanya mengangguk dan menjabat tanganku dengan erat. “Ya silakan datang lagi……”

Gesekan biola masih terdengar saat kulangkahkan kaki ke arah trotoar. Mataku menangkap sekelompok pemuda yang tengah bersantai di tepi taman. Mengira ada kelompok biola lainnya, kuberi mereka seulas senyum hangat. Mereka membalas senyumku dengan pertanyaan. “Kopinya nengggg…….???”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s