KAKA

Bicara tentang gaya hidup pemain bola, ingatan kita umumnya terarah pada gaya hidup selebritas: glamor dan elit. Biaya transfer dan upah seorang pesepak bola ternama (di klub ternama di bumi belahan Barat, tentunya) jumlahnya sama dengan APBD di beberapa wilayah di Indonesia. Ratusan miliar rupiah sekali transfer. Tidak heran jika kekayaan material bergelimang menghiasi kehidupan para pemain ini.

Tapi lain dengan Kaka. Sebuah artikel yang sangat menarik terantum dalam majalah TEMPO edisi 15-21 Juni 2009 (hlm 46-47). Dalam tag-linenya, TEMPO menulis soal Kaka: Manusia 948 Miliar: Gaya hidup Kaka jauh dari glamor. Itu juga yang membuatnya tetap menjadi pemain nomor satu dan berharga mahal. Kaka memang diganjar dengan angka sebesar itu atas oleh presiden Real Madrid yang baru, Florentino Perez. Angka sebesar ini tanpa ragu dibayar kontan oleh sang presiden.

TEMPO menulis bahwa Kaka memiliki gaya hidup yang berbeda dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya seperti Ronaldinho, Ronaldo, dan Adriano hidup dikelilingi dengan mobil mewah, clubbing, dan wanita, Kaka memilih untuk mengelola dirinya dengan lebih baik. Ia lebih tertarik menyumbangkan uangnya untuk kegiatan agama karena baginya, semua yang dia peroleh semata pemberian Tuhan.

Gaya hidup lainnya, bacaan favorit Kaka adalah Injil dan menggemari musik gospel. Kaka bahkan tidak pernah bermain dengan wanita dan bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Suatu hal yang relatif jarang ditemui di tengah glamoritas kehidupan para pesepak bola ternama. Tampilannya santun dan selalu mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Ini adalah sebuah gaya hidup yang saya pelajari. Dengan sebuah kerendahhatian, kesederhanaan, dan tidak cepat puas dengan apa telah diraih, nilai kita akan selalu langgeng. Para pesepak bola yang berfokus pada upaya lepas dari kemiskinan semata (mengejar kekayaan), meski ia adalah seorang pemain hebat, gaungnya akan cepat pudar. Ia akan melesat dengan cepat, namun juga akan merosot dengan cepat.

Seorang pemain hebat yang kesehariannya hanya leyeh-leyeh alias malas berlatih, nilainya akan ‘turun’ di mata para pendukungnya, minimal di mata pelatihnya. Sudah banyak pelatih yang menyatakan kekesalannya karena sang bintang tak datang tepat waktu untuk latihan karena semalam suntuk mereka clubbing. Padahal, kehebatan tidak berarti apa-apa tanpa latihan yang tekun disertai dengan kerendahatian.

Apa yang dilakukan Kaka tidak hanya mengingatkan para pemain bola agar pandai mengelola diri. Kaka memberi contoh nyata bagaimana seharusnya seseorang berkarya: motivasinya, ketekunannya berlatih, respon setelah memperoleh harta, respon setelah diangkat sebagai seorang superstar, dan masih banyak lagi. Sesaat terdengar sederhana, namun belum banyak ‘Kaka-Kaka’ lainnya.

Motivasi meraih kekayaan yang sebesar-besarnya demi kemakmuran diri sendiri dan keluarganya atau kelompoknya, masih santer mewarnai kehidupan Indonesia. Tak heran jika kasus korupsi muncul bak cendawan di musim hujan. Motivasi meriah ketenaran instan tanpa pengelolaan diri yang baik pun banyak menjatuhkan kehidupan sang bintang. Entah karirnya, entah keluarganya.

Setelah mengalami kesulitan, lebih banyak lagi yang menyalahkan nasibnya atau menyalahkan orang lain sebagai penyebab kemalangannya, tanpa pernah bercermin pada perbuatannya. Bahkan sering terdengar: “….ya udahlah, mungkin ini cobaan dari Tuhan”. Menyesatkan. Bisa jadi apa yang menimpa dirinya adalah karena kesalahan sendiri, bukan karena Yang Di Atas sedang iseng mencobai umatNya.

Kalau disingkat, inilah beberapa hal yang saya pelajari dari seorang Kaka:

Memiliki motivasi melakukan untuk Tuhan, bukan meraih kekayaan
Itu sebabnya Kaka tidak mengiyakan tawaran dari kelompok lain meskipun nilai euro-nya jauh lebih tinggi daripada yang ditawarkan Real Madrid.
Kesadaran bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia Tuhan
Itu sebabnya Kaka tidak menjadi sombong ketika meraih ketenaran dan kekayaan.
Memiliki pengelolaan diri yang baik, bertanggungjawab atas kehidupannya
Menghindari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri (kelebihan pesta, merokok, seks bebas, bermain wanita). Sebaliknya, Kaka melakukan hal-hal yang dapat menunjang kemajuannya: tekun berlatih, menyayangi keluarga, dll.
Tidak ikut arus dan memiliki prinsip hidup yang kokoh
Ini masih terkait dengan upaya pengelolaan diri secara bertanggungjawab. Meskipun mayoritas teman-temannya lebih gemar clubbing dan bermain wanita, Kaka tidak pernah melakukannya. Kaka memegang prinsip-prinsip hidupnya dengan teguh, menarik garis batas yang amat jelas antara yang positif dan negatif.

Gaya hidup Kaka ini tentu menjadi dambaan bagi kita semua. Tapi ini semua adalah soal keputusan, jangan berhenti sebatas dambaan. Semua merupakan proses namun harus dimulai sejak detik ini. Saya pun masih belajar, masih berproses. Saya bisa membayangkan respon teman-teman Kaka ketika ia bangga dengan status perjakanya sebelum menikah. Juga dengan kebiasaannya membaca Injil dan mendengar gospel.

Saya jadi ingat kata-kata guru PPKn pada masa silam yang mengatakan: kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Kita bebas untuk memilih dan mengambil keputusan. Namun jika motivasi kita dalam menjalankan kebebasan salah: hanya digunakan untuk kepentingan diri dan berupaya meraih kekayaan semaksimal mungkin, ada baiknya kita melirik Kaka.

Jangan heran kalau hingga detik ini ‘nilai’ Kaka masih tetap sangat tinggi yang tentu tidak bisa diukur dengan nilai nominal 984 miliar. Bukan semata-mata karena kehebatannya mengolah si bundar tapi karena gaya hidupnya. Karena ia mengambil kebebasannya secara bertanggungjawab. Karena ia pandai mengelola diri.

Saya jadi membayangkan apa jadinya Indonesia jika seluruh rakyatnya pandai mengelola diri. Dan saya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika para pemimpin bangsa yang bertugas mengelola bangsa ternyata tidak mampu mengelola diri. Seorang pemimpin yang tidak dapat mengelola diri, jangan harap ia dapat sukses mengelola kelompok atau bangsanya. Tidak mungkin. ‘Nilai’nya akan cepat jatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s