Perokok Pasif yang Tak Berdaya

Smokers take a health risk every time they choose to light up.

That is their decision and their choice. But just as smokers have right to smoke, non-smokers also have a right to fresh air

(Queensland Cancer Fund)

Malam sudah larut. Bau asap rokok memenuhi ruangan berukuran kira-kira dua kali tiga meter. Untung saja pintu rumah terbuka. Yang mengisap adalah tiga orang wanita dan dua orang pria. Seorang ibu yang duduk tepat di samping saya, mengepulkan asap rokoknya tanpa ragu. Persis di sampingnya, seorang anak berusia sekitar tiga tahun bergelayutan. Ia merokok tepat di hadapan anaknya, tanpa merasa terganggu.

Inilah suasana mengagetkan yang saya lihat ketika menghadiri ’selamat kecil-kecilan’ dari anak salah seorang rekan yang hari itu disunat. Sambil berupaya menahan napas setengah-setengah (karena saya cukup alergi dengan asap rokok), saya tatap si anak yang baru disunat. Ia berbaring di antara kepungan asap dari berbagai penjuru. Tak terganggu nampaknya. Untung saja seorang rekan lainnya mengajak saya keluar.

Bagi saya, ini adalah sebuah pemandangan menyedihkan. Sangat menyedihkan. Tapi mungkin sebenarnya sudah sangat biasa. Saya sudah pernah melihat seorang ibu yang merokok tepat di hadapan anaknya yang berusia 22 tahun. Saya juga sudah pernah mendengar bagaimana seorang rekan mampu bertahan di tengah sergapan asap rokok yang diisap seisi anggota keluarga. Pun saya sudah mendengar ada dokter yang tentu paham bahaya rokok namun justru memutuskan untuk memilihnya.

Merokok atau tidak adalah sebuah pilihan pribadi. Bosan sudah para ahli menjelaskan bahaya rokok. Sudah sangat lama dan menjemukan. Tapi melihat situasi kemarin, saya kembali prihatin. Bukan pada yang merokok (karena mereka tentu sudah tahu apa yang akan mereka tuai kemudian), tapi kepada yang di-rokok-i. Sayang sekali saya masih belum memiliki keberanian untuk menegur dan hanya mampu berkesal-kesal ria di dalam hati. Sambil terus menahan napas setengah-setengah.

Mungkin para perokok di rungan ini ada yang belum menyadari bahwa asap yang dihasilkannya juga mengandung ’bisa’ bagi yang tidak merokok, apalagi bagi anak-anak. Atau bisa jadi hanya sedikit yang paham UU pelarangan merokok di tempat- publik, meski si penegak hukum pun sering berperan sebagai si pelanggar.

Tanpa bermaksud menghakimi, ada baiknya perokok aktif menyadari dampak rokok bagi lingkungannya, jika memang ia tidak mengindahkan dampak rokok bagi dirinya. Gogirl edisi Juni 2009 berjudul ‘Bahaya Perokok Pasif’menulis bahwa jika sesekali menghirup asap rokok, efek langsung yang dirasakan perokok pasif “hanya sekedar” iritasi mata, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, dan sesak nafas. Makin sering menghirup asap rokok, makin besar pula kemungkinan terkena infeksi/kanker paru.

Artikel yang sama menulis bahwa setengah dari jumlah anak di dunia (juga di Indonesia) adalah perokok pasif. Mereka sudah terkena penyakit pernapasan seperti asma, bronchitis, dan pneumonia. Dari semua kelainan yang dialami perokok pasif anak-anak, Sudden Infant Death Syndrome atau kematian mendadak pada anak tercatat sebagai yang paling sering terjadi. Sayang, ini belum dipahami oleh para orangtua. Tapi saya juga salah karena tidak berani memberitahu si ibu tadi.

Hati makin miris manakala majalah TEMPO edisi 29 Juni-5 Juli 2009 (hal 160-161) memberitakan bahwa British American membeli Bentoel meski tarif cukai tinggi. Dalam artikel disebutkan pula pandangan dari seorang analis bahwa inovasi teknologi rokok mampu menciptakan permintaan baru di kalangan yang sebelumnya tidak merokok. Perusahaan rokok bertahan karena masih ada celah untuk berkembang di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia sangat potensial secara ekonomi.

Memang, hingga saat ini Indonesia tercatat sebagai satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Salah satu isi dari FCTC ini antara lain membahas perkara perlindungan terhadap perokok pasif. Dengan kata lain, tujuan FCTC adalah melindungi generasi yang akan datang. Maka dapat dibayangkan apa jadinya jika FCTC tak kunjung diratifikasi karena berbagai alasan. Para perokok (dan pemerintah) umumnya membela diri dengan mengatakan bahwa jutaan tenaga kerja akan luntang-lantung manakala industri rokok goncang.

Aneh juga mengingat AS sudah memberlakukan pembatasan konsumsi rokok yang makin ketat dilakukan di bawah pemerintahan Obama. Dibandingkan dengan SARS, flu burung (H5N1) atau flu babi (H1N1) yang lebih agresif dengan masa inkubasi yang singkat, pembunuhan yang dilakukan oleh rokok memang lebih bersifat jangka panjang. Tapi malang nian orang yang tidak merokok namun harus turut menanggung penyakit akibat terpaksa menghirup paparan asap rokok di lingkungannya.

Memang, beberapa perokok sudah sadar diri pada saat merokok dengan menjauhi orang yang tak merokok atau minimal mengarahkan puntung rokoknya agar asap tak mengarah langsung pada non-perokok. Tapi masih banyak yang tidak bertenggang rasa dengan melakukan pembunuhan secara perlahan pada orang-orang di sekitarnya. Apalagi jika orangtua secara sadar merokok di depan anaknya….

Mencium asap rokok, tubuh saya mengeluarkan reaksi yaitu pusing dan sedikit mual. Bagaimana dengan perokok pasif yang sudah kebal hingga merasa tak terganggu? Sekali lagi tanpa bermaksud menghakimi, perokok aktif sebaiknya tahu situasi dan tempat saat akan merokok, jika belum mampu melepaskan ketergantungannya dari zat adiktif tersebut. Bagi non-perokok, jauhi mereka yang sedang merokok. Jika tak memungkinkan, tegur secara halus (meski saya sendiri belum berani melakukannya).

Cara menghindari diri masih menjadi satu-satunya andalan. Mengharapkan pemerintah bertindak setegas Obama masih seperti berharap jatuhnya koin emas dari langit. Masih menjadi angan-angan yang entah kapan terwujud. Terlalu banyak kepentingan yang bermain. Yang lebih jelas: terlalu banyak aparat pemerintah sendiri yang terlanjur nyandu pada rokok. Generasi muda jadi korban sukarela. Bau-bauan ini berulangkali terpaksa saya hirup di angkot, warnet, bahkan kantor pemerintah.

Sepulangnya dari acara sunatan tadi, saya pulang ke rumah dan mendapati aroma tembakau yang amat lekat pada baju dan tubuh. Sangat membuat kepala puyeng. Segera saya mandi dan mencuci baju untuk menghilangkan aroma yang menurut saya sangat tak sedap dan menganggu. Dalam hati saya berharap anak-anak di ruangan tadi memiliki kekebalan tubuh dan tekat untuk di kemudian hari tidak mengambil pilihan yang keliru. Bukan soal siapa benar siapa salah. Sama sekali bukan. Hanya soal pilihan untuk bertenggang rasa terhadap sesama. Peace for all, sehat selalu untuk semuanya! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s