Strategic Economic Dialogue: Dialog ‘Win-Win’ China-AS

Let’s be honest… some in China think that America will try to contain China’s ambitions; some in America that think there is something to fear in a rising China.

I take a different view

Barack Obama, U.S President in Opens Policy Talks With China – July 27, 2009

Cukup banyak kesepakatan yang dikemukakan dalam Strategic Economic Dialogue (SED) China-AS yang digelar 27-29 Juli 2009. China maupun AS sepakat bahwa penguatan kerjasama bilateral dalam berbagai bidang, harus terus berlanjut. Pasalnya, kerjasama dua negara superpower ini turut menentukkan struktur geopolitik-ekonomi dunia dewasa ini. Seperti pendahulunya, Barack Obama pun mengambil kesempatan menyambangi negeri Panda ini guna berbincang secara langsung dengan China.

SED kali ini sudah menunjukkan perkembangan dari SED-SED sebelumnya. SED diresmikan pertama kali pada 29 September 2006 oleh presiden Bush dan presiden Hu Jintao yang sepakat untuk mendiskusikan isu-isu ekonomi dalam “tingkat tertinggi pemerintahan”. Bagi China, SED bermanfaat untuk menciptakan mekanisme koordinasi makroekonomi jangka panjang dan perdagangan bilateral dengan AS. Bagi AS, SED menjadi wadah potensial untuk mendorong China mengimplementasikan kebijakan pasar terbukanya secara penuh, termasuk soal kebijakan mata uang Yuan.

Perbincangan pada SED-SED sebelumnya lebih bertumpu pada isu makroekonomi, perdagangan, dan lingkungan. Dalam SED pertama yang diselenggarakan pada 14-15 Desember 2009, misalnya, topik pembahasan meliputi: kebijakan makroekonomi, inovasi dan perlindungan hak kekayaan intelektual, energi dan lingkungan, serta layanan jasa dan investasi. SED 2007 juga menghasilkan beberapa Memorandum of Understanding (MoU) seperti  MoU manajemen lingkungan hidup, MoU keamanan produk ekspor, MoU promosi turisme bilateral, dan MoU kerjasama perdagangan. Hal yang kurang lebih sama menjadi agenda pembahasan dalam SED tahun 2008.

Seiring terjadinya dua peristiwa besar: pergantian tampuk kepemimpinan di AS dan krisis keuangan global 2008-2009, SED 2009 dipaksa beradaptasi dengan berbagai isu baru di samping isu lama seperti besarnya selisih neraca perdagangan kedua negara dan lingkungan hidup. Untuk itu, dialog yang juga disebut sebagai ‘strategic track’ dan ‘economic track’ ini memperluas cakupan isu pembahasan dan memperdalam pembicaraan isu-isu lama. Topik utama pembahasan SED 2009 adalah hubungan China-AS dalam berbagai bidang, kerjasama ekonomi dan keuangan, kerjasama dalam isu-isu global, serta kerjasama dalam isu-isu regional dan internasional.

Terkait hubungan China-AS, kedua negara sepakat bahwa hubungan yang bersifat saling menguntungkan antar kedua negara harus terus dikembangkan dalam berbagai bidang: ekonomi, militer, sosial-budaya, dll.

Terkait kerjasama ekonomi dan keuangan, ada empat kesepakatan yang berhasil dicapai. Pertama, AS dan China akan terus mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan berkelanjutan guna memulihkan kondisi ekonomi dunia. Kedua, dua negara akan bekerjasama membangun sistem keuangan dan meningkatkan peraturan keuangan dan pengawasan. Ketiga, dua negara berkomitmen untuk membuka pintu lebar-lebar bagi perdagangan dan melawan proteksionisme. Terakhir, dua negara sepakat bekerjasama dalam reformasi dan penguatan lembaga keuangan internasional untuk meningkatkan peran negara-negara berkembang, termasuk China.

Terkait kerjasama dalam isu-isu global, isu lingkungan dan energi kembali menjadi topik pembahasan hangat. Kedua negara ini sama-sama tercatat sebagai pengonsumsi energi terbesar dan penghasil karbondioksida tertinggi di dunia. Dalam dialog ini, kedua negara menandatangani MoU kerjasama bilateral energi, perubahan iklim, dan lingkungan. Seperti yang dikatakan oleh Menlu AS, Hillary Clinton, kerjasama ini menjadi kerangka dalam membangun ekonomi yang ramah lingkungan. Kedua belah pihak juga sepakat terhadap pentingnya Framework for Ten Year Cooperation on Energy and Environment dalam memfasilitasi kerjasama energi dan lingkungan.

Perbincangan juga memuat berbagai terkait isu-isu regional dan internasional. Isu-isu yang mengemuka antara lain adalah stabilitas di kawasan Semenanjung Korea, serta stabilisasi keamanan di kawasan Timur-Tengah dan Sudan. China dan AS juga menyatakan sikap oposisinya terhadap aksi-aksi terorisme dan mendiskusikan rencana Nuclear Nonproliferation Treaty (NPT) Review Conference and the Conference on Disarmament (CD) yang akan diselenggarakan pada tahun 2010.

Yang menjadi catatan penting dalam SED 2009 adalah dialog ini berlangsung di tengah merebaknya kasus Xinjiang dan menjulangnya defisit ekonomi AS. Tak heran jika kedua negara maupun dunia, sama-sama mengarahkan fokus utamanya pada pertemuan kali ini. Kerjasama China dan AS dalam aneka bidang ini jelas tak hanya berpengaruh pada hubungan bilateral namun juga berdampak pada komunitas internasional. Menariknya, berbagai pihak di China berharap pembahasan ekonomi lebih ditekankan daripada isu strategis seperti Xinjiang. Nyatanya, isu yang potensial memancing perdebatan ini memang tidak terlalu bergaung dalam pembahasan SED.

Isu lain yang mendapat sorotan utama masih mengenai besarnya defisit perdagangan AS terhadap China yang antara lain disebabkan oleh terlampau melonjaknya ekspor China ke AS, nilai mata uang Yuan yang tidak fleksibel dan tingginya angka konsumsi AS berbanding dengan tabungannya. Untuk itu AS mengulangi permintaannya pada China untuk membuka pasar uangnya, melepaskan diri dari ketergantungan ekspor, dan meningkatkan permintaan dalam negerinya. Sebaliknya, China sempat menyindir konsumsi AS yang sangat besar yang melebihi tabungannya.

Sebagai pendukung dari kerjasama antar aktor negara seperti dalam Joint Economic Commisions, Joint Commission on Commerce and Trade, dan Strategic Economic Dialogue, kerjasama antar aktor non-negara rasanya juga perlu terus dikembangkan. The US-China Business Council (USBC) yang beranggotakan pebisnis China dan AS dan The National Committee on United State-China Relations (NCUSCR) yang beranggotakan masyarakat China dan AS merupakan contoh kerjasama antar aktor non-negara yang sangat positif bagi kedua negara maupun bagi dunia.

Komunitas internasional tentu berharap kerjasama ini dapat terimplementasi tak hanya sebatas penguatan hubungan bilateral namun juga sebagai simbol keterpaduan dua negara terbesar dunia dalam menghadapi aneka tantangan global. Bagaimanapun juga, kedua negara ini saling bergantung. Kedua negara juga berperan penting dalam berbagai isu internasional seperti yang dikemukakan Menkeu AS, Timothy Geithner dan Menlu AS, Clinton: “Ada masalah global yang hanya bisa diselesaikan oleh AS dan China. Sedikit yang dapat diselesaikan tanpa AS dan China bersama-sama”.

Advertisements

One thought on “Strategic Economic Dialogue: Dialog ‘Win-Win’ China-AS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s