Reaksi Cepat Clinton dan HUT ke-64 RI

Reaksi cepat, seperti yang didengungkan oleh salah satu pasangan capres-wapres Pemilu 2009 dalam beberapa konteks memang dibutuhkan. Setelahnya, reaksi tepat pun harus segera menyusul. Sesaat setelah terjadinya pengeboman di hotel JW Mariott dan The Ritz Carlton, para tamu hotel yang selamat bergegas menolong korban luka parah. Hotel-hotel lainnya bergegas menerjunkan anjing-anjing pelacak untuk menyisir basement. Kepala daerah di seluruh pelosok bergegas menerjunkan aparat guna melakukan pengamanan dan pemeriksaan.

Reaksi cepat ini, sayangnya, masih dilakukan sebagai upaya kuratif, bukan strategi awal. Ketika intelijen menemukan sepercik informasi, reaksi cepat tak muncul meski keselamatan penduduk menjadi taruhan. Reaksi yang sama muncul tatkala ribuan TKI dan anak-anaknya menggumuli nasib di tanah seberang, ketika keluarga David Hartanto Widjaja yang berbaju batik saat menghadiri sidang mati-matian berjuang membersihkan nama baik anaknya, ketika masyarakat Porong berteriak menuntut ganti rugi yang tak kunjung tuntas.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Samuel Mulia dalam kolom tentang orang ‘VVIP’ dan non ‘VVIP’ (Kompas Minggu, 9 Agustus 2009), reaksi cepat ironisnya baru muncul manakala yang terlibat adalah orang yang dipandang VVIP. Reaksi cepat muncul saat Meutia Hafid dan Boediono disandera kaum ekstremis Irak. Itu baik. Reaksi cepat datang saat tentara Israel melakukan agresi ke tanah Palestina. Itu juga sangat baik. Namun reaksi cepat juga hendaknya tidak mengenal agama maupun ras, atau perbedaan apapun juga.

Reaksi cepat Clinton saat membebaskan dua jurnalis AS di Korea Utara beberapa waktu silam dapat menjadi salah satu contoh yang baik. Dua orang yang berhasil dibawa pulang Clinton jelas bermata sipit dengan darah dan nama Asia, Laura Ling dan Euna Lee. Meski tak mengakui bahwa keberhasilan pembebasan tersebut adalah buah pekerjaan tangan pemerintah, beberapa analis yakin bahwa Departemen Luar Negeri dan Utusan Korea Utara terlibat dalam negosiasi intensif. Apalagi Kim Jong Ill terkenal sebagai sosok yang sangat sulit ditemui, termasuk oleh para utusan PBB.

Barack Obama dalam wawancaranya dengan MSNBC pun mengatakan bahwa upaya ini adalah jejak menuju hubungan yang lebih baik, meski Korea Utara tetap wajib patuh terhadap hukum internasional. Dengan kata lain, upaya pembebasan ini bukan semata-mata dipandang sebagai reaksi cepat yang emosional namun juga sebuah reaksi cepat yang bijak (tepat, menurut salah seorang capres) dan bersifat jangka panjang, bukan lagi reaksi kuratif.

Kembali pada tanah air, banyak sekali reaksi yang terlampau lambat atau reaksi yang cepat namun keblinger. Kita lambat sekali bereaksi terhadap gundulnya hutan-hutan, pencemaran lingkungan, dan korupsi. Namun cepat sekali kita bereaksi terhadap kemajuan jenis handphone dan blackberry. Aparat penegak hukum begitu lambat beraksi terhadap korupsi internal namun begitu cepat menanggapi dugaan korupsi eksternal.  Politikus bereaksi begitu cepat menanggapi lirik lagu Slank namun bereaksi sebaliknya ketika mengemban tugas-tugas memberantas kemiskinan dan menghapus buta aksara.

Melirik pada sejarah, reaksi cepat jualah yang turut menentukkan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 64 tahun silam. Reaksi cepat Soekarni, Chaerul Saleh dan para pemuda dalam memutuskan kemerdekaan RI bersinggungan dengan reaksi tenang dan penuh perhitungan dari Soekarno dan tokoh lain. Tapi toh, kemerdekaan RI berhasil diproklamirkan dengan sukses. Reaksi cepat terbukti bisa sejalan dengan reaksi bijak. Keduanya tetap dibutuhkan dan terbukti sangat berpengaruh. Hal yang sama juga diperlukan hingga saat ini.

Reaksi cepat negara dibutuhkan dalam berbagai konteks: reaksi cepat dalam memaafkan, reaksi cepat dalam membangun, reaksi cepat dalam menanggapi ketidakadilan, dan masih banyak lagi. Masih berkaca dengan peristiwa Bill Clinton membebaskan dua jurnalis AS, ada reaksi cepat antar presiden dan wakil presiden, reaksi cepat antar presiden, antar diplomat dan pemerintah, dan seterusnya. Tidak ada kata ‘tunggu dulu’ demi kepentingan nasional. Kita tentu berharap reaksi cepat partai politik saat ini benar-benar untuk kepentingan bangsa.

Jadi apa kaitan antara reaksi cepat (dan bijak) dengan kemerdekaan Indonesia? Reaksi cepat dan bijak adalah kunci menuju kemerdekaan. Sejarah telah membuktikannya. Lebih cepat kita memaafkan, lebih cepat kita merdeka. Lebih cepat bangkit dari kelemahan, lebih cepat Indonesia mengayuh kejayaannya. Dan lebih cepat kita beringsut dari rasa bangga akan kultur ”jam karet”  ala Indonesia, lebih cepat pula kita memutuskan bereaksi cepat. Starting to be on time from yourselves then you can push your government to be faster than you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s