“Hey, this is a really great wall”

 

Didampingi duta besar AS untuk China, Jon M. Huntsman Jr., dan duta besar China untuk AS, Zhou Wenzhong, Obama melangkah di tengah-tengah tembok besar China. Kedua tangannya dimasukkan dalam kantung celana hitam yang senada dengan warna jaket kulitnya. Komentar-komentar terkait dengan situs tembok besar China pun terlontar dari mulutnya.

“Spectacular.”

“It’s a reminder of the ancient history of the Chinese people.”

“It gives you a good perspective on a lot of the day-to-day things. They don’t amount to much in the scope of history.”

“… I also think I’m glad I didn’t carry a camera.”

Dengan kunjungan ke tembok besar China, berakhirlah perjalanan Obama yang dinilai banyak pihak tak lebih sebagai sebagai kunjungan persahabatan biasa. Formalitas. Kunjungan persahabatan Obama ini terjadi di tengah kemelut isu perdagangan, militer, dan perubahan iklim. Tiga isu turun-temurun yang terus menjadi sorotan utama pemimpin dua negara dari masa ke masa.  International Herald Tribune dalam edisi Sabtu, 19 November 2009 secara tersirat bahkan menyebut bahwa posisi tawar AS kini relatif lebih rendah daripada China.

Harian ini menyebut bahwa di masa yang akan datang, bukan tak mungkin AS yang akan lebih bergantung pada China daripada sebaliknya: suatu hal yang selalu didengung-dengungkan dengan semangat oleh China. Poin utamanya adalah daya tawar kekuatan ekonomi. Menurunnya kualitas AS dalam hal inovasi produk ditambah dengan semangatnya China mempromosikan Yuan sebagai alternatif mata uang global semakin mengemuka. Benarkah demikian?

Di satu sisi, pendekatan kebijakan luar negeri Obama yang ‘Dolkish’ (dolphinkish/kebalikan dari Hawkish) dinilai banyak pihak sebagai alasan mengapa Obama memilih pendekatan ramah-tamah dengan China. Di sisi lain, partai Demokrat terkenal lebih ‘strik’ dalam menekankan hak-hak asasi manusia seperti pemberlakuan embargo pasca terjadinya peristiwa Tiananmen. Tapi sekali lagi – kepentingan nasional AS selalu di atas segalanyai. Saat ini, AS memiliki banyak kepentingan dengan China: kepentingan agar investor China terus menanam investasinya di AS, kepentingan terkait perubahan iklim, dan sebagainya.

Interdependensi pun masih berlaku: China memiliki banyak kepentingan dengan AS. China antara lain berkepentingan agar ekonomi AS tetap kuat karena dengan demikian saham-saham AS yang banyak dimodali China tidak mengalami kejatuhan nilai, China juga berkepentingan agar stabilitas neraca perdagangan dengan AS dapat tetap terjaga di tengah terjangan resesi dunia. Dan masih banyak lagi kepentingan China di bidang-bidang lainnya.

Namun seperti yang dikatakan oleh International Herald Tribune – daya tawar pemerintah AS lebih lemah karena berbagai hal. Saat ini China menjadi penyokong dana terbesar baik bagi investasi AS maupun bagi dunia. Nilai devisa China tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Belum lagi dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan sumber daya energi yang terus menggurita di berbagai kawasan dunia. Maka dalam kunjungannya Obama lebih memilih pendekatan ‘nilai universal’ dan bukan melancarkan kecaman-kecaman.

Pada awal kunjungan resminya ke Shanghai pada 16 November 2009, misalnya, Obama memaparkan karakter universal dari hak asasi manusia di depan ratusan mahasiswa.

Obama mengatakan, “Kami tidak akan memaksakan sistem pemerintahan dan tata nilai kami untuk diterapkan di negara lainnya. Tapi saya tidak percaya, bahwa prinsip yang kami anut, hanya berlaku di negara kami. Kebebasan berpendapat dan beragama, akses terhadap informasi dan partisipasi politik, kami yakini sebagai hak universal. Hal ini harus berlaku bagi semua warga, termasuk kelompok etnis dan agama minoritas, apakah mereka berada di Amerika Serikat, China atau negara lainnya.“

Sangat lunak meski nilai yang sama dikemukakan Obama pada saat bertemu muka dengan presiden China, Hu Jintao. Kunjungan Obama ini bahkan mengundang kecaman sebagai kunjungan yang tidak menghasilkan perubahan dalam penegakan HAM. Tak hanya itu, Obama juga dipandang belum sukses dalam memproduksi ‘gebrakan’ dalam isu kerjasama dan pengembangan energi bersih.

Bagaimana respon China? Economist mencatat:

China handled the visit with ambivalence. It was keen to encourage Mr Obama’s friendly approach and his willingness to recognise China as a fellow great power. But it was also clearly nervous of a charismatic young president far better than China’s standoffish leaders at appealing to ordinary citizens (“voters”, as they are known in America).

Meski menghasilkan sebuah deklarasi bersama untuk membuka dialog dalam bidang luar angkasa, namun deklarasi ini lebih dipandang dipandang sebagai ketakutan AS terhadap kemajuan militer China. Demikian pula dengan rencana penyelenggaran dialog tentang HAM pada akhir bulan Februari 2010 yang tidak mendapat respon terlalu positif dari China.

Pernyataan-pernyataan Obama tentang nilai-nilai HAM yang dikemukakannya selama berada di China dilarang keras diliput oleh para reporter. Yang lebih mengenaskan, seorang pengacara hak asasi manusia veteran, Tianyong Jiang, justru ditahan secara tidak sah selama kunjungan Obama ke China dan berada di bawah ancaman atas usahanya untuk bertemu dengan Obama. 200 polisi dikerahkan dan menginterogasi Jiang dan seorang koleganya selama lebih dari satu jam dan mereka ditahan sampai Obama meninggalkan China.

Tak hanya itu, sebelum dan selama kunjungan Obama ke China, sejumlah umat Kristen gereja keluarga, para aktivis HAM, pengacara HAM dan praktisi Falun Gong telah ditangkap, ditahan dan dikirim ke penjara tanpa proses pengadilan. China juga menekan para pemimpin atau pemilik serikat pekerja serta memaksa mereka menandatangani jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan ‘tindakan apapun’ selama periode kunjungan Obama.

Akhirnya, Obama mungkin memang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mengutarakan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan yang disebutnya sebagai sesuatu yang ‘universal’. Obama juga memang telah mengatakan bahwa dirinya akan akan selalu “speak out” dalam merealisasikan prinsip-prinsip utamanya. Namun kepentingan nasional lagi-lagi sudah ditakdirkan menjadi garis utama kebijakan yang harus diambil tiap negara, tak terkecuali AS di bawah kepemimpinan Obama.

Daya tawar AS yang makin melemah (dan daya tawar China yang makin menguat), memaksa Obama mengatakan:  “more is to be gained when great powers co-operate than when they collide”.

Hey, this is a really great wall.” Yup!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s