Anak Bukan Komoditas!

”Wah kak… tahu nggak, kemarin saya nonton film Twilight yang paling baru. Ganteng sekali pemeran utamanya! Pokoknya lebih ganteng daripada pemeran utama yang main di High School Musical. Ganteng bangeeettt!”

Kaget saya mendengarnya. Bukan karena filmnya atau karena hasrat ingin membuktikan apakah benar Robert Pattinson lebih ganteng daripada Zac Efron. Sama sekali bukan. Saya hanya kaget karena yang mengucapkan kalimat tersebut adalah seorang anak ’masih hijau’ yang baru saja memasuki jenjang SMP. Tapi lama kelamaan kalimat-kalimat semacam ini amat sering terdengar sehingga tak lagi menimbulkan sensasi kaget. Yang dibahas anak-anak ini sangat beraneka ragam mulai dari novel, film, game, hingga musik-musik begenre 17 tahun ke atas. Wuihhh…

Sebelum dibahas lebih lanjut, pernahkah sesekali anda perhatikan iklan-iklan produk bayi? Jaman dulu, iklan produk bayi hanya sebatas susu, makanan bayi, dan produk perlengkapan mandi untuk bayi. Tapi sekarang anda bisa melihat bahwa varian-varian produk bayi ini berkembang sedemikian rupa, bukan hanya dari variannya tapi juga jenis variannya. Merk susu bayi sudah tentu tak terhitung lagi jumlahnya. Tapi selain itu, saat ini juga berkembang produk-produk jenis baru yang belum muncul saat anda bayi. Ada produk pelembut pakaian khusus bayi, pengharum ruangan khusus bayi, tempat tidur khusus bayi, hingga soundsystem khusus bayi.

Nah, yang ingin saya sampaikan, seperti yang mungkin sudah dapat ditebak dari judul tulisan ini – adalah betapa anak-anak pada masa kini semakin menjadi komoditas alias menjadi ’mangsa empuk’ industri. Cara kerjanya rumit-rumit mudah. Dengan memanfaatkan ’masa labil’, masa di mana anak masih cenderung mudah terbawa arus, industri mengomunikasikan produknya dengan sangat brilian pada target cilik mereka. Komunikasi produk ini dipermudah oleh suksesnya penetrasi televisi dan internet yang kini sudah amat tinggi di kalangan anak-anak. Si anak akan mulai tertarik untuk mengetahui dan kemudian memiliki produk tersebut, apalagi setelah mendengar atau melihat hal serupa dari lingkungannya.

Masih bingung? Baiklah saya akan memberikan contoh sederhana yang diambil dari buku Fast Food Nation (maaf sekali saya sudah lupa nama pengarangnya). Salah satu bagian dalam buku tersebut menceritakan salah satu strategi sukses dari McDonald. Strategi tersebut adalah dengan mengenalkan produk McD kepada konsumennya sejak mereka masih anak-anak. Maka McD membuat menu paket khusus untuk anak-anak beserta bonus mainan-mainannya termasuk si tokoh utama yaitu badut Ronald McDonald. Tujuan adalah agar si anak tertarik dan bisa selalu mendorong orang tuanya datang ke McD. Dengan kata lain, McD berupaya membentuk ’ikatan khusus’.

Bukan hanya itu, komunikasi sejak masa kanak-kanak ini bisa terinternalisasi hingga mereka dewasa. Alhasil setelah beranjak dewasa pun mereka akan selalu tertarik untuk datang ke McD. Nah, entah karena terinspirasi oleh McD entah tidak, hal-hal semacam ini berjalan semakin kental. Lihat saja aneka produk yang membuat anak-anak kita semakin autis dengan lingkungan sosialnya mulai dari yang agak jadoel semacam cellphone, game boy dan tamagochi, hingga PSP (Play Station Portable) dan Black Berry yang konon penggunaan di Malaysia saja tidak ’separah’ Indonesia.

Salah satu pusat perbelanjaan bahkan menyediakan jasa hiburan anak berupa permainan ‘cita-cita’ yang sudah menyerupai alam dewasa yang sesungguhnya. Ide brilian atas nama kreativitas anak, walau di sisi lain, kita patut prihatin ketika melihat anak-anak dari golongan menengah ke bawah yang hanya mampu menikmati mainan ala kadarnya di kampung-kampung kumuh seharga Rp 3.000an – paling mahal. Dewasa ini, upaya membisnis-kan anak-anak bahkan melibatkan anak-anak itu sendiri. Anak-anak polos ini dikomoditisasi, dipaksa menjadi subjek dan objek pasar.

Dalam kamus Encarta, commoditization adalah the process by which a product reaches a point in its development where one brand has no features that differentiate it from other brands – proses yang membuat sebuah produk mengalami peningkatan nilai yang membuatnya berbeda dari merk lain. Dan di sinilah letak permasalahannya. Dalam SK Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI (SK- 39/MEN.PP/IV/2009), anak didefinisikan sebagai tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan.

Artinya sangat jelas. Anak bukanlah barang atau produk tetapi manusia. Mereka adalah tunas, potensi, dan generasi penerus bangsa. Tapi apa lacur, komoditisasi anak justru semakin menjadi-jadi. Komoditisasi yang lazim ditemui bukan hanya sebatas produk tetapi juga jasa pendidikan dan jasa hiburan anak, dua bidang yang menjadi fokus utama anak-anak pada masa pertumbuhannya.

Di bidang pendidikan, upaya privatisasi pendidikan adalah salah satu contoh nyata bentuk komoditisasi anak. Beragam indikasi yang muncul adalah negara menyerahkan pengelolaan pendidikan kepada swasta dengan orientasi mendapatkan keuntungan, pembebanan pembiayaan pendidikan kepada masyarakat melalui model ‘Pembiayaan Bersama dengan Masyarakat’, pembiayaan pendidikan kepada pemerintah-pemerintah lokal melalui penerapan otonomi daerah, serta pemotongan subsidi untuk perguruan tinggi. Tak heran jika RUU Badan Hukum Pendidikan yang mewajibkan semua sekolah menjadi Badan Hukum Pendidikan – termasuk sekolah negeri – dengan segera menuai protes keras. Anak dipandang tak lebih sebagai sumber uang.

Di bidang hiburan yang pada dasarnya merupakan kebutuhan primer seorang anak, komoditisasi pun sudah mengemuka sangat jelas. Selain terkait dengan gencarnya komunikasi produk-produk hiburan anak yang sudah dijelaskan pada tulisan awal, minimnya media representasi anak menjadi faktor permasalahan utama. Kini banyak sekali bermunculan audisi-audisi anak untuk menjadi bintang secara instan di televisi. Nyatanya, anak-anak ini sengaja dibentuk dengan ‘pola pasar’ yang nyaris menyita kehidupan normal mereka sebagai anak-anak. Semua demi tuntutan pasar.

Mereka didorong untuk membuat album, manggung intensif, bermain sinetron stripping, bermain film, dan membintangi beberapa iklan di sela-sela sekolahnya. Album-album yang dihasilkan pun lebih tepat disebut sebagai album remaja atau dewasa daripada album anak-anak. Demikian pula dengan sinetron. Kehidupan pribadi mereka diekspos habis-habisan seperti halnya artis dewasa. Waktu mereka bersosialisasi dengan rekan-rekan sebayanya pun habis di tempat syuting, bahkan tak sedikit yang akhirnya lebih memilih home-scholling akibat padatnya jadwal.

Sebaliknya, anak-anak pemenang olimpiade, pemenang lomba lukis, teater, dan paduan suara tingkat internasional yang sudah mengharumkan nama bangsa justru tidak mendapat tempat dalam media. Media representasi anak kebanyakan diadopsi dari Barat dan Asia Timur yang tentu minim nuansa lokalnya seperti Spongebob, Power Puff Girls, Shincan, Power Ranger, dan Sesame Street. Film-film Hollywood dan MTV bahkan lebih familiar sebagai hiburan utama di mata anak-anak Indonesia. Jarang media yang memberi ruang untuk memblow-up game asal Indonesia, misalnya.

Padahal menurut Hernando de Soto yang menulis buku The Mysteri of Capital, media representasi adalah kunci mengonversi aset-aset (dalam hal ini adalah anak-anak) menjadi modal. Menjadi modal di sini bukan berarti anak-anak menjadi sapi perah tetapi menjadi kekuatan untuk meningkatkan produktivitas bangsa. Konversi aset menjadi modal ini, menurut Hernando De Soto adalah kunci utama bagaimana sebuah negara dapat memiliki modal yang potensial yang membuat negara tersebut maju. Artinya anak-anak memang memiliki peran strategis yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara di masa depan.

Namun peran strategis tersebut akan sulit terwujud selama anak-anak Indonesia masih dikomoditisasi dengan pola oldschool: dididik dengan orientasi material, bukan pada inovasi sesuai tumbuh kembang anak. Orang tua membiarkan saja hal ini terjadi: “yang penting nilai-nilai mereka di sekolah baik.” Anak-anak menjadi lebih senang menghabiskan waktunya di mall dan menonton di bioskop daripada beraktivitas di tempat yang lain. Kebiasaan konsumerisme mulai terpupuk, pola pikir menjadi sangat instan dan individualis. Gaya hidup semacam ini mereka pelajari dari orang tuanya yang di kemudian hari akan kembali ditiru oleh anak cucu mereka seperti pola McD.

Nah, dalam hal ini banyak sekali hal yang harus dibenahi: kebijakan pemerintah (pendidikan, media, dll) dan terutama adalah peran kunci orang tua sebagai agen nilai pertama bagi anak. Anak jangan dipandang sebagai subjek penghasil uang melalui berbagai upaya eksploitasi. Sebaliknya, anak juga jangan dilihat sebagai objek komoditas. Dewasa ini, banyak orang tua yang terlalu ‘sibuk’ dengan pekerjaannya sehingga meng-iya-kan begitu saja seluruh permintaan anak sebagai respon permintaan maaf atas kesibukan mereka selama ini.

Universal Children’s Day yang jatuh pada tanggal 20 November hendaknya menjadi momentum untuk kembali mengingatkan hak-hak anak yang bebas dari eksploitasi, bebas mengemukakan pendapat, bebas memperoleh pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja. Universal Children’s Day ini, seperti yang dilansir oleh PBB, hendaknya mengingatkan kita bahwa anak-anak membutuhkan cinta dan penghargaan saat mereka bertumbuh dengan potensi penuh yang mereka miliki.

Anak-anak adalah unik. Mereka adalah modal bangsa yang bisa menghasilkan komoditas yang berharga bagi bangsa ini, bukan menjadi korban komodotisasi jangka pendek yang justru akan mengorbankan kepentingan negara dalam jangka panjang. Sekali lagi, anak bukan komoditas! Mereka adalah calon penghasil komoditas sekaligus tumpuan masa depan Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s