DRAGONOMICS

China is China, you know? Even the U.S. cannot talk to China.

Irvan K. Hakim, a co-chairman of the Indonesian Iron and Steel Industry Association

Dalam bukunya yang berjudul Economics (1994), Paul A. Samuelson pernah mengungkapkan satu pernyataan menarik. Salah seorang bapak ekonomi dunia ini mengatakan bahwa ekonomi bukanlah ilmu eksakta, tapi dia melebihi seni. Jika kita telaah kalimat ini, kita akan menemukan bahwa ekonomi memang suatu hal yang unik. Ia memang terukur, namun tak terduga. Lihat saja sistem ekonomi ‘sosialisme pasar’ China. Secara ilmiah sistem ini aneh, namun ternyata ia berhasil diterapkan.

Jika saat ini diadakan polling dengan pertanyaan negara manakah yang menurut anda menjadi penentu geo-ekonomi global, saya yakin 100% bahwa China masuk dalam jajaran atas. ‘Kebesaran’ ekonomi China sudah menggaung sejak tahun 1990an dan selalu menjadi bahasan utama tidak hanya bagi para ekonom, namun juga bagi para politisi.  Sebagian memuji, sebagian mencaci. Sebagian optimis, sebagian pesimis.

Yang optimis memandang China sebagai peluang baru bagi dunia yang sudah lelah didominasi AS yang ‘cerewet’ soal HAM tapi pada kenyataannya selalu menerapkan standar ganda. Yang pesimis melihat China tetap tak akan mampu menyaingi AS. Harga yang harus dibayar China berupa pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan hidup, terlalu mahal. Apapun itu, tidak dapat dinafikan bahwa ekonomi China akan terus menjadi sorotan dunia, terlebih fakta berbicara bahwa China merupakan salah satu dari sedikit negara yang mampu bertahan menghadapi badai resesi tahun 2008.

Indikator yang paling sering digunakan untuk memperkuat pernyataan bahwa ekonomi China memang tangguh adalah tingginya nilai cadangan devisa yang saat ini merupakan yang terbesar di dunia, tingginya nilai ekspor, bertahannya angka konsumsi domestik, dan makin bergairahnya kiprah China di panggung internasional, entah dalam hal promosi Yuan sebagai mata uang global, ekspansi perusahaan multinasional, maupun kiprah China dalam penyelesaian berbagai konflik dunia. AS di bawah Obama pun terlihat ‘lebih bersahabat’ dengan China. Baru-baru ini, Obama melakukan kunjungan persahabatan ke China dan berani menolak bertemu dengan Dalai Lama demi kelancaran hubungan AS dengan China.

Dragonomics atau ekonomi naga, tidak menunjukkan suatu teori ekonomi baru. Ia lebih merupakan sebuah istilah yang melekat pada ciri khas ekonomi China yang oleh para petingginya dikatakan sebagai ‘sosialisme pasar’ yang dalam kenyataannya lebih liberal daripada ekonomi AS yang jelas-jelas dikatakan sebagai ekonomi liberal. Dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya: SDA, SDM, strategi manajemen yang dipengaruhi budaya konfusianis, China bukan saja mampu bertahan dari krisis (defense) namun juga menunjukkan sikap naga: diam dan menyerang (offense).

Sikap diam nampak ketika pemerintah China tidak pernah mengatakan secara verbal bahwa negaranya adalah negara ekonomi termaju. Persepsi bahwa ekonomi China sangat maju lebih banyak dilontarkan oleh pakar asing atau media asing. China justru merasa gerah dengan segala pujian ini. Pasalnya, kebangkitan ekonomi China sering diasosiakan dengan pelanggaran HAM dan peningkatan anggaran militernya. Itu sebabnya pemerintah China berkali-kali menegaskan bahwa kebangkitannya adalah kebangkitan yang damai (peaceful rise), bukan kebangkitan yang mengancam.

Perilaku offense China dilakukan dengan tenang dan diam. Tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa China menyimpan cadangan devisa terbesar di dunia hingga ada pengumuman resmi yang dirilis. Juga tidak ada yang menyadari bahwa selama ini China adalah salah satu sumber keuangan terbesar bagi pembangunan AS (pembeli sukuk AS terbanyak), hingga krisis subprime mortgage terjadi. Angka-angka ekonomi yang baru dirilis bahkan makin menunjukkan kecenderungan bahwa China memang mengungguli AS secara de facto, bukan sekedar opini publik atau opini pakar.

Untuk pertama kalinya, tahun 2009 ini China membeli lebih banyak mobil daripada AS meski keadaan ekonomi terbilang masih resesi (New York Times, 9 Desember 2009). Tidak hanya mobil, untuk pertama kalinya China juga melewati konsumsi AS pada tahun ini sebagai ‘pasar terbesar dunia’ untuk berbagai produk rumah tangga mulai dari kulkas hingga mesin cuci, bahkan hingga komputer desktop. Peningkatan konsumsi ini dipacu oleh kebijakan ekonomi berupa potongan harga, subisidi, dan suku bunga pinjaman yang tinggi. China memang menginginkan warganya meningkatkan konsumsi guna mendorong pertumbuhan ekonominya.

Apakah hal ini berarti ancaman buat AS? Tidak. Dalam keadaan resesi, peningkatan konsumsi domestik China justru menjadi hal yang dinanti-nantikan tidak hanya oleh AS namun juga oleh dunia. Tingginya konsumsi domestik AS dengan menggunakan kredit yang berlebihan selama ini disebut sebagai pemicu krisis. Untuk itu AS harus menurunkan konsumsi domestik (spending) dan meningkatkan tabungannya (saving). Sebaliknya, China diharapkan dapat meningkatkan konsumsi domestik dan mengerem laju ekspornya. Dengan demikian barulah ketidakseimbangan dapat mulai dipulihkan.

Tapi sekali lagi, tak mudah untuk menghentikan naga yang sedang berdesis. Tak mudah mendorong masyarakat China yang terkenal hemat, untuk meningkatkan konsumsinya dan mengerem laju ekspor di tengah menggeliatnya industrialisasi. Ancaman dari China tidak hanya datang hanya dari perusahaan-perusahaan besar seperti perusahaan minyak, dll. tapi juga datang dari sektor barang-barang kebutuhan rumah tangga skala kecil yang gaung ekspornya bahkan sudah lintas benua, terutama di Eropa Timur dan Afrika (Foreign Policy, 9 Desember 2009).

Dampaknya juga terasa pada nilai mata uang dollar AS yang makin melemah dan nilai Yuan (Ren Min Bi) yang makin menguat. Kebijakan pemerintah China yang masih menahan laju nilai Yuan di pasar mata uang global selama ini dituduh sebagai biang terjadinya krisis. ‘Tenggelamnya’ nilai dollar AS makin mempermurah harga barang-barang produksi China. Akibatnya, ekspor dari negara-negara pesaing pun mengalami kemunduran. Namun tidak ada satu kewajiban pun bagi China untuk melepas nilai mata uangnya: salah satu sisi ‘sosialisme’ dari sosialisme pasar.

Arti dari semua ini adalah bahwa China dengan dragonomics-nya semakin menegaskan dirinya sebagai calon negara superpower baru di dunia, bukan hanya karena opini namun juga secara de juris dan de facto. Dalam bukunya yang berjudul “When China Rules the World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order”, kolumnis The Guardian, Martin Jacques, menulis China berpotensi menjadi superpower yang juga akan berdampak pada politik dan budaya dunia.

Saya percaya Martin Jacques bukan hendak berbicara mengenai masalah ‘benturan antar peradaban’ seperti yang diungkapkan Samuel Huntington. Premis dari Martin Jacques lebih mengingatkan dunia untuk belajar dari China, seperti yang ditulisnya: …China played nice, living “according to the terms set by others” and avoiding unnecessary conflicts to focus on its own economic growth. Dalam krisis 2008, dragonomics dilirik oleh para pakar sebagai contoh gaya ekonomi terbaik, bertolak belakang dengan ekonomi kapitalis yang divonis hanya tinggal menunggu kejatuhan.

Dragonomics memang belum sempurna (salah satunya dibuktikan melalui tingginya tingkat pengangguran di China), namun ia terbukti berhasil melewati ujiannya, setidaknya hingga detik ini. Meksi catatan sejarah China dinilai dunia Barat ‘tidak baik’, toh Sang Naga dengan dragonomics-nya sudah menunjukkan seni permainan cantiknya yang memukau dunia. Sampai sejauh ini, benarlah apa yang dikemukakan Bapak Paul A. Samuelson: ekonomi bukanlah ilmu eksakta, tapi dia melebihi seni.

Advertisements

One thought on “DRAGONOMICS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s