Diplomasi Fashion

Fashion is message. Do I look rich? Do I look available? Do I look like I get it?

Cathy Horyn, New York Times – 24 Desember 2009

“Saya senang. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil berkebaya, menjelaskan keunggulan produk lokal,” ujar Mari Pangestu suatu hari. Saat itu beliau berkebaya panjang warna biru berbahan katun sutra dan berkain batik Pekalongan warna merah dan biru. Sejak menjadi menteri, Mari harus sedikit melengkapi gaya busananya. Semula ia menyukai gaya setelan atasan dan rok bermodel sederhana, kini ia harus melengkapinya dengan kebiasaan mengenakan jarik, kebaya, dan baju kurung dan kebiasaan ini terbawa hingga ke luar negeri (TEMPO Interaktif, 29 Mei 2009).

Serupa dengan Mari, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga sering mengenakan batik dalam berbagai kesempatan. Pengamat mode dan gaya hidup, Muara Bagja, bahkan menilai Ani – sapaan akrab Sri Mulyani menjadi terlihat lebih menawan dengan balutan batik di tubuhnya yang proporsional. Masyarakat mulai melirik anting atau giwangnya, lalu batik yang dikenakan. Gaya busananya ditiru dan menjadi inspirasi yang ditunggu-tunggu.

Sebelum beranjak lebih jauh, patut dipahami bahwa fashion bukanlah tidak sama busana. Mengapa? Fashion tidak hanya berbicara tentang busana tapi juga tentang asesoris (seperti giwang yang dikenakan oleh Sri Mulyani), sepatu, rambut, bahkan telepon genggam. Kamus encarta mengategorikan ’fashion’ sebagai pakaian, rambut, penampilan pribadi seseorang secara umum, termasuk tingkah lakunya. Dengan demikian, fashion disebut sebagai ekspresi diri kita dan kepribadian kita. Kita dapat menggunakan fashion untuk memberi informasi apakah kita seorang yang profesional, pemberontak, atau justru konservatif.

Untuk alasan itulah maka artikel ini diberi judul diplomasi fashion yang tidak dapat diterjemahkan sebagai diplomasi busana. Diplomasi fashion berbicara tentang bagaimana gaya fashion seseorang atau sekelompok orang dapat menyampaikan pesan tentang karakternya bahkan negaranya. Contoh sederhananya adalah sebuah kota kecil di Jepang yang penduduknya gemar mengenakan pakaian dan gaya rambut yang cukup heboh ala anime yang kemudian mendunia dan kita kenal dengan model ’harajuku’. Ini menjadi simbol penduduk Jepang yang kreatif, ’nakal’, dan gemar bereksperimen dengan beragam gaya baru.

Nah, bagaimana bila diplomasi fashion ini dilakukan oleh aktor negara seperti yang dilakukan oleh Sri Mulyani dan Mari Pangestu? Walaupun tidak sedahsyat dampak yang ditimbulkan oleh fashion yang dikenakan oleh para aktor Hollywood, diplomasi fashion oleh aktor negara semakin memperkuat citra pemimpin, dan citra negara. Bahkan dalam kasus isteri presiden AS Barack Obama, Michelle Obama, diplomasi fashion menjadi ikon fashion baru yang cukup banyak ditiru oleh para wanita sejagad. Secara tidak langsung, diplomasi fashion pun beriringan dengan diplomasi ekonomi.

Busana-busana yang dikenakan oleh Michelle Obama berhasil mematahkan berbagai aturan berbusana dalam protokoler resmi gedung putih. Dalam inagurasi suaminya sebagai presiden AS, Michelle Obama mengenakan gaun merah manis rancangan Jason Wu yang jauh dari kesan konservatif. Banyak yang menyimbolkan hal ini sebagai perubahan sikap AS yang makin fleksibel dalam menjawab berbagai tantangan. Media juga ‘ribut’ memberitakan pengeluaran Partai Republik sebesar 75.000 dollar AS sepanjang 2008 untuk membiayai busana-busana Sarah Palin. Tidak pernah terjadi dalam sejarah, media begitu detail membahas selera fashion ibu negara.

Apa saja pesan-pesan yang muncul dari sebuah diplomasi fashion? Mari Pangestu sudah menjawab salah satunya yakni sebagai sarana menjelaskan produk domestik (diplomasi ekonomi). Dalam kasus Michelle Obama, diplomasi fashion menyiratkan fleksibilitas pemerintahan baru AS dan tanpa disadari juga menjadi sarana diplomasi ekonomi karena gaya fashion yang dikenakannya ternyata menjadi ikon dunia. Dalam kasus Sarah Palin, diplomasi fashion yang dilakukannya menuai kontroversi karena ia dituding memberi pesan menghambur-hamburkan uang pada saat AS dilanda krisis.

Michelle Obama yang sering tertangkap kamera mengenakan busana yang sama berulang kali juga menyampaikan sebuah pesan. Susan Swimmer, penulis buku Michelle Obama: First Lady of Fashion and Style dalam wawancaranya dengan wartawan senior TIME, Andrea Sachs (16 Juli 2009) mengatakan bahwa Michelle Obama adalah first lady pertama yang diingatnya mengenakan busana yang sama berulang kali, sesuatu yang jarang dilakukan oleh first lady sebelumnya. Ini adalah sesuatu yang sangat baik dilakukan di tengah resesi yang melanda AS dan dunia. Namun banyak pula yang mengritik busana-busana yang dikenakan Michelle Obama karena merk-merknya yang high-end alias mahal seperti Rodarte, Jason Wu, Sophie Theallet, Narciso Rodriguez, Thakoon, Isabel Toledo dan Rick Owens

Contoh lainnya adalah Madeleine Albright. Dalam bukunya yang berjudul Read My Pins: Stories from a Diplomat’s Jewel Box, Albright menjelaskan makna pin-pin yang sering dikenakan pada busananya. Albright mengatakan bahwa pin-pin di bajunya menyampaikan ‘pesan cerdas’ bagi para pemimpin dunia. Jika ia ingin menyampaikan pesan tegas dengan sedikit sindiran, ia akan mengenakan pin serangga hitam-kuning (wasp). Jika ia ingin mendorong pembicaraan damai, ia akan mengenakan pin kura-kura. Ia mengenakan pin 3 buah monyet untuk menyampaikan pesan ”hear no evil, see no evil, speak no evil” pada Rusia saat bergolaknya kerusuhan di Chechnya.

Pengakuan Madeleine Albright menjadi bukti bahwa fashion diplomasi sudah menjadi perhatian para aktor negara jauh sebelum era milenium dimulai. Gaya busana dan potongan rambut mendiang Jacqueline Kennedy, mantan first lady AS dengan gaun sederhana, cantik dan elegan sangat dikenang hingga saat ini. Putri Diana pun turut menyemarakkan mode serta model rambut yang menjadi ikon global. Hamish Bowles, editor majalah Vogue mengatakan bahwa busana yang terlihat dramatis di koran dan foto-foto seperti Jacqueline Kennedy dapat meningkatkan citra para politisi.

Karena perannya yang krusial, AS memiliki tim pengarah gaya dan artistik khusus yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh seperti staf khusus inti. Para aktor negara dari Indonesia sendiri sebenarnya sudah memperhatikan pentingnya diplomasi fashion ini sejak jaman Soekarno yang sekaligus menunjukkan bahwa diplomasi fashion tidak menjadi hak milik pribadi kaum hawa. Kopiah atau peci yang menjadi ciri khas Bung Karno, baju setelan model militer, dan tongkat yang selalu dibawanya, memperkuat kehadiran karismanya (Kompas,19 November 2009).

Kesadaran ini berlanjut pada era-era para pejabat publik setelahnya. Hanya saja diplomasi fashion di negeri ini masih lebih banyak berkutat pada area pembentukan citra publik dan citra politik. Positifnya, busana batik sebagai simbol khas Indonesia kini sudah semakin banyak dikenakan oleh para pejabat kita sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia di mata dunia. Ke depan kita berharap diplomasi fashion yang merupakan diplomasi budaya oleh para aktor negara ini juga dapat berjalan beriringan dengan diplomasi ekonomi bagi kepentingan nasional.

Advertisements

5 thoughts on “Diplomasi Fashion

  1. boleh tau ga dapet sumbernya dr mana??
    saya boleh minta link atau dikirimkan ke email saya??
    kebetulan saya sedang membuat skripsi dengan tema fashion dan apa hubungannya dengan hubungan internasional..
    saya boleh mnta nomor atau email??
    atau jika berkenan dikirimkan ke email saya yoviankajunas@gmail.com
    terimakasih

    • Dear Yovianka… Sumber apa maksudnya? Ini adalah tulisan opini saya sendiri setelah membaca berbagai bahan. Bahan-bahan dasar dari tulisan ini sudah sangat banyak di internet, bahkan pasti sudah ada yang terbaru karena tulisan ini saya buat tahun 2010. Terima kasih dan sukses untuk skripsinya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s