Google vs China

“Google has Microsoft on the ropes, and China is arguably the world’s most important market outside of the U.S. You don’t walk away from that on principle.”

Joe Schoendorf, Accel Partners — Silicon Valley

Meski pengguna unternet di China merupakan nomor satu di dunia, yakni mencapai 384 juta orang, Google lebih memilih untuk tidak tunduk pada badan sensor China yang selama ini gencar menyensor. Ancaman hengkang dari China ini juga disampaikan Google menyusul meningkatnya aksi hacker yang banyak menimpa sistem emailnya: gmail. Penelusuran yang dilakukan Google menunjukkan bahwa perusakan sistem dilakukan di China. Ancaman ini segera menyedot perhatian internasional. Bagaimana tidak, di tengah derasnya arus investasi AS ke China, baru kali ini ada perusahaan AS sebesar Google yang memilih sebaliknya.

Perusakan sistem email yang banyak dilaporkan oleh para pengguna gmail cukup membuat Google berang. Zeng Jinyan, istri dari aktivis pembela HAM yang tengah dipenjara, Hu Jia, mengatakan dalam blog-nya bahwa copy dari email-email terakhirnya otomatis terkirim ke alamat yang tidak ditujunya. Pengacara pembela hak sipil, Teng Biao mengalami nasib serupa. Lain lagi dengan Tenzin Seldon, seorang aktivis Tibet sekaligus sebagai mahasiswa dari Stanford University di California. Google menemukan bahwa hacker telah menyerang nomor akun gmail-nya. Nury A. Turkel, pengacara asal Washington yang mendampingi suku minoritas Uighur di China juga mengalami serangan hacker pada akun gmail-nya.

Google pun melancarkan protes pada pemerintah China yang ditanggapi dingin. Atas aksi penyerangan itu, China hanya mengatakan bahwa sistem internet China sangat terbuka. Google lantas mengeluarkan ancaman akan menghentikan operasi mesin pencari di China dan mungkin akan menutup kantornya di pasar terbesar jumlah pengguna internet di dunia tersebut. Tanpa menyebut Google, juru bicara Kementerian Luar Negeri China bereaksi dengan mengatakan bahwa perusahaan asing yang beroperasi di China harus menghormati hukum, kepentingan umum, kultur, serta tradisi di negara tempat mereka beroperasi.

Reaksi China mengingatkan kita pada gencarnya aktivitas sensor internet yang dilakukan Sang Naga. Twitter dan Facebook pun diblokir pemerintah China secara rutin di samping 700 alanat situs lainnya yang dipandang ‘membahayakan stabilitas keamanan nasional’. Adapun perusahaan-perusahaan lokal seperti Baidu, lebih memilih untuk taat pada aturan yang memperketat setiap aktivitas pengguna internet yang berbau anti pemerintah.

Awalnya Google memilih tunduk. Setelah memasuki pasar China pada tahun 2000, Google bersedia mengikuti aturan badan sensor China pada tahun 2006 dengan menyediakan layanan mesin pencari khusus China pada alamat Google.cn. Sudah dapat ditebak, beberapa kata kunci terkait informasi sensitif seperti ‘Tianmen Massacre’ atau ‘Tibet’ pun tak muncul di layar. Seiring dengan meningkatnya aksi hacker dan gerakan anti mata-mata cyber yang digalakkan pemerintah Obama, Google memilih aksi ‘pembangkangan’ yang segera diapresiasi positif oleh pemerintah AS dan sejumlah organisasi hak asasi manusia.

Apakah dengan putusan ini Google akan merugi? Diplomasi virtual, diplomasi politik, dan diplomasi ekonomi ibarat mata uang yang tidak terpisahkan. Dalam kasus Google vs China ini, kebanyakan analis dari kedua belah pihak berpendapat bahwa putusan Google untuk mundur dari pasar China tidak terlalu berpengaruh pada kondisi Google, China, dan hubungan politik-ekonomi kedua negara.

Pertama adalah fakta bahwa Google sang ‘Goliat Internet’ dunia ini hanya meraih 33% pangsa pasar mesin pencari China setelah Baidu yang berhasil mencetak angka 63%. Dalam standar perhitungan Google, hasil yang diperoleh di China tergolong kecil yakni 300 juta dollar dari 22 miliar dollar penghasilannya di seluruh dunia. Baidu yang didirikan oleh lulusan Peking University, Robin Li pada tahun 1999, berhasil memimpin pasar China karena perhatiannya yang lebih mendalam pada ‘selera lokal’ dan kemauannya untuk bekerja sama dengan badan sensor China. Jika Google benar-benar melaksanakan ancamannya, Baidu dipastikan akan memegang monopoli mesin pencari di China.

Kedua adalah fakta bahwa sekalipun Obama mengapresiasi positif langkah Google dan menggencarkan upaya kebebasan berpendapat dalam internet, perusahaan AS lainnya, Microsoft, tidak menarik diri dari pasar China. CEO Microsoft, Steve Ballmer justru mengatakan: “saya tidak mengerti bagaimana hal itu (keluar dari China) membantu kami, membantu China.” Microsoft justru berharap pada mesin pencarinya di China, Bing, agar mampu meraih lebih banyak keuntungan jika Google benar-benar keluar dari China.

Langkah ini didukung dengan pernyataan juru bicara Kementerian Perdagangan China, Yao Jian, yang padahari Jumat (15 Januari 2010) mengatakan: “apa pun keputusan dari Google tidak akan memengaruhi hubungan dagang dan ekonomi antara China dan AS. Kedua negara memiliki saluran hubungan komunikasi beragam. Kami yakin akan ada perkembangan hubungan yang sehat antara China dan AS.”

Pernyataan ini sekali lagi, menunjukkan daya tawar China yang tinggi terutama pasca penahbisannya sebagai negara eksportir terbesar dunia. China sangat percaya diri sekalipun AS melalui juru bicara Gedung Putihnya, Robert Gibbs menyatakan dukungan Obama terhadap keputusan Google yang tidak menerima sistem sensor China. Robert Gibbs mengatakan bahwa perhatian AS pada saat ini adalah mencegah aksi-aksi yang dapat menghalangi kebebasan dalam berinternet. Sebuah pernyataan yang ditanggapi dingin oleh China dengan mengatakan bahwa perusahaan manapun sudah seharusnya tunduk pada aturan.

Reaksi China yang tenang menghadapi ancaman Google ini sekaligus menepis pendapat beberapa analis bahwa China seharusnya berkompromi dengan aturan internetnya demi memajukan pertumbuhan ekonomi yang banyak digerakkan oleh dunia virtual. Nyatanya pengguna internet di China lebih banyak mengakses musik dan hiburan ketimbang informasi. Baidu juga sebenarnya sudah mampu menciptakan sebuah sistem pusat perbelanjaan berbasis web seperti halnya Alibaba.com ataupun Ebay.

Sekali lagi kasus ini menunjukkan tingginya daya tawar diplomasi ekonomi yang hingga saat ini masih berada di atas kemelut isu politik atau isu hak asasi manusia seperti yang selama ini digaungkan AS. Menampik idealisme Google dalam ‘melakukan apa yang benar’, China dengan aturannya melenggang maju dengan santai sebagai the rising superpower. Tepatlah pernyataan Mr. Rieschel dari Qiming Ventures: “The problem here is when you get down in the weeds and talk about flexibility and tactics, Chinese entrepreneurs are hard to beat.”

Advertisements

One thought on “Google vs China

  1. Pingback: Komisi Eropa: Ujian “Om” Google Berikutnya « Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s