Kraftbury

“We believe the offer represents good value for Cadbury shareholders and are pleased with the commitment that Kraft Foods has made to our heritage, values and people throughout the world.”

Roger Carr, Chairman of Cadbury


Selasa, 19 Januari 2010 nampaknya menjadi hari yang bersejarah bagi para pelaku bisnis yang bergelut dalam bidang permen dan makanan (konfeksioner). Pada hari itulah Cadbury akhirnya menerima lamaran akuisisi dari Kraft Foods dengan harga penawaran akhir 18,9 miliar dollar AS. Ini setara dengan nilai 840 pence per saham atau total nilai 11,9 miliar poundsterling. Sukses diraih setelah lamaran ‘goliat’ makanan dan minuman asal AS ini ditolak Cadbury berkali-kali. Sebelumnya, tawaran yang diajukan hanya 500 pence per lembar saham, ditambah penerbitan 0,1874 saham baru. Setelah transaksi ini dipublikasikan, saham Cadbury pun melesat sebesar 3,3%. Dengan akuisisi ini, Karfbury pun menjadi ‘raja’ produsen kue dan makanan di dunia.

Dalam mengemban aktivitas bisnisnya, ada dua misi besar yang diemban perusahaan yakni pengusaaan pangsa pasar bagi produk-produk yang dihasilkannya dan mengembangkan aktivitas yang dapat memaksimalisasi perolehan profit (Bob S. Hadiwinata 2002:36). Nah, dua misi besar ini nampaknya benar-benar dikerjakan dengan baik oleh Kraft dan Cadbury.

Pertama terkait penguasaan pangsa pasar. Perkara ini jelas tak diragukan lagi mengingat kedua perusahaan sudah termasuk dalam kategori perusahaan besar dunia. Tapi bukan hanya itu. Kraft tercatat lebih berjaya di AS sementara Cadbury menguasai pasar Eropa. Di samping itu, Cadbury lebih menguasai pangsa pasar lebih menonjol dalam hal bisnis permen karet terutama di Eropa dan Amerika Latin sementara Kraft memiliki lebih sedikit pengalaman dalam hal tersebut (Economist, 19 Januari 2010). Artinya jelas. ‘Saling melengkapi’ dalam hal jenis produksi dan jenis wilayah pasar ini mampu membawa Kraftbury terbang ke pangsa pasar yang lebih luas.

Kedua adalah maksimalisasi perolehan profit. Dapat kita simak bahwa maksimalisasi perolehan profit akan terjadi menyusul terciptanya perluasan pangsa pasar. Dengan akuisisi ini, Kraftbury juga dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia, sumber daya teknologi, dan beragam ide-ide inovasinya. Sekalipun Kraft membeli Cadbury dengan harga mahal, imbal hasil yang diraih akan jauh lebih besar terlebih kedua perusahaan harus menghadapi ancaman derasnya produk ekspor China yang merupakan produsen manisan dan permen terbesar kedua di dunia. Produk-produk ternama Cadbury seperti dairy milk, créme eggs, dan dentyne chewing gum adalah produk unggulan yang direspon sangat positif oleh pasar negara berkembang.

Hal lain yang dapat kita simak dari kisah akuisisi dua raksaksa perusahaan makanan ini adalah munculnya karakter kaum entrepreneur yang dimiliki direksi kedua perusahaan ini. Dua dari lima karakter kaun entrepreneur yang diidentifikasi Everett Hagen (1975: 270-272) adalah bahwa kaum entrepreneur dimotivasi oleh rasa tidak puas terhadap sesuatu yang telah dicapai dan memiliki sifat yang berorientasi pada prestasi dalam melakukan inovasi.

Cadbury terus ‘menjual mahal’ perusahaannya sejak dipinang Kraft pada 7 September 2009. Nilai penawaran yang diajukan Kraft pertama kalinya adalah 16,7 miliar dollar AS. Ketidakpuasan direksi  Cadbury atas nilai yang sebenarnya sudah besar tersebut membuat Kraft menaikkan harga penawarannya hingga mencapai 18,9 miliar dollar AS. Sebuah upaya tarik ulur yang akhirnya membuahkan hasil. Sebaliknya, ketidakpuasan Kraft terhadap indikasi penolakan Cadbury membuatnya makin gigih melakukan penawaran-penawaran baru di tengah ketatnya persaingan dengan produsen cokelat dari Italia, Ferrero yang berkolaborasi bersama produsen asal Amerika, Hershey Co. untuk memperebutkan Cadbury.

Kedua adalah sifat uang berorientasi pada prestasi dalam melakukan inovasi. Ini patut menjadi pelajaran bagi para investor tanah air. Rencana akuisisi harus dipertimbangkan dengan matang, bukan terpaksa dilakukan karena salah satu perusahaan di ambang krisis. Akuisisi harus dilakukan demi perbaikan prestasi dalam berinovasi. CEO Cadbury, Roger Carr, menegaskan bahwa alasan bersatunya Cadbury dengan Kraft bukan karena Cadbury tidak lagi memiliki strategi operasional dan manajerial ataupun alasan keuangan. Inilah pernyataan Carr: “It was about management achievement, and the Kraft achievement relative to the Cadbury one was less. Therefore, you would only sell this business for the right price.” (Reuters, 20 Januari 2010).

Akhirnya, akuisisi kini menjadi sebuah alternatif favorit yang banyak dipilih para pelaku dunia usaha dalam rangka maksimalisasi profit dan perluasan pangsa pasar,. Namun patut untuk diperhatikan bahwa prinsip kehati-hatian dalam merencanakan akuisisi menjadi hal mutlak diperhatikan oleh masing-masing pihak.

Kegagalan rencana akuisisi berpotensi pada jatuhnya harga saham masing-masing perusahaan seperti yang menimpa Microsoft setelah gagal meminang Yahoo! Baik Kraft, Ferrero-Hershey Co., maupun Cadbury sudah sama-sama mempertimbangkan rencana akuisisi ini dengan matang. Sebagai langkah pemanasan, misalnya, Kraft bahkan telah menyiapkan dana 16 miliar dollar AS untuk mengambil alih Dirol Cadbury di Rusia.

Di samping itu, proses akuisisi juga harus mempertimbangkan kepentingan nasional dan aturan main yang berlaku. Kraft lebih memilih untuk mengakuisisi Cadbury ketimbang perusahaan milik China yang bisa jadi memiliki pangsa pasar lebih luas daripada AS dan Eropa yang masih tersaruk-saruk bangkit dari resesi. Meski kepentingan maksimalisasi profit dan perluasan pangsa pasar menempati urusan teratas, aturan main harus diperhatikan. Jika tidak, akuisisi hanya berdampak positif pada segelintir orang. BUMN yang diakuisisi tanpa aturan, misalnya, bisa jadi malah menimbulkan persoalan baru yakni munculnya potensi jerat privatisasi.

Prinsip kehati-hatian terakhir sekaligus merupakan catatan penting adalah akuisisi tidak boleh merugikan stakeholders, termasuk para pekerja. Kekhawatiran akan terjadi pemutusan hubungan kerja adalah hal lazim yang ditemui dalam proses akuisisi. Oleh karena itu, dampak akuisisi terhadap para pekerja harus dipertimbangkan dalam perencanaan awal akuisisi. Menanggapi kekhawatiran terkait persoalan ini, Kraft memastikan bahwa proses akuisisi ini justru akan menguntungkan seluruh pihak karena inilah saat yang tepat bagi dua perusahaan untuk bersama-sama menciptakan kerajaan makanan dan permen terbesar dunia (Economist, 19 Januari 2010).

Advertisements

2 thoughts on “Kraftbury

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s