Apa Kabar Idol?

“I still think that ‘Idol,’ even the most recent seasons, is such a great platform for the winners to work with superstar writers and producers. They wouldn’t have gotten the chance to do that if they were just another singer starting out.”

Sharon Dastur, program director for the New York Top 40 station Z100


Usai lama arena ‘Idol’ tak berkabar (setelah sebelumnya dikupas habis-habisan oleh media), suatu sore saya menemukan sebuah artikel menarik dari Ben Sisario yang ditulisnya untuk harian New York Times. Judulnya cukup provokatif dan menggelitik: Can ‘Idol’ Still Churn Out Stars? Time Will Tell (NYT, 14 Januari 2010). Artikel ini memajang informasi mengenai ‘nasib terakhir’ penjualan album dari para pemenang American Idol. Kesimpulannya? Album para pemenang American Idol ini mencetak hasil penjualan yang gemilang pada awalnya, namun terus mengalami penyusutan pada album-album berikutnya.

Pemenang kedua season 5 American Idol, Katharine McPhee, berhasil mendudukkan rekaman pertamanya dalam posisi nomor dua pada tangga album Billboard yang amat tersohor. Tapi setahun kemudian, ia terlempar dari RCA (induk Sony Music Entertainment yang terikat kontrak untuk mengeluarkan rekaman bagi para kontestan Idol). Album keduanya dirilis oleh Verve, label dari Universal Music Group dengan angka penjualan ‘hanya’ 15.000 copy. Jika digabungkan, total penjualan kedua album hanya mencapai 380.000 copy, angka yang tak istimewa bagi seorang pop star berdasarkan standar AS.

Kelly Clarkson, pemenang utama American Idol edisi perdana yang wajahnya sudah mendunia, merilis empat album sejak tahun 2003 dengan total penjualan 10,5 juta copy. Tapi penjualan album terakhirnya yang berjudul All I Ever Wanted, hanya meraup 819.000 copy. Chris Daughtry (peringkat empat American Idol season 5) berhasil menjual 4,6 juta copy album perdananya. Namun senasib dengan rekannya, album terakhirnya yang berjudul Leave This Town pun jeblok di pasaran dengan angka penjualan sebesar 819.000 copy.

Carrie Underwood, pemenang utama American Idol season 4 juga mengalami efek yang sama. Album Some Heart yang dirilisnya pada tahun 2005 berhasil mencapai angka 6,9 juta copy. Album selanjutnya, Carnival Ride, mencatat angka 3,1 juta copy. Pada album berjudul Play On, angka penjualan yang berhasil diraup adalah sebesar 1,2 juta copy. Lumayan. Tapi penjualan album terakhirnya, For Your Entertainment, hanya mencapai angka 445.000 copy.

Ada banyak penjelasan mengapa fenomena penurunan penjualan album ini terjadi. Alasan yang paling menonjol adalah makin maraknya era digital yang memungkinkan para penikmat musik mengunduh secara gratis lagu-lagu penyanyi kesayangannya melalui jalur nirkabel. Akibatnya, angka penjualan album pun berbanding terbalik dengan pertumbuhan musik di dunia maya. Penjualan album mengalami penyusutan sementara jumlah unduhan di internet makin meningkat. Suatu hal yang mengesalkan produser dan penjual album.

Album kedua Jordin Sparks (pemenang American Idol season 6), misalnya, hanya mencapai 158.000 copy. Tapi salah satu lagunya menjadi hit di radio dan telah diunduh sebanyak 1,3 juta kali. Album perdana Kris Allen juga hanya mencapai 233.000 copy namun lagunya yang berjudul Live Like We’re Dying telah diunduh sebanyak 551.000 kali.

Penurunan album juga mungkin terjadi karena sifat dari ajang Idol sendiri yang dilakukan setahun sekali. Perhatian pemirsa dan penikmat musik menjadi berkurang atau terbagi. Ketika seorang pemenang Idol tampil dan mengeluarkan album perdananya, belum genap setahun ia sudah harus berkompetisi dengan pemenang baru yang lahir dari ajang serupa.

Tapi bukan berarti mengikuti kontes Idol menjadi sesuatu yang sia-sia seperti yang dijelaskan Sharon Dastur, direktur program salah satu radio di New York. Dastur mengatakan bahwa meski fenomena ini terjadi, Idol tetap memberikan wadah yang potensial bagi para pemenangnya untuk berkolaborasi bersama penyanyi, penulis, dan produser ternama. Seseorang yang ‘bukan siapa-siapa’, kecil kemungkinannya untuk tiba-tiba memperoleh kesempatan sebesar ini. Tentu tak mudah perjuangan yang harus dikerahkan seseorang dalam mencapai tahap final pada kontes-kontes Idol. Ia wajib menyisihkan jutaan kontestan lainnya.

Saya memang belum mendapat data tentang angka penjualan album-album para kontestan Idol di Indonesia yang sudah sangat beragam variannya. Jika ditanya apakah gaung para penyanyinya sudah memudar, bisa dikatakan ‘ya’. Tapi sekali lagi, fenomena penurunan penjualan album nampaknya tidak hanya mendera para penyanyi Idol namun juga menimpa para penyanyi yang sudah terlebih dahulu eksis. Alasannya sangat kasuistik meski rata-rata memang terjadi karena maraknya penjualan album bajakan dan unduh gratis melalui internet.

Sisi positifnya adalah para produser album Idol, sang Idol, dan calon Idol belajar bahwa saat mereka berencana menyusun sebuah album baru, strategi manajemen pemasaran dan kualitas musik mutlak diperhatikan. Jika dalam sebuah album hanya satu atau dua lagu saja yang akan booming, masyarakat lebih memilih mengunduh lagu tersebut melalui internet ketimbang harus membeli album. Apalagi harga Indonesia masih terasa berat bagi kebanyakan orang.

Strategi pemasaran juga memegang peranan penting. Sayangnya, kebanyakan produser masih menitikberatkan standar sukses pada angka penjualan album atau selera pasar yang seringkali berbanding terbalik dengan kualitas musik. Tak heran jika para penyanyi ‘idealis’ yang sebenarnya sudah lama merangkak dari bawah, lebih memilih jalur indie ketimbang ikut arus pasar. Banyak juga yang akhirnya melambaikan bendera putih: menyerah. Selain sebagai ajang coba-coba, sulitnya menarik perhatian dari label utama akhirnya membuat ajang Idol menjadi pintu masuk yang menggiurkan meski harus dibayar oleh kompromi pasar.

Apa yang dialami oleh Katharine McPhee yang terpaksa terlempar dari Sony Music Entertainment masih terbilang lumayan. Setidaknya ia mendapat wadah baru yang tak kalah punya nama yaitu Universal Music Group. Nasib yang jauh lebih mengenaskan terjadi pada kontestan Idol di Indonesia yang awalnya terlihat mampu meniti karier dengan gemilang. Bukan hanya terlempar dari peredaran dunia musik Indonesia, mereka pun harus memulai hidup dari nol. Beruntunglah mereka yang masih dinilai ‘menjual’ sehingga dapat tampil dengan eksis di layar dan media massa meski tidak dalam konteks bermusik.

Terlepas dari kelemahan-kelemahan ini, saya masih yakin bahwa para kontestan Idol mampu meraih sukses gemilang dalam jangka panjang jika mereka memiliki kualitas, ketekunan berlatih dalam bidangnya, dan terutama adalah mental yang siap menghadapi tantangan. Idol mengangkat seseorang dari no one menjadi someone. Banyak pemenang yang tidak memiliki mental yang kuat dalam menghadapi keberhasilan yang mendadak. Sebuah keberhasilan harus diimbangi dengan tanggungjawab yang besar pula.

Keberhasilan harus dipakai untuk membuat hidup menjadi lebih baik, bukan semata-mata berfokus pada hawa nafsu raihan materi atau popularitas. Tanpa tanggungjawab, kesuksesan akan segera lenyap. Bila kunci ini berhasil dipahami, tak mustahil jebolan Idol lebih mampu bertahan dari para penyanyi yang sudah melegenda namun tak bertanggungjawab. Ia mampu menghadapi keberhasilan maupun kegagalan yang datang secara tiba-tiba. Time Will Tell.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s