Apple VS Google

“Apple and Google both want more. They’re gearing up for the ultimate fight. “

Chris Cunningham, founder of the New York mobile advertising firm Appssavvy


Setelah heboh kasus Microsoft vs Apple pada tahun 1980an, Microsoft vs IBM tahun 1990an, dan Microsoft vs Google tahun 2000an, kompetisi teknologi berikutnya terjadi antara Google dengan Apple. Dua raksaksa ini mulai menunjukkan rivalitasnya setelah CEO Google, Eric Schmidt mengundurkan diri dari dewan direksi Apple pada 3 Agustus 2010. Dua raksaksa teknologi ini mulanya bekerjasama untuk membangun mesin pencari iPhone keluaran Apple dengan menggunakan mesin pencari Google. Belakangan, Apple terlibat dalam pembicaraan serius dengan Microsoft Corp untuk mengganti Google dengan Bing Microsoft.

8 November 2009, Google mengumumkan pembelian AdMob, sebuah industri periklanan terkait produk mobile yang sebelumnya hendak dibeli Apple, sebesar 750 juta dollar AS. Steve Jobs sang CEO Apple pun segera mengumumkan akuisisi dengan nilai 275 juta dollar AS untuk membeli Quattro Wireless, perusahaan iklan yang meneliti target pasar para pengguna mobile-phone sesuai dengan kebiasaan mereka. Rivalitas berlanjut saat Google bekerjasama dengan Nexus One guna meluncurkan ponsel sendiri dengan menawarkan sistem operasi mobile bernama Android. Android diprediksi berbagai kalangan akan menjadi kompetitor serius bagi sistem operasi mobile-phone milik iPhone.

Apple maupun Google sama-sama tercatat sebagai dua perusahaan yang paling sukses dan paling berpengaruh di dunia. Dalam mobile hardware dan software, Apple memiliki iPhone dan Google memiliki Nexus One dan software Android-nya. Dalam kaitannya dengan sistem komputer, Apple memiliki MobileMe dan Google memiliki aplikasi web khusus termasuk Gmail, Google Docs dan Google Calendar. Tapi meski harus saling berbagi pangsa pasar, Apple dan Google memiliki ciri khas yang berbeda. Kata kuncinya adalah pendekatan inovasi, strategi manajemen, dan penguasaan atas selera pasar kontemporer.

Mengutip dari http://www.searchenginejournal.com/google-vs-apple/14261/, minimal ada tiga area ‘pertarungan’ antara Apple dan Google. Pertama, meski Google berencana akan merilis mesin pencari musik terbaru, Apple dengan iTunes music store-nya nampaknya masih belum tersaingi oleh kompetitor manapun. Musik masih menjadi milik Apple. Kedua adalah perbedaan mendasar antara Android dan iPhone. Android lebih bersifat terbuka terhadap berbagai jaringan sementara iPhone hanya terkunci untuk ponsel AT&T. Sistem operasi Android juga bersifat terbuka sementara iPhone terkunci. Terakhir, pasar Android juga tidak mewajibkan persetujuan terlebih dahulu untuk urusan pendaftaran.

Ketiga adalah perbedaan antara internet browser dan sistem operasi. Apple memiliki internet browser yang kapasitasnya sedikit lebih besar daripada yang dimiliki Google. Apple merilis Safari pada tahun 2003. Tahun 2007, Apple juga internet browser versi mobile yang dapat dioperasikan oleh Windows XP dan Vista. Safari berhasil meraih 3,62 persen pangsa pasar internet browser yang naik menjadi 4,36 persen pada November 2009. Bulan Desember 2008, Google merilis Google Chrome yang menduduki peringkat lima setelah Internet Explorer, Firefox, Safari, dan Opera pada Januari 2009. Pada November 2009, dengan cepat Google Chrome melesat ke urutan keempat dengan angka 3,93 persen.

Apple dan Google juga berbeda dalam hal pendekatan piranti keras (hardware) komputer. Google mencari banyak pembuat piranti keras untuk memproduksi ponsel dan aneka komponen yang menjalankan sistem operasi Android. Hal serupa dipraktekkan terhadap sistem operasi piranti lunak (software) Chrome, membuat Google menjadi produk komersial. Adapun Apple tidak pernah membiarkan produksi Mac, iPod, dan iPhone-nya diproduksi banyak tangan. Apple sepenuhnya berpikir tentang penjualan piranti keras. Apple amat percaya diri bahwa mereka dapat melanjutkan pembuatan komponen-komponen terbaiknya.

Banyak analis menjagokan Google akan memenangkan persaingan dalam bidang mobile phones and internet browsers pada masa mendatang sekalipun saat ini di atas kertas Apple masih lebih unggul. Tapi tak sedikit pula yang berpendapat bahwa kedudukan Apple dalam musik akan sangat sulit tergeser. Tabel yang dikutip dari Bloomberg (13 Januari 2010) di bawah ini memperlihatkan perbedaan Apple dan Google dari segi pendekatan manajerial.

Apple Google
Data founded 1976 1998
CEOs Steve Jobs Eric Schmidt
CEO salary $ 1 a year $ 1 a year
Headquarters Infinite Loop campus, Cupertino The Googleplex, Mountain View
Market Cap $ 190 billion $ 186 billion
Revenue $ 36,5 billion $ 22,6 billion
Motto Think different Don’t be evil
Key to success Elegance Algorithm
Work ethic 120% of employees’ time for Steve’ projects 20% of employees’ time for pet projects
The employees who matter Designers Engineers
How decisions get made Because Steve says so Data, data, data
Founder’s aircraft Gulfstream V Boeing 767
Car of choice Marcedes SL55 Toyota Prius
Big challenge Does anyone but Jobs have a vision? Can they make money on anything but search?

Rivalitas Apple-Google sekali lagi memberi kita gambaran ketatnya kompetisi antar pelaku bisnis kontemporer yang mengemban misi penguasaan pangsa pasar dan maksimalisasi profit. Kompetisi harga dan kompetisi teknologi pun mewarnai persaingan dua raksaksa digital ini. Inovasi baru dilancarkan demi mempengaruhi pembeli potensial. Rivalitas ini bahkan berdampak luas pada komunitas internasional. Mengutip Business Week, pertarungan dua superstar Silicon Valley ini akan membentuk masa depan mobile computing dunia.

Dampak lain dari rivalitas ini adalah merangsang munculnya inovasi-inovasi baru. Inovasi yang dilakukan Apple mungkin sudah sangat cepat, namun munculnya Android dan inovasi keluaran Google lainnya memacu Apple terus berpacu dengan waktu guna menghasilkan inovasi berikutnya. Demikian pula sebaliknya. Kompetisi yang sehat antar keduanya pun makin menguntungkan konsumen. Akan ada lebih banyak pilihan. Kompetisi ini juga tentu akan berdampak pada penurunan harga dan mendorong pelayanan yang lebih baik.

Kita juga berharap rivalitas AppleGoogle ini juga dapat memacu produsen lokal untuk meningkatkan daya saing produknya dengan menciptakan aneka inovasi baru atau minimal dapat menggunakan inovasi-inovasi yang ditawarkan untuk menghasilkan inovasi baru. Sayangnya, selama ini masyarakat kita hanya menjadi pangsa pasar yang empuk bagi produk-produk keluaran Apple maupun Google. Daripada menjadi inspirasi untuk berinovasi, Apple-Google lebih mendorong masyarakat kita menjadi lebih konsumtif atas nama gaya hidup. Semoga kondisi ini segera berubah mengingat makin ketatnya persaingan di era pasar bebas.

Advertisements

One thought on “Apple VS Google

  1. Pingback: Komisi Eropa: Ujian “Om” Google Berikutnya « Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s