Jurang Dua Ginseng

“The old older is being dismantled and replaced by the new order.

We have to make our vision the world’s vision.”

South Korea President – Lee Myung Bak

Dua negara sedulur ini hanya terpisahkan oleh sebuah jalan dan sepasang tembok. Tapi perbdaan kondisi keduanya benar-benar langit dan bumi. Korea Utara (Korut) masih berkutat dengan kemiskinannya sementara Korea Selatan (Korsel) berhasil menjadi negara yang dihormati dunia. Penduduk Korut masih mengulas-ulas perutnya karena kelaparan sementara penduduk Korsel menepuk-nepuk tubuhnya karena kekenyangan. Ironi besar. Fenomena ini tak hanya memberi informasi mengenai kondisi Korea kontemporer, tapi hendaknya juga dapat menjadi bahan perenungan berharga bagi pemerintah dan masyarakat tanah air.

Berbicara mengenai Korut, ingatan kita dibawa pada satu kondisi masyarakat tertindas di bawah rezim Kim Jong Ill yang diktator. Berkali-kali Mr.Kim membuat ulah yang tak hanya membuat gerah rakyatnya tapi juga meresahkan komunitas internasional. Mr.Kim lebih mementingkan pengembangan senjata balistik daripada memberi makan jutaan rakyatnya yang kelaparan. Mr.Kim pernah meluncurkan senjata balistiknya ke samudera lepas. Mr.Kim juga jago membuat kontroversi dengan memberi aneka hadiah mahal pada elit di tengah kemiskinan yang menerpa rakyatnya serta memindahkan ibukota atas usul paranormal. Meski dikecam komunitas internasional, Mr.Kim menutup telinganya dan melenggang santai.

Fakta terakhir, Korut melakukan revaluasi drastis pada mata uangnya yaitu melakukan pemotongan dari nominal 100 menjadi 1 pada akhir November 2009. Tujuannya menutup peluang pasar gelap yang marak di Korut. Alih-alih menutup pasar gelap, kebijakan ini justru menimbulkan instabilitas sosial karena merangsang naiknya harga kebutuhan pokok. Pemerintah bahkan tak menerapkan kenaikan upah yang seharusnya dilakukan untuk merangsang daya beli. Nominal upah yang diberikan sama dengan sebelum diberlakukannya revaluasi. Kepala Departemen Perencanaan dan Keuangan Korut, Pak Nam Gi, tak mau disalahkan atas kisruh ini. Ia bertutur bahwa persediaan pangan saat ini sudah mencukupi.

Harian asal Seoul, Chosun Ilbo mengatakan kebijakan reformasi ini juga bertujuan untuk menekan laju inflasi dengan mencegah sektor swasta mengambil keuntungan besar-besaran. Ini mejadi misi penting sebelum anak termuda Kim, Kim Jong Un menerima suskesi dari ayahnya. Alih-alih meredakan laju inflasi, kebijakan ini pun justru memicu peningkatan inflasi yang dangat pesat. Bertolak belakang dengan pernyataan Pak Nam Gi, ahli ekonomi Korea Utara pada Samsung Economic Research Institute di Seoul, Dong Yong Sueng berpendapat bahwa masalah utama dari kebijakan ini adalah kegagalan pemerintah dalam menyediakan stok barang yang cukup di toko-toko (New York Times, 4 Februari 2010).

Pasar illegal banyak muncul sejak pemerintah gagal menyediakan pangan yang cukup. Kegagalan ini mengantarkan Korut pada bencana kelaparan di pertengahan 1990an. Bukannya memperbaiki kebijakan pangan, Korut justru memilih jalan revaluasi ekstrim. Akibatnya, di beberapa tempat harga makanan sudah naik tiga kali lipat dalam tiga minggu terakhir. Nilai dollar di pasar gelap juga melonjak. Kelompok veteran dari Perang Korea tahun 1950-1953 pun melangsungkan protes di kantor partai di Danchon, sebuah kota pesisir barat Korut. Sebuah kelompok asal Seoul, Good Friends, mengatakan bahwa jika Korut tak dapat mengarasi situasi kacau ini hingga akhir Februari, kerusuhan akan muncul.

Berita ini seolah melengkapi fakta-fakta suram mengenai Korut. Berbagai negara sudah cukup putus asa menghadapi Mr.Kim yang lebih percaya pada klenik ketimbang sistem internasional. Barbara Demick, koresponden dari The Los Angeles Times dalam salah satu bab pada bukunya yang berjudul Nothing to Envy: Ordinary Lives in North Korea, menulis pengamatannya di kampung Potemkin. Meski sudah seperti Pyongyang, penduduknya tidak memiliki makanan yang cukup. Mereka bekerja sangat lama dan masih harus mengikuti pelatihan ideologi pada malam hari. Mengeluarkan komentar yang tidak patriotik, khususnya anti Kim Jong Ill, akan membuat anda dikirim ke kamp kerja paksa, jika tidak dieksekusi.

Mr. Myers, penulis buku The Cleanest Race: How North Koreans See Themselves and Why It Matters, juga mengungkapkan hal senada. Korut seringkali mengeluarkan propaganda pada reportase televisi di malam hari, surat kabar, bahkan hingga film perang, komik, poster dinding, dan kamus. Mr. Myers juga menulis bahwa nasionalisme Korut adalah nasionalisme yang paranoid berbasis ras. Ada sebuah kalimat menarik yang ia tulis dalam bukunya: The Korean people are too pure-blooded, and therefore too virtuous, to survive in this evil world without a great parental leader (New York Times, 26 Januari 2010). Inilah Korea Utara.

Bagaimana dengan Korsel? Sempat berjuluk empat macan Asia di samping Taiwan Singapura, dan Hongkong, Korsel menjadi salah satu perekonomian yang tumbuh paling cepat di dunia sejak berakhirnya Perang Korea tahun 1953. Untuk mendukung pembangunan ekonominya, Korsel mengandalkan kerjasama yang erat antara pemerintah dengan 30 konglomerat besar milik pribadi yang terpusat pada keluarga (chaebol) seperti Samsung, Hyundai, Grup Daewoo dan LG. Korsel terimbas krisis Asia tahun 1997-1998 namun bangkit dengan cepat sebagai pesaing yang lebih kuat dan ramping (Griffin & Pustay. 2005: 40).

Hanya dalam satu generasi, Korsel pun berhasil mengangkat 48 juta orang dari kemiskinan dan menjadi negara industri penuh dengan pendapatan per kapita mencapai lebih dari 20.000 dollar AS pada tahun 2007. (Newsweek, 8 Feb 2010 hlm 40).

Saat ini, seorang mantan pemimpin salah satu chaebol besar yaitu Hyundai, menjabat sebagai presiden Korsel. Dialah Lee Myung Bak yang berambisi menjadikan Korsel sebagai pusat dunia. Di bawah Lee yang berjuluk ‘si Bulldozer’, untuk pertama kalinya Korsel mengklaim diri sebagai pemimpin kelompok negara-negara kaya. Klaim ini tak terlalu berlebihan. Nyatanya, Korsel menjadi anggota pertama OECD (beranggotakan 30 negara maju) yang bangkit dari resesi global dengan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4% dalam kuartal ketiga tahun 2009. Tahun ini, OECD memperkirakan Korsel dapat mencapai angka pertumbuhan sebesar 4,4%, angka tertinggi dari seluruh anggota OECD.

Profil Korea Selatan yang dilansir Newsweek (edisi 8 Februari 2010) bertajuk Selling South Korea (B.J. Lee) menggambarkan kedashyatan Korsel di bawah Lee Myung Bak. Lee tahu bahwa krisis telah menjatuhkan AS dan melambungkan China dan negara-negara berkembang lainnya. Untuk itu, Lee memiliki visi agar Korsel dapat menjadi jembatan penghubung di antara keduanya. Tujuannya adalah mengubah Korsel dari negara sukses berbasis self-involved economic power menjadi a respected global soft power yang menjembatani negara kaya dan miskin dalam isu-isu global seperti lingkungan dan keuangan.

Ketika resesi aktual menerjang dunia, mata uang won terjun bebas dalam tiga bulan pertama. Bursa saham pun terjengkang hingga setengahnya dan investor asing mulai berlarian. Tapi Korsel sudah memiliki pengalaman menghadapi krisis 1997-1998. Para pemimpin Korsel saat ini banyak yang merupakan veteran krisis Asia. Mereka tahu benar bagaimana cara mengatasi krisis agar kondisi ekonomi negara tidak terjun bebas. Mereka bergerak cepat melindungi lapangan kerja dan menjaga sentimen konsumen tetap stabil serta melakukan pemotongan suku bunga dari 3,25% menjadi 2%, terendah dalam sejarah. Korsel juga selamat dari krisis karena perekonomiannya ditopang oleh pilar ekonomi chaebol-pemerintah yang kuat ketimbang bergantung pada jasa industri keuangan yang terbukti sekarat.

Lee juga mendorong momentum reformasi dalam perjanjian perdagangan bebas global di bawah pengawasan sistem keuangan global. Pada saat bersamaan, Lee berupaya menjadikan Korsel pemimpin dalam perang melawan pemanasan global dengan menyetujui pemotongan emisi sebesar 30% pada tahun 2020, satu dari target yang paling agresif di dunia. Langkah konkret yang dilakukan Lee adalah menggelontorkan miliaran dollar AS untuk memperbaiki kondisi empat sungai utama Korsel. Dengan perbaikan ini, Lee berharap dapat mendorong ekonomi lokal dengan menciptakan pekerjaan serta meningkatkan turisme dan perdagangan.

Keberhasilan mencatat surplus perdagangan sebesar 42 milliar dollar AS pada 2009 (melampaui Jepang untuk pertama kalinya), menjadi bukti komitmen Korsel yang hendak beranjak dari bayang-bayang China dan Jepang. Korsel lebih berfokus pada investasi luar negeri dan perdagangan bebas daripada ideeologi yang kaku. Lee juga mempergunakan setiap pertemuan dengan baik untuk memaparkan strategi-strateginya. Tak heran jika dengan percaya diri Lee melobi agar Korut menjadi penyelenggara pertemuan G-20 setelah Pittsburg. Lobi ini berhasil. Seoul terpilih sebagai tuan rumah pertemuan G-20 pada November 2010.

Pesan bagi Indonesia dari fenomena jurang dua ginseng ini sangatlah sederhana. Kita dapat melihat bahwa negara dengan pemimpin yang memiliki visi (grand strategy) yang disertai dengan komitmen dalam perwujudannya, akan membawa negara tersebut ke posisi yang lebih tinggi dalam hal kemakmuran rakyat dan penghormatan dunia. Berkaca pada kondisi politik tanah air, para pemimpin kita sepertinya lebih memilih berkutat pada isu-isu kekuasaan: skandal Century, wacana reshuffle kabinet daripada berupaya keras memikirkan lapangan kerja baru, menggali potensi lokal untuk menghadapi AFTA, apalagi membersihkan sungai.

Yang lebih memprihatinkan, hingga saat ini Indonesia tidak memiliki grand strategy. Kita tidak tahu mau dibawa ke mana Indonesia setahun, lima tahun, sepuluh tahun ke depan. Kepentingan nasional mana yang menjadi patokan pemerintah. Jika Korut berada pada sisi kiri (nyaris menjadi negara gagal) dan Korsel pada sisi kanan (sukses), di manakah posisi Indonesia? Yang jelas, pengakuan kinerja tidak hanya menjadi klaim sepihak pemerintah. Kondisi rakyat adalah bukti nyata. Kita berharap kelak Indonesia dengan percaya diri (bukan dalam kerangka pepesan kosong) dapat berkata seperti Lee Myung Bak: “It is part of larger effort to move South Korea away from the periphery of Asia into the center of the world.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s